Kamis, 10 Desember 2009

Rumah Idaman FIGUR : Erwin Hawawinata, Arsitek yang Mengglobal

Rumah Idaman FIGUR : Erwin Hawawinata, Arsitek yang Mengglobal


FIGUR : Erwin Hawawinata, Arsitek yang Mengglobal

Posted: 28 Nov 2009 02:06 AM PST

Sabtu, 28/11/2009 | 17:06 WIB

KOMPAS.com - Arsitek Erwin Hawawinata adalah arsitek Indonesia yang karya-karyanya mengglobal. "Saya berharap arsitek Indonesia lebih percaya diri karena karya-karya arsitek Indonesia sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan arsitek asing," kata Erwin dalam percakapan dengan Kompas.com di sebuah hotel di kawasan Senayan, Sabtu (28/11) petang.

Arsitek Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung angkatan 1994 ini menilai arsitek Indonesia sesungguhnya lebih kreatif dalam hal desain dan material sampai "finishing". "Sumber daya manusia dan kreativitas arsitek Indonesia lebih unggul," kata Erwin, lulusan SMA Regina Pacis Bogor ini.

Erwin menambahkan, agar arsitek Indonesia mampu bersaing dengan arsitek luar negeri, arsitek lokal harus meningkatkan wawasan, sering melakukan perjalanan, dan mengikuti acara-acara arsitektur agar mengetahui tren dunia yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Selain itu arsitek Indonesia juga harus menguasai ilmu marketing agar dapat menjual ide kepada klien dengan tepat.

Erwin memang boleh berbangga hati karena karya-karyanya diakui orang asing. Saat ini Erwin mengerjakan proyek rumah residensial pribadi seluas 1.700 meter persegi di kawasan Bukit Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia, dan juga sebuah rumah seluas 1.200 meter persegi di Yaman. Kedua rumah itu dibangun dengan gaya kolonial, sementara interiornya bergaya fusion. Pemilik rumah berbangsaan Malaysia dan Yaman itu memiliki bisnis di Indonesia. Proyek di mancanegara tersebut akan selesai tahun 2010.

Menurut Erwin, yang membuat tim arsitek Hawawinata & Associates ini unik karena tim ini memiliki kemampuan sketsa tangan. "Tim arsitek kami melihat lahan kosong, langsung dapat membuat sketsa tangan, akan menjadi seperti apa rumah di lahan kosong itu kelak. Ini poin plus.  Klien langsung memperoleh hasil sketsa pada hari itu juga. Proses ini langsung dilanjutkan dengan visualisasi dalam bentuk tiga dimensi (3D) agar klien dapat mengetahui 90 persen konsep yang dibuat arsitek," jelas Erwin, anak ketiga dari empat bersaudara Hawawinata itu.
 
Proyek residensial yang sudah selesai berlokasi di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Salah satunya adalah rumah tinggal seluas 2.300 meter persegi di lahan seluas 1.700 meter persegi di Darmo Indah Golf di Surabaya. "Konsep rumah bergaya kolonial, yang diilhami dari kemegahan Istana Versailles di Perancis. Yang ditonjolkan di rumah itu adalah warna-warna lembut, natural stone, dan material yang sifatnya halus. Semua proporsi dan detail rumah dihitung dengan benar, mengikuti golden rule Andrea Palladio, arsitek zaman Renaissance," ungkap Erwin.

Monumental

Rumah-rumah karya Erwin Hawawinata ini boleh dibilang proyek mercusuar. "Bukan saja soal uangnya, tetapi juga monumental. Orang bisa melihat bahwa ini hasil karya arsitek lokal, arsitek Indonesia. Saya ingin mengedukasi klien bahwa karya arsitek Indonesia juga bagus dan relatif terjangkau," katanya.

Salah satu karya Erwin di Jakarta adalah gedung Da Vinci, yang selesai tahun 2003 lalu. Selain itu Erwin mengerjalan desain khusus executive lounge untuk Camus di Bellagio, dan beberapa restoran di Jakarta.

Karya-karya Edwin tidak sekadar bangunan biasa. "Saya membangun sesuatu dengan nyawa. Setiap rumah yang dibangun harus mampu bercerita, dan setiap rumah memilik cerita yang berbeda," kata Erwin yang sudah berkeliling dunia, melihat tren arsitek hingga ke Milan, Valencia, Paris, Singapura, Hongkong dan berbagai kota lainnya di mancanegara.  

Lulus dari Unpar Bandung tahun 1999, Erwin langsung bergabung di Da Vinci sebagai junior designer dan kemudian senior designer. Tahun 2000, Erwin menjadi Chief Designer Da Vinci. Divisi baru yang dipimpinnya itu dibentuk untuk mempermudah klien mendapatkan apa yang diinginkan. "Kami menawarkan layanan, dapat membuat konsep rumah sesuai keinginan klien. Semacam adviser klien," ujarnya. Sejak itu, cerita Erwin, dia mulai mendapatkan proyek tanah kosong.

Tahun 2005, Erwin menjadi General Manager Da Vinci. Tiga tahun kemudian, Erwin keluar dan membentuk perusahaan associate design sendiri. "Kami menjadi konseptor rumah, membantu klien dari segi budgeting sampai finishing. Kami yakinkan klien bahwa mereka akan mendapatkan konsep rumah dengan hasil terbaik dan anggaran yang relatif lebih hemat. Ini penting ditekankan karena bagus dan mahal itu gampang, tapi bagus dan hemat itu kan tidak mudah. Ini yang jadi kepedulian kami," katanya.
 
Konsep rumah yang dibuat Erwin lebih bergaya fusion. Artinya bukan klasik murni dan bukan pula modern. "Gaya ini sebetulnya dikenal dengan nama gaya maksimalis. Gaya fusion menggabungkan unsur tradisional atau klasik dengan gaya modern yang sedang nge-tren sehingga setiap desain tidak ada yang kedaluarsa," urainya. (Robert Adhi Ksp)
 

fivefilters.org featured article: Normalising the crime of the century by John Pilger

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar