Selasa, 03 Januari 2012

Rumah Idaman “Ragam Gaya Retro yang Inspiratif” plus 1 more

Rumah Idaman “Ragam Gaya Retro yang Inspiratif” plus 1 more


Ragam Gaya Retro yang Inspiratif

Posted: 03 Jan 2012 02:04 PM PST

KOMPAS.com - Gaya retro memang fleksibel menyesuaikan diri serta mudah dipadupadan dengan beragam aksesoris. Apa saja gaya-gaya retro yang pernah populer?

Arsitek dan desainer interior Keiza Amorani dalam bukunya "Ide-Ide Segar Menata Rumah" terbitan Gramedia Pustaka Utama merangkumkan gaya retro yang populer sejak tahun 1930-an sampai 1970-an.

Retro: Art Deco

Seni dekoratif yang kaya detail dan ornamen ini adalah gerakan modernisasi estetis yang dipelopori oleh Le Corbusier. Arsitek asal Perancis ini piawai memadukan gaya dekoratif ala Perancis yang kala itu sedang naik daun dengan teknologi keluaran Jerman. Maka, tercetuslah gerakan baru bernama Art Deco.

Gerakan ini mulai populer pada 1930 dan berlanjut hingga tahun 1940. Setelah itu, Art Deco mulai hilang tertelan gerakan-gerakan baru dalam dunia seni, lalu kembali pada 1970-an dalam bentuk lebih simpel, seperti furnitur berbentuk formal-lingkaran, kotak dan segitiga dengan garis yang tegas, simpel tanpa lekuk rumit, berkaki pendek dan membesar ke arah horisontal.

Umumnya, bahan yang digunakan adalah bahan kayu solid dengan aksentuasi besi, kuningan, atau logam. Warna dinding hijau mint, krem, kuning gading, beige, dan abu-abu muda.

Retro: Fifties

Pertumbuhan ekonomi di benua Eropa pada awal tahun 1950 membawa perubahan dalam dunia. Teknologi berkembang pesat menyebabkan seni tak lagi dikerjakan secara manual, namun mulai dibantu dengan piranti mesin.

Era modernisasi kedua pada abad ke 20 ini menyebabkan munculnya perubahan bentuk, warna, dan garis desain. Material yang digunakan untuk furnitur juga lebih modern.

Masa ini dikenal sebagai permulaan era kontemporer dalam dunia desain. Semangat kebebasan, liberasi, dan permainan bentuk menjadi ciri khas dalam desain tahun 1950-an ini. Aplikasi gaya ini seperti furnitur berbahan fiber, formika, vinil, busa karet, melamin, atau plastik. Warna fuchsia, merah, kuning, jingga, menjadi warna aksentuasi primer, baik untuk dinding, furnitur maupun upholstery.

Retro: Pop art

Rasanya, tak salah jika Andy Warhol dinobatkan sebagai simbol gerakan pop art di era 1960-an. Desainnya yang unik, tajam, dan kaya warna membuat masa ini menjadi masa paling berbeda dibandingkan masa-masa desain retro lainnya. Pada era ini perkembangan desain arsitektur interior tak dapat dipisahkan dari dunia fashion. Apa yang menjadi tren dalam fashion, akan memberi dampak langsung pada dunia arsitektur interior.

Satu hal paling dominan adalah Paco Rabanne. Ia mendesain busana untuk Jane Fonda dengan gaya space age. Gaya busana ini lantas menjadi tren di mana-mana. Model dan bentuk furnitur pun kemudian terlihat seperti benda-benda angkasa yang dibungkus penutup warna warni.

Tradisi pop art kemudian dilanjutkan dengan era Op Art dimana semuanya tampak makin futuristik dan optikal.

Retro: seventies

Setelah melalui tahun-tahun sarat warna dengan bentuk unik, memasuki awal 1970 gaya desain kembali "membumi". Pada dasarnya, kiblat tahun ini adalah kembali pada zaman keemasan Art Deco.

Sisi dekoratif tampak masih dominan, tetapi tidak serumit masa sebelumnya dan cenderung bernuansa gelap. Penggunaan warna-warna tanah membuat nuansa ruang pada tahun ini cenderung natural dan hangat. Tak heran, desain ala '70-an ini masih banyak digemari hingga kini. Gaya desain ini disebut sebagai cikal bakal lahirnya desain modern minimalis, dimana karakteristiknya sederhana membuat rumah tampak lebih lapang.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Selamat Datang Retro!

Posted: 03 Jan 2012 01:41 PM PST

KOMPAS.com - Selain gaya eklektik yang bakal diminati tahun ini, desainer interior Lea Aviliani Aziz, mengatakan, gaya retro juga bakal menjadi tren. Retro menarik karena penerapannya begitu fleksibel.

Penerapan retro bisa disesuaikan. Misalnya, memakai wallpaper untuk dinding, kalau bosan aksesorisnya bisa diganti-ganti untuk menjadi tampilan baru lagi.

-- Lea Aviliani Aziz

"Retro juga bakal menjadi tren karena penerapannya bisa disesuaikan. Misalnya, memakai wallpaper untuk dinding, kalau bosan aksesorisnya bisa diganti-ganti untuk menjadi tampilan baru lagi," kata Lea kepada Kompas.com, akhir Desember lalu.

Menurut Keiza Amorani, dalam bukunya "Ide-Ide Segar Menata Rumah" terbitan Gramedia Pustaka Utama, retro merupakan kependekan dari kata retrospektif. Retro berarti kilas balik masa lampau. Dalam prosesnya, kilas balik ini tidak berdiri sendiri, namun disertai perbaikan dan penyesuaian dengan masa kini.

Memang, perpaduannya dengan piranti modern justru memperkuat karakter gaya desain ini. Gaya desain ini bersifat nostalgia-romantik. Elemen-elemen di dalamnya mempunyai cerita yang menggambarkan era atau masa tertentu berdasarkan waktu di masa lalu.

Untuk memadupadankannya, Anda bisa memilih satu periode gaya retro dan padukan dengan elemen modern. Agar tidak tampak berlebihan dan kuno, gunakan elemen retro sebagai aksentuasi primer. Jika tidak mempunyai dana cukup untuk membeli furnitur retro karya desainer, cari furnitur yang bentuk, motif, atau warnanya mirip.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar