Jumat, 27 Agustus 2010

Rumah Idaman “Judge The Book by It's Cover” plus 3 more

Rumah Idaman “Judge The Book by It's Cover” plus 3 more


Judge The Book by It's Cover

Posted: 28 Aug 2010 02:50 AM PDT

oleh Erwin H Hawawinata

Mungkin kita sering sekali mendengar istilah  Don't judge the book by it's cover, tapi bila kita ke toko buku atau majalah,yang membuat kita tertarik dan melihat isi buku adalah sampulnya. Ketertarikan terhadap sesuatu yang indah atau sesuatu yang sesuai dengan selera kita sudah menjadi hal yang sangat mendasar.

Menjadi suatu pengalaman pribadi yang menarik bila kita mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan pribadi kita. Contohnya, kita biasanya menggunakan asesoris yang berhubungan dengan pribadi, entah kalung dengan simbol nama kita, gaya berdandan sesuai profesi atau karakter kita, bahkan beberapa orang bertato dengan gambar yang mengingatkan pada suatu kejadian atau sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka.

Sebagaimana layaknya seorang bocah yang senang akan cerita sebelum tidur  bedtime story, hingga kinipun, kita senang sekali apabila mendengar cerita, baik itu yang berupa mitos, legenda ataupun gosip. Ini yang saya maksud dengan "kemasan /cover". Perlu diingat, biasanya kita berhenti pada suatu toko,karena kita melihat "shop front" dari toko tersebut yang menarik atau membuat kita tertarik untuk masuk dan mengetahui lebih dalam.

Sama halnya dalam dunia arsitektur/desain, membuat suatu judul atau tema untuk sesuatu yang menjadi ide desain akan membuat desain tersebut akan semakin berbobot dan selalu diingat orang.

Faktor "love at first sight" sangat penting dalam hal ini, sehingga pernyataan "judge the book by it's cover" merupakan hal yang paling cocok dalam dunia arsitektur.

-- Erwin Hawawinata

Contohnya, mungkin kita cukup familiar dengan karya Frank Lloyd Wright dengan "Falling Water" nya yang mendunia, Tom Wills Wright (WS Atkins) dengan bentuk layar perahu pada Burj Al Arab, I.M Pei dengan The Piramide di Louvre, Paris, dan masih banyak lagi karya arsitek yang akhirnya menjadi ikon dunia.

Bahkan dengan konsep yang "sangat sederhana", Tom Wright menjelaskan bahwa sesuatu yang simpel dan mudah dikenali, pada akhirnya akan menjadi suatu karya yang abadi.

" If you can draw a building with a few sweeps of the pen and everyone recognises not only the structure but also associates it with a place on earth, you have gone a long way towards creating something iconic" (Tom Wright ,2000)

Suatu pemikiran sederhana, tapi dikemas dengan apik dan matang, akan lebih berbobot dibandingkan dengan suatu kerumitan dan konsep yang berbelit-belit. Alam sudah banyak sekali menyediakan ide-ide yang tinggal kita olah.

Beberapa hasil karya besar, berasal dari ide yang ada di alam. Contoh sederhana Sydney Opera House, yang diilhami oleh ombak di lautan. Akan menjadi menarik memperhatikan Sydney Opera House sambil membayangkan bentuk ombak yang menjadi dasar bentuk bangunan tersebut,dibandingkan apabila kita tidak mengetahui sama sekali darimana bentuk itu berasal.

Patung "Pieta" karya Michel Angello di Saint Pieter's Basillica, Vatikan, Roma, akan menjadi patung Maria biasa apabila kita tidak mengetahui "kejadian-kejadian" sepanjang riwayat patung tersebut.

Masih banyak lagi dan menarik sekali untuk mengamati dan mempelajari karya-karya besar dan mendunia bila ditelusuri dari "behind the story"

Kembali ke dunia arsitektur dan interior desain. Arsitektur dan interior ibaratnya bagai telur dengan cangkangnya. Bila melihat telur, kita langsung terbayang lingkaran kuning yang dikelilingi lapisan putih.

Begitupun dengan arsitektur dan interior, yang diharapkan memiliki kesinambungan desain dan bentuk, yang kemudian akan menciptakan "feel dan mood" sejak mata memandang bangunan tersebut.

Kesinambungan bentuk, gaya dan warna menjadi dasar dari proses mendesain, sehingga tercipta "feel dan mood" tadi. Feel menciptakan mood, dan mood terbentuk oleh feel.

Arsitektur adalah proses "creating", di mana membutuhkan konsentrasi terhadap harmoni yang melibatkan panca indera.

Faktor "love at first sight" sangat penting dalam hal ini, sehingga pernyataan "judge the book by it's cover" merupakan hal yang paling cocok dalam dunia arsitektur.

Selamat berkarya !

Erwin H. Hawawinata
Chief Design Officer
Hawawinata n Associates

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Pajak Tinggi dan Izin Berbelit Hambat Bisnis Properti

Posted: 27 Aug 2010 10:01 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai masih menghambat bisnis properti. Demikian salah satu poin pendapat responden hasil survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI).

Selain bunga KPR, tiga hal lainnya yang menghambat adalah kenaikan harga bangunan, tingginya pajak, dan sulitnya perizinan alias birokrasi yang berbelit. SHPR merupakan survei BI triwulanan yang mencakup 45 pengembang utama di wilayah Jabodetabek-Banten dan sekitar 215 pengembang properti di 13 kantor BI (KBI).

Survei juga mengatakan, dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial. Dari sisi konsumen, KPR dengan tingkat bunga rata-rata antara 10 persen -12 persen menjadi pilihan utama dalam transaksi pembelian.

Menurut para responden, berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil. Pada triwulan III 2010, responden berpendapat, kenaikan harga properti masih akan berlanjut dengan kenaikan yang melambat dibandingkan dengan kuartal II tahun ini. Penyebab utama kenaikan tersebut adalah kenaikan harga bangunan dan upah pekerja. (Andri Indradie/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Kecenderungan Inflasi Naik, Bank Coba Tahan Bunga KPR

Posted: 27 Aug 2010 09:48 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), menurut hasil survei harga properti residensial Bank Indonesia (BI), masih tinggi. Survei juga menunjukkan, suku bunga KPR ideal bagi konsumen ada di kisaran 10 persen-12 persen.

Namun, pelaku perbankan menilai, dengan tren inflasi yang menanjak, tren suku bunga bakal mengikuti. "Ke depan, saya melihat suku bunga tidak ada kecenderungan menurun," kata Joice F Rosandi, Kepala Divisi Kredit Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

Toh, menurut Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Irman A Zahiruddin, bank berusaha memberi bunga terbaik dengan mengutip net interest margin (NIM) yang masuk akal. "Ini yang paling efisien," katanya.

Cuma, dia mengingatkan, setiap bank memiliki beban biaya berbeda yang akan menentukan besaran bunga kredit. "Inflasi saja sudah sekitar 5 persen. Belum biaya lain seperti asuransi dan operasional. Jadi, bank-bank di Indonesia seperti tidak bisa mengelak dari cap bunga kredit tinggi," imbuhnya.

General Manager Divisi Kredit Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Diah Sulianto mengatakan, dengan memperhitungkan tingkat inflasi sekarang, suku bunga KPR kemungkinan naik sekitar 0,25 persen - 0,5 persen akibat kenaikan biaya dana. Tetapi, bank memilih mempertahankan bunga KPR mereka saat ini, dan menutup kenaikan bunga mengurangi keuntungannya.

Bahkan, ada bank yang bisa memberi bunga lebih kecil. Caranya, bekerja sama dengan pengembang yang memberi subsidi bunga. "Kalau bekerja sama dengan pengembang, bank bisa menurunkan bunga," cetus Diah.

Apalagi, tambah Irman, pengembang bisa memberi subsidi bunga sampai 2 persen. Nah, untuk bunga efektif di pasar, dia bilang, sudah ada yang menerapkan 9,5 persen dengan batas atas 11,5 persen -12 persen. Angka ini diperoleh dengan asumsi rata-rata bunga simpanan 7 persen. (Andri Indradie/Roy Franedya/KONTAN)

Pelaku perbankan menilai, dengan tren inflasi yang menanjak, tren suku bunga bakal mengikuti. Ke depan, saya melihat suku bunga tidak ada kecenderungan menurun.

-- Joice F Rosandi

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Penyaluran KPR dan KTA Komersial Tetap Tumbuh

Posted: 27 Aug 2010 09:39 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com -  Prospek penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KTA) komersial akan tetap tumbuh tahun ini. Buktinya, pada kuartal II - 2010 penyaluran KPR dan KTA tumbuh 20,22 persen dibanding kuartal I - 2010.

"Peningkatan KPR dan KTA yang signifikan ini didorong oleh kecenderungan turunnya suku bunga sehingga meningkatkan animo masyarakat untuk mengajukan pinjaman perumahan," tulis Bank Indonesia dalam Survei Properti Komersial Triwulan II 2010.

Angka pertumbuhan KPR dan KTA ini terbilang paling tinggi di antara kredit properti lainnya. BI menyebutkan, kredit properti lainnya, yaitu kredit konstruksi, naik 12,99 persen dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan, kredit real estate justru turun 0,05 persen dari kuartal I - 2010.

Secara keseluruhan, penyaluran kredit properti pada kuartal II - 2010 mencapai Rp 230,8 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 14,98 persen dibanding kuartal I - 2010. Jika dihitung terhadap total penyaluran kredit perbankan yang mencapai Rp 1.589,7 triliun pada kuartal II - 2010, pangsa pasar kredit properti mencapai 14,52 persen.

Andalan perbankan
Menurut General Manager Divisi Kredit Konsumer Bank BNI Diah Sulianto, KPR dan KTA untuk sektor komersial menjadi salah satu andalan bank untuk menyalurkan kredit. "Sebab, pasarnya sangat jelas dan tingkat risikonya bisa diukur karena biasanya berasal dari orang yang mapan," ujarnya.

Selain itu, lanjut Diah, nasabah di segmen KPR dan KPA komersial tidak sensitif terhadap suku bunga kredit. Pasalnya, mereka melakukan membeli properti komersial sebagai investasi. Apalagi, mereka kerap menyewakan kembali properti tersebut.

"Walaupun bunga kredit tinggi, hal ini bisa digantikan pendapatan dari penyewaan properti atau keuntungan waktu mereka menjual kembali," tuturnya.

Peningkatan KPR dan KTA yang signifikan ini didorong oleh kecenderungan turunnya suku bunga sehingga meningkatkan animo masyarakat untuk mengajukan pinjaman perumahan

Per Juni 2010, total penyaluran KPR BNI sudah mencapai Rp 11,2 triliun atau tumbuh 22 persen dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 9,18 triliun. BNI menargetkan, tahun ini penyaluran KPR-nya tumbuh di atas 20 persen. KTA menyumbang 5 persen dari total KPR BNI. "KTA kami kecil karena hanya ditawarkan di kota-kota besar saja," tambahnya.

Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (BTN) Irman A. Zahiruddin mengatakan, penyaluran KPR dan KTA untuk properti komersial relatif lancar. KPR komersial adalah pembiayaan untuk rumah di atas Rp 55 juta, sedangkan KTA di atas Rp 144 juta. "Yang sering bermasalah justru KPR dan KTA untuk properti nonkomersial," ujar Irman. Pasalnya, kelompok debitur KPR dan KTA nonkomersial ini sering tidak mampu membayar cicilan. (Roy Franedya/Andri Indradie/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar