Rabu, 21 Desember 2011

Rumah Idaman “Daerah Berlomba-lomba, Bisnis Konstruksi yang Reguk Untung” plus 2 more

Rumah Idaman “Daerah Berlomba-lomba, Bisnis Konstruksi yang Reguk Untung” plus 2 more


Daerah Berlomba-lomba, Bisnis Konstruksi yang Reguk Untung

Posted: 22 Dec 2011 06:04 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan yang menggeliat membawa berkah bagi kontraktor. Kenaikan nilai kontrak ini terdorong upaya daerah yang sedang berlomba mengembangkan diri supaya terlihat maju.

Anggaran daerah ini juga lari ke infrastruktur.

-- Natal Argawan

Natal Argawan, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (Wika) memperkirakan, total belanja konstruksi dan infrastruktur tahun ini bakal menyentuh Rp 150 triliun. Nilai perkiraan ini setara tumbuh 12% daripada tahun lalu.

Tentunya, hal tersebut akan berdampak positif bagi para kontraktor. Ambil contoh Wika, yang tahun ini menggarap kontrak proyek senilai Rp 25 triliun. Peningkatan permintaan jasa konstruksi ditopang oleh maraknya pengembangan infrastruktur daerah berupa jalan tol, jalan raya, bangunan tinggi, dan pembangkit listrik.

"Anggaran daerah ini juga lari ke infrastruktur," kata Natal, Rabu (21/12/2011) kemarin.

Sebagai catatan, sebanyak 60% dari kontrak yang dikantongi Wika bersumber proyek yang didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebagai contoh, tahun ini kontraktor pelat merah itu banyak menggarap proyek pembangkit listrik. Proyek pembangkit yang digarap Wika antara lain pembangkit listrik di Sulawesi Utara yang berkapasitas 2x25 Megawatt (MW).

Selain pembangkit, Wika juga menggarap proyek pembangunan Jembatan Tayan, Kalimantan Barat, senilai Rp 740 miliar dan normalisasi Kali Pesanggrahan II senilai Rp 281,8 miliar. Ia yakin, peningkatan permintaan jasa konstruksi masih akan berlanjut hingga tahun depan. Dus, Wika menargetkan pendapatan tahun depan Rp 11,2 triliun, naik 19,1% dari pendapatan tahun ini yang sebesar Rp 9,4 triliun.

"Proyek MP3EI bisa jadi rebutan bagi 100.000 perusahaan kontraktor di Indonesia, itu sebabnya bisnis konstruksi prospektif," tutur Natal.

Ruang konvensi naik

Senada dengan Wika, PT Total Bangun Persada Tbk juga berhasil mengantongi permintaan konstruksi yang lebih banyak dari tahun lalu. Per Desember ini, Total Bangun telah meraih kontrak baru senilai Rp 2,4 triliun. Nilai ini lebih besar dari target perusahaan yang hanya sebesar Rp 1,8 triliun.

Elvina Apandi Hermansyah, Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Investor Total Bangun, menjelaskan, kontrak yang melampaui target itu didorong oleh maraknya permintaan pembangunan hotel.

"Permintaan ruang konvensi meningkat lantaran banyak event organizer yang menggelar konser musik dan konferensi," tutur Elvina.

Beberapa proyek baru Total Bangun misalnya Hotel Marriott Bali senilai Rp 165 miliar dan Holiday Inn Bali senilai Rp 88 miliar. Selain itu, Total Bangun juga menggarap ruang konvensi di Samarinda senilai Rp 219 miliar.

Dengan sederet proyek itu, Total yakin tahun ini bisa mengantongi pendapatan Rp 2,5 triliun. Angka itu tumbuh 50% dari pencapaian 2010 yang senilai Rp 1,7 triliun.

(Maria Rosita)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Gedung "Nyentrik" Berkonsep Fisika

Posted: 22 Dec 2011 04:26 AM PST

KOMPAS.com - Gedung berbentuk bulat dengan luas 5.800 meter persegi itu memang tampak memukau. Dibangun dengan konsep fisika yang diterjemahkan oleh arsitek Hendrajaya Isnaeni, tampilan gedung tersebut benar-benar dapat dinikmati baik dari dalam maupun luar bangunan.

Tentu, tak salah jika gedung ini "berbau" fisika. Karena gedung Surya Research and Education Center (SREC) didirikan di atas lahan di Gading Serpong, Tangerang, Banten, sebagai wujud kecintaan Prof Yohanes Surya terhadap pendidikan bagi anak-anak dari daerah tertinggal, salah satunya Papua.

"Karena beliau fisikawan, konsepnya ada lingkaran dengan tujuh spektrum warna, berbentuk bulat dengan golden number angka-angka fisika. Kami menerjemahkan adanya pergerakan elektron dari medan magnet," kata Hendrajaya di acara Jalan-jalan Karya Arsitek yang ditampilkan dalam Indonesia Architect Week at Tokyo 2011 (IAWT) oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Sabtu (18/12/2011).

Hendrajaya mengatakan, meski terdengar rumit, namun sebagai sebuah bangunan untuk pendidikan dan penelitian SREC harus dapat dinikmati dari dalam maupun luar bangunan.

"Kami buat ramp dari bangunan di dalam, bawah menuju ke atas, kemudian bisa terhubung sampai bangunan di luar. Fungsinya untuk mengurangi anak tangga dan komunikasi tetap berjalan sampai ke ruangan," ujarnya.

Kebanyakan ruang dalam bangunan ini adalah kelas dan laboratorium. Pada bagian atasnya terdapat kubah yang dilapisi kaca, sehingga menyerap panas matahari saat sing hari.

Anak-anak Papua

Hendrajaya mengungkapkan, bangunan yang terletak di depan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini merupakan cita-cita Profesor Yohanes Surya sebagai pusat pelatihan dan pendidikan anak-anak Papua. Bagi Yohanes Surya, lanjut Hendrajaya, tidak ada anak-anak yang bodoh.

"Beliau ingin membuktikan, bahwa anak-anak asal Papua juga pintar. Anak-anak dari Sekolah Dasar (SD) dilatih, dites, dan diajari metode khusus. Langkahnya ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Papua," katanya.

Sementara itu, menurut arsitek Deddy Wahjudi, penggagas IAWT 2011, bangunan Surya Research and Education Center karya Hendrajaya Isnaeni ini masuk dalam kategori bangunan publik. Bangunan ini dipilih mewakili kategori tersebut, yang memang jarang dikirimkan oleh para arsitek.

"Dipilih karena mewakili pusat pelatihan dan pendidikan. Dari beberapa yang masuk, bangunan ini dianggap menarik karena diapresiasi secara modern mewakili zamannya," kata Deddy.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Andalkan Pasar Kemis, Perhatian ASRI ke Alam Sutera Menipis

Posted: 22 Dec 2011 03:48 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Lahan menipis, perhatian pun berkurang. Demikian nasib kawasan Alam Sutera, Serpong. Sang pengelola, PT Alam Sutera Realty Tbk, kini lebih serius mengembangkan proyek superblok residensial keduanya yang berada di Pasar Kemis, Tangerang.

Melalui anak usahanya, Duta Realtindo Jaya, ASRI akan mengembangkan landbank seluas 1.062 hektar (ha) di Pasar Kemis. Catatan saja, sisa lahan ASRI di kawasan Serpong sekitar 280 ha.

Keseriusan ASRI mengembangkan Pasar Kemis terlihat dari pengalokasian belanja modal. Dari total capital expenditure (capex) senilai Rp 3 triliun pada 2012, sebesar Rp 1 triliun dialokasikan untuk pengembangan Pasar Kemis. Sedangkan Serpong kebagian jatah Rp 600 miliar. Adapun anggaran yang tersisa akan digunakan untuk mengembangkan proyek hotel dan taman rekreasi di Bali.

Anindya Saraswati, analis Danareksa Sekuritas menilai, proyek Pasar Kemis memiliki prospek cerah. Peningkatan belanja modal akan mendorong kinerja ASRI tumbuh.

Ia menambahkan, pengembangan proyek hotel dan kondominium di Bali akan memperkuat pendapatan berulang atau recurring income ASRI.

Irwan Budiarto, analis Kresna Securities, mencatat, kontribusi recurring income terhadap pendapatan total ASRI per September baru 2,7%.

"Padahal, porsinya di perusahaan properti lain rata-rata sudah di atas 10%," kata dia, Rabu (21/12/2011).

Menurut Irwan, recurring income ASRI untuk 2012 bisa naik karena Mall @ Alam Sutera akan beroperasi pada pertengahan 2012. Irwan memprediksi, pendapatan berulang ASRI di tahun 2012 dan 2013 akan naik, masing-masing menjadi 4,2% dan 6% dari total revenue.

Manajemen ASRI memang menargetkan, pendapatan berulang bisa menyumbang hingga 10%. Porsi terbesar pendapatan ASRI selama ini masih berasal dari marketing sales.

Sepanjang Januari-Oktober 2011, perusahaan mengumpulkan pendapatan pra-penjualan senilai Rp 2,5 triliun, lebih tinggi 75,5% daripada tahun lalu. Sebanyak 74% marketing sales tersebut disumbang oleh penjualan produk residensial. Sisanya, sebanyak 18,1% dari kawasan komersial dan 7,9% dari penjualan apartemen.

Manajemen ASRI optimistis bisa menyentuh target marketing sales tahun ini, yaitu Rp 2,7 triliun. Irwan memperkirakan, ASRI setidaknya bisa mencapai Rp 2,6 triliun.

(Albertus M. Prestianta)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar