Sabtu, 24 April 2010

Rumah Idaman “Menikmati Pemandangan Kota dari Ruang Makan” plus 3 more

Rumah Idaman “Menikmati Pemandangan Kota dari Ruang Makan” plus 3 more


Menikmati Pemandangan Kota dari Ruang Makan

Posted: 24 Apr 2010 01:05 PM PDT

Sabtu, 24/4/2010 | 20:05 WIB

KOMPAS.com -  Bersantap ditemani pemandangan kota, siapa tak suka? Ini tidak hanya bisa dinikmati di resto di gedung bertingkat, tapi juga dari ruang makan di sebuah unit apartemen.
 
Pernah membayangkan makan malam romantis, dengan pemandangan lampu kota di malam hari? Kalau kebetulan Anda tinggal di apartemen, makan malam seperti ini bisa diwujudkan. Caranya sederhana sekali. Tinggal tempatkan ruang makan di area yang berdekatan dengan balkon. Seperti yang bisa dilihat di foto ini.

Ruang makan berukuran 3 m x 2,5 m ini bersebelahan dengan balkon. Dinding kaca dijadikan pembatas. Dari dinding kaca inilah pemandangan dramatis lampu kota tersaji. Tak cuma malam hari, pemandangan kota di siang hari pun tak kalah menarik. Kalau tak di apartemen, mana mungkin menikmati pemandangan aneka gedung pencakar langit, dari dalam rumah?

Lebih seru lagi kalau kebetulan balkon menghadap barat. Pemandangan tenggelamnya matahari, jadi elemen dekoratif yang tak ternilai harganya. Dengan demikian, sah saja kalau Anda mau menjadikannya sebagai focal point.

Supaya tidak ada "saingan", buat penataan interior yang simpel. Di foto ini, ruang makan hanya berisi set meja dan kursi makan. Tak terlalu banyak pernak-pernik aksesori ditempatkan di sana. Cuma ada sebuah lukisan, pandan bali di pot, dan dua buah lampu gantung.

Anda tinggal di apartemen dengan balkon dan dinding kaca? Kebetulan sekali! Buat ruang makan berpemandangan kota, yuk! (Anissa Q. Aini/iDEA)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Batik Kawung "Hidupkan" Suasana pada Kamar Bertema Cokelat

Posted: 24 Apr 2010 12:58 PM PDT

Sabtu, 24/4/2010 | 19:58 WIB

KOMPAS.com Wallcover bermotif batik kawung, membuat kamar cokelat ini tak lagi tampil sederhana. Kehadirannya memberikan sentuhan etnik pada kamar tidur modern ini. Cantik sekali!

Kesederhanaan desain dengan aplikasi elemen ruang yang proporsional menciptakan suasana ruang tidur utama berukuran 5 m x 4 m di foto ini, terasa nyaman. Hal itu diwujudkan lewat hadirnya setiap elemen ruang dengan komposisi yang seimbang.

Lihat saja panel kayu yang fungsional sekaligus menjadi elemen dekoratif. Panel dibuat setinggi 1m dan menyatu dengan lemari rak berupa ambalan sebagai tempat aksesori ruang. Begitu juga kehadiran wallpaper dengan motif Kawung yang "ramai".

Keramaian motif pada wallcover tampak menonjol di antara elemen-elemen lainnya yang polos. Meski demikian, tidak lantas membuatnya tampak "aneh". Justru keberadaannya membuat kamar dominasi cokelat ini tampak lebih hidup. Lagi pula wallcover ini masih mengadopsi cokelat sebagai warna dasarnya. Jadi, tetap bisa berpadu sempurna dengan sekelilingnya.

Sebagai penawar dan penyeimbang tampilan yang serba cokelat, supaya tidak terlampau gelap, putiih polos diaplikasikan pada bedding. Meski tampak sepele, tapi pengaplikasian putih selalu jitu untuk membuat ruang terasa lebih ringan, bersih, dan nyaman. (Johny H. Kakiay/iDEA)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Partisi Ruangan yang Fungsional dan Atraktif

Posted: 24 Apr 2010 12:50 PM PDT

Sabtu, 24/4/2010 | 19:50 WIB

KOMPAS.com - Boks atraktif di ruang tamu ini eyecatching. Boks juga menjadi penyekat ruangan secara fisik bukan visual, sehingga ruangan tak berkesan sempit.

Pembatas ruang dapat dibuat dari apa saja. Desain pembatas yang unik, dapat berfungsi sekaligus sebagai elemen dekorasi pada ruangan.

Salah satu desain yang menarik itu bisa dilihat pada foto di samping. Pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga ini unik. Ada rangka kayu yang mirip dengan huruf C. Di bagian dasar rangka ini, terdapat "pot" bersisi batuan. Di sana ditanam batang-batang bambu kering. Menarik bukan?

Nah, pembatas seperti ini sebetulnya mudah dibuat. Paling tidak, begini cara singkatnya:

1. Siapkan rangka kayu bentuk "C" dengan dimensi sesuai kebutuhan ruang. Di sini, rangka kayu yang menjadi bingkainya berdimensi panjang 200cm, lebar 40cm, tinggi 80cm, dengan tebal bingkai 10cm.

2. Siapkan dua lembar kaca tebal 10mm dengan ukuran 198cmx78cm (2cm lebih kecil dari ukuran bingkai).

3. Buatlah sedikit cerukan pada sisi kiri dan kanan bingkai untuk tempat masuk kaca dan sealant (lem kaca). Kedalamannya 2cm, tebal cerukan ±12mm. Lalu pasang kaca ke dalam bingkai, sehingga diperoleh kotak menyerupai akuarium dengan rangka terbuat dari kayu.

4. Untuk menancapkan batang-batang bambu, buatlah wadah atau rangka dari kayu bekas kira-kira seukuran lebar boks kaca, dengan tinggi separuh tinggi boks (40cm). Lubangi bagian atasnya sesuai ukuran batang bambu dan banyaknya jumlah bambu. Letakkan di dalam boks kaca.

5. Masukkan satu demi satu bambu-bambu ke dalam lubang-lubang yang sudah disiapkan itu. Setelah bambu terpasang, timbun boks kaca dengan batu kerikil putih berukuran besar, atau jenis lain yang Anda suka. (Sita Hapsari/Sumber: iDEA Books/Rumah Compact)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Romantisme Ranjang Tidur Berkelambu Putih

Posted: 24 Apr 2010 12:45 PM PDT

Sabtu, 24/4/2010 | 19:45 WIB

KOMPAS.com — Berapa banyak dari Anda yang ketika kecil pernah merasakan tidur di tempat tidur berkelambu? Mungkin sebagian besar pernah merasakannya. Kelambu sudah bukan hal baru di Indonesia. Awalnya, kelambu memang diaplikasikan untuk menghalau gigitan nyamuk.

Untuk memenuhi fungsi ini, biasanya kelambu dibuat dengan desain sangat biasa. Umumnya menggunakan kain berwarna putih dan memiliki rongga-rongga yang rapat.

Seiring pergantian zaman, rupanya kelambu tak terlupakan. Kini fungsi kelambu bertemu dengan keunikan desain. Tak heran, kelambu hadir dengan penampilan yang cantik dan elegan. Kini alasan pemakaian kelambu tak lagi sekadar sebagai penghalau gigitan nyamuk, tetapi mengarah ke upaya mempercantik kamar tidur.

Darimana, sih, inspirasi kelambu hadir? Di berbagai etnis di dunia, kelambu menjadi bagian dari elemen tradisional yang khas. Di Eropa, misalnya, tempat tidur bangsawan biasanya berukuran besar, berhiaskan kelambu dari bahan yang halus dan mahal. Di Asia pun demikian, salah satunya China, sudah mengaplikasikan kelambu untuk tempat tidur mereka.

Di Indonesia, konsep kelambu hadir dari tradisi kolonial. Orang-orang Belanda, yang menduduki Indonesia berabad-abad silam, mengaplikasikan kelambu untuk tempat tidur mereka. Konsep kelambu ini kemudian bertahan hingga sekarang.

Kelambu bisa dibuat dari kain apa pun, asal tidak berat, dan "jatuhnya" cantik. Anda bisa memilih kain organdi, vitrage, polyester, bahkan nilon. Tak perlu selalu polos, kain yang bermotif bisa juga dijadikan pilihan. Kain sari India, misalnya. Desain kelambu pun beragam. Mulai dari yang sederhana, hingga yang berhias tumpukan renda. Kalau tak mau repot, bisa dengan sekadar menyampirkan kain selendang lebar, di tiang kelambu.

Dengan banyaknya pilihan, tentu agak membingungkan bagi Anda untuk menyesuaikannya dengan konsep dekorasi kamar tidur. Catatan penting, perhatikan desain tempat tidur. Kain ringan melayang dan sedikit menerawang pas sekali diaplikasikan pada tempat tidur berdesain ramping dan berukuran sedang. Kain yang demikian juga cocok diaplikasikan di kamar tidur bergaya modern.

Sebaliknya, tempat tidur berukuran besar berdesain klasik dan mewah paling pas dengan kelambu berhias tumpukan renda. Pilih kain yang agak berat dan tidak menerawang, velvet misalnya. Kain-kain seperti ini memperkuat kesan anggun dan elegan. Namun, jangan sekali-kali mengaplikasikannya di tempat tidur berukuran kecil. Bisa-bisa tampilannya tidak seimbang; bukannya cantik, malah jadi aneh.

Kelambu juga banyak dipilih untuk menciptakan suasana intim dan romantis. Pasalnya, kain kelambu bisa membuat area tempat tidur menjadi lebih privat. Tak jarang kelambu digunakan sebagai dekorasi kamar pengantin.

Oh iya, satu tips lagi, jangan lupa mencuci dan mengganti kelambu, paling tidak satu bulan sekali. Soalnya, seperti halnya gorden, kain kelambu berpotensi menyimpan debu. Jangan sampai debu ini ikut di udara yang kita hirup saat tidur. (Anissa Q. Aini/iDEA) 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar