Selasa, 01 Desember 2009

Rumah Idaman “FIGUR : Jopy Rusli: Lippo Terus Kembangkan Kawasan Properti Terpadu” plus 4 more

Rumah Idaman “FIGUR : Jopy Rusli: Lippo Terus Kembangkan Kawasan Properti Terpadu” plus 4 more


FIGUR : Jopy Rusli: Lippo Terus Kembangkan Kawasan Properti Terpadu

Posted: 30 Nov 2009 05:29 AM PST

Senin, 30/11/2009 | 20:29 WIB

KOMPAS.com - Penjualan unit apartemen Kemang Village di Jakarta Selatan laris seperti kacang goreng. Setelah tiga menara habis terjual dan dapat ditempati mulai pertengahan tahun 2010, pengembang PT Lippo Karawaci Tbk yang membangun kawasan terpadu Kemang Village pun menambah dua menara lagi, yang akan selesai tahun 2011. Keberhasilan Grup Lippo memasarkan Kemang Village dan kemudian merealisasikannya menjadi kawasan terpadu dan terintegrasi merupakan sukses fenomenal dalam bisnis properti.

Jopy Rusli, Direktur PT Lippo Karawaci Tbk terlibat dalam proyek Kemang Village sejak awal. Bahkan arsitek lulusan Oregon University tahun 1986 ini termasuk arsitek yang membangun Lippo Village. "Saya bersyukur dapat terlibat proyek Kemang Village dan Lippo Village sejak awal," katanya.

Awalnya Jopy yang lahir di Jakarta, 8 Juli 1962 ini bercita-cita menjadi seniman. Ketika akan melanjutkan sekolah, Jopy ditanya ayahnya, akan menjadi apa kelak. Jopy menjawab pilihan pertama adalah arsitektur, pilihan kedua arsitektur, dan pilihan ketiga arsitektur. Akhirnya Jopy menjadi arsitek setelah meraih Bachelor of Architecture dari University of Oregon, Amerika Serikat. Jopy kemudian bekerja di perusahaan arsitek di San Diego, AS dan mendesain rumah-rumah pribadi yang eksklusif.

Lama bergelut di bidang seni arsitektur, Jopy kemudian mengambil MBA di San Diego National University. Jopy kuliah pada malam hari, khusus mengambil spesialisasi real-estate. Setelah ayahnya meninggal dunia, Jopy kembali ke Indonesia. Dia sempat bekerja di Duta Anggada, Grup Gunung Sewu, sebagai Direktur selama tiga tahun (1990-1993). Jopy kemudian pindah ke Grup Lippo yang saat itu agresif membangun kawasan Lippo Village di Tangerang. Jopy adalah arsitek yang pertama di Indonesia yang memperkenalkan gaya mediterania dalam hunian kelas atas di Lippo Village dan Lippo Cikarang, dan sekarang menjadi tren properti di mana-mana.

Berikut ini petikan wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Jopy Rusli, yang juga bertanggung jawab dalam proyek Kemang Village.
 
Mengapa Lippo membangun Kemang Village?
Sebetulnya Lippo adalah pionir dalam pembangunan kondominium atau apartemen. Kami sudah membangun apartemen Beverly dan Permata Hijau. Lippo juga mengembangkan township, kota mandiri di Lippo Village, Lippo Cikarang, dan Tanjung Bunga. Setelah itu, ada kesempatan kembali membangun residensial dan high rise, dan kami membangun Kemang Village. Kelebihan Lippo adalah menawarkan gaya hidup yang lengkap, mulai dari pendidikan (Sekolah Pelita Harapan dan Universitas Pelita Harapan), Rumah Sakit Siloam, Hotel Aryaduta, leisure country club, restoran, sampai wedding chapel. Totalitas ini yang kita jadikan keunggulan kompetitif Lippo. Penghuni kondominium membutuhkan kenyamanan. Begitu turun, mereka langsung ke mal dan country club, spa, sekolah, dan rumah sakit. Semua lengkap. Sementara dalam pengembangan kota, Lippo sudah berpengalaman membangun pengelolaan air bersih. Daur ulang air kotor menjadi air bersih.

Bagaimana cara Kemang Village menangani banjir di kawasan itu?  
Jalan Kemang Raya memang sering tergenang jsaat musim hujan. Jalan Kemang Raya berada pada posisi 28 meter dari permukaan air laut. Menurut data, banjir tertinggi di Kemang pada posisi 28,4 meter dari permukaan air laut. Sedangkan posisi Jalan Pangeran Antasari berada pada 32 meter di atas permukaan air laut. Nah, ketinggian kawasan Kemang Village disamakan dengan ketinggian Jalan Antasari. Bahkan sampai lobi apartemen, mal, dan hotel, ketinggiannya menjadi 35 meter di atas permukaan air laut. Jadi kami buat sedemikian rupa agar kawasan Kemang Village tidak tergenang saat musim hujan. Bukan hanya itu. Kami juga membangun waterpond, di bawah basement. Di basement itu, air yang jatuh di kawasan Kemang, kami olah lagi. Sebagian lagi diserap lagi masuk ke tanah.

Saat ini konsep green building makin mengemuka dalam dunia properti. Apa yang dilakukan Kemang Village terkait konsep green building?
Selain membangun waterpond di basement, kami juga menonjolkan lanskap di kawasan ini. Koefisien Dasar Bangunan di sini rendah, hanya 35 persen, sedangkan ruang terbuka hijau lebih banyak, 65 persen. Kami menjadikan podium sebagai lanskap. Juga di atas, ada country club, yang "very green resort" di tengah kota. Jadi Kemang Village bukan sekadar superblok, tapi kami lebih banyak menonjolkan lanskap di kawasan terintegrasi dan terpadu.
 
Tiga menara apartemen di Kemang Village laris dibeli. Bahkan kini dibangun dua menara lagi. Apa kiat Kemang Village sukses menjual apartemen-apartemen ini?
Sebetulnya nama Kemang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Lokasinya hanya 4,5 kilometer dari Semanggi. Daerah ini daerah hijau di Jakarta Selatan, tempat tinggal orang Indonesia elit dan juga kawasan para ekspat, komunitas asing. Mereka suka tinggal di Kemang karena suasananya memang seperti di Bali. Ada kafe, klub, restoran. Suasananya hidup. Dan suasana ini tidak ditemukan kalau kita tinggal di tengah kota seperti di kawasan Thamrin, Jakarta. Di Kemang, suasana tempat tinggal yang nyaman sudah tercipta. Di sini banyak sekolah internasional berdiri. Jadi Kemang memang kawasan tempat tinggal yang nyaman.
 
Grup Lippo terus mengembangkan bisnis properti hingga menjadi kawasan terpadu yang lengkap dengan segala fasilitasnya. Apa rahasianya?
Sukses Grup Lippo tidak terlepas dari visi James Riady, CEO Lippo. Pak James mulai membangun Lippo Village di atas lahan yang tidak produktif, dan kini menjadi lahan emas dalam bisnis properti. James Riady melihat dunia properti dari segala sudut, bahkan dari langit.  (Robert Adhi Ksp)
 
 

This content has passed through fivefilters.org.

FIGUR : Erwin Hawawinata, Arsitek yang Mengglobal

Posted: 28 Nov 2009 02:06 AM PST

Sabtu, 28/11/2009 | 17:06 WIB

KOMPAS.com - Arsitek Erwin Hawawinata adalah arsitek Indonesia yang karya-karyanya mengglobal. "Saya berharap arsitek Indonesia lebih percaya diri karena karya-karya arsitek Indonesia sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan arsitek asing," kata Erwin dalam percakapan dengan Kompas.com di sebuah hotel di kawasan Senayan, Sabtu (28/11) petang.

Arsitek Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung angkatan 1994 ini menilai arsitek Indonesia sesungguhnya lebih kreatif dalam hal desain dan material sampai "finishing". "Sumber daya manusia dan kreativitas arsitek Indonesia lebih unggul," kata Erwin, lulusan SMA Regina Pacis Bogor ini.

Erwin menambahkan, agar arsitek Indonesia mampu bersaing dengan arsitek luar negeri, arsitek lokal harus meningkatkan wawasan, sering melakukan perjalanan, dan mengikuti acara-acara arsitektur agar mengetahui tren dunia yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Selain itu arsitek Indonesia juga harus menguasai ilmu marketing agar dapat menjual ide kepada klien dengan tepat.

Erwin memang boleh berbangga hati karena karya-karyanya diakui orang asing. Saat ini Erwin mengerjakan proyek rumah residensial pribadi seluas 1.700 meter persegi di kawasan Bukit Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia, dan juga sebuah rumah seluas 1.200 meter persegi di Yaman. Kedua rumah itu dibangun dengan gaya kolonial, sementara interiornya bergaya fusion. Pemilik rumah berbangsaan Malaysia dan Yaman itu memiliki bisnis di Indonesia. Proyek di mancanegara tersebut akan selesai tahun 2010.

Menurut Erwin, yang membuat tim arsitek Hawawinata & Associates ini unik karena tim ini memiliki kemampuan sketsa tangan. "Tim arsitek kami melihat lahan kosong, langsung dapat membuat sketsa tangan, akan menjadi seperti apa rumah di lahan kosong itu kelak. Ini poin plus.  Klien langsung memperoleh hasil sketsa pada hari itu juga. Proses ini langsung dilanjutkan dengan visualisasi dalam bentuk tiga dimensi (3D) agar klien dapat mengetahui 90 persen konsep yang dibuat arsitek," jelas Erwin, anak ketiga dari empat bersaudara Hawawinata itu.
 
Proyek residensial yang sudah selesai berlokasi di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Salah satunya adalah rumah tinggal seluas 2.300 meter persegi di lahan seluas 1.700 meter persegi di Darmo Indah Golf di Surabaya. "Konsep rumah bergaya kolonial, yang diilhami dari kemegahan Istana Versailles di Perancis. Yang ditonjolkan di rumah itu adalah warna-warna lembut, natural stone, dan material yang sifatnya halus. Semua proporsi dan detail rumah dihitung dengan benar, mengikuti golden rule Andrea Palladio, arsitek zaman Renaissance," ungkap Erwin.

Monumental

Rumah-rumah karya Erwin Hawawinata ini boleh dibilang proyek mercusuar. "Bukan saja soal uangnya, tetapi juga monumental. Orang bisa melihat bahwa ini hasil karya arsitek lokal, arsitek Indonesia. Saya ingin mengedukasi klien bahwa karya arsitek Indonesia juga bagus dan relatif terjangkau," katanya.

Salah satu karya Erwin di Jakarta adalah gedung Da Vinci, yang selesai tahun 2003 lalu. Selain itu Erwin mengerjalan desain khusus executive lounge untuk Camus di Bellagio, dan beberapa restoran di Jakarta.

Karya-karya Edwin tidak sekadar bangunan biasa. "Saya membangun sesuatu dengan nyawa. Setiap rumah yang dibangun harus mampu bercerita, dan setiap rumah memilik cerita yang berbeda," kata Erwin yang sudah berkeliling dunia, melihat tren arsitek hingga ke Milan, Valencia, Paris, Singapura, Hongkong dan berbagai kota lainnya di mancanegara.  

Lulus dari Unpar Bandung tahun 1999, Erwin langsung bergabung di Da Vinci sebagai junior designer dan kemudian senior designer. Tahun 2000, Erwin menjadi Chief Designer Da Vinci. Divisi baru yang dipimpinnya itu dibentuk untuk mempermudah klien mendapatkan apa yang diinginkan. "Kami menawarkan layanan, dapat membuat konsep rumah sesuai keinginan klien. Semacam adviser klien," ujarnya. Sejak itu, cerita Erwin, dia mulai mendapatkan proyek tanah kosong.

Tahun 2005, Erwin menjadi General Manager Da Vinci. Tiga tahun kemudian, Erwin keluar dan membentuk perusahaan associate design sendiri. "Kami menjadi konseptor rumah, membantu klien dari segi budgeting sampai finishing. Kami yakinkan klien bahwa mereka akan mendapatkan konsep rumah dengan hasil terbaik dan anggaran yang relatif lebih hemat. Ini penting ditekankan karena bagus dan mahal itu gampang, tapi bagus dan hemat itu kan tidak mudah. Ini yang jadi kepedulian kami," katanya.
 
Konsep rumah yang dibuat Erwin lebih bergaya fusion. Artinya bukan klasik murni dan bukan pula modern. "Gaya ini sebetulnya dikenal dengan nama gaya maksimalis. Gaya fusion menggabungkan unsur tradisional atau klasik dengan gaya modern yang sedang nge-tren sehingga setiap desain tidak ada yang kedaluarsa," urainya. (Robert Adhi Ksp)
 

This content has passed through fivefilters.org.

FIGUR : Bisnis Properti Bergairah, SMS Tahap II Dibangun 2010

Posted: 26 Nov 2009 06:19 AM PST

Kamis, 26/11/2009 | 21:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Mardjuki, optimistis bisnis properti pada tahun-tahun mendatang makin bergairah, terutama karena suku bunga rendah dan situasi keamanan di negeri ini stabil. Perusahaan yang dipimpinnya sejak tahun 2006 ini mengembangkan ekspansinya ke Serpong, Tangerang, Banten dan ke Bekasi, Jawa Barat.

Di Serpong, pengembang ini akan membangun Summarecon Mal Serpong (SMS) tahap kedua, mulai tahun 2010, dan dijadwalkan beroperasi pada akhir tahun 2011. Ini merupakan bagian dari pembangunan kawasan terpadu Summarecon Serpong. Di Bekasi, pengembang ini akan membangun kawasan terpadu Summarecon Bekasi di atas lahan seluas 250 hektar mulai tahun depan.

Johanes Mardjuki, lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Akuntan Universitas Trisakti Jakarta tahun 1984 ini bergabung dengan PT Summarecon Agung Tbk sejak tahun 1993, dan mengawali kariernya sebagai Audit Manager. "Semua berkat kerja sama tim, bukan hasil kerja perorangan," kata Johanes Mardjuki, alumnus SMA Kanisius Jakarta ini.
 
Berikut ini petikan wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Mardjuki, Rabu (25/11) petang di kantornya di Jakarta seputar perkembangan Summarecon Serpong.

Summarecon Mal Serpong dibangun di kawasan permukiman, yang relatif jauh dari Jakarta. Namun sejak beroperasi 28 Juni 2007 lalu, pusat perbelanjaan itu semakin ramai. Apa kiat Anda menyakinkan para penyewa (tenant) dengan brand besar, agar mau membuka gerai mereka di SMS?
Sebenarnya tidak gampang meyakinkan para penyewa. Bahkan ketika kami menggunakan konsultan asing, mereka malah bilang ini daerah kampung. Tapi kami punya keyakinan, kawasan Summarecon Serpong yang sudah dihuni sekitar 9.000 KK, membutuhkan pusat perbelanjaan dan gaya hidup. Kami membangun mal yang dinamakan Summarecon Mal Serpong (SMS), tapi harga sewa tidak semahal harga di Jakarta. Saat mal sudah jadi, kami memberi insentif. Penyewa yang membuka saat peresmian mal, akan diberi insentif enam bulan sewa gratis. Strategi ini berhasil. Para pekerja siang malam menyelesaikan gerai-gerai di mal.

Saat SMS dibuka, sudah 70 persen penyewa yang buka. Kami berkeyakinan jika mal sudah buka 70 persen, pengunjung akan balik lagi ke mal itu. Sekarang SMS sudah penuh dan selalu ramai. Pengunjung SMS sudah 10 juta per tahun, padahal baru dua tahun dibuka. Sebagai perbandingan, pengunjung mal di Kelapa Gading 27 juta per tahun. Jadi perkembangan pengunjung SMS sangat pesat. Konsep SMS juga berbeda, ada tempat makan terbuka (alfresco dining) dengan live music berbeda setiap malam. Jadi ada komunitas berbeda yang datang.

Setelah SMS ini sukses, apakah ada rencana membangun dan mengembangkan mal serupa tahap berikutnya?
Kami sudah merencanakan membangun SMS tahap kedua, yang luasnya hampir sama dengan SMS tahap I, kira-kira 45.000 meter persegi. Lokasinya persis di sebelah lahan SMS tahap I. Pembangunan SMS tahap II akan dimulai tahun 2010 dan akan selesai tahun 2011. Setelah itu, kami akan membangun SMS tahap III, sambung-menyambung menjadi satu. Semuanya akan berada di lahan Sentra Gading Serpong, CBD di kawasan ini seluas 17 hektar.

Pembangunan secara bertahap ini memang strategi kami. Kalau kami membangun sekaligus lengkap, kami khawatir malah banyak gerai yang kosong sehingga tidak efektif dan tidak efisien. Jumlah penghuni di Summarecon Serpong terus bertambah. Mereka yang sudah membeli rumah tapi belum menempati, akan memutuskan pindah ke Serpong jika berbagai fasilitas sudah dibangun. Kalau jumlah KK makin bertambah, pembangunan mal tahap berikutnya menjadi lebih mudah.

Fasilitas apa saja yang menjadi ikon dan andalan di Summarecon Serpong?
Daya tarik orang bersedia pindah ke Summarecon Serpong adalah fasilitas pendidikan yang lengkap. Di Summarecon Serpong, kami memulai dengan lembaga pendidikan  Takanita dan BPK Penabur. Lalu menyusul Sekolah Pahoa dengan trilingual, yang didirikan Pak Sutjipto Nagaria, pemilik Summarecon.

Sekarang sudah ada perguruan tinggi swasta, Universitas Multimedia Nusantara atau UMN milik Kelompok Kompas Gramedia. UMN direncanakan akan diresmikan pada hari Rabu 2 Desember oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kami akui setelah UMN yang dikelola grup dengan nama besar ini hadir di Summarecon Serpong, kawasan sekeliling kampus langsung hidup. Ruko habis terjual. Rumah-rumah laku keras. Kami segera membangun Scientist Square, tempat mahasiswa dan siswa yang bersekolah di kawasan ini berkumpul. Di sini akan ada kafe, tempat nongkrong, dan tempat pentas.

Seperti apa kelak wajah Summarecon Serpong?

Kami harapkan Summarecon Serpong kelak akan seperti Summarecon Kelapa Gading. Kami akan membangun fasilitas lain seperti hotel, apartemen dan gedung perkantoran di sini. Kami masih memiliki lahan kosong seluas 500 hektar yang akan terus dikembangkan.  

Di sekitar Serpong, kawasan terpadu Lippo Village, Alam Sutera dan BSD City yang juga memiliki mal. Komentar Anda?
Kami yakin masing-masing pengembang saling melengkapi dan tidak saling menjegal. Kami percaya tidak akan kehilangan kue, bahkan kami yakin kue kami malah akan bertambah. Yang harus kami pegang adalah tenant. Kalau tenant tidak loyal, itu yang berbahaya. Untuk itu kami harus mendatangkan pengunjung ke mal dengan menciptakan sebanyak mungkin event.  (Robert Adhi Ksp)

This content has passed through fivefilters.org.

KONSTRUKSI : Belum Ada Standar "Green Building" di Indonesia

Posted: 25 Nov 2009 07:08 AM PST

Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

Rabu, 25/11/2009 | 22:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya menjadikan green building di Indonesia sudah banyak terdengar. Bahkan banyak gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah yang mengklaim sebagai green building. Tapi tahukah Anda, standar apa yang digunakan untuk menunjukkan suatu gedung patut dikategorikan ramah lingkungan?

Direktur Procon Integrated Property Solutions, Gunawan Yonatan mengatakan belum ada standar yang jelas dalam penetapan label green building untuk gedung-gedung di Indonesia, terutama Jakarta. "Green-nya standarnya apa dulu? Usahanya sudah ada tapi standarnya belum ada," tuturnya di sela acara Anugerah Jakarta Green Office 2009 di FX Plaza, Rabu (25/11).

Menerka alasan sejumlah gedung menetapkan diri sebagai green building, dengan berseloroh Gunawan mengatakan para pengelola mungkin menggunakan standar sendiri yang disebutnya 'Standar Jakarta'. Parameternya sendiri tak jelas, lanjut Gunawan.

Gunawan enggan mengatakan karena ketiadaan standar atau pakem maka upaya green building sendiri untuk menjaga bumi sebenarnya tengah mengalami disorientasi. Namun, dia menegaskan bahwa sudah sepatutnya ada suatu standar yang ditetapkan bersama oleh pemerintah daerah dan asosiasi untuk memiliki standardisasi green building.

"Tengah digodok, tapi belum tahu juga kapan dan bagaimana," ungkapnya.

Merespon adanya standardisasi atau aturan tegas soal green building, Pejabat Harian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta Ridwan Panjaitan mengatakan hal ini tengah dibicarakan.

"Green building akan selabel dengan pergub sedang dalam proses pembahasan dan harus dibahas bersama stakeholder sehingga masukan lebih operasional," ujarnya.

This content has passed through fivefilters.org.

BERITA : Pengembang Properti Beri Subsidi Bunga

Posted: 24 Nov 2009 04:16 AM PST

Laporan wartawan nadia Citra Surya

Selasa, 24/11/2009 | 19:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Kendati perbankan masih belum menurunkan bunga kredit perumahan, sejumlah pengembang properti, khususnya pengembang kawasan hunian, mulai agresif menjaring konsumen. Caranya bermacam-macam untuk menjaring pembeli.

PT Lippo Karawaci Tbk, pengembang properti Grup Lippo, misalnya. Daripada menunggu bunga turun, mereka memilih memberikan subsidi pada pembeli.

Alhasil, berapapun bunga yang dibebankan dari bank, konsumen properti Lippo membayar bunga tetap sebesar 6 persen. "Penawaran bunga fix ini diberikan selama satu tahun kredit," kata Budhi Gozali, Direktur St. Moritz, kawasan superblok di Jakarta Barat yang tengah dikembangkan PT Lippo Karawaci Tbk.

Menurut Budhi, pemberian subsidi bunga ini mereka lakukan untuk mendongkrak minat konsumen agar segera bertransaksi dan memborong pasokan hunian. "Kami memang ingin segera memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi ini, " kata Budhi.

Langkah yang mereka pilih ini, ternyata cukup efektif. Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Jopy Rusli memberi contoh penjualan di Kemang Village, proyek Lippo di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Jika sebelumnya pembelian melalui kredit kepemilikan apartemen (KPA) hanya memberikan kontribusi 30 persen, "Namun hingga akhir pekan kemarin, kontribusi pembelian apartemen lewat KPA di St. Moritz telah mencapai 50% dari total penjualan," papar Jopy.

St. Moritz sendiri menggandeng beberapa bank untuk memberikan KPA. Sebut saja Bank Mandiri, Bank BNI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank BII, BTN, dan Cipta Dana Multifinance.

Berbeda dengan Lippo, Podomoro City justru tak terlalu mengandalkan pembeli yang mengambil fasilitas KPA. Maklum saja, "Konsumen kami yang mengambil KPA, tak lebih dari 30 persen," kata Matius Jusuf, Direktur Pemasaran Podomoro City.

Karenanya, Podomoro City tak terlalu agresif melakukan kerjasama dengan perbankan. Mereka hanya menggandeng sedikit bank, seperti Bank BII, CIMB Niaga, serta Permata Bank. Sebaliknya, Podomoro City lebih memilih memberikan sendiri skema angsuran kepada konsumen mereka.

Hendra Hartono, Direktur Pelaksana PT Procon Indah mengamini tren seperti ini. Penurunan BI rate yang tidak diikuti perbankan dengan menurunkan bunga konsumsi, kata Hendra, membuat pengembang lebih aktif memberikan kemudahan pembayaran bertahap. Pengembang juga menyodorkan skema pembayaran dengan jangka waktu cukup panjang dan fleksibel. (Nadia Citra Surya/KONTAN)

Editor: ksp

This content has passed through fivefilters.org.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar