Minggu, 13 Juni 2010

Rumah Idaman “Rumah Biasa yang Tak Biasa” plus 3 more

Rumah Idaman “Rumah Biasa yang Tak Biasa” plus 3 more


Rumah Biasa yang Tak Biasa

Posted: 13 Jun 2010 12:37 AM PDT

KOMPAS.com - Bentuk rumah boleh biasa-biasa saja, tetapi yang penting, lokasinya harus istimewa. Begitulah kira-kira filosofi Yoris Sebastian (38) saat mencari tempat tinggal ideal.

Pertama kali mengetahui rumah konsultan kreatif ini berada di Jalan Cikatomas, Jakarta Selatan, sempat tebersit pikiran ini pasti rumah kuno peninggalan orangtua. Maklum, Jalan Cikatomas terletak di jantung kawasan elite Kebayoran Baru yang rata-rata ditinggali oleh para OKL alias "orang kaya lama".

Anak-anak muda sukses seusia Yoris biasanya memilih membeli rumah di kawasan permukiman yang terletak lebih ke pinggir Jakarta, seperti di Kemang, Pejaten, Cipete, atau bahkan Bintaro.

Namun, ternyata dugaan awal tadi salah. Dan itu wajar karena memang bukan Yoris Sang "Creative Junkie" kalau sekadar meniru langkah orang lain. "Saya memang sengaja membeli rumah di sini karena lokasinya. Ke mana-mana dekat," ungkap Yoris di rumahnya, hari Selasa (1/6/2010).

Yang dimaksud dekat ke mana-mana menurut Yoris ini adalah ke pusat-pusat aktivitas urban Jakarta yang membutuhkan jasa pemikiran kreatif bujangan kelahiran Ujung Pandang (sekarang Makassar), 5 Agustus 1972, ini.

Kawasan-kawasan utama, seperti Senayan, Blok M, Semanggi, Jalan Jenderal Soedirman, dan Jalan Jenderal Gatot Soebroto, bisa diibaratkan hanya "sepelemparan batu" dari rumah Yoris. Jaraknya tak lebih dari 2 kilometer.

Kantor perusahaan yang didirikan Yoris, OMG Creative Consulting, di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, pun hanya berjarak sekitar 3,5 kilometer. Dengan kondisi jalanan Jakarta yang makin tidak manusiawi, digerogoti kemacetan dan transportasi publik yang masih jauh dari ideal, keputusan Yoris untuk membeli rumah di Jalan Cikatomas adalah pilihan tepat.

Tentu saja, ada keistimewaan ada harga. Yoris membeli rumah seluas 200 meter persegi itu tahun 2002 dengan harga sekitar Rp 1 miliar. Saat itu, dengan harga yang sama, seorang temannya bisa membeli rumah dengan luas dua kali lipat di kawasan Cipete.

"Sekilas memang mahal, tetapi sekarang nilai rumah saya sudah naik berkali-kali lipat juga dibandingkan dengan rumah teman di Cipete itu. Ditambah dia juga lebih stres kalau berangkat ke kantor karena lebih macet, he-he-he," papar Yoris, yang sampai sekarang masih mencicil rumah pertamanya tersebut.

Minimalis

Dari luar, rumah Yoris itu terlihat sangat biasa. Berarsitektur layaknya rumah yang dibangun era 1960-1970-an, bercat putih, dengan pintu dan jendela persegi sederhana.

Yoris mengaku memang tidak banyak mengubah bentuk asli rumah tersebut. Bahkan eternit rumah masih asli. "Saya cuma mengecat ulang pintu, jendela, dan kusen saja. Dulunya warna coklat tua, saya ubah jadi seperti sekarang ini. Jadi saya menggabungkan konsep minimalis dan preservasi sekaligus," ungkapnya.

Dengan mengecat ulang pintu dan tembok dengan warna terang, rumah tua tersebut seperti menjadi muda kembali. "Saya hanya mengganti pintu belakang dengan pintu geser, dan mengganti gorden lama dengan folding blinds. Ternyata efeknya besar, rumah ini jadi tidak kelihatan kuno lagi," tutur Yoris yang mengaku langsung jatuh cinta dengan rumah itu sejak pertama kali memasukinya.

Langkah selanjutnya tinggal menata interior. Dengan ukuran rumah yang terbatas, Yoris sengaja menggunakan konsep minimalis fungsional di dalam rumah untuk memberi kesan lapang. Di bagian paling depan tidak terlihat set meja kursi tamu seperti rumah pada umumnya. Sebagai gantinya, ia hanya menempatkan dua meja kaca bundar untuk menaruh hiasan dengan bola karet raksasa di tengahnya.

Satu sofa besar menjadi satu-satunya tempat duduk di bagian belakang ruangan berbentuk L itu, yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang ngobrol, serta ruang menonton televisi dan main game.

Makna

Sebidang panel kayu besar dipasang di dinding, dan di panel itu dicantelkan televisi plasma berukuran 50 inci. Di bawah TV terdapat satu set bufet rendah memanjang.

Di situ Yoris meletakkan berbagai pernik suvenir, buku-buku, perangkat audio, DVD, dan dua konsol game, yakni Nintendo Wii dan Xbox 360. Urusan main game ini memang penting bagi Yoris karena selain dua konsol itu, ia masih punya satu set Playstation 2 yang ditaruh di kamar tidur.

"Kita tetap harus main mainan anak kecil, seperti games ini, untuk membuat pikiran selalu terbuka dan kreatif," tutur Yoris sambil memperagakan bermain Nintendo Wii dengan batang kontrol nirkabel.

Ruangan duduk serbaguna itu kemudian menyambung dengan ruang makan, yang juga ditata minimalis, dengan sebuah meja makan panjang terbuat dari kaca. Selain difungsikan untuk makan, inilah meja kerja Yoris sehari-hari. "Saya paling nyaman mengetik atau mengonsep sebuah gagasan kreatif di meja makan ini," kata dia.

Di dinding di belakang meja makan itu ia memasang foto enam tokoh dunia yang, menurut Yoris, menjadi simbol kreativitas tiada henti, antara lain pendiri dan pemilik Apple Computer, Steve Jobs; tokoh animasi dunia Walt Disney; penyanyi Madonna; pengusaha Donald Trump; dan pemilik kelompok usaha Virgin, Richard Branson.

Terakhir, Yoris banyak memberikan sentuhan warna hijau muda dan putih di dalam ruangan rumahnya itu. "Saya suka dua warna itu karena ada maknanya. Putih melambangkan kreativitas. Sementara hijau melambangkan kesegaran, sesuatu yang terus bertumbuh," ucapnya.

Dan rumah yang terlihat biasa dari luar itu pun menjadi luar biasa di dalamnya.

Five Filters featured article: Headshot - Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Karena Mereka Tidak Membuat Tanah Lagi...

Posted: 13 Jun 2010 12:31 AM PDT

"Dulu awal-awal jadi GM, saya dapat rumah dinas di daerah Menteng. Terus setelah krismon, dipindah ke apartemen. Nyaman sebenarnya, tetapi saya diingatkan oleh teman untuk tetap harus memikirkan punya rumah sendiri, buat masa depan," tutur Yoris, yang menjadi GM Hard Rock Cafe Jakarta pada 1999-2000, dilanjutkan menjadi GM Hard Rock Cafe Indonesia hingga 2007.

Maka, ia pun mulai berburu rumah bersama teman sekantornya, Meuthia Kasim. Yoris sempat berniat membeli apartemen karena sudah merasakan enaknya tinggal di apartemen. Namun, kemudian orangtuanya menasihati untuk tidak membeli apartemen.

"Mereka bilang, sekarang itu orang sudah tidak membuat tanah lagi, artinya kalau di apartemen itu kan kita tidak memiliki tanahnya. Saya pikir-pikir benar juga, jadi akhirnya saya cari rumah beneran," ungkap Yoris.

Yoris sempat tertarik membeli rumah di lokasi yang dipilih Meuthia di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Namun, niat itu akhirnya ia urungkan setelah melihat rumah di Cikatomas.

"Lagian, masak udah lima hari dalam seminggu ketemu Meuthia terus di kantor, hari liburnya masih ketemu dia lagi. Kan bosan, ha-ha-ha," tutur pemenang International Young Creative Entrepreneur of the Year 2006 yang digelar British Council.

Kecil tetapi nyaman

Ia pun mengaku langsung jatuh cinta dengan lokasi rumah itu, yang dekat dari mana-mana, termasuk dari rumah orangtuanya. Ukuran yang tak terlalu besar tak menjadi halangan bagi Yoris. "Saya memang tak pernah bercita-cita punya rumah besar meski nanti sudah berkeluarga sekalipun. Toh, sekarang banyak arsitek yang bisa merancang rumah berukuran kecil untuk tetap bagus dan nyaman ditinggali," ujarnya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi, Yoris pun memutuskan membeli rumah itu meski uang tabungannya hanya cukup untuk membayar uang muka kredit. "Saya terinspirasi anak buah saya di kantor yang mampu mencicil rumah untuk ibunya. Kalau anak buah saya saja bisa (beli rumah), mengapa saya tidak? Selain itu, kredit asal buat sesuatu yang produktif atau investasi seperti rumah kan tidak apa-apa," kata konsultan kreatif yang merancang konsep unik di beberapa mal terbaru di Jakarta itu.

Kini terbukti, keputusan Yoris untuk membeli rumah di pusat kota itu tidak salah. Dengan kesibukannya menggarap berbagai konsep kreatif, baik untuk kepentingan klien maupun demi kesenangan pribadinya, sebagian besar waktu Yoris dalam sehari dihabiskan untuk berpindah dari satu tempat rapat ke tempat rapat lainnya.

"Waktu menjadi sedemikian berharga. Ungkapan time is money sudah tidak terlalu tepat lagi. Sekarang ini, time is more valuable than money. Waktu sudah jauh lebih berharga dibanding uang," ungkapnya.

Itu sebabnya, lokasi pun menentukan prestasi. (DHF)

Five Filters featured article: Headshot - Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Menpera Resmikan Rumah Sederhana untuk PNS Sulut

Posted: 11 Jun 2010 04:02 PM PDT

Jumat, 11/6/2010 | 23:02 WIB

MANADO, KOMPAS.com - Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa meresmikan 2.000 unit Rumah Sederhana dan Rumah Sehat Sederhana yang akan dimanfaatkan jajaran pegawai negeri sipil di Sulawesi Utara.

"Kepemilikan rumah menjadi hak azasi setiap manusia dan tak terkecuali di jajaran Korpri, sehingga perlu dibantu," kata Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) di Manado, Jumat.

Rumah-rumah yang dibangun pengembang bekerja sama dengan pihak Korpri Sulut, keseluruhannya telah laku terjual kepada para PNS di lingkungan Pemprov Sulut, dengan memanfaatkan dana Tabungan Perumahan yang selama ini disisihkan dan melalui Bapertarum.

Menurut Menpera, pemerintah berupaya memfasilitasi agar seluruh rakyatnya memiliki rumah tinggal layak huni, dan saat ini pemerintah sedang dan terus mengkaji kebijakan pembangunan perumahan terutama bagi kelas menengah ke bawah di Indonesia. 

Pemerintah juga mengupayakan mekanisme lebih mudah dan dana harga yang lebih terjangkau, sehingga diharapkan memiliki rumah bukan lagi menjadi hal bagi golongan berpenghasilan menengah ke bawah. Pemerintah akan mengembangkan Pola Fasilitas Likuiditas sebagai salah satu bentuk intervensi untuk menyediakan rumah yang terjangkau, tetapi juga dapat tetap menguntungkan pihak pengembang. 

Pada tahun-tahun mendatang pemerintah akan berupaya menekan tingkat bunga pembelian rumah menjadi di bawah sembilan persen. "Dengan demikian pemerintah tidak lagi akan mensubsidi, sebab tingkat bunga sembilan persen adalah tingkat bunga yang sesuai dengan ketentuan," katanya. 

Peresmian rumah sederhana yang dibangun Apersi Sulawesi Utara ini ditandai dengan sirine dan pengguntingan pita oleh Menpera. Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum DPP Apersi Eddy Ganefo, Gubernur Sulut Sinyo H Sarundajang, Kepala Bapetarum Muh Yamin, Kadiv Kredit BTN Pusat Budi, YKPP, DPD Apersi Sumatera Selatan, DKI, dan anggota Apersi Sulut serta masyarakat setempat.

Menpera dan undangan lainnya juga melakukan penanaman 2.000 pohon secara simbolis. Acara ini juga diisi dengan dialog interaktif seputar penerapan Fasilitas Likuiditas serta masa transisinya.

Ketua Umum DPP Apersi Eddy Ganefo memberikan apresiasi kepada Apersi Sulut atas kepeduliannya terhadap lingkungan dengan melakukan penghijauan pada setiap kawasan yang dibangun.

Menpera menantang pemerintah daerah untuk menyiapkan cadangan lahan bagi perumahan dan pusat akan menggelontorkan DAK ke daerah, Fasilitas Likuiditas dan kerja sama daerah kumuh, serta program PKP. (ANT/KSP)

 

Five Filters featured article: Headshot - Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Grup Gunung Sewu Bangun Resort Tropis di Tengah Kota

Posted: 11 Jun 2010 10:41 AM PDT

Laporan wartawan kompas.com Leo Sunu

Jumat, 11/6/2010 | 17:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsep modern dengan sentuhan hijau dan nuansa tropis nampaknya makin menjadi tren dalam penjualan hunian yang terletak di jantung kota Jakarta. Mengusung konsep serupa, Farpoint Realty, perusahaan pengembang yang tergabung dalam kelompok usaha Gunung Sewu memperkenalkan Verde, sebuah kompleks kondominium yang didesain dengan kesan menyerupai resort tropis yang terletak di pusat kota.

"Verde merupakan sebuah hunian dengan konsep layaknya resort di tengah-tengah kota. Karena memang saat ini konsep eco-green yang paling dicari oleh masyarakat Jakarta yang jenuh dengan hiruk pikuk, kemacetan, dan sebagainya," ungkap Honey Angkosubroto dari Farpoint Realty dalam prelaunching Verde, Jumat ( 11/6/2010 ) , di Jakarta.

Turut hadir dalam prelaunching tersebut Glenn Pushelberg dari Yabu Pushelberg, sebuah firma desainer interior kenamaan dunia yang dipercaya untuk mendesain Verde.

Untuk mewujudkan konsep hunian yang hijau dengan nuansa modern tropis, Honey mengatakan, Verde didesain dengan lahan hijau seluas mungkin. Dia mengklaim Verde memiliki lahan hijau sebesar 55 persen dari total area seluas 1,3 hektar. "Dengan konsep hijau tropis ini kami berupaya maksimal. Lebih dari setengah area diperuntukkan taman dan tanaman," ujarnya.

Menurut Honey, masyarakat kini sudah cukup bosan dengan kemacetan yang terjadi setiap hari di Jakarta. Dengan adanya Verde yang terletak di kawasan strategis dan pusat bisnis Kuningan, Jakarta, Verde menyasar para eksekutif muda yang dinamis namun membutuhkan hunian yang segar dan nyaman layaknya berlibur.

"Letak Verde yang tidak terletak di pinggir jalan raya dan tidak menyatu dengan perkantoran ini akan memberikan kesan yang nyaman dan bebas bising kemacetan," katanya.

Dengan total luas lahan 1,3 hektar, Verde memiliki tiga gedung kondominium dengan 258 unit. "Selain menambah kesan eksklusif, jumlah hunian yang terbatas ini menambah ruangan menjadi lebih lapang sehingga penghuni bisa leluasa menata desain yang sudah ada," ungkapnya.

Rancang desain interior Verde diserahkan sepenuhnya oleh perusahaan desainer interior Yabu Pushelberg yang berkedudukan di New York, AS. Glenn Pushelberg dalam acara prelaunching, mengatakan, berupaya maksimal untuk merealisasikan kebutuhan hunian yang bernuansa tropis dan nyaman bagi para eksekutif. Desain yang didominasi dengan nuansa etnik negara-negara tropis seperti Indonesia, Maldives, dan negara-negara Amerika Latin lainnya, diklaim akan memberikan efek relaks bagi penghuninya.

"Nuansa tropis dan kehidupan urban kami rancang sedemikian rupa supaya menyatu dalam Verde. Hal ini kami wujudkan dalam material-material bangunan interior berupa lapisan dinding, kusen, dan lantai yang semuanya bernuansa tropis," kata Glenn.

Mengenai harga, Honey menjamin Verde merupakan sebuah investasi hunian yang amat menjanjikan. Dengan harga yang cukup bersaing, menurut dia, para penghuni nantinya akan mendapatkan sebuah hunian yang lengkap dan nyaman untuk menunjang aktivitas kesibukannya. Kisaran harga tiap unit Verde ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 2,7 miliar hingga Rp 8 miliar. "Saat ini sudah terjual 30 persen dari yang sudah eksis," katanya.

 

Five Filters featured article: Headshot - Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar