Rabu, 28 Desember 2011

Rumah Idaman “Merawat Jendela Kayu dari Lapuk dan Rayap” plus 2 more

Rumah Idaman “Merawat Jendela Kayu dari Lapuk dan Rayap” plus 2 more


Merawat Jendela Kayu dari Lapuk dan Rayap

Posted: 29 Dec 2011 03:09 AM PST

KOMPAS.com - Di daerah beriklim tropis, jendela rumah kerap kali menghadapi masalah pelapukan dan serangan rayap. Untuk menjaganya tetap cantik, Anda perlu menerapkan beberapa teknik perawatan.

Untuk menghindari kelapukan, jika material jendela Anda ada yang terbuat dari kayu dan sering terkena air hujan, sebaiknya pilih kualitas kayu dengan tingkat keawetan tinggi. Langkah paling praktis merawat kayu dari pelapukan ialah dengan memberikan lapisan akhir berupa cat.

Lapisan cat akan sedikit banyak menutupi pori-pori kayu sehingga air tidak mudah meresap ke dalamnya. Untuk menghemat, lapisi material jendela kayu dengan cat tembok sebelum dicat dengan cat kayu biasa.

Cari cat tembok dengan warna senada dengan cat kayu yang akan Anda pakai. Setelah itu, baru dilapisi cat kayu.

Sementara itu, untuk menghindari rayap, paling tidak ada dua cara bisa Anda lakukan. Cara pertama dikenal dengan upaya preventif, yaitu melapisi kayu yang akan diolah menjadi jendela dengan cairan khusus antirayap.

Cara kedua atau cara tradisional, seperti mengapur kayu, dapat dijadikan pilihan cerdik. Kapur akan mengeluarkan hawa panas yang membuat rayap tidak bisa hidup di dalamnya.

(Sumber: Seri Rumah Ide/Imelda Akmal Architecture Writer Studio/Gramedia Pustaka Utama)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Lantai Unik dengan Ubin Terakota

Posted: 29 Dec 2011 02:00 AM PST

KOMPAS.com - Mau mencoba tampilan unik pada lantai rumah Anda? Cobalah material terakota dengan nuansa warnanya yang menyerupai tanah. Nuansa cokelat- oranye dari lantai terakota akan memberi sentuhan hangat sekaligus natural, sesuai untuk hunian berkonsep tradisional atau back to nature.

Seperti keramik dan tegel, ubin terakota juga berasal dari tanah liat. Bedanya, untuk pembuatan terakota, tanah liat dibakar pada temperatur rendah. Walau saat ini tersedia keramik menyerupai terakota, tapi yang asli tetap disukai karena pori-pori pada permukaannya membuat material terasa lebih dingin.

Dibandingkan tegel, permukaan terakota lebih berpori, sehingga tidak keras dan nyaman dipijak. Namun, kekurangan terakota terletak pada tampilannya yang cepat lusuh. Dan ternyata, bagi sebagian orang tampilan ini justru menjadi daya tarik tersendiri.

Untuk menghasilkan kesan rustic, umumnya terakota disusun dalam jarak cukup lebar, bisa mencapai dua sentimeter. Untuk menciptakan tampilan lebih alami, terkadang nat sengaja dibuat tidak berpotongan.

Terakota tidak hanya tersedia dalam bentuk bujur sangkar, ada juga bentuk persegi panjang dan segi enam. Dalam perawatannya, karena permukaan terakota memiliki pori-pori, material ini wajib diberi lapisan pelindung atau wax.

(Sumber: Seri Rumah Ide Lantai, Studio Imelda Akmal Architecture Writer/Gramedia Pustaka Utama)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

UU Arsitek Semakin Dibutuhkan

Posted: 29 Dec 2011 01:39 AM PST

Oleh: Her Pramtama

KOMPAS.com - Selepas krisis ekonomi global 1998 yang dialami Indonesia, dampak yang muncul adalah kurangnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur memadai. Satu contoh paling terlihat jelas di depan mata adalah kapasitas bandara yang semakin tak cukup menunjang lonjakan penumpang.

Kini, diluncurkannya Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI oleh pemerintah tampaknya telah memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini terlihat di sepanjang 2011, yaitu tercatat 91 proyek telah dimulai dengan nilai investasi Rp 461,6 triliun.

Ada 8 program utama MP3EI antara lain industri, pertambangan, pertanian, pariwisata, kelautan, energi, telekomunikasi dan ekonomi kawasan. Program tersebut dikembangkan dalam 6 Koridor Ekonomi, antara lain koridor Sumatera, Koridor Jawa, Koridor Kalimantan, Koridor Bali-Nusa Tenggara, Koridor Sulawesi dan Koridor Papua- Maluku.

Tentunya, tampak jelas pula di depan mata, bahwa akan banyak pembangunan yang tentunya membutuhkan peran arsitek. Kebutuhan pembangunan akan pengembangan bandara, pelabuhan, stasiun, kantor, hotel, sekolah, tumah susun atau apartemen, rumah sakit dan lainnya. Semua itu telah menjadi tuntutan dalam merealisasikan MP3EI.

Namun, dari anggaran investasi Rp 4.012 triliun sepanjang 2011-2025, sebanyak 70% di antaranya dibiayai oleh investor asing. Untuk itu, pemerintah perlu tegas mengatur regulasi tentang peran dan lingkup kerja investor asing.

Kita tahu dan sadar, sudah menjadi kebiasaan investor asing yang masuk ke Indonesia, bahwa mereka akhirnya menjadi "tuan rumah" di negeri kita sendiri. Mulai perencanaan, pelaksanaaan, sampai dengan pengelolaan, umumnya dikuasai para investor asing.

Tentu saja, harusnya kita tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Khususnya para arsitek Indonesia, momentum pembangunan ini bisa dijadikan kesempatan mengaktualisasi diri untuk dapat berdiri sejajar dengan arsitek asing.

Maka, peluang kemitraan dengan arsitek asing yang dibawa oleh investor asing menjadi penting untuk diatur dalam Undang-Undang Arsitek. Upaya yang dilakukan Komisi V DPR RI dalam menginisiasi RUU ini dan telah memasukannya dalam Prolegnas 2012 (Program Prioritas Legislasi Nasional), adalah langkah tepat di waktu yang tepat.

Selain itu, dukungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono terhadap UU Arsitek yang disampaikan Selasa (27/12/2011/Presiden Dukung UU Arsitek) saat menerima Pengurus Nasional IAI, perlu direspon segera oleh Komisi V untuk membahas RUU ini lebih intens dengan para pembuat kebijakan dan pelaku jasa konstruksi.

Ke depan, pembangunan dalam mendukung MP3EI mestinya tidak hanya akan menitikberatkan pada pendekatan fungsi semata, melainkan juga momentum menciptakan karya arsitektur berkualitas. Di negara-negara maju, arsitektur telah menjadi tulang punggung pendapatan ekonomi suatu bangsa. Salah satu tujuan para wisatawan adalah mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai arsitektur tinggi, baik karya arsitektur bernilai sejarah tinggi maupun karya arsitektur terkini.

Ini memang suatu pelajaran dan juga kesempatan besar di depan mata. Bila pemerintah serius mengolah ini menjadi sebuah siklus pembangunan ekonomi nasional, tentu Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan dalam percaturan global.

(Penulis adalah Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta 2009-2012)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar