Senin, 23 Agustus 2010

Rumah Idaman “Hendra Hartono: Brand Bukan Segala-galanya” plus 3 more

Rumah Idaman “Hendra Hartono: Brand Bukan Segala-galanya” plus 3 more


Hendra Hartono: Brand Bukan Segala-galanya

Posted: 24 Aug 2010 05:17 AM PDT

KOMPAS.com - Meskipun sudah berada di puncak sebagai Managing Director Procon, Hendra Hartono (43) malah memilih keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, Leads Property. Di Procon, Hendra bekerja selama 17 tahun. "Sudah saatnya saya memiliki perusahaan sendiri," kata lulusan MBA dari University of San Diego, Amerika Serikat tahun 1993 itu.

Hendra Hartono yang juga memperoleh gelar MBA dari Oxford University di Inggris ini mendirikan perusahaan konsultan properti sendiri, PT Leads Property Services Indonesia tahun 2010.

Baru empat bulan berdiri, Leads Property sudah berhasil menggolkan transaksi sewa gedung perkantoran The Oval Kuningan City Jakarta. Perusahaan asuransi terbesar di dunia, AXA menyewa 10 lantai gedung The Oval dan membuat gedung itu dinamakan AXA Tower.

Hendra Hartono lahir di Sumba, NTT,  24 Januari 1967. Ayahnya, Erick Hartono, pengusaha peternakan sapi di Sumba. Setelah keluarga Hartono pindah ke Surabaya, Hendra mengenyam pendidikan di SD dan SMP Petra Surabaya.
 
Ketika bisnis ayahnya pindah ke Jakarta, Hendra melanjutkan pendidikan kelas III SMP Ora Et Labora di Panglima Polim Jakarta Selatan dan SMA Tirta Marta di Pondok Indah Jakarta Selatan.

Tahun 1985, Hendra melanjutkatkan pendidikan tinggi di Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta. Ia mengambil jurusan Arsitektur. Setelah lulus dari Untar, ia mengambil gelar MBA di University of San Diego, Amerika Serikat, dan juga MBA di Oxford University, Inggris,

Kembali ke Indonesia, tahun 1993, Hendra langsung bekerja di Procon, perusahaan konsultan properti. Di sinilah Hendra mengasah kemampuannya, terutama di bidang commercial office dan tenant.

Tahun 2001, Procon sempat pecah dengan Jones Lang LaSalle, dan Hendra ikut ke Jones Lang LaSalle. Namun enam bulan kemudian, setelah terjadi peristiwa 11 September 2001, Hendra kembali ke Procon, persisnya pada awal tahun 2002.

Tahun  2007-2009, Hendra menjadi Chief Business Development Officer Procon, atau orang nomor dua. Tugasnya berbagi tugas dengan CEO, membawahi sejumlah departemen di perusahaan itu.

Mulai Juni 2009, Hendra menjabat CEO atau Managing Director Procon. Namun itu tidak lama karena pada April 2010, Hendra memutuskan keluar dan mendirikan perusahaan konsultan properti sendiri. "Memang ada beberapa konsultan asing yang ajak kerja sama tapi saya masih senang dengan perusahaan sendiri," kata Hendra dalam percakapan dengan Kompas.com.

Hendra sampai saat ini belum menikah. "Saya mencintai pekerjaan sehingga sulit punya komitmen menikah. Saya masih enjoy. Dengan status lajang, saya tetap bisa mendekatkan diri dengan klien, baik dalam hubungan  profesional dan pekerjaan, maupun dalam pergaulan di luar jam kerja.  Pada akhir pekan pun, saya sibuk membangun network dengan klien," ungkap Hendra yang memiliki hobi travelling, membaca, nonton pertandingan tenis, dan menikmati wisata kuliner.

Salah satu pengalaman Hendra Hartono yang menarik dalam acara properti di Indonesia adalah pada waktu saya diundang untuk berperan serta sebagai salah satu tim juri dalam pemilihan properti terbaik di Indonesia dalam kompetisi FIABCI Award di Indonesia tahun 2009 lalu. Pemenangnya lalu diikutsertakan dalam kompetisi FIABCI Award di Bali bulan Mei 2010.

Berikut ini wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Hendra Hartono, CEO Leads Property Services Indonesia di kantornya di Equity Tower, SCBD, Jakarta, Senin (23/8/10) pagi.

Anda sudah di puncak, menjadi orang nomor satu di Procon, tapi kemudian Anda memutuskan untuk keluar dan mendirikan perusahaan sendiri. Mengapa?
Ini memang keinginan saya, cita-cita saya sejak dulu. Dan saya pikir sudah waktunya saya mengibarkan bendera sendiri. Saya pikir mumpung saya masih kuat dan punya network. Dan timing-nya tepat karena industri properti sudah bangkit lagi. Karena orang lain bisa, kenapa saya tidak?

Memang, biasanya kalau orang sudah duduk di atas, dapat fasilitas baik, orang enggan keluar dari zona kenyaman. Tapi bagi saya, kepuasan memiliki perusahaan sendiri dan menerapkan visi misi sendiri, tantangannya berbeda. Dan punya usaha sendiri, untuk jangka panjang lebih baik. Terutama karena saya punya passion di bidang ini. Saya tetap bisa berkarya di usia lanjut di perusahaan sendiri. Kan beda kalau kita kerja dengan orang lain.

Kepada tiga staf kunci Leads yang bergabung dengan saya, saya membagi saham sehingga mereka merasa memiliki perusahaan ini. Waktu di Procon, tak ada soal pembagian saham. Dan saya tidak mau selamanya menjadi CEO. Suatu saat saya hanya jadi pemegang saham.

Salah satu pemegang saham Leads Property adalah Enggartiasto Lukito, sehingga semuanya berjumlah lima orang, termasuk saya.

Siapa yang mendorong keberanian Anda mendirikan perusahaan baru dalam bidang properti ini?
Keberanian ini didorong oleh klien-klien juga. Business service adalah soal orang. Siapa yang ada di belakangnya.  Saya makin percaya diri karena sejumlah klien mendukung. Mereka bilang, tak usah khawatir karena mereka tetap melihat siapa yang bekerja keras.
 
Anda ajak staf lama ke perusahaan baru?
Ada beberapa orang di perusahaan lama yang ikut saya karena mereka tahu dengan etika kerja. Jadi mereka tak sulit beradaptasi karena sudah saling tahu. Kultur kerja pun terbentuk dengan sendirinya karena kita sudah saling mengenal.

Apa yang menjadi fokus Leads Property?
Armada Leads Property saat ini 30 orang karyawan. Kami fokus di lima divisi, yaitu Office Services (semua yang berhubungan dengan penyewaan strata title gedung perkantoran), Occupier Services (mewakili occupier untuk beli dan sewa gedung, pindah atau perpanjangan sewa), dan Residential Sales and Leasing (penjualan dan penyewaan apartemen).

Selain itu Investment (transaksi jual beli tanah, gedung perkantoran/komersial, hotel), dan Project Management (mewakili pemakai gedung, penyewa atau pembeli untuk awasi proyek perkantoran.

Riset yang kami lakukan untuk tahap ini masih untuk kepentingan internal, untuk konsumsi klien, belum dipublikasikan untuk umum. Namun di masa depan, kami akan publikasikan ke publik.

Bagaimana peta properti di Jakarta saat ini?
Peta properti di Jakarta ada tiga, yang dipetakan berdasarkan lokasi. Pertama, segitiga emas Jakarta. Kedua, non-CBD dengan batas Jakarta Outer Ring Road atau JORR. Ketiga, Greater Jakarta atau Jabodetabek.

Kalau kita mau bicara soal hotel, residensial, office, semuanya tersebar di tiga lokasi itu.

Yang cukup menarik adalah office yang bergerak ke kawasan TB Simatupang, sekarang beralih ke arah Serpong. Ibaratnya kondisi Serpong sekarang adalah kondisi TB Simatupang 15 tahun yang lalu.

Kawasan Sudirman-Thamrin saat ini sudah padat dan lahan tersedia sedikit. Sehingga di Thamrin, banyak renovasi gedung lama dan di-upgrade. Sedangkan di Sudirman, pembangunan dilakukan di second coridor, di belakangnya. Misalnya Plaza DM, Tamara 2, WTC II, Prudential Tower, Chase Tower.

Di Rasuna Said, kita akan lihat gedung-gedungnya bigger dan taller. Cyber II, TempoScan, Bakrie Tower. Pada masa lalu, tak ada gedung yang bisa setinggi seperti itu.

Sepanjang Jalan KH Mansyur, Satrio-Casablanca, juga menjadi daerah yang sangat berkembang. Justru perkembangan kawasan Satrio lebih pesat daripada kawasan Gatot Subroto. Di Gatot Subroto, tanah sudah establish dan sebagian besar milik pengembang besar, sementara di kawasan Satrio masih ada tanah warga yang bisa diperjualbelikan.

Bagaimana dengan commercial estate? Ada kawasan baru yang akan dikembangkan?

Commercial estate akan terus berkembang. Saat ini sudah SCBD dan Mega Kuningan. Ke depan, akan ada satu lagi commercial estate yang diprediksikan seperti Mega Kuningan adalah Kuningan Persada di daerah Kuningan  Utara yang berbatasan dengan Menteng. Kelak Kuningan Persada akan menyambung ke Rasuna Epicentrum dan memiliki akses ke Casablanca atau Dr Satrio.

Kuningan Persada yang seluruhnya seluas 13 hektar adalah kawasan yang kami rasa akan berkembang jadi kawasan bisnis baru. Beberapa gedung perkantoran yang sudah dan sedang dibangun adalah Multivison Tower, Allianz Tower (sebelumnya Kompas Tower), Permata Kuningan. Di sana juga ada tanah milik Gunung Sewu Group.   

Anda tadi sebut Serpong makin dilirik investor. Mengapa?
Perusahaan mencari lokasi yang tidak macet dan banyak kawasan hijau, dekat dengan perumahan staf dan bandara, memiliki akses tol yang baik. Dan syarat ini dimiliki Serpong.

Di Serpong ada BSD, Alam Sutera, Summarecon, Paramount. Juga di dekatnya ada Lippo Village yang strategis.

Di Serpong, mereka masih bisa bikin kantor yang low-rise. Di kawasan TB Simatupang, tidak bisa lagi bangun low-rise, dan harganya sudah tak jauh berbeda dengan  kawasan segi tiga emas antara Rp 8 juta.m2 dan 16 juta/m2.

Apa kiat Anda melanggengkan hubungan dengan klien?
Banyak klien saya yang menjadi teman. Tapi pertemanan tidak akan panjang jika pekerjaan yang dikerjakan tidak dilakukan sungguh-sungguh.

Banyak klien yang masih berteman, bukan karena karena membutuhkan ruang kantor, tapi karena kami memang berteman. Pada waktu kebutuhan datang, mereka cari siapa yang paling nyaman bagi mereka.

Waktu saya bikin perusahaan ini, klien saya malah tanya kenapa tidak dari dulu? Jadi mereka kasih moral support yang tinggi.

Leads Property sukses membawa AXA menempati 10 lantai The Oval Kuningan City. Apa resep sukses Anda?
Saya percaya  sukses itu ada jika kita bekerja sungguh-sungguh, tidak hitungan-hitungan waktu, tetap menjaga kualitas, tetap menjaga kerja sama tim, dan menjaga hubungan baik denga  klien, peka terhadap kebutuhan klien.

Jadi resepnya dari mulut ke mulut. Kalau satu perusahaan puas, ini akan merambat ke perusahaan lainnya. Kalau Anda pikir, siapakah sih Leads? Perusahaan ini baru berdiri. Tapi yang dilihat klien adalah kokinya. Inilah keunikan industri jasa. Nama besar perusahaan bukan segala-galanya. Tapi siapa yang jadi motor dan arsitek proyek tersebut.

AXA kebetulan kenal cara kerja saya sehingga saya diminta lagi bantu mereka. Sebelumnya saya bantu Prudential Tower yang sebelumnya Sudirman Tower (milik Sunredi Atmadjaja, anak Usman Atmadjaja). Selain itu, sebelumnya saya juga memasarkan Kompas Tower yang kemudian menjadi Allianz Tower. Terakhir saya yakinkan AXA untuk berkantor di The Oval Kuningan City, dan mereka mengambil 10 lantai sehingga gedung itu bernama AXA Tower. Ini semua terjadi dalam waktu dua tahun terakhir.

Asal Anda tahun, untuk mengawinkan gedung belum jadi dengan  perusahaan multinasional, tidaklah gampang. tentunya ini tidak terlepas dari latar belakang pengembang. Tak semua orang bisa melakukan ini jika tak punya kepercayaan, kualitas kerja, trust, kenyamanan.

Apa lagi yang digarap Leads saat ini?
Walau perusahaan ini baru empat bulan berjalan (Agustus 2010), kami saat ini membantu Kedutaan Besar Amerika Serikat pindah kantor ke gedung yang tak jauh dari lokasi mereka. Karena Kedubes itu akan direnovasi. Kami juga membantu BII Maybank mencari kantor baru. Demikina pula perusahaan oil and gas Saipem mencari kantor baru di selatan Jakarta. Dan beberapa perusahaan lainnya, seperti Ford yang meluncurkan produk baru dan minta outlet di shopping mall. Baygon juga mencari lokasi kantor baru.

Untuk proyek residensial, kami menangani dua proyek sold agent yaitu 1Park Residences dan Menteng Townhouse (15 unit).

Proyek sold agent perkantoran, kami menangani gedung perkantoran The Oval (AXA Tower), memasarkan perkantoran mereka.

Dan satu proyek Intiland di TB Simatupang, Pondok Klub Lavila (kantor, serviced apartment, lifestyle mall, 5 star hotel). Total tanah 10 hektar. Lokasinya di seberang Prasetiya Mulya.

Jadi dalam empat bulan, Leads Property sudah menangani berbagai proyek dari yang luasnya hanya 200 m2 sampai 40.000 m2 (BII Maybank).

Saya yakin ini akan bergulir terus karena kami berhubungan dengan pengembang. Kami sudah punya jaringan.

Saya percaya sukses kita genggam bila kita bekerja dengan baik, tidak over promise, bisa tell the truth, apa adanya, sehingga klien merasa nyaman. Jika ini yang dicapai, reputasi dan kredibilitas bisa kita raih otomatis.

Apa yang pernah Anda lakukan di Procon?
Waktu di Procon, saya pernah membantu Bursa Efek Jakarta pindah dan membeli gedung atau perpanjangan sewa di BEJ. Demikian pula Chevron, ketika mereka mengonsolidasi di Sentral Senayan, juga Unilever saat proses perpanjangan dan perpindahan kantor. Saya juga mengerjakan proyek kepindahan BCA ke kawasan Grand Indonesia, juga Conoco Philips konsolidasi office di TB Simatupang, dan Danone konsolidasi office di Cyber II Rasuna Said.

Pengertian konsolidasi dalam dunia properti berarti kami melihat kebutuhan ruang mereka dan men-assest gedung-gedung, melakukan identifasikasi, dan mencoba untuk mencari yang terbaik untuk penyewa, serta melakukan negosiasi hasil minimum untuk kedua belah pihak dalam jangka  panjang. Juga sensitif terhadap kebutuhan bisnis di masa depan.

Pekerjaan sebagai agen properti tidak sulit tapi juga tidak gampang. Kita harus memahami better understanding apa yang dibutuhkan klien tidaklah sama satu dengan lainnya. Mungkin ini kunci sukses saya, kami bisa tahu apa yang diinginkan klien. Sehingga diagnosa yang kami lakukan lebih akurat dan advice yang diberikan kepada klien lebih pas.

Background saya memang dalam bidang property management dan office buidling dengan spesialisasi commercial office dan tenant. Jadi karrir saya memang tumbuh dari perkantoran. Agen properti kan banyak, tapi yang bisa memposisikan diri sebagai korporasi tidak banyak.  

Anda optimistis Leads akan berkembang?
Leads memang perusahaan yang kami dirikan sendiri. Ada beberapa konsultan asing mengajak kami bermitra. Tapi kami masih menimbang-nimbang untung ruginya. Sebab saya percaya bahwa dalam bisnis ini, brand bukanlah segala-galanya. Kami lebih melakukan local market penetration. Dan property about property knowledge. Ini semua diperoleh dari network kami.

Yang cukup membanggakan dan membuat saya percaya diri adalah banyak klien korporasi multinasional yang tadinya punya regional appointment dengan konsultasi properti asing di Jakarta, tapi memilih memakai jasa saya sejak dulu sampai sekarang.

Ke depan, kami akan mengembangkan divisi property management, retail, dan feasilibit study. Untuk saat ini, kalau ada permintaan klien, kami akan me-refer ke rekanan bisnis kami yang biasa bekerja dengan kami.

Dan seperti Anda tahu, kalau orang sudah biasa potong rambut di mana, makan di mana, tentu akan tetap cari jasa itu. Ini memang keunikan industri jasa. Kenyamanan dan kepercayaan tak bisa dibeli. Standar yang sudah dibentuk di Leads dari karakter cara kerja saya.

Cara kerja seperti apa yang Anda terapkan?
Saya sangat memperhatikan detail dan cenderung perfeksionis. Mau besar atau kecil fee-nya, semua harus dibuat secara optimum, melalui proses quality control yang panjang dan selau on time, dan tidak kenal waktu pada setiap saat.  Apalagi kita bekerja dengan multinational company dengan time zone berbeda. Manajemennya bisa sedang travelling, sedang berada di negara mana, dan kita harus siap berkomunikasi setiap saat.

Mengapa Anda pilih Equity Tower sebagai kantor Leads?
Kebetulan tempat ini banyak konsultan properti berkantor. Tapi yang terutama adalah karena di sini banyak kantor multinational company. Jadi kami mendekatkan diri pada pasar, pada klien. Dan kami berusaha bekerja di gedung yang baru dan representatif. (Robert Adhi Ksp)

 

 

Keberanian ini didorong oleh klien-klien juga. Business service adalah soal orang. Siapa yang ada di belakangnya. Saya makin percaya diri karena sejumlah klien mendukung. Mereka bilang, tak usah khawatir karena mereka tetap melihat siapa yang bekerja ker

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Lahan Produktif di Tangerang Berubah Jadi Perumahan

Posted: 23 Aug 2010 07:27 AM PDT

TANGERANG, KOMPAS.com  - Lahan pertanian produktif terus berkurang di wilayah Kabupaten Tangerang, Banten, terutama di kawasan pantai utara akibat banyak permintaan dari sejumlah pengembang atau perorangan untuk membangun perumahan.

Tidak dapat dipungkiri kebutuhan akan rumah terus mendesak, sehingga akhirnya lahan pertanian berkurang tiap tahun, yaitu di Teluknaga, Mauk, Sepatan, Rajeg, Pakuhaji dan Kosambi

-- Hermansyah

"Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan rumah terus mendesak, sehingga akhirnya lahan pertanian berkurang tiap tahun," kata Sekretaris Daerah Pemkab Tangerang  Hermansyah.

Menurut dia, sejumlah kecamatan yang memiliki lahan pertanian produktif seperti Kecamatan Teluknaga, Mauk, Sepatan, Rajeg, Pakuhaji maupun Kosambi sudah berubah fungsi diantaranya untuk rumah penduduk.

Pernyataan tersebut terkait belakangan ini lahan pertanian produktif menggunakan saluran irigasi berkurang di wilayah ini setiap tahunnya mencapai 10 hingga 15 persen setiap tahun.

Dia menambahkan, pihaknya tidak dapat menolak adanya permohonan perizinan untuk perumahan apalagi skala kecil untuk para pekerja. Sedangkan warga setempat telah menjual tanah mereka untuk dijadikan perumahan, karena memiliki nilai ekonomi ketimbang harus mengarap sawah atau kebun.

Sebelumnya, hasil pendataan Pemkab Tangerang tahun 2009 bahwa luas lahan pertanian produktif sekitar 44.000 hektare yang terhampar pada 29 kecamatan dan dominan berada di pantai utara.

Bahkan lahan pertanian tersebut adalah sawah produktif dua kali panen dalam setahun dengan pemanfaatan pengunaan air melalui saluran irigasi.

Pada lahan pertanian itu menghasilkan panen padi mulai dari 5,7 hingga 7,1 ton per hektare gabah kering pungut maka areal tersebut merupakan lumbung padi untuk memenuhi kebutuhan setempat dan sebagian dijual ke kawasan Jabotabek.

Selain itu, berkurangnya lahan pertanian tersebut akibat adanya permintaan dari pengusaha untuk membangun pergudangan dan terbanyak di dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Pada setiap kecamatan setiap tahun selalu berkurang areal pertanian tersebut terutama pada lahan tanah hujan yang dimanfaatkan untuk industri serta pergudangan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Joengky Sulistyo: Townhouse di Kedoya, Kampung Hijau di Dalam Kota

Posted: 21 Aug 2010 08:24 AM PDT

KOMPAS.com - Townhouse atau rumah di dalam kota, dikenal sejak berabad lalu di kota-kota di Eropa, lalu menyebar ke Amerika, Kanada, Australia. Salah satu townhouse terkenal adalah Downing Street 10, kediaman Perdana Menteri Inggris.

Di Indonesia, hunian townhouse umumnya dibangun di daerah Jakarta Selatan dan Depok di mana udaranya masih dingin dan banyak pepohonan hijau. Suasana seperti ini disukai banyak ekspatriat yang bekerja di Jakarta.

Pembangunan townhouse di Indonesia tidak semeriah apartemen. Namun seiring berjalannya waktu, townhouse kini mulai dilirik investor dan pengembang.

Adalah Joengky Sulistyo, pengusaha muda properti, yang bersama mitranya, Hardiman, membangun townhouse eksklusif di daerah Kedoya, Jakarta Barat yang hijau.

Joengky, arsitek lulusan Universitas Tarumanegara angkatan 1989 ini sebelumnya pernah bekerja di kantor pusat perusahaan properti Grup Ciputra di bidang planning design. "Di sanalah saya belajar dengan suhu properti Indonesia, Pak Ciputra selama empat tahun," cerita Joengky kepada Kompas.com.

Joengky sempat memegang proyek Ciputra World di Jalan Dr Satrio sebelum terkena krisis ekonomi 1998. "Tahun 1997, seharusnya rencana Jalan Dr Satrio menjadi kawasan pedestrian seperti Orchard Road diluncurkan. Sayang, Indonesia terkena krisis ekonomi sehingga semua proyek terhenti hingga bertahun-tahun lamanya," ungkapnya.

Tahun 1999-2000, Joengky terlibat dalam proyek Grup Pikko di Kepala Gading.

Setelah itu, Joengky berpikir membuka usaha properti sendiri. Dia bertemu dengan mitranya, Hardiman Tedja, dan mereka membangun 10 rumah khusus untuk disewakan kepada kalangan ekspatriat di kluster Veranda di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Proyek Veranda itu ternyata diminati ekspat sehingga membuat Joengky dan Hardiman makin percaya diri. Tahun 2006, Joengky dan Hardiman memberanikan diri membangun kawasan townhouse di Kedoya di lahan seluas 3 hektar. Mereka mencari arsitek Thomas Elliot, yang suka mendesain Hotel Gran Mahakam Jakarta.

Townhouse eksklusif yang kemudian diberi nama Residence28 Kedoya ini pun diminati banyak orang. Dari 82 unit yang dibangun, lebih setengahnya sudah terjual. "Waktu cari nama yang tepat, kami pernah terpikir pakai nama sansekerta, tapi akhirnya kami pilih nama yang simpel saja supaya mudah diingat," ujarnya.

Dan yang membuat Joengky, yang mengenyam pendidikan SD dan SMP Santa Maria Fatima, serta SMA Kanisius Jakarta ini puas adalah proyek Residence28 Kedoya ini mendapatkan penghargaan dari FIABCI Indonesia untuk kategori Townhouse.

Berikut ini wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Joengky Sulistyo, Direktur PT Sentra Karya Bersama, pengembang yang membangun townhouse Residence28 Kedoya, sekaligus pemiliknya.

Mengapa Anda tertarik membangun townhouse di Jakarta Barat?
Sebetulnya, pada awalnya, saya dan mitra Hardiman Tedja membangun proyek rumah sewa untuk ekspat di lahan seluas 5.000m2 pada tahun 2003. Jumlah rumah tak banyak, hanya 10 unit. Ternyata peminatnya banyak dan kami anggap sukses.

Kami mulai berpikir membangun townhouse di Jakarta Barat. Kami mengambil peluang ini karena belum ada townhouse di wilayah Jakarta Barat. Kami mencari lahan dan kami mendapatkan lahan kosong seluas 2,5 hektar, yang awalnya merupakan tanah garapan.

Kami mencari konsultan arsitek Thomas Elliot, dan mendiskusikan rencana membangun townhouse di Jakarta Barat. Biasanya kan pengembang membangun vertikal, membangun apartemen. Kami berpikir kami harus membangun sesuatu yang berbeda.

Proyek ini proyek anak muda semua. Saat memulai, kami masih di bawah 40 tahun.

Sampai bulan Agustus 2010 ini, bagaimana perkembangan proyek Residence28 Kedoya ini?
Belum 100 persen selesai. Semuanya ada 82 unit, terdiri dari tahap pertama 56 unit dan tahap kedua 26 unit. Satu townhouse dengan empat lantai, satu di basement, satu lagi di bawah atap. Semua orang melihat bahwa di sini bangunan tidak mendominasi, dan lebih banyak ruang hijaunya.

Kami memahami bahwa penhgertian hijau bukan sekadar pohon. Di tiap rumah, dibuat sumur resapan. Air dari talang akan masuk sumur dan masuk collective tank. Air daur ulang ini digunakan untuk menyiram tanaman dan pepohonan.

-- Joengky Sulistyo

Tahap I sudah terjual 70 persen, sedangkan tahap II belum dipasarkan. Harga satu unit Rp 3 miliar (lebar 6 meter/340 m2) sampai Rp 4 miliar. Jumlah kamar ada tiga, tidak termasuk kamar PRT. Sebetulnya ada satu kamar kerja yang bisa untuk jadi kamar tidur.

Konsep townhouse ini urban village, konsep kampung di tengah kota. Desainnya modern minimalis karya Thomas Elliot, yang juga mendesain bangunan Hotel Gran Mahakam.

Mengapa Anda memilih konsep urban village?
Kenapa? Karena kami mencari sesuatu yang berbeda. Zaman sekarang orang makin individual. Rumah dibuat dengan pagar. Tinggal di apartemen juga sendiri-sendiri. Bandingkan kalau dulu kita tinggal di kampung, terasa suasana yang lebih akrab karena ada ruang bersama. Dan rumah di kampung tak berpagar. Sementara rumah-rumah di kota, pagarnya tinggi-tinggi.

Menyadari masalah ini, kami berpikir kami harus membuat sesuatu yang berbeda yang bisa membuat penghuni berinteraksi.

Kami cari referensi, dan ternyata townhouse yang paling pas untuk proyek baru kami waktu itu.

Apa yang mendasari Anda membuat suasana townhouse ini tampak hijau?
Pemikiran kami sejak awal, Jakarta terlalu banyak hutan beton, banyak bangunan yang masif. Awal tahun 2005, saat kami mulai berpikir akan membangun proyek townhouse, tema green property di Indonesia belum terlalu menggaung seperti sekarang ini.

Kebetulan saya sering membaca majalah National Geography. Saya lalu berpikir mengapa Indonesia kurang peduli pada pepohonan.

Untuk proyek townhouse ini, kami menanam pohonnya dulu, baru bangunannya. Antara lain pohon ketapang kencana, pohon sapu tangan, pohon manggis, melinjo, waru, mahoni. Kebetulan mitra saya suka menanam pohon. Jadi lanskap dikerjakan sendiri oleh mitra saya, yang background-nya real estate dari Arizona, Amerika. Kalau bikin sesuatu, lingkungan hijau harus dinomorsatukan.

Sekarang pohon-pohomnya kan sudah besar. Kalau kita hanya pindahkan pohon yang sudah jadi, pasti banyak yang mati. Kecuali pohon kamboja dari Bali three colors. Ada beberapa pohon yang usianya 70 tahun, kami pindahkan. Kalau pohon kamboja bisa dipindahkan. Pohon-pohon kamboja ini tergusur oleh proyek jalan di Bali dan kami mendapatkannya dari tempat penampungan.

Kami mau lingkungan hijau sudah jadi dulu. Di sebuah rumah, taman merupakan elemen yang sangat penting.

Konsep green property tentu tak sekadar menanam pohon, Apa lagi yang membuat townhouse ini layak menyandang eco-property?
Kami memahami bahwa penhgertian hijau bukan sekadar pohon. Di tiap rumah, dibuat sumur resapan. Air dari talang akan masuk sumur dan masuk collective tank. Air daur ulang ini digunakan untuk menyiram tanaman dan pepohonan.

Demikian pula air kolam renang adalah air daur ulang. Intinya jangan buang air kotor ke luar karena air itu masih terpakai setelah proses daur ulang.

Keseriusan kami membangun dan menerapkan prinsip eco-property yang menyebabkan townhouse ini memenangkan FIABCI Indonesia Award 2010.

Siapa saja pembeli townhouse ini?
Sebagian besar pembelinya orang Indonesia, sebagian daerah daerah seperti Sumatera dan Sulawesi. Orang yang menyekolahkan anaknya di Jakarta, dan menjadikan townhouse ini tempat persinggahan, dan mereka tak perlu menginap di hotel.

Orang yang mulai mau menikmati hidup, orang yang menikmati rumah bukan mengurus rumah.

Misalnya rumah di sini ditinggal pemiliknya ke luar negeri dalam waktu sebulan misalnya, PRT tetap bisa melakukan kegiatan sehati-hari. Kamar PRT, dapur ada di basement, yang menyambung ke garasi. Namun mereka tak bisa mengakses kamar keluarga dan kamar tidur di lantai lebih atas.

Kami membuat rumah ini sangat efisien. Pencahayaan maksimum. Siang tak perlu nyalakan lampu. Dan cross ventilation dari depan ke belakang karena living room tak ada sekat-sekat. Jadi angin langsung mengalir masuk. Living room tanpa sekat.

Kami memasarkannya dengan teknologi internet. Kami jarang beriklan di suratkabar. Hanya satu kali saja memasang iklan di Kompas setengah halaman saat awal proyek dibangun tahun 2008.

Kami memanfaatkan jejaring sosial facebook. Kami meng-upload foto-foto townhouse ini. Selain itu kami sering menggelar acara dengan undangan e-invitation. Lama-lama orang tahu dengan townhouse ini.

Kami sudah mengupayakan sewa untuk orang asing. Ada orang Jepang berminat.

Di kawasan townhouse ini, ada rencana membangun fasilitas belanja?

Kami tidak menyediakan tempat belanja di sini karena jumlah keluarga tidak terlalu banyak. Tapi kelak kami sediakan shuttle bus ke Carrefour di Puri Indah dan ITC Permata Hijau, atau Superindo di dekat sini, atau di supermarket lainnya di St Moritz.

Setelah proyek rumah sewa di Cipete dan proyek townhouse di Kedoya, apa proyek baru Anda?
Setelah ini, kami menggarap proyek baru di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, yang masih didesain di lahan seluas 3 hektar. Lokasinya di pinggir jalan. Kami berencana membangun Office Park dan tempat komersial, dan alternatif lainnya. Lahan itu sebelumnya milik orang tua Hardiman, mitra saya dalam dua proyek properti sebelumnya. (Robert Adhi Ksp)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

BI: Indeks Harga Properti Residensial Naik

Posted: 21 Aug 2010 01:11 AM PDT

SEMARANG, KOMPAS.com — Hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) Semarang pada triwulan II tahun 2010 menunjukkan ada peningkatan indeks harga properti residensial (IHPR).

Jika dilihat dari segi permintaan, semua tipe rumah mengalami peningkatan, dengan permintaan terbesar terjadi pada rumah tipe menengah.

-- Ratna E Amiaty

"Secara triwulanan (quarter to quarter), IHPR meningkat 0,30 persen lebih tinggi dari triwulan I tahun 2010 yang tercatat sebesar 0,23 persen," kata Pemimpin BI Semarang, Ratna E Amiaty, di Semarang, Jumat (20/8/2010).

Ratna mengatakan, jika dilihat secara tahunan (year on year), IHPR mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen atau melambat dibandingkan dengan peningkatan IHPR pada triwulan II tahun 2009 yang sebesar 1,10 persen.

Kenaikan harga yang terjadi pada triwulan II tahun 2010 terutama didorong oleh  kenaikan harga pada rumah tipe kecil (0,38 persen), diikuti oleh kenaikan harga pada rumah tipe menengah (0,34 persen) dan tipe rumah besar (0,19 persen). Kenaikan harga tanah, harga bahan bangunan atau material, dan tenaga kerja menjadi faktor pendorong terjadinya peningkatan harga ini.

Ratna menjelaskan, jika dilihat dari segi permintaan, semua tipe rumah mengalami peningkatan, dengan permintaan terbesar terjadi pada rumah tipe menengah. Perbaikan infrastruktur yang dilakukan para pengembang, seperti jalan, taman dan penyediaan fasilitas lainnya, serta model yang mengikuti selera konsumen merupakan daya tarik tersendiri untuk memiliki tipe rumah menengah.

Sejalan dengan peningkatan permintaan rumah, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bank umum pada triwulan II tahun 2010 juga masih mengalami peningkatan meskipun melambat (0,24 persen) dibandingkan kenaikan pada triwulan I tahun 2010 (0,39 persen). Pada triwulan III tahun 2010, IHPR diperkirakan masih akan mengalami peningkatan, namun sedikit melambat dibandingkan IHPR pada triwulan II tahun 2010.

Melambatnya kenaikan IHPR lebih disebabkan karena keterbatasan lahan yang mengakibatkan kenaikan harga jual rumah dan persiapan menyambut Lebaran 2010, sehingga konsumen lebih memprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan pokok.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar