Minggu, 25 Oktober 2009

Rumah Idaman “TAMAN & TANAMAN : Bebas Repot Berkat Media Instan” plus 3 more

Rumah Idaman “TAMAN & TANAMAN : Bebas Repot Berkat Media Instan” plus 3 more


TAMAN & TANAMAN : Bebas Repot Berkat Media Instan

Posted: 25 Oct 2009 07:18 PM PDT

KOMPAS.com - Tinggal rendam sebentar, blok ringan kecoklatan itu langsung berubah jadi media yang siap ditanami berbagai jenis tanaman.

Pertama kali memandang media tanam ini, kita langsung teringat pada conblock yang biasa digunakan sebagai material perkerasan lahan. Ya, media tanam ini memang dikemas dalam bentuk balok-balok kecil seukuran conblock.  Setelah lebih jauh diperhatikan dan diangkat-barulah blok ini terasa ringan. Bahan pembentuk media tanam ini adalah serbuk sabut kelapa. Jelas bobotnya ringan.

Ini merupakan media tanam hasil inovasi dari media tanam dari sabut kelapa yang sudah ada sebelumnya. Selama ini, orang mengenal sabut kelapa sebagai media tanam, yang disebut cocopeat.  Biasanya sabut ini dijual dalam bentuk serabut, lembaran, atau potongan kecil-kecil.

Jika ada yang menjadi serbuk, biasanya dikemas dalam karung besar dan dalam keadaan basah. Inilah yang mendorong diciptakannya media tanam dari sebuk sabut kelapa dalam bentuk yang berbeda.

Praktis dan Higienis

Perbedaan media tanam ini memang pada kemasannya. Setelah sabut kelapa dikeringkan, selanjutnya ia dicacah sehingga menjadi serbuk. Serbuk kering ini kemudian dipres dalam keadaan panas dengan mesin khusus.

Hasilnya adalah blok persegi panjang ini. Selanjutnya, blok ini dikemas plastik untuk menjaga kekeringannya. Dalam satu kemasan, terdapat 2 buah blok, yang dijual seharga Rp 15.000.

Effendi Njoto, distributor media tanam bermerk Angzgro ini, mengatakan, "Dengan ukuran yang kecil, konsumen akan dimudahkan, karena tidak perlu membeli media tanam dalam jumlah besar sekaligus." Karena media ini kering, bobotnya pun ringan. Satu blok beratnya hanya sekitar 4 ons.

Selain itu, karena ada pemanasan saat proses pres, maka media tanam ini bisa dibilang bebas penyakit. Tidak ada lagi bibit bibit hama atau jamur yang biasa bercokol pada media tanam. Rayap pun enggan menggerogoti media ini, karena pada sabut kelapa, kadar selulosa yang menjadi makanan rayap, sudah tidak ada.

Media Gembur Akar Subur
Cara pakai media tanam ini mudah, cukup ditambahkan air dan ia akan mengembang dengai sendirinya. Satu kemasan (2 buah blok) akan mengembang menjadi media tanam bervolume sekitar 8 liter.

Jika sudah terurai, serbuk sabut kelapa ini akan menjadi media tanam yang sangat gembur. Media yang gembur sangat cocok untuk pembibitan, karena mudah ditembus oleh akar. Bandingkan dengan tanah yang lebih padat dan lama-kelamaan mengeras. Dengan begitu, tanaman yang ditanam di media ini perakarannya lebih kuat dibandingkan dengan tanaman yang ditanam di tanah biasa.

Tetapi bukan berarti media ini hanya untuk tanaman muda saja. Tanaman dewasa pun dapat menggunakan media ini. Mungkin ada kekhawatiran tanaman dewasa tidak akan berdiri kokoh di media yang sangat gembur ini.

Karena itu, campurkan tanah dengan perbandingan 1:1 dengan media tanam ini. Akar tanaman akan mencengkeram kuat namun secara umum media tetap gembur.

Tidak Perlu Sering Disiram
Sabut kelapa adalah media yang mampu menyimpan air. Sebab itu, tanaman yang menggunakan media itu tidak perlu disiram setiap hari. Penyiraman 3 - 4 hari sekali sudah cukup, meskipun ini jugs tergantung dari jenis tanamannya. Untuk jenis tanaman yang tidak terlalu menyukai air, penyiramannya cukup dilakukan dengan sprayer.

Yang sering terjadi, permukaan bagian atas pot sudah terlihat basah, tetapi bagian bawah pot masih kering. Atau sebaliknya. Sebaiknya colok media dengan tangkai kayu kecil untuk menguji kadar air pada pot agar penyiraman betul-betul rata.

Sementara itu, pemupukan dapat dilakukan seperti pada media tanam lainnya. Pupuk cair atau yang berbentuk butiran dapat disebarkan ke atas permukaan pot. Penggantian pot (repotting) pun menjadi lebih mudah, karena gembur, tanaman menjadi lebih mudah diangkat. Bobot tanaman plus medianya juga ringan, sehingga memudahkan pemindahan tanaman.

Effendi mengklaim bahwa media yang ringan ini mampu bertahan 10 tahun tanpa diganti. Penyusutan media pada pot pun tidak signifikan. Jika sedikit berkurang, itu hanya karena ada media yag terbawa air ketika disiram. (Tabloid Rumah/Francisca Wungu Prasasti)


Editor: acandra

This content has passed through fivefilters.org.

TIPS : Linoleum : Solusi Baru Penutup Lantai

Posted: 25 Oct 2009 06:45 PM PDT

KOMPAS.com - Lantai keramik, terialu umum digunakan. Lantai karpet, susah perawatannya. Parket, mahal. Belum lagi desainnya begitu-begitu saja. Lalu, harus pilih penutup lantai jenis apa ya?

Dalam mendesain apapun, setiap orang punya mimpi. Dan tentunya, ingin mimpi tersebut dapat diwujudkan.

Namun minimnya informasi serta keterbatasan waktu dan tenaga, kadang membuat seseorang pada akhirnya menentukan pilihan yang itu-itu saja. Alhasil, ketika semuanya telah selesai dibangun, apa yang diharapkan tak sesuai dengan apa yang diimpikan. Belum lagi masalah lain, misalnya faktor kebosanan. Kita sering dihadapkan pada desain yang seragam dan bahan material sama, sehingga apa yang kita miliki tak ada bedanya dengan orang lain.

Sama halnya ketika memilih produk penutup lantai untuk rumah tinggal. Saat ini, masyarakat masih memiliki anggapan bahwa penutup lantai harus menggunakan keramik. Keramik dianggap praktis, gampang, dan mudah perawatannya. Perlu dicatat, itu untuk keramik dengan pemasangan standar atau keluaran pabrik. Jika ingin memodifikasi desain dengan memotong-motong keramik, perlu waktu dan juga tenaga yang lebih banyak untuk membuat model yang diharapkan. Belum lagi risiko keramik patah.

Begitupun dengan karpet. Iklim indonesia yang berdebu, membuat perawatan karpet menjadi melelahkan. Bakteri akan mudah mengendap di lantai. Kesehatan keluarga pun pada akhirnya harus dipertaruhkan. Sedangkan bila memakai parket, harga dan perawatannya dianggap masih terlampau mahal. Kayu yang melangka membuat harganya terus meroket.

Indonesia juga termasuk subur akan rayap. Walau sudah banyak produk antirayap, tetap saja belum dijamin ketahanannya.

Bila Anda ingin mencoba sesuatu yang baru, bahan penutup lantai yang memiliki daya tahan lama, berkualitas tinggi dengan desain yang inovatif, linoleum adalah salah satu solusinya. Anda bisa mewujudkan desain lantai yang ingin dihadirkan di rumah Anda pribadi.

Apa Itu Linoleum?

Forbo linoleum adalah bahan penutup lantai, terbuat dari minyak biji flax (linseed oil) yang dicampur dengan tepung kayu atau serbuk gabus dan direkatkan pada media berbahan dasar dari kain berserat kuat atau kanvas.

Forbo linoleum adalah material homogeneous. Tidak terdid dari lapisan-lapisan dan dari atas sampai ke bawah, materialnya akan berpenampilan sama. Forbo Linoleum menggunakan material jute sebagai backing, yang juga 100 persen alami. Begitupun dengan topshield sebagai lapisan pelindung permukaan, juga 100 persen alami.

Bentuknya hampir sama dengan vinil, tapi sebenamya bukan. Menurut Asmara, Direktur PT Indo Flooring, "Banyak orang yang mengira bahwa linoleum sama dengan vinil. Padahal itu beda, dan bedanya mendasar, yaitu dari bahan yang digunakan. Vinil dibuat dari PVC atau plastik yang tidak alami, sedangkan forbo linoleum dibuat dari 100% bahan alami, dan sangat ramah lingkungan."

Pilihan Jenis Dan Warna

Ada tiga jenis linoleum yang terdapat dipasaran yaitu jenis marmoleum, artoleum, dan walton. Perbedaan yang paling mencolok adalah dilihat dari segi motif warnanya. Marmoleum, berasal dari kata marmer sehingga motif warnanya menyerupai batu marmer. Artoleum, secara garis besar ada tiga pilihan motif wama yaitu polos, motif kulit buaya, dan bintik-bintik awan. Sedangkan walton; secara garis besar motif warnanya seperti serat kayu, beton, dan desain kontemporer.

Dalam pemasangannya, semua jenis linoleum dapat dipadupadankan. Bahkan untuk mendapat desain dan bentuk lantai yang diimpikan, kita bisa memotong-motong material sesuai keinginan. (Tabloid Rumah/Irfan Hidayat)


Editor: acandra

This content has passed through fivefilters.org.

PERUMAHAN : Buka Sumbat Biar Dagangan Laris Manis

Posted: 25 Oct 2009 06:27 PM PDT

KOMPAS.com - Mempertimbangkan lokasi rumah di pinggir kota pasti memunculkan pertanyaan : bagaimana  akses menuju ke sana dan sebaliknya? Belakangan, kian banyak pengembang mencoba menjawab pertanyaan itu dengan membangun akses jalan tol sendiri.

Kondisi Jakarta yang semakin penuh sesak oleh hunian, kawasan perkantoran, dan perbelanjaan, mendorong perkembangan pembangunan di pinggiran kota. Agar menarik minat pendatang, kota-kota yang tumbuh di pinggiran itu berbenah dan bersolek dengan segala rupa fasilitas. Kemudahan akses menjadi iming-iming pemanis.

Penghuni tak lagi repot-repot bertandang ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maklum, kota-kota ini sudah menawarkan fasilitas komplit yang memenuhi semua kebutuhan hidup: kawasan komersial berupa mal, rumah toko (ruko), pasar, hotel, apartemen, rumah sakit, sampai sekolah.

Meski begitu, para pengembang tetap menganggap akses jalan menuju lokasi dan sebaliknya tetap penting. Karena itu sebagian pengembang membangun akses jalan langsung menuju jalan tol dari kawasan hunian yang mereka bangun.

Maklum, sebagian besar penghuni kota-kota mandiri di pinggir Jakarta tetaplah para pekerja dan berkantor di Jakarta. Akses jalan dan waktu tempuh yang lebih singkat tentu menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih hunian di pinggir kota.

Ali Hanafia, pengamat properti dari Century 21 Pertiwi, menilai akses jalan membawa dampak positif bagi kawasan kota mandiri yang relatif sudah padat. "Akses ini bisa mengangkat traffic di kawasan itu, mengurangi kemacetan, serta memperbesar pasar," ujarnya.

Para pengembang juga bisa memetik dampak langsung berupa kenaikan harga jual, selain pusat bisnis dan perdagangan yang mereka bangun akan semakin ramai. Tak heran, biasanya, setelah akses tersebut dibangun pengembang kian agresif mendandani kawasan.

Menurut Ali, akses jalan berupa jalan tol yang berhubungan langsung dengan jalan tol utama bisa meningkatkan harga investasi di kawasan tersebut. "Bisa naik sampai 20%," imbuh dia. Nah, jika Anda menginginkan tempat tinggal dengan kemudahan akses semacam itu, Ali menyarankan agar Anda membelinya sebelum akses jalan tol rampung dan harganya sudah bergerak naik duluan.

Meski begitu, calon penghuni tetap harus memperhatikan beberapa hal, seperti berapa panjang akses jalan ton tersebut. Jangan sampai akses jalan itu malah memperpanjang masa perjalanan. Ali menyarankan, panjang maksimal akses jalan tol lima kilometer. Faktor lain adalah saluran air atau drainase. Tidak adanya atau sistem drainase yang buruk bisa membuat akses menuju jalan tol terendam di kala musim hujan.

Nah, ada beberapa kompleks perumahan di seputaran Jakarta yang sudah memiliki akses jalan tol langsung ke hunian. Antara lain, Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Grand Wisata, dan Kota Deltamas. Selain mereka, Alam Sutera juga telah mengoperasikan akses jalan tol langsung ke kawasan perumahan.

Teranyar, Lippo Cikarang. Anak usaha Grup Lippo ini akan membangun akses jalan tol langsung yang menyodet ruas tol Jakarta–Cikampek.

Nah, mari kita tengok plus-minus tinggal di kawasan yang punya akses tol langsung itu.

Lippo Cikarang

Bersama kota mandiri Jababeka, PT Lippo Cikarang Tbk. membangun akses jalan tol yang menghubungkan dua kawasan ini. Selain itu, Lippo akan membangun jalan penghubung ke pintu keluar jalan tol Jakarta–Cikampek di kilometer 34,7.

Kalau sudah jadi, akses ke jalan tol itu diharapkan mampu mengurangi beban kemacetan di Jalan Raya Lemahabang, Cibarusah. Selama ini, jalan tersebut harus dilewati setelah kita keluar dari pintu tol Cikarang Barat, baik hendak ke Jababeka maupun Lippo Cikarang. Kini, saban hari, Jalan Lemahabang selalu macet. Apalagi, di pagi dan sore hari saat kaum komuter berangkat dan pulang dari tempat kerja di Jakarta.

Lippo Cikarang bersama kontraktornya sudah mengosongkan lahan untuk akses jalan tol tersebut. Maklum, mereka menargetkan ground breaking jalan tol ini bisa berlangsung bulan depan. Dengan demikian, proses pembangunannya bisa dimulai pada awal 2010 dan pengoperasiannya diharapkan pada tahun 2011.

Harun Permadi, Direktur Pelaksana Lippo Cikarang, berpromosi, pembangunan akses jalan ini akan meningkatkan nilai investasi tanah di kawasan itu. Saat ini harga tanah di sana sudah terbilang tinggi, yaitu sekitar Rp 800.000 hingga Rp 2 juta per meter persegi (m²) untuk hunian dan Rp 3 juta per m² untuk kawasan komersial.

Setelah pembangunan akses tersebut, Lippo akan membangun kawasan niaga terpadu alias central business district (CBD). Tentu, tak ketinggalan proyek permukiman dan hunian. Pengembang ini tengah membangun megaproyek hunian Elysium Residence, seluas 126 hektare (ha), terdiri atas 12 kluster.

Untuk tahap pertama, Lippo membangun Elysium Garden di atas lahan seluas 12 ha. Tipenya bervariasi, mulai dari luas 53/140 m² sampai 114/200 m² Harganya berkisar antara Rp 254 juta sampai di atas Rp 1 miliar. Pembangunan kluster ini ditargetkan rampung tiga hingga empat tahun lagi.

Hingga akhir bulan lalu Lippo Cikarang telah membukukan penjualan Rp 300 miliar. Dengan pembangunan akses jalan tol baru, perusahaan berharap angka penjualan dalam setahun bisa mencapai Rp 400 miliar.

Alam Sutera

PT Alam Sutera Realty Tbk sudah lebih dulu membangun akses jalan langsung ke jalan tol. Perusahaan publik ini membangun akses jalan yang menghubungkan kawasan perumahan Alam Sutera dengan jalan tol Jakarta-Merak di kilometer 15,4. Jalan ini dikenal sebagai Tol Alam Sutera.

Pengoperasiannya sejak 19 September lalu. Pengelolaan jalan tol yang menelan dana Rp 150 miliar ini diserahkan kepada Jasa Marga. Manfaat jalan baru sepanjang tiga kilometer itu langsung terasa. Maklum, beban kemacetan di pagi dan sore hari yang biasanya hanya ditanggung Jalan Raya Serpong kini terbagi.

Dampak langsung juga terasa di kawasan Alam Sutera yang menjadi tempat transit lantaran berada di mulut jalan tol. "Traffic atau jumlah pengunjung di Alam Sutera bertambah," kata Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan. Namun, dia mengaku, belum menghitung jumlah arus kendaraan yang lalu-lalang sejak jalan tol Alam Sutera beroperasi.

Yang jelas, tujuan pengembang membangun akses jalan tol ini adalah mendongkrak popularitas proyek komersial dan hunian di Alam Sutera. Maklum, perusahaan ini sudah ancang-ancang membangun lebih banyak lagi perumahan dan tempat komersial. Alam Sutera masih punya banyak lahan kosong. Separuh dari total lahan seluas 700 ha masih berupa lahan kosong. Sedangkan megaproyek komersial yang akan dibangun adalah mal, apartemen, hotel dan perkantoran.

Hendra bilang, akses jalan tol tersebut secara otomatis bakal menaikkan harga rumah dan tanah di kawasan Alam Sutera. Namun, pengembang juga tidak mau mematok kenaikan harga rumah terlalu cepat. "Tidak sampai 10% per tahun," imbuhnya. Sedangkan kenaikan harga di pasar sekunder bakal lebih cepat lagi.

Di sisi lain, kenaikan investasi harga tanah terbilang pesat. Tahun 2006, harga tanah di sana masih sekitar Rp 1,3 juta per m². Setahun berselang sudah merangsek naik menjadi Rp 2 juta dan mencapai Rp 2,25 juta sampai Rp 2,5 juta pada tahun lalu.

Sedangkan sekarang, harga tanah di Alam Sutera sudah mencapai Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Berarti, hanya dalam waktu tiga tahun, harga tanah di sana naik 153%.

Sinarmas

Sebenarnya, Sinarmas Developer and Real Estate (Sinarmasred) adalah salah satu pionir pengembang yang membangun akses jalan tol ke kawasan huniannya. Ada tiga kota mandiri di bawah payung induk perusahaan properti Sinarmas menerapkan konsep tersebut: Kota Bumi Serpong Damai (BSD City), Grand Wisata, dan Deltamas. Dengan akses langsung tersebut, kota mandiri garapan Sinar Mas jadi pilihan properti yang diminati orang.

Bumi Serpong Damai (BSD) bisa dibilang sebagai kota mandiri yang strategis. Kawasan ini bisa dicapai melalui dua ruas jalan tol, yaitu jalan tol Jakarta- Merak dan jalan tol Jakarta- Serpong. Tak heran bila BSD menjadi kawasan yang menyedot perhatian tinggi bagi para komuter, yang mencari rumah di sekitar Tangerang.

Tak hanya itu. Akses jalan tol Jakarta-Serpong juga mendongkrak prospek investasi di kawasan tersebut. Kini, kawasan BSD memiliki fasilitas dan sarana infrastruktur yang lengkap untuk kalangan menengah ke bawah dan kalangan atas. Mulai dari hunian, area komersial, rumah sakit, sampai sekolah dan universitas. BSD juga melengkapi diri dengan pasar modern, sehingga para penghuni semakin nyaman tinggal di sana.

Idham Muchlis, Manajer Senior Komunikasi Korporat BSD, mengatakan bahwa pertumbuhan harga tanah di sana cukup cepat. "Pertumbuhannya sekitar 15% sampai 20% per tahun," imbuhnya.

Saat ini, harga tanah per m² di BSD di pasaran sudah di atas Rp 2,5 juta. "Sejak kami di BSD tahun 2004, kenaikan harga tanah rata-rata per tahun mencapai 31,4%," ujar Lilly Tjahnadi, Deputi Direktur Pemasaran Simasred, kepada Titis Nurdiana dari KONTAN.

Di sisi lain, BSD juga semakin aktif mengembangkan kawasannya. Saat ini, pembangunan proyek BSD City Tahap II segera dimulai. Dana yang dianggarkan untuk mengembangkan lahan seluas 2.000 ha itu sekitar Rp 15 triliun. Awalnya, pengembang akan menggarap lahan seluas 850 ha dan ditargetkan rampung pada tahun 2013. Selanjutnya, pengembangan sisa lahan 1.150 ha diharapkan selesai pada 2020.

Selain BSD, Grand Wisata milik PT Duta Pertiwi Tbk. juga memiliki akses langsung menuju jalan tol sejak akhir 2007. Kawasan seluas 1.100 ha ini memiliki akses jalan tol dengan pintu keluar tol Tambun di kilometer 21. Konsep akses jalan tol ini cable stayed, bergaya modern tanpa tiang penyangga sepanjang 80 meter. Ciri khasnya, menara lengkung berwarna kuning setinggi 40 meter.

Akses jalan tol dari pintu keluar tol Tambun itu langsung menuju Jalan Boulevard Utama Grand Wisata hingga ke Jalan Mustika Jaya di kawasan Grand Wisata. Jika harga tanah di sana pada tahun 2007 hanya Rp 1,5 juta per m², maka pada 2009 sudah di atas Rp 2 juta.

Kota Deltamas juga memanfaatkan akses jalan tol Jakarta-Cikampek. Penghuni di sana bisa keluar dari jalan tol itu di kilometer 37, yang juga merupakan gerbang masuk ke Kota Deltamas. Jadi, penghuni tak perlu lagi tersandera oleh kemacetan.

Tinggal di sana, pengembang yakin para penghuni tak akan merugi. Sebab, saban tahun, "Rata-rata kenaikan tanah di sana mencapai 23,7% per tahun," ujar Lilly berpromosi. Saat ini harga tanah di kawasan Deltamas sudah ada di atas Rp 1 juta. Tertarik membungkusnya? (KONTAN/Sanny Cicilia Simbolon)


Editor: acandra

This content has passed through fivefilters.org.

PERUMAHAN : Hidup Nyaman di Kota Mandiri

Posted: 25 Oct 2009 05:57 PM PDT

KOMPAS.com — Kebutuhan orang terhadap rumah selalu tumbuh setiap tahun. Lajunya sering lebih cepat ketimbang pasokannya, apalagi lahan perumahan makin terbatas, khususnya di tengah kota.

Kalaupun mencari lahan jauh di pinggir kota, pengembang juga tidak mudah mencari lahan yang pas dengan mempertimbangkan akses ke lokasi. Beruntung bagi pengembang yang sudah lebih dulu bermodalkan lahan luas. Sebab, dengan modal itu, pengembang bisa lebih mudah untuk membuat rencana besar (masterplan) pengembangan menjadi sebuah kawasan kota mandiri.

Konsep kota mandiri memang belum banyak di Indonesia. Salah satu perintisnya adalah BSD City. Kawasan di Serpong, Tangerang, itu mulai dikembangkan sejak tahun 1984 dengan total area seluas 6.600 hektar. Saat ini, pembangunan baru sampai pada tahap I dengan perkiraan luas lahan 1.500 hektar, dari tiga tahap yang direncanakan.

Sukses dengan konsep ini, pengembang lain mencoba mengembangkan konsep serupa. Salah satunya Grup Lippo di Karawaci, Tangerang, Kota Deltamas, Kawasan Jababeka, Citra Raya, dan Jakarta Garden City. Ada juga beberapa proyek di luar Jakarta, seperti Citraland, Surabaya.

Membangun kota mandiri dengan luas lahan sampai ribuan hektar memang butuh dana tidak sedikit. Karena itu, pengembang biasanya membangun secara bertahap. Modal dasar pengembang adalah biaya pembebasan tanah yang relatif murah. Sebab, proses pembebasannya biasanya sudah jauh-jauh hari, meskipun pembangunannya baru belakangan.

Peran pemerintah besar

Meski butuh modal besar, berbekal lahan luas, pengembang bisa menyiasati dengan menggandeng investor untuk proyek-proyek tertentu. "Kita tidak mungkin menyediakan semua kebutuhan dana. Kita bisa rangkul investor untuk pengembangan tiap proyek," ungkap Lilly Tjahnadi, Deputi Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis Komersial Duta Pertiwi.

Saat ini, Duta Pertiwi memiliki dua kota mandiri, yakni BSD City di Tangerang dan Kota Deltamas Cikarang. Lantaran luasnya lahan, pengembangan kota mandiri memang tidak lepas dari peran pemerintah.

"Perlu keikutsertaan pemerintah karena urusannya lebih sulit," ungkap Harun Hajadi, Direktur Pengelola Grup Ciputra. Selain itu, kota mandiri pun biasanya harus bergantung dulu pada kota terdekat yang sudah lebih dulu ada. "Kalau tiba-tiba dibangun jauh dari kota, pasti akan sulit," tambahnya.

Meski begitu, dengan keterbatasan lahan perumahan seperti sekarang, pengembang yang memiliki kota mandiri bakal tampil ke depan. Seiring dengan proyeknya yang terus berkembang, nilai tanah dan bangunan juga ikut naik.

Di BSD City, misalnya, harga tanah pada tahun 2004 masih sekitar Rp 750.000 per meter persegi dan bangunan sekitar Rp 2 juta per meter persegi. Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per meter persegi dan harga bangunan sudah mencapai 3,2 juta per meter persegi.

Pengamat properti Ali Tranghada memperkirakan bahwa, ke depan, dengan berbagai fasilitasnya, kota mandiri lebih bakal diminati konsumen. "Tanpa ada fasilitas terintegrasi, konsumen tak bakal memilih kawasan itu," ungkapnya.

Semua fasilitas terpenuhi dalam kompleks

Sebuah kawasan disebut sebagai kota mandiri jika memenuhi beberapa kriteria. Misalnya, luas kawasan paling tidak 1.000 hektar. Selain itu, pengembangan kawasan itu juga menerapkan konsep terintegrasi dan memberi kontribusi bagi pengembangan kawasan di tempat lain.

Pengembangan kota mandiri pun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan sekitarnya. Misalnya, penyerapan tenaga kerja dan pengembangan ekonomi masyarakat. "Salah satu ukurannya, harga tanah di sekitar kawasan itu ikut naik," ungkap Harun Hajadi, Direktur Pengelola Grup Ciputra.

Lebih dari itu, keunggulan kota mandiri sesungguhnya adalah memiliki fasilitas lengkap selayaknya sebuah kota. Mulai dari fasilitas umum, perkantoran, pusat bisnis dan perdagangan, dan pusat hiburan. "Semua fasilitas lengkap. Mulai kebutuhan harian hingga untuk bekerja," ungkap Idham Muchlis, Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD City.

Dengan berbagai fasilitas itu, kebutuhan para penghuni di kawasan itu terpenuhi. Menurut pengamat properti Ali Tranghada, salah satu perangsang pertumbuhan kota mandiri adalah perkembangan sektor bisnis dan perdagangan. "Dari proses yang alamiah, pengembang mempercepat hingga tumbuh pesat," ungkapnya.

Berbagai fasilitas itu secara langsung menguntungkan para konsumen dan investor yang membeli proyek-proyek di kota mandiri. Sebab, seiring berkembangnya kawasan, nilai jual tanah dan bangunan di kawasan itu juga akan meningkat.

Alhasil, sebagai wahana investasi, membeli rumah di kota mandiri bakal lebih menguntungkan ketimbang kompleks baru yang masih minim fasilitas. Meski cukup menguntungkan, tapi tak mudah mengembangkan kota mandiri dengan cepat. "Salah satu kendalanya adalah ketersediaan lahan yang luas dengan biaya yang lebih terjangkau," kata Harun. (Bagus Marsudi/Epung Saepudin)


Editor: acandra

This content has passed through fivefilters.org.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar