Selasa, 29 Desember 2009

Rumah Idaman FIGUR : Els Ramadhinta, dari Jakarta ke Dubai

Rumah Idaman FIGUR : Els Ramadhinta, dari Jakarta ke Dubai


FIGUR : Els Ramadhinta, dari Jakarta ke Dubai

Posted: 09 Dec 2009 10:55 PM PST

Kamis, 10/12/2009 | 13:55 WIB

KOMPAS.com - Els Ramadhinta (30) dalam waktu dekat ini akan melepaskan posisinya sebagai Director of Public Relations Hotel The Ritz-Carlton Jakarta. Kemanakah gerangan Els akan pergi? "Saya mendapat kesempatan untuk belajar dan tumbuh berkembang bersama Ritz-Carlton. Mulai 1 Februari 2010, saya akan menjabat Director of Public Relations Hotel The Ritz-Carlton Dubai," kata Els dalam percakapan dengan Kompas.com belum lama ini.

"Perasaanku  seperti akan melakukan travelling ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Ada rasa penasaran, bangga, dan juga termotivasi," kata Els yang lahir di Surabaya, 27 Agustus 1978 itu.

Els bergelut dalam dunia hospitality sejak 10 tahun lalu, mulai dari Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, jaringan hotel Grup Accor, sampai jaringan global hotel The Ritz-Carlton.

Aksi terorisme yang menimpa Hotel Ritz-Carlton Jakarta tahun 2009, memberikan pengalaman berharga bagi Els, terutama pengalaman manajemen krisis. "Ritz-Carlton memang perusahaan yang established. Penanganan kasus ini sangat profesional karena sudah ada sistem penanganan darurat. Ritz-Carlton punya toll number emergency. Ada profesional yang khusus ditunjuk mengeluarkan pernyataan resmi, dan semua pimpinan jajaran Ritz-Carlton harus on-call. Di sini team-work sangat baik. Setiap hari karyawan diberi motivasi. Dalam keadaan darurat seperti inilah, terlihat kualitas kepemimpinan GM dan manajemen kami. Dalam sehari, ada dua kali briefing. Dari waiters sampai GM, tak ada yang bilang hotel ini jelek karena masing-masing berusaha bekerja yang terbaik untuk Ritz-Carlton," cerita Els.

Bekerja di Ritz-Carlton memberi keyakinan pada Els bahwa Ritz-Carlton memang hotel terbaik di Indonesia. "Setiap kali aku melakukan travelling dan menginap di hotel lain, aku merasa service yang berbeda. Itu karena setiap hari aku dijejali dengan pengetahuan tentang standar tinggi hotel. Dan itu selalu aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi misalnya, mau pulang jam berapa pun pada malam hari, kami tetap harus sudah tiba di hotel pukul 08.00 pagi. Jika terlambat, ada perasaan tidak enak. Para karyawan hotel ini punya perasaan memiliki yang kuat," tandas Els.

Setiap pagi, kata Els, semua karyawan Ritz-Carlton wajib mengikuti morning briefing. Karyawan diwajibkan menulis kisah nyata dan bagaimana upaya mereka membantu tamu hotel. Misalkan ada hak sepatu tamu yang copot, karyawan hotel bertanggung jawab selalu memiliki inisiatif untuk mencari solusi.

"Bahkan pernah terjadi di Singapura, sepatu tamu rusak, karyawan front desk lari ke mal sebelah dan membelikan sepatu pengganti. Ini hanya contoh. Tapi setiap hari topik selalu berganti. Mulai dari keselamatan saat liburan, upaya penyelamatan lingkungan dan penghematan energi, keamanan dan sebagainya. Setiap pagi, semua karyawan Ritz-Carlton di seluruh dunia membahas cerita yang sama. Ini komitmen bersama agar hotel ini menjaga kualitas," ungkap Els.

Yang juga unik, kata Els, setiap karyawan bebas menulis ucapan terima kasih kepada karyawan lainnya, termasuk mengucapkan selamat ulang tahun. Dengan cara inilah, Ritz-Carlton menjaga soliditas karyawan dan menjaga kualitas hotel itu.

"Saya bangga menjadi bagian dari Ritz-Carlton. Seperti apa pekerjaan di Dubai, saya kira tantangannya tetap sama, menjaga kualitas pelayanan kepada para tamu," kata Els Ramadhinta yang bersiap berkemas-kemas meninggalkan Jakarta. 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar