Senin, 07 Desember 2009

Rumah Idaman “FIGUR : Rudy Margono: Perusahaan Properti Harus Inovatif dan Kreatif” plus 2 more

Rumah Idaman “FIGUR : Rudy Margono: Perusahaan Properti Harus Inovatif dan Kreatif” plus 2 more


FIGUR : Rudy Margono: Perusahaan Properti Harus Inovatif dan Kreatif

Posted: 07 Dec 2009 10:34 PM PST

Selasa, 8/12/2009 | 13:34 WIB

KOMPAS.com - Gapuraprima Group adalah perusahaan properti terkemuka di Indonesia yang multisegmen dan multiproduk. Berawal dari membangun perumahan real-estate dan rumah sederhana, Gapuraprima kini tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan properti yang membangun apartemen, gedung perkantoran, mal, hotel, dengan segala fasilitasnya.  Berbagai produk properti Gapuraprima tersebar di Jabodetabek dan sejumlah kota lainnya di Indonesia, mulai untuk segmen menengah bawah, menengah, sampai segmen menengah atas.

Rudy Margono, anak bungsu dari lima bersaudara, adalah putra mahkota keluarga Gunarso Susanto Margono, pendiri perusahaan properti Gapuraprima. Setelah lulus SMA di Los Angeles, Amerika Serikat, Rudy kelahiran Jakarta, 8 Mei 1970 ini melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Tarumanegara Jakarta (1989-1992). Sejak di bangku kuliah, Rudy sudah bekerja, mengelola properti perusahaan keluarga Margono di sejumlah kota. Rudy meraih gelar MBA dari Aspen University, Colorado, Amerika Serikat. Di tangan Rudy-lah, Gapuraprima Group makin berkibar.

Berikut petikan wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Presiden Direktur Gapuraprima Group, Rudy Margono di Belezza Shopping Arcade, Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (8/12) pagi

Pada awalnya, Gapuraprima Group membangun perumahan, kini ikut membangun apartemen, gedung perkantoran, mal dan hotel. Apa yang membuat Gapuraprima melakukan diversifikasi usaha?
Gapuraprima Group memang unik karena produk-produk properti kami multisegmen, dari rumah RSS, BTN sampai mal dan apartemen mewah, dari waterpark sampai resor di pantai. Ketika tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang berpengaruh pada usaha properti, kami harus bertahan dengan melakukan diversifikasi usaha, yaitu membangun lebih banyak rumah sangat sederjana (RSS). Kami melihat kebutuhan akan rumah tetap ada, walaupun terjadi krisis ekonomi. Sekarang, setelah kondisi ekonomi pulih, kami melihat tren properti. Kami ini pedagang. Jadi apa yang laris dijual, ya itu yang kami bangun. Setelah Gapuraprima go public tahun 2007, kami membangun apartemen, mal, gedung perkantoran, dan hotel dengan segala fasilitasnya. Salah satu pemegang saham perusahaan ini adalah Ahmed Fouad Abdel, WN Kuwait. Ke depan, kami ingin Gapuraprima menjadi pengembang papan atas yang kompetitif.  Perusahaan properti tak ada bedanya dengan perusahaan mobil. Kami mesti inovatif dan kreatif membangun produk baru. Perusahaan mesti hidup terus dan mengembangkan usaha. Properti ada siklus. Setiap produk ada tren. Pengusaha harus bisa survive dalam kondisi kritis sekalipun.
 
Apakah Gapuraprima tetap fokus membangun dan mengembangkan real estate?  
Membangun apartemen, gedung perkantoran, mal, dan hotel, adalah langkah diversifikasi usaha. Perusahaan kami unik. Kami tidak memiliki lahan luas seperti grup-grup properti Ciputra misalnya. Kami menghindari lahan tidur. Setelah lahan kami habis, tentunya perusahaan ini harus tetap beroperasi. Seribuan karyawan Gapuraprima harus tetap bekerja. Mereka dapat beralih bekerja di sport club, hotel, mal, apartemen, yang kami bangun. Apakah kami tetap membangun real estate dan rumah sederhana? Ya pasti. Kami sukses membangun kawasan perumahan di berbagai kota di Indonesia setelah melalui proses waktu yang cukup panjang. Di setiap proyek real-estate yang kami bangun, selalu dilengkapi dengan sport-club. Di Cilegon, Banten, kami punya Kompleks Metro Cilegon, kawasan perumahan terbesar di Cilegon dengan lahan seluas 140 hektar. Kami sudah membangun 3.000 rumah di atas lahan 40 hektar, dan kami masih punya lahan 100 hektar lagi. Perumahan ini sudah menjadi ikon Kota Cilegon karena fasilitasnya yang lengkap. Kami sedang merancang pembangunan mal dan tempat makan di Metro Cilegon, yang dikelilingi kawasan industri dan pelabuhan internasional. Di Depok, kami membangun 3.000 unit rumah di Bukit Rivaria Sawangan di lahan seluas 30 hektar. Kami juga membangun Depok Maharaja di lahan 47 hektar, dilengkapi pusat bisnis, mal dan kolam renang di Sawangan. Ini untuk mengantisipasi jalan tol Antasari-Cinere yang segera dibangun. Di Bogor, kami punya Bukit Cimanggu City dengan lahan seluas 145 hektar. Saat ini sudah dibangun 5.000 unit rumah. Tahap kedua, kami mengembangkan green property untuk kelas menengah dan menengah atas. Di Bekasi, kami memiliki  Taman Kota Bekasi yang harganya mulai Rp 600 juta.

Juga tetap membangun rumah-rumah sederhana?
Kami tetap peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Di Bukit Cimanggu City Bogor misalnya, kami juga membangun rumah-rumah sederhana untuk masyarakat menengah bawah di atas lahan seluas 25 hektar. Di Bekasi, kami membangun rumah-rumah tipe 42-an di Jatiwaringin Garden seharga Rp 200-an juta, dan juga rumah sederhana di Taman Raya Bekasi seluas 15 hektar dengan tipe 21 m2 sampai 45 m2. Di Cilegon, kami membangun 1.500 unit rumah sederhana di Taman Raya Cilegon di lahan seluas 15 hektar. Di Bogor, juga ada Taman Raya Citayam seluas 15 ha. Di Tangerang, kami membangun Taman Raya Rajeg seluas 40 hektar. Ini semua berjalan cukup bagus. Selain di Bodetabek, kami juga membangun rumah-rumah sederhana di Solo, Cilacap, Cirebon, dan Cianjur.

Tidak semua produk properti Gapuraprima berjalan sesuai harapan. Bagaimana Anda menyiasatinya?  
Kami akui memang dari sekian banyak produk properti yang kami bangun, tidak semuanya sesuai harapan, namun kami akan tetap fight sampai berhasil. Setiap pengusaha akan mengalami up and down. Mal di bawah Apartemen Serpong Town Square yang kini berubah menjadi CBD Serpong, kami akui, tidak efisien lagi. Karena itu kami akan melakukan konversi menjadi Hotel Marcopolo yang dilengkapi dengan fasilitas waterpark.

Komentar Anda tentang bisnis properti pada tahun-tahun mendatang?
Saya optimistis bisnis properti akan terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang. Kenaikan harga properti tidak mungkin dikalahkan oleh pendapatan. Karena itu mereka yang belum punya rumah, harus mengusahakan memiliki rumah sendiri karena harga rumah makin tinggi. Kebutuhan akan rumah tetap tinggi. Demikian juga kebutuhan akan apartemen. Kami memiliki apartemen The Belezza di Permata Hijau, apartemen The Bellagio Residence dan Bellagio Mansion di Mega Kuningan, apartemen Kebagusan City di Kebagusan. Sebagai pengusaha properti, kami berharap pemerintah segera mengizinkan orang asing memiliki apartemen di Indonesia. Orang Indonesia saja boleh memiliki apartemen di luar negeri, mengapa kita tidak mengizinkan orang asing memiliki apartemen di sini? Kalau orang asing dilarang miliki properti, ini suatu kebodohan. Harga properti di Jakara paling murah di dunia. Dan harga properti di sini tidak pernah turun. (Robert Adhi Ksp)


 
 

This content has passed through fivefilters.org.

FIGUR : Ardi Joanda: Biaya Kuliah Tinggi, Nekad Tulis Surat ke Ali Alatas (2)

Posted: 07 Dec 2009 07:07 AM PST

Senin, 7/12/2009 | 22:07 WIB

KOMPAS.com -  Lulus SMA tahun 1989, Ardi Joanda berangkat ke Selandia Baru. "Pikiran saya sederhana saja. Saya kuliah di luar negeri karena ingin menjadi lebih baik. Pikiran waktu itu, kalau pulang dari luar negeri, saya akan lebih mudah cari kerja. Tapi persoalannya, dana pas-pasan. Ada yang menyarankan saya mendaftarkan diri ke Australia, tetapi melihat biayanya yang terlalu mahal, akhirnya saya mencoba ke Selandia Baru. Mami mendukung saya. Tapi kuliah di luar negeri sepertinya merupakan ide gila karena secara finansial, keuangan keluarga kami tak mungkin dapat membiayai kuliah saya," cerita Ardi lagi.

Di Selandia Baru, biaya sekolah masih relatif murah. "Saya belajar sambil bekerja. Saya memberanikan diri karena saya berpendapat, kalau saya mau bekerja, pasti dapat menghidupi diri sendiri," katanya. Ardi kemudian melanjutkan pendidikan setara SMA yaitu Selwyn College di Auckland.

Saat akan lulus, Ardi dan siswa lainnya terkejut dengan rencana Pemerintah Selandia Baru menaikkan uang sekolah, dari sebelumnya 1.000 dollar Selandia Baru setahun menjadi 5.000 - 10.000 dollar Selandia Baru setahun. "Kami betul-betul shock. Akhirnya bersama siswa Malaysia dan Singapura, siswa Indonesia melakukan perlawanan agar uang sekolah tidak naik," katanya.

Tulis Surat ke Menlu Ali Alatas

Ardi Joanda menulis surat ke Menteri Luar Negeri Ali Alatas, yang isinya menceritakan keadaan perubahan uang kuliah di Selandia Baru. "Teman Malaysia juga menulis surat yang sama. Pak Ali Alatas menyempatkan diri untuk datang ke Selandia Baru. Melalui cara ini, akhirnya Pemerintah Selandia Baru mengubah kebijakannya. Mereka memberi kesempatan kepada siswa mancanegara untuk mendapatkan beasiswa jika memenuhi persyaratan.  Setelah pengumuman ini, saya belajar siang-malam sehingga lulus dengan nilai A. Saya akhirnya mendapat beasiswa di bidang ekonomi, Commerce and Administration di Victoria University of Wellington selaam lima tahun. Tapi saya menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga tahun," cerita Ardi.

Sebenarnya, kata Ardi, keluarga Belanda, Thomas Beuker yang menjadi keluarga angkatnya di Auckland, sudah mengatakan kepadanya agar tidak perlu khawatir. Jika misalnya Ardi tidak mendapatkan beasiswa, keluarga Thomas yang akan mencari cara agar Ardi tetap bisa melanjutkan pendidikan. Demikian pula keluarga angkatnya dari Taiwan, keluarga Pan, menjamin Ardi secara finansial, agar dapat menyelesaikan pendidikan tingginya di Selandia Baru.

"Saya percaya bahwa hidup saya penuh berkah. Kalau kita berbuat baik, pasti hidup kita penuh berkah. Ketika menghadapi masalah, saya selalu bisa mengatasi problem. Walaupun ada dua keluarga angkat yang memberi jaminan finansial, pada akhirnya saya mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan beasiswa agar bisa kuliah," papar Ardi.

Ardi Joanda menegaskan kembali bahwa berbagai pengalaman pahit memberi kesempatan baginya untuk menunjukkan kemampuan. "Berbagai kejadian yang tidak diharapkan dan tidak menyenangkan, malah memberi saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sesungguhnya," tandasnya.

Otodidak di Bidang Furnitur
Thn 1993, ketika pulang ke Indonesia, Ardi Joanda langsung bergabung dengan grup Da Vinci. Awalnya Ardi diminta merapikan administrasi perusahaan Fissler, perusahaan multilevel. Setelah ada perusahaan kosmetik yang baru dibuka,  Ardi diminta terlibat membantu marketing support. Dan cukup berhasil. Saat Da Vinci  dibuka  tahun 1994, Ardi bergabung sejak dari nol, sejak nebeng dengan Fissler. "Saya tidak hitung-hitungan. Saya menunjukkan talenta saat diberi kesempatan. Kalau itu baik, let's do it. Di Da Vinci, saya belajar otodidak selama 13 tahun," jelasnya.

Perkenalannya dengan urusan desain interior ini sebetulnya sejak dia membantu ayah angkatnya, Thomas Beuker, arsitek dan kontraktor Belanda yang tinggal di Aukland, Selandia Baru. Di sana Ardi menyempatkan untuk belajar mengecat dan memasang wallpaper. "Pengalaman ini ternyata ada gunanya untuk masa depan saya. Makanya kita tidak boleh hitung-hitungan. Potensi harus digali sedalam mungkin tanpa harus hitung-hitungan," katanya.   
 
Ardi bercerita ketika membangun Da Vinci Tower di Jakarta, dia juga belajar bagaimana mengelola pembangunan gedung klasik, yang detil dengan skala besar, tanpa kontraktor utama. "Orang pikir saya insinyur. Saya pernah mendapat surat yang ditujukan kepada Ir Ardi Joanda. Tapi tidak perlu harus menjadi insinyur dulu untuk mengerjakan pembangunan Da Vinci Tower. Intinya kalau mau kita mau belajar pasti bisa. Kalau sekarang saya diminta merancang lima gedung seperti Da Vinci Tower, saya berani. Saya lakukan itu semua tanpa hitung-hitungan karena saya menganggap itu sebagai tempat belajar. Bekerja adalah tempat terbaik untuk belajar, dan dibayar lagi. Kalau kita sekolah, kan harus membayar," ungkap Ardi.

Ardi menyampaikan terima kasih kepada Tony Phua dan Doris Phua, suami istri pemilik Da Vinci asal Singapura, yang memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan segala kemampuan. "Saya belajar banyak dari Tony dan Doris, serta semua teman di Da Vinci yang memberi dukungan penuh," kata Ardi.

Setelah 13 tahun bergabung dengan Da Vinci, dan terakhir pada posisi sabagai CEO Da Vinci, Ardi memutuskan keluar dengan alasan pribadi. "Saya ingin pindah kuadran, menjadi pengusaha," katanya. Bulan Januari 2006, Ardi merintis usaha es Charmy Ice bersama Lawrence Pan, saudara angkat dari Taiwan.

Mengalami banyak pengalaman dalam hidupnya, Ardi selalu menyampaikan pendapatnya bahwa pengalaman pahit adalah "guru" yang paling manis. "Karena justru pada saat iitulah, kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengeluarkan segala kemampuan yang ada. Tapi akan lebih baik jika dalam kondisi baik pun, kita bisa mengeluarkan kemampuan terbaik," kata Ardi.

Menurut Ardi, banyak orang tidak menyadari kemampuan karena terlalu berhitung-hitung. "Banyak orang berpendapat, ngapain saya harus kerja begini, begitu. Padahal setiap hal yang dilakukan, harus dianggap sebagai ujian, sampai sejauh mana kemampuan kita. Begitu diuji, baru tahu kemampuan kita luar biasa sehingga muncul kepercayaan diri," ujarnya.

"Dalam hidup ini sebenarnya kita diberi kesempatan waktu oleh Tuhan untuk memanfaatkan talenta-talenta yang masih terpendam. Karena itu mari kita nikmati hidup, berbagi dan memanfaatkan talenta-talenta yang diberikan Tuhan," ungkap Ardi Joanda. (ROBERT ADHI KSP)
 

This content has passed through fivefilters.org.

FIGUR : Ardi Joanda: Belajar dari Keuletan Ibunda (1)

Posted: 07 Dec 2009 06:03 AM PST

Senin, 7/12/2009 | 21:03 WIB

KOMPAS.com - Bagaimana tren furnitur high-end tahun 2010? "Tren furnitur rumah-rumah kelas atas akan kembali ke tren tradisional klasik yang lebih ringan, yang sering kali disebut sebagai american classic. Tren warna furnitur tetap pada warna hitam, putih, dan warna kayu. Sedangkan tren warna material, kombinasi warna metal stainless dan warna silver," kata Ardi Joanda, President Medici Living, perusahaan furnitur high-end dalam percakapan dengan Kompas.com di sebuah restoran di Permata Hijau, Sabtu (5/12) lalu.

Menurut Ardi,  informasi mengenai produk interior yang tersebar di dunia maya dan di berbagai media massa cetak, membuat pengetahuan pemilik rumah semakin maju. Selain itu, makin banyak orang Indonesia yang berkunjung ke rumah-rumah indah di luar negeri dan dalam negeri sehingga pengetahuan tentang rumah pun makin luas.

"Saat ini dan di masa mendatang, peran desain interior dan arsitek akan semakin penting dalam menangani rumah-rumah kelas menengah atas. Untuk itulah furnitur juga penting mengikuti tren. Kami bukan lagi sekadar toko furnitur, tapi kami ingin bersama-sama arsitek dan desainer interior, ingin mewujudkan rumah idaman mereka. Ini sesuai slogan kami Live Your Life Best," ungkap Ardi Joanda, yang sebelumnya pernah bekerja di Da Vinci.

Setelah 13 tahun bergabung dengan Da Vinci, dan terakhir pada posisi sabagai CEO Da Vinci, Ardi memutuskan keluar dengan alasan pribadi. "Saya ingin pindah kuadran, menjadi pengusaha," katanya. Bulan Januari 2006, Ardi merintis usaha es Charmy Ice bersama Lawrence Pan, saudara angkatnya dari Taiwan.

Akhir tahun 2007, Ardi menerima telepon dari pemasok furnitur dari Amerika Serikat. "Mereka mempercayakan saya untuk memasarkan produk-produk mereka. Tahun 2008, Medici Living, perusahaan baru furnitur high-end didirikan. Nama Medici menentukan filosofi perusahaan karena keluarga Medici adalah patron dari berbagai bidang aspek kemanusiaan, politik, seni, agama, arsitek," ungkapnya.

Tahun 2008, Medici Living membuka ruang pamer di Belezza, Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan diresmikan oleh perwakilan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Medici memang mengkhususkan diri memasarkan produk-produk Amerika. Klien Medici pada umumnya keluarga kalangan atas, yang mengetahui produk ini dari mulut ke mulut.

 
Belajar dari keuletan ibunda
Siapa Ardi Joanda, pengusaha furnitur papan atas ini? Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 15 Januari 1970, Ardi besar dari keluarga sederhana. Ibunya, Lucy Jo, seorang perempuan yang ulet, yang membuat es krim untuk dijual ke sekolah-sekolah. Es krim itu dititip di kantin-kantin sekolah.

Setelah itu, ibu Ardi beralih ke usaha konveksi pakaian anak kecil, sedangkan ayahnya, Paulus Sun, bekerja di bagian pembukuan di sebuah perusahaan. Bersama kakaknya,  Antonius Yondi, Ardi mengantarkan barang konveksi pesanan ke toko-toko di Pontianak. Mereka berdua mengendarai sepeda, membawa bundelan besar berisi pakaian untuk diantar ke toko-toko. Ardi dan Yondi membantu ibunya yang membuka toko di sebuah pasar di Jalan Sudirman, Pontianak. Sebelum berangkat sekolah, Ardi menjaga toko sambil belajar mengerjakan PR. "Ketika saya masuk sekolah, koko yang mengganti jaga toko," urai Ardi.

"Saya belajar banyak dari mami yang memang lahir dari keluarga pedagang, bagaimana berdagang dengan ulet. Pernah suatu hari, kami tak boleh lagi berjualan es di sekolah, padahal es yang dibuat mami sangat laris. Tapi mami tidak putus asa. Pengalaman pahit dalam kehidupan sebelumnya, ternyata menjadi cambuk yang membentuk motivasi. memberikan booster untuk berhasil dalam usaha. Kondisi seperti ini melatih kami sekeluarga untuk bisa berdikari dan mandiri. Justru dengan berbagai kendala, kami mendapatkan pelajaran yang bermakna," cerita Ardi Joanda.

Menurut Ardi,  hidup ini memang  unik. "Setiap orang terlahir dengan rezeki dan nasib berbeda. Ada orang yang terlahir dari keluarga kaya, dan ada yang lahir dalam kondisi keluarga yang miskin. Tapi itu semua bukan berarti menjadi penentu masa depan. Ibarat memancing, ada orang rezekinya cukup lempar dua kali, langsung dapat ikan. Tapi ada yang harus lempar lima kali atau 10 kali, baru dapat ikan. Kita harus menyadari kapasitas yang kita miliki. Dan kita bekerja berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Kalau ternyata baru 10 kali berusaha, kita baru dapat satu, itu artinya kita harus bekerja lebih keras," ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Ardi bersyukur karena kedua orangtuanya memiliki prinsip, anak-anak harus mengenyam pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih baik. Untuk itulah kedua orangtua Ardi rela membanting tulang agar Ardi dan dua saudaranya dapat melanjutkan pendidikan tinggi.

Sejak duduk di SD Gembala Baik dan SMP Bruder di Pontianak, Ardi selalu menjadi murid terbaik. "Setelah lulus SMP, mami ingin saya melanjutkan SMA di Jakarta. Mami men-support saya agar bisa sekolah setinggi mungkin. Saya merasa orang yang penuh berkah. Ketika dalam kondisi kekurangan, Tuhan membantu melalui orang lain. Ketika masuk SMA St Yoseph Dwiwarna, Manggabesar, Jakarta Barat, dengan segala keterbatasan biaya, ada yang memberi dukungan kepada saya," katanya.

Ardi pindah ke Jakarta karena melihat banyak temannya melanjutkan SMA di Jakarta. Walaupun belum tahu akan tinggal di mana dan bersekolah di mana, ibunda Ardi memberi dukungan yang kuat kepada anaknya. 

"Akhirnya berkat bantuan mami, saya dapat sekolah di SMA St Yoseph. Ternyata saya generasi pertama karena sekolah itu baru dibuka. Kepala sekolah Lanny Arifin, Kepala SMA ini sangat demokratis, yang memberi kesempatan kepada para siswa membuat kreativitas. Suami kepala sekolah itu pedagang dan pengusaha. Bu Lanny berbeda dalam menerapkan pendidikan. Sebagian besar ide kegiatan berasal murid. Kami sangat akrab satu sama lain, dan tak ada kesenjangan," tuturnya.

Ardi mengaku sangat terkesan pada Kepala SMA Lanny Arifin. "Saya ditunjuk sebagai Ketua Panitia St Yoseph Cup, pertandingan olahraga yang diikuti 13 sekolah katolik di Jakarta. Padahal SMA St Yoseph Dwiwarna itu baru dua tahun berdiri," ungkapnya.

Di Jakarta, pada tahun pertama, Ardi tinggal bersama saudara jauh di Tanah Abang, tapi kemudian dia kos di Jalan Pangeran Jayakarta. Pada tahun kedua, Ardi diminta tinggal di rumah teman satu sekolah. "Orangtuanya meminta saya untuk menemani anaknya sekaligus mengajarinya. Saya tinggal di sana gratis. Saya merasa menjadi orang yang diberkahi. Dan tinggal di rumah orang, saya tahu diri. Saya harus ringan-tangan, membantu pekerjaan rumah. Saya makin memahami kehidupan sebenarnya," kata Ardi. (ROBERT ADHI KSP)

(Bersambung)
 
 

This content has passed through fivefilters.org.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar