Rabu, 06 Januari 2010

Rumah Idaman “BERITA : Burj Dubai, Tak Sekadar Gedung Tertinggi di Dunia” plus 4 more

Rumah Idaman “BERITA : Burj Dubai, Tak Sekadar Gedung Tertinggi di Dunia” plus 4 more


BERITA : Burj Dubai, Tak Sekadar Gedung Tertinggi di Dunia

Posted: 04 Jan 2010 02:51 AM PST

Senin, 4/1/2010 | 17:51 WIB

KOMPAS.com - Gedung pencakar langit Burj Dubai yang rencananya diresmikan Senin (4/1/2010) siang waktu setempat atau Senin malam WIB sudah pasti menjadi ikon baru tidak hanya buat Kota Dubai atau Uni Emirat Arab namun juga buat dunia. Betapa tidak, bangunan tersebut merupakan gedung tertinggi di dunia saat ini.

Saking tingginya, dasar hingga puncaknya lebih dari enam kali tinggi Monumen Nasional (Monas). Berapa tinggi pastinya akan diumumkan dalam peresmian nanti. Namun, yang pasti lebih dari 800 meter. Kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan menara ini pernah menyebut bahwa top out gedung tersebut 818 meter. Gedung tersebut menjadi terlihat sangat jangkung jika dibandingkan dengan Monas yang tingginya hanya 132 meter. Puncaknya saja bisa dilihat sampai jarak hingga 95 kilometer.

Bahkan dibandingkan dengan gedung tertinggi di Indonesia, yakni Wisma 46, Burj Dubai masih jauh lebih tinggi. Wisma 46 yang berada di Kota BNI, kompleks perkantoran di kawasan Sudirman, hanya berketinggian 250 meter. Kalau Wisma 46 hanya memiliki 48 lantai, Burj Dubai memiliki 164 lantai dengan dua lantia bawah tanah.

Bedanya lagi, Wisma 46 hanya dipakai sebagai kantor, sementara Burj Dubai juga menjadi hotel dan tempat tinggal yang bisa menampung 900 orang. Georgio Armani akan menjadi salah satu tenant pertama dan akan membuka Hotel Armani pertama di dunia di sana dengan 160 kamar dan Armani Residences sebanyak 144 kamar apartemen.

Tapi setidaknya ada kesamaan antara Monas dan Burj Dubai yakni sebagai salah satu ikon tujuan wisata. Tentu saja fasilitas dan kelengkapan di Burj Dubai jauh lebih banyak dan beragam. Empat lantai khusus untuk sarana kebugaran dan wisata. Bahkan ada klub cerutu. Lantai 122 dibuat untuk restoran. Sementara di lantai 124 pada ketinggian 442 meter disediakan teropong yang dilengkapi layar digital untuk melihat pemandangan Kota Dubai dan sekitarnya dari atas. Ini merupakan tempat peneropongan tertinggi dari sebuah gedung di dunia.

Tidak hanya paling tinggi

Burj Dubai tidak hanya gedung tertinggi di dunia. Ia juga memecahkan rekor sebagai struktur bangunan tertinggi di dunia yang sebelumnya dipegang KVLY-TV di Blanchard, North Dakota, AS dan struktur bebas tertinggi yang sebelumnya dipegang CN Tower Toronto.

Burj Dubai memenuhi semua kriteria struktur tertinggi, tidak hanya berikut antena dan aksesoris, tapi juga tertinggi jika diukur bagunan utamanya maupun bagian tertinggi yang dihuni manusia sesuai penilaian CTBUH (Council on Tall Buildings and Urban Habitat). Meski total ketinggiannya lebih dari 800 meter, lantai tertinggi yang dihuni pada 636 meter. Sementara struktur beton yang menyangga setinggi 574,4 meter.

Burj Dubai juga dilengkapi elevator paling cepat di dunia yang bergerak dengan kecepatan hingga 16,7 meter perdetik atau 60 kilometer perjam. Ini juga bagian dari lift yang pernah dioperasikan paling tinggi di dunia.

Lantai dasarnya seluas 334.000 meter persegi. Dikelilingi taman seluas 15 hektare dan dilengkapi area parkir bawah tanah untuk 3000 kendaraan.

Pembangunan Burj Dubai yang dalam Bahasa Arab berarti Menara Dubai itu membutuhkan material yang sangat banyak. Misalnya saja beton yang digunakan jika dihitung-hitung beratnya setara dengan sekitar 100.000 gajah dewasa.

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, Burj Dubai dipasok 15 juta galon air atau setara dengan 20 kolam renang standar olimpiade. Sementara untuk fasilitas pendingin dibutuhkan proses yang setara dengan mencairkan 10.000 ton es setiap hari. Untuk penerangannya perlu lampu yang setara dengan 360.000 bohlam masing-masing 100 watt.

Total seluruh biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Burj Dubai sekitar 4,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 40 triliun. Biaya tersebut merupakan bagian dari investasi megaproyek Pusat Kota Dubai senilai 20 miliar dollar AS.

Burj Dubai didesain oleh Skidmore, Owings, and Merrill, sebuah konsultan arsitektur di Chicago, AS. Pengembang proyek tersebut adalah Emaar Properties yang merupakan salah satu pengembang real estate terbesar di UAE. Sementara kontraktor proyek adalah Samsung bersama Besix dari Belgia dan perusahaan lokal Arabtec. Burj Dubai terletak di Sheikh Zayed Road tepatnya perempatan Doha Street.

 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

FIGUR : Els Ramadhinta, dari Jakarta ke Dubai

Posted: 09 Dec 2009 10:55 PM PST

Kamis, 10/12/2009 | 13:55 WIB

KOMPAS.com - Els Ramadhinta (30) dalam waktu dekat ini akan melepaskan posisinya sebagai Director of Public Relations Hotel The Ritz-Carlton Jakarta. Kemanakah gerangan Els akan pergi? "Saya mendapat kesempatan untuk belajar dan tumbuh berkembang bersama Ritz-Carlton. Mulai 1 Februari 2010, saya akan menjabat Director of Public Relations Hotel The Ritz-Carlton Dubai," kata Els dalam percakapan dengan Kompas.com belum lama ini.

"Perasaanku  seperti akan melakukan travelling ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Ada rasa penasaran, bangga, dan juga termotivasi," kata Els yang lahir di Surabaya, 27 Agustus 1978 itu.

Els bergelut dalam dunia hospitality sejak 10 tahun lalu, mulai dari Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, jaringan hotel Grup Accor, sampai jaringan global hotel The Ritz-Carlton.

Aksi terorisme yang menimpa Hotel Ritz-Carlton Jakarta tahun 2009, memberikan pengalaman berharga bagi Els, terutama pengalaman manajemen krisis. "Ritz-Carlton memang perusahaan yang established. Penanganan kasus ini sangat profesional karena sudah ada sistem penanganan darurat. Ritz-Carlton punya toll number emergency. Ada profesional yang khusus ditunjuk mengeluarkan pernyataan resmi, dan semua pimpinan jajaran Ritz-Carlton harus on-call. Di sini team-work sangat baik. Setiap hari karyawan diberi motivasi. Dalam keadaan darurat seperti inilah, terlihat kualitas kepemimpinan GM dan manajemen kami. Dalam sehari, ada dua kali briefing. Dari waiters sampai GM, tak ada yang bilang hotel ini jelek karena masing-masing berusaha bekerja yang terbaik untuk Ritz-Carlton," cerita Els.

Bekerja di Ritz-Carlton memberi keyakinan pada Els bahwa Ritz-Carlton memang hotel terbaik di Indonesia. "Setiap kali aku melakukan travelling dan menginap di hotel lain, aku merasa service yang berbeda. Itu karena setiap hari aku dijejali dengan pengetahuan tentang standar tinggi hotel. Dan itu selalu aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi misalnya, mau pulang jam berapa pun pada malam hari, kami tetap harus sudah tiba di hotel pukul 08.00 pagi. Jika terlambat, ada perasaan tidak enak. Para karyawan hotel ini punya perasaan memiliki yang kuat," tandas Els.

Setiap pagi, kata Els, semua karyawan Ritz-Carlton wajib mengikuti morning briefing. Karyawan diwajibkan menulis kisah nyata dan bagaimana upaya mereka membantu tamu hotel. Misalkan ada hak sepatu tamu yang copot, karyawan hotel bertanggung jawab selalu memiliki inisiatif untuk mencari solusi.

"Bahkan pernah terjadi di Singapura, sepatu tamu rusak, karyawan front desk lari ke mal sebelah dan membelikan sepatu pengganti. Ini hanya contoh. Tapi setiap hari topik selalu berganti. Mulai dari keselamatan saat liburan, upaya penyelamatan lingkungan dan penghematan energi, keamanan dan sebagainya. Setiap pagi, semua karyawan Ritz-Carlton di seluruh dunia membahas cerita yang sama. Ini komitmen bersama agar hotel ini menjaga kualitas," ungkap Els.

Yang juga unik, kata Els, setiap karyawan bebas menulis ucapan terima kasih kepada karyawan lainnya, termasuk mengucapkan selamat ulang tahun. Dengan cara inilah, Ritz-Carlton menjaga soliditas karyawan dan menjaga kualitas hotel itu.

"Saya bangga menjadi bagian dari Ritz-Carlton. Seperti apa pekerjaan di Dubai, saya kira tantangannya tetap sama, menjaga kualitas pelayanan kepada para tamu," kata Els Ramadhinta yang bersiap berkemas-kemas meninggalkan Jakarta. 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

FIGUR : Ardi Joanda: Biaya Kuliah Tinggi, Nekad Tulis Surat ke Ali Alatas (2)

Posted: 07 Dec 2009 07:07 AM PST

Senin, 7/12/2009 | 22:07 WIB

KOMPAS.com -  Lulus SMA tahun 1989, Ardi Joanda berangkat ke Selandia Baru. "Pikiran saya sederhana saja. Saya kuliah di luar negeri karena ingin menjadi lebih baik. Pikiran waktu itu, kalau pulang dari luar negeri, saya akan lebih mudah cari kerja. Tapi persoalannya, dana pas-pasan. Ada yang menyarankan saya mendaftarkan diri ke Australia, tetapi melihat biayanya yang terlalu mahal, akhirnya saya mencoba ke Selandia Baru. Mami mendukung saya. Tapi kuliah di luar negeri sepertinya merupakan ide gila karena secara finansial, keuangan keluarga kami tak mungkin dapat membiayai kuliah saya," cerita Ardi lagi.

Di Selandia Baru, biaya sekolah masih relatif murah. "Saya belajar sambil bekerja. Saya memberanikan diri karena saya berpendapat, kalau saya mau bekerja, pasti dapat menghidupi diri sendiri," katanya. Ardi kemudian melanjutkan pendidikan setara SMA yaitu Selwyn College di Auckland.

Saat akan lulus, Ardi dan siswa lainnya terkejut dengan rencana Pemerintah Selandia Baru menaikkan uang sekolah, dari sebelumnya 1.000 dollar Selandia Baru setahun menjadi 5.000 - 10.000 dollar Selandia Baru setahun. "Kami betul-betul shock. Akhirnya bersama siswa Malaysia dan Singapura, siswa Indonesia melakukan perlawanan agar uang sekolah tidak naik," katanya.

Tulis Surat ke Menlu Ali Alatas

Ardi Joanda menulis surat ke Menteri Luar Negeri Ali Alatas, yang isinya menceritakan keadaan perubahan uang kuliah di Selandia Baru. "Teman Malaysia juga menulis surat yang sama. Pak Ali Alatas menyempatkan diri untuk datang ke Selandia Baru. Melalui cara ini, akhirnya Pemerintah Selandia Baru mengubah kebijakannya. Mereka memberi kesempatan kepada siswa mancanegara untuk mendapatkan beasiswa jika memenuhi persyaratan.  Setelah pengumuman ini, saya belajar siang-malam sehingga lulus dengan nilai A. Saya akhirnya mendapat beasiswa di bidang ekonomi, Commerce and Administration di Victoria University of Wellington selaam lima tahun. Tapi saya menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga tahun," cerita Ardi.

Sebenarnya, kata Ardi, keluarga Belanda, Thomas Beuker yang menjadi keluarga angkatnya di Auckland, sudah mengatakan kepadanya agar tidak perlu khawatir. Jika misalnya Ardi tidak mendapatkan beasiswa, keluarga Thomas yang akan mencari cara agar Ardi tetap bisa melanjutkan pendidikan. Demikian pula keluarga angkatnya dari Taiwan, keluarga Pan, menjamin Ardi secara finansial, agar dapat menyelesaikan pendidikan tingginya di Selandia Baru.

"Saya percaya bahwa hidup saya penuh berkah. Kalau kita berbuat baik, pasti hidup kita penuh berkah. Ketika menghadapi masalah, saya selalu bisa mengatasi problem. Walaupun ada dua keluarga angkat yang memberi jaminan finansial, pada akhirnya saya mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan beasiswa agar bisa kuliah," papar Ardi.

Ardi Joanda menegaskan kembali bahwa berbagai pengalaman pahit memberi kesempatan baginya untuk menunjukkan kemampuan. "Berbagai kejadian yang tidak diharapkan dan tidak menyenangkan, malah memberi saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sesungguhnya," tandasnya.

Otodidak di Bidang Furnitur
Thn 1993, ketika pulang ke Indonesia, Ardi Joanda langsung bergabung dengan grup Da Vinci. Awalnya Ardi diminta merapikan administrasi perusahaan Fissler, perusahaan multilevel. Setelah ada perusahaan kosmetik yang baru dibuka,  Ardi diminta terlibat membantu marketing support. Dan cukup berhasil. Saat Da Vinci  dibuka  tahun 1994, Ardi bergabung sejak dari nol, sejak nebeng dengan Fissler. "Saya tidak hitung-hitungan. Saya menunjukkan talenta saat diberi kesempatan. Kalau itu baik, let's do it. Di Da Vinci, saya belajar otodidak selama 13 tahun," jelasnya.

Perkenalannya dengan urusan desain interior ini sebetulnya sejak dia membantu ayah angkatnya, Thomas Beuker, arsitek dan kontraktor Belanda yang tinggal di Aukland, Selandia Baru. Di sana Ardi menyempatkan untuk belajar mengecat dan memasang wallpaper. "Pengalaman ini ternyata ada gunanya untuk masa depan saya. Makanya kita tidak boleh hitung-hitungan. Potensi harus digali sedalam mungkin tanpa harus hitung-hitungan," katanya.   
 
Ardi bercerita ketika membangun Da Vinci Tower di Jakarta, dia juga belajar bagaimana mengelola pembangunan gedung klasik, yang detil dengan skala besar, tanpa kontraktor utama. "Orang pikir saya insinyur. Saya pernah mendapat surat yang ditujukan kepada Ir Ardi Joanda. Tapi tidak perlu harus menjadi insinyur dulu untuk mengerjakan pembangunan Da Vinci Tower. Intinya kalau mau kita mau belajar pasti bisa. Kalau sekarang saya diminta merancang lima gedung seperti Da Vinci Tower, saya berani. Saya lakukan itu semua tanpa hitung-hitungan karena saya menganggap itu sebagai tempat belajar. Bekerja adalah tempat terbaik untuk belajar, dan dibayar lagi. Kalau kita sekolah, kan harus membayar," ungkap Ardi.

Ardi menyampaikan terima kasih kepada Tony Phua dan Doris Phua, suami istri pemilik Da Vinci asal Singapura, yang memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan segala kemampuan. "Saya belajar banyak dari Tony dan Doris, serta semua teman di Da Vinci yang memberi dukungan penuh," kata Ardi.

Setelah 13 tahun bergabung dengan Da Vinci, dan terakhir pada posisi sabagai CEO Da Vinci, Ardi memutuskan keluar dengan alasan pribadi. "Saya ingin pindah kuadran, menjadi pengusaha," katanya. Bulan Januari 2006, Ardi merintis usaha es Charmy Ice bersama Lawrence Pan, saudara angkat dari Taiwan.

Mengalami banyak pengalaman dalam hidupnya, Ardi selalu menyampaikan pendapatnya bahwa pengalaman pahit adalah "guru" yang paling manis. "Karena justru pada saat iitulah, kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengeluarkan segala kemampuan yang ada. Tapi akan lebih baik jika dalam kondisi baik pun, kita bisa mengeluarkan kemampuan terbaik," kata Ardi.

Menurut Ardi, banyak orang tidak menyadari kemampuan karena terlalu berhitung-hitung. "Banyak orang berpendapat, ngapain saya harus kerja begini, begitu. Padahal setiap hal yang dilakukan, harus dianggap sebagai ujian, sampai sejauh mana kemampuan kita. Begitu diuji, baru tahu kemampuan kita luar biasa sehingga muncul kepercayaan diri," ujarnya.

"Dalam hidup ini sebenarnya kita diberi kesempatan waktu oleh Tuhan untuk memanfaatkan talenta-talenta yang masih terpendam. Karena itu mari kita nikmati hidup, berbagi dan memanfaatkan talenta-talenta yang diberikan Tuhan," ungkap Ardi Joanda. (ROBERT ADHI KSP)
 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

FIGUR : Ardi Joanda: Belajar dari Keuletan Ibunda (1)

Posted: 07 Dec 2009 06:03 AM PST

Senin, 7/12/2009 | 21:03 WIB

KOMPAS.com - Bagaimana tren furnitur high-end tahun 2010? "Tren furnitur rumah-rumah kelas atas akan kembali ke tren tradisional klasik yang lebih ringan, yang sering kali disebut sebagai american classic. Tren warna furnitur tetap pada warna hitam, putih, dan warna kayu. Sedangkan tren warna material, kombinasi warna metal stainless dan warna silver," kata Ardi Joanda, President Medici Living, perusahaan furnitur high-end dalam percakapan dengan Kompas.com di sebuah restoran di Permata Hijau, Sabtu (5/12) lalu.

Menurut Ardi,  informasi mengenai produk interior yang tersebar di dunia maya dan di berbagai media massa cetak, membuat pengetahuan pemilik rumah semakin maju. Selain itu, makin banyak orang Indonesia yang berkunjung ke rumah-rumah indah di luar negeri dan dalam negeri sehingga pengetahuan tentang rumah pun makin luas.

"Saat ini dan di masa mendatang, peran desain interior dan arsitek akan semakin penting dalam menangani rumah-rumah kelas menengah atas. Untuk itulah furnitur juga penting mengikuti tren. Kami bukan lagi sekadar toko furnitur, tapi kami ingin bersama-sama arsitek dan desainer interior, ingin mewujudkan rumah idaman mereka. Ini sesuai slogan kami Live Your Life Best," ungkap Ardi Joanda, yang sebelumnya pernah bekerja di Da Vinci.

Setelah 13 tahun bergabung dengan Da Vinci, dan terakhir pada posisi sabagai CEO Da Vinci, Ardi memutuskan keluar dengan alasan pribadi. "Saya ingin pindah kuadran, menjadi pengusaha," katanya. Bulan Januari 2006, Ardi merintis usaha es Charmy Ice bersama Lawrence Pan, saudara angkatnya dari Taiwan.

Akhir tahun 2007, Ardi menerima telepon dari pemasok furnitur dari Amerika Serikat. "Mereka mempercayakan saya untuk memasarkan produk-produk mereka. Tahun 2008, Medici Living, perusahaan baru furnitur high-end didirikan. Nama Medici menentukan filosofi perusahaan karena keluarga Medici adalah patron dari berbagai bidang aspek kemanusiaan, politik, seni, agama, arsitek," ungkapnya.

Tahun 2008, Medici Living membuka ruang pamer di Belezza, Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan diresmikan oleh perwakilan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Medici memang mengkhususkan diri memasarkan produk-produk Amerika. Klien Medici pada umumnya keluarga kalangan atas, yang mengetahui produk ini dari mulut ke mulut.

 
Belajar dari keuletan ibunda
Siapa Ardi Joanda, pengusaha furnitur papan atas ini? Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 15 Januari 1970, Ardi besar dari keluarga sederhana. Ibunya, Lucy Jo, seorang perempuan yang ulet, yang membuat es krim untuk dijual ke sekolah-sekolah. Es krim itu dititip di kantin-kantin sekolah.

Setelah itu, ibu Ardi beralih ke usaha konveksi pakaian anak kecil, sedangkan ayahnya, Paulus Sun, bekerja di bagian pembukuan di sebuah perusahaan. Bersama kakaknya,  Antonius Yondi, Ardi mengantarkan barang konveksi pesanan ke toko-toko di Pontianak. Mereka berdua mengendarai sepeda, membawa bundelan besar berisi pakaian untuk diantar ke toko-toko. Ardi dan Yondi membantu ibunya yang membuka toko di sebuah pasar di Jalan Sudirman, Pontianak. Sebelum berangkat sekolah, Ardi menjaga toko sambil belajar mengerjakan PR. "Ketika saya masuk sekolah, koko yang mengganti jaga toko," urai Ardi.

"Saya belajar banyak dari mami yang memang lahir dari keluarga pedagang, bagaimana berdagang dengan ulet. Pernah suatu hari, kami tak boleh lagi berjualan es di sekolah, padahal es yang dibuat mami sangat laris. Tapi mami tidak putus asa. Pengalaman pahit dalam kehidupan sebelumnya, ternyata menjadi cambuk yang membentuk motivasi. memberikan booster untuk berhasil dalam usaha. Kondisi seperti ini melatih kami sekeluarga untuk bisa berdikari dan mandiri. Justru dengan berbagai kendala, kami mendapatkan pelajaran yang bermakna," cerita Ardi Joanda.

Menurut Ardi,  hidup ini memang  unik. "Setiap orang terlahir dengan rezeki dan nasib berbeda. Ada orang yang terlahir dari keluarga kaya, dan ada yang lahir dalam kondisi keluarga yang miskin. Tapi itu semua bukan berarti menjadi penentu masa depan. Ibarat memancing, ada orang rezekinya cukup lempar dua kali, langsung dapat ikan. Tapi ada yang harus lempar lima kali atau 10 kali, baru dapat ikan. Kita harus menyadari kapasitas yang kita miliki. Dan kita bekerja berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Kalau ternyata baru 10 kali berusaha, kita baru dapat satu, itu artinya kita harus bekerja lebih keras," ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Ardi bersyukur karena kedua orangtuanya memiliki prinsip, anak-anak harus mengenyam pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih baik. Untuk itulah kedua orangtua Ardi rela membanting tulang agar Ardi dan dua saudaranya dapat melanjutkan pendidikan tinggi.

Sejak duduk di SD Gembala Baik dan SMP Bruder di Pontianak, Ardi selalu menjadi murid terbaik. "Setelah lulus SMP, mami ingin saya melanjutkan SMA di Jakarta. Mami men-support saya agar bisa sekolah setinggi mungkin. Saya merasa orang yang penuh berkah. Ketika dalam kondisi kekurangan, Tuhan membantu melalui orang lain. Ketika masuk SMA St Yoseph Dwiwarna, Manggabesar, Jakarta Barat, dengan segala keterbatasan biaya, ada yang memberi dukungan kepada saya," katanya.

Ardi pindah ke Jakarta karena melihat banyak temannya melanjutkan SMA di Jakarta. Walaupun belum tahu akan tinggal di mana dan bersekolah di mana, ibunda Ardi memberi dukungan yang kuat kepada anaknya. 

"Akhirnya berkat bantuan mami, saya dapat sekolah di SMA St Yoseph. Ternyata saya generasi pertama karena sekolah itu baru dibuka. Kepala sekolah Lanny Arifin, Kepala SMA ini sangat demokratis, yang memberi kesempatan kepada para siswa membuat kreativitas. Suami kepala sekolah itu pedagang dan pengusaha. Bu Lanny berbeda dalam menerapkan pendidikan. Sebagian besar ide kegiatan berasal murid. Kami sangat akrab satu sama lain, dan tak ada kesenjangan," tuturnya.

Ardi mengaku sangat terkesan pada Kepala SMA Lanny Arifin. "Saya ditunjuk sebagai Ketua Panitia St Yoseph Cup, pertandingan olahraga yang diikuti 13 sekolah katolik di Jakarta. Padahal SMA St Yoseph Dwiwarna itu baru dua tahun berdiri," ungkapnya.

Di Jakarta, pada tahun pertama, Ardi tinggal bersama saudara jauh di Tanah Abang, tapi kemudian dia kos di Jalan Pangeran Jayakarta. Pada tahun kedua, Ardi diminta tinggal di rumah teman satu sekolah. "Orangtuanya meminta saya untuk menemani anaknya sekaligus mengajarinya. Saya tinggal di sana gratis. Saya merasa menjadi orang yang diberkahi. Dan tinggal di rumah orang, saya tahu diri. Saya harus ringan-tangan, membantu pekerjaan rumah. Saya makin memahami kehidupan sebenarnya," kata Ardi. (ROBERT ADHI KSP)

(Bersambung)
 
 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

BERITA : Pejabat China Terkesan dengan Konsep Lippo Village

Posted: 03 Dec 2009 07:46 AM PST

Kamis, 3/12/2009 | 22:46 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Pejabat Republik Rakyat China (RRC) Liu Qi  terkesan dengan konsep Township Development Lippo Village yang mengembangkan kota mandiri lengkap dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, perbelanjaan, perkantoran dan rekreasi. Konsep ini dinilai sangat tepat dan dapat mencapai pengembangan yang berkelanjutan.

Liu Qi yang menjadi Tamu Negara ini menyempatkan berkunjung ke kawasan Lippo Village, Tangerang, Banten. Liu Qi disebutkan mengenal baik pendiri Lippo, Mochtar Riady. Namun Mochtar Riady, menurut Tian Jingjing, Asisten Dr.Mochtar Riady, tidak tampak hadir karena kesehatan yang kurang baik.

Namun putra Mochtar, James T. Riady, ikut menerima kunjungan Liu Qi. "Selama dua puluhan tahun belakangan ini kita banyak belajar dari pengalaman unggul dari RRC dan pengalaman tersebut kita terapkan dalam pengembangan bisnis kelompok usaha Lippo di Indonesia," kata James, Rabu (2/12).

Sebelumnya Liu Qi berkunjung ke kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Village, Tangerang, Banten. Liu Qi didampingi Duta Besar China untuk Indonesia Zhang Qiyue. Keduanya disambut oleh Pendiri Lippo James Riady, President UPH Sheldon C Nord Phd, dan Rektor UPH Dr (Hon) Jonathan L Parapak, MEng Sc.

Saat mengunjungi kampus UPH, mereka diajak melihat fasilitas di kampus UPH, termasuk kantin. Menurut Rektor UPH Jonathan L Parapak, tamu kehormatan dari China, Liu Qi, adalah Ketua Panitia Olimpiade Beijing 2008. "Liu Qi sebenarnya tamu negara. Beliau berkesempatan mengunjungi Lippo Village," kata Parapak.

Setelah berkunjung ke UPH, tamu dari China itu berkeliling kawasan Lippo Village, Tangerang. Mereka secara khusus melihat pola pengembangan Lippo Village sebagai salah satu kota satelit komprehenshif yang sangat berkembang di Indonesia. Selain menyaksikan fasilitas pendidikan di UPH, sebagai salah satu sarana penunjang penting yang ada di Lippo Village, rombongan juga berkunjung ke Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).

 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar