Rabu, 26 Mei 2010

Rumah Idaman “Wapres: Pembangunan Perumahan Belum Rasional” plus 3 more

Rumah Idaman “Wapres: Pembangunan Perumahan Belum Rasional” plus 3 more


Wapres: Pembangunan Perumahan Belum Rasional

Posted: 27 May 2010 03:22 AM PDT

Kamis, 27/5/2010 | 10:22 WIB

NUSADUA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Boediono mengemukakan, pembangunan perumahan dan pemukiman di Indonesia masih belum rasional dan efisien. "Masih banyak pembangunan perumahan dan pemukiman yang asal bertumbuh, tanpa memperhatikan desain dan tata ruang," katanya, dalam sambutannya saat membuka Kongres ke-61 Dunia Asosiasi Real Estate Internasional di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/5/2010).

Wapres mengemukakan, keberhasilan program pembangunan pemukiman dan perumahan dapat dinilai dari pembangunan yang rasional dan realistis, adanya industri perumahan yang efisien, aturan hukum yang solid yang mengatur kepemilikan baik atas hak milik atau hak pakai, dan keempat program pembiayaan yang efisien.

"Di sebagian besar negara berkembang, termasuk Indonesia keempat aspek itu belum disusun dan dilaksanakan dengan baik. Kita masih harus menyusun keempat aspek itu dalam kerangkn kebijakan yang tepat," ujarnya.

Boediono menambahkan, pemerintah juga masih dihadapkan pada persoalan pemenuhan kebutuhan perumahan dan pemukiman bagi kelompok masyarakat kurang mampu, terutama di wilayah perkotaan sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan di perkotaan. "Hal itu memerlukan rumusan kebijakan khusus agar kebutuhan pemukiman dan perumahan bagi kelompok masyarakat rendah bisa diatasi," kata Wapres.

Ia mengatakan, tingkat permintaan yang tinggi terhadap sektor perumahan dan konstruksi memberikan indikator positif bagi perekonomian nasional.Namun, jangan sampai pertumbuhan yang tinggi itu tidak dikelola dengan baik terutama dikaitkan dengan kondisi ekonomi mikro, yang justru akan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi secara umum.

"Jadi perlu ada sinergi, keseimbangan antara permintaan, kebijakan pemerintah, pengelolaan ekonomi mikro dan industri pendukung sektor perumahan agar pembangunan perumahan dan pemukiman itu benar-benar berkesinambungan dan bermanfaat bagi pemerintah, pelaku perumahan dan konstruksi dan indsutri pendukung sektor perumahan dan masyarakat," katanya.

Usai membuka kongres Wapres Boediono memberikan bibit pohon trembesi kepada tiga perwakilan DPD REI yakni Jawa, Sumatera dan Indonesia Timur, di salah satu area wisata Nusa Dua Bali.

Kongres ke-61 FIABCI diikuti 987 peserta dan 41 negara anggota FIABCI terdiri atas pengembang dan para profesional yang terkait dengan usaha properti. Hadir dalam kegiatan itu Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Perumahan Rakyat Suharso Manoarfa.

Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Pembangunan Perumahan Cenderung Tanpa Perencanaan Kota yang Baik

Posted: 27 May 2010 02:56 AM PDT

Kamis, 27/5/2010 | 09:56 WIB

NUSA DUA, BALI, KOMPAS.com - Permintaan rumah di negara berkembang seperti Indonesia, cenderung meningkat namun tidak disertai dengan kerangka yang konheren dan perencanaan pembangunan kota yang kuat.

"Ini merupakan kombinasi yang tidak sustainable. Dan ini pekerjaan rumah kita semua," kata Wakil Presiden Boediono saat membuka Kongres ke-61 FIABCI di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, Kamis (27/5/10).

Hadir antara lain Menpera Suharso Monoarfa, Mendag Mari Pangestu, Menperin Moh S Hidayat, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri Agraria/Kepala BPN Joyo Winoto, Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Sejumlah tokoh properti Indonesia yang hadir adalah Ciputra, James Riady, Hendro Gondokusumo, Murdaya Poo, Budiarsa Sastrawinata, Hiramsyah S Thaib dan banyak lagi. Juga hadir mantan Menpera Cosmas Batubara dan Yusuf Asy'ari, serta Ketua Panitia Kongres FIABCI Pingki Elka Pangestu.

Sebelum Wapres membuka kongres ini, Ketua Umum REI Teguh Satria yang juga Presiden FIABCI Indonesia, Presiden FIABCI dunia Lisa Kurass, dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyampaikan sambutan. Persiapan penyelenggaran Kongres FIABCI ini dilakukan dalam waktu enam bulan.

Wapres Boediono mengingatkan pula permintaan perumahan harus dipenuhi. "Tapi krisis ekonomi global yang terjadi belum lama ini, salah satunya akibat permintaan yang banyak. Namun permintaan itu bukan karena kebutuhan riil, tapi karena investasi dan spekulasi," kata Wapres.

Boediono menambahkan, hampir semua negara berkembang masih harus menyusun dan menyiapkan kerangka yang pas agar kebijakan perumahan bisa berhasil. "Kita belum sampai pada posisi bisa dilaksanakan. Masih ada ruang untu bekerja keras," tandasnya.

Wapres mengingatkan perkembangan pembangunan perumahan dan permukiman pada umumnya tidak lelalui desain yang jelas. "Banyak yang dibangun tapi tidak dengan desain yang ideal, yang menyangkut sutainable," katanya.

Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Pameran "Creative Indonesia for the World" di Grand Hyatt Bali

Posted: 26 May 2010 03:40 PM PDT

Rabu, 26/5/2010 | 22:40 WIB

NUSA DUA, BALI, KOMPAS.com - Pameran "Creative Indonesia for the World" di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, dibuka Ibu Wapres, Ny Herawati Boediono, Rabu (26/5/10).

Pameran ini digelar di teras luar resort Grand Hyatt ini, memperlihatkan perjalanan industri kreatif Bali mulai dari tradisional sampai modern.

Ibu Wapres Ny Herawati Boediono menggunting pita, tanda pameran kreatif ini dimulai. Ny Herawati didampingi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian Moh S Hidayat, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Ketua Panitia Kongres FIABCI Pingki Pangestu, dan Ketua Umum REI Teguh Satria.

Pameran ini ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya Bali, telah menjadi salah satu pusat industri kreatif, arsitektur, dan interior kelas dunia.

Banyak bangunan di mancanegara, terutama resort kelas dunia yang mengambil inspirasi, desain, aneka produk, bahkan para pekerja Bali.

Di area courtyard, penyelenggara pameran melibatkan Desa Budaya Kertalangu yang menampilkan industri kreatif yang tradisional.

Selain itu dipamerkan juga kain songket Bali, yang ditenun secara tradisional menggunakan bahan-bahan alami dari tetumbuhan, termasuk pewarnaannya.

Pameran ini menghadirkan juga seni pembuatan patung dan daun lontar langka. Juga menampilkan pemanfaatan bambu dalam pembuatan bangunan dan peralatan interior.

Pameran ini menampilkan juga Popo Danes, arsitek muda terkemuka di Bali, yang selalu memperhatikan Tri Hata Karana dalam desain-desainnya, yaitu keseimbangan antara alam, Tuhan, dan manusia. Popo sudah menyelesaikan lebih dari 70 karya arsitektur sejak tahun 1986, di dalam dan luar negeri, mulai dari rumah tinggal, hotel butik, restoran, vila, dan resort.

Pameran ini juga menampilkan Chenerggy milik Hendarto Chen, yang membuat karya seni modern sangat unik. Juga Threads of Life, Pusat Seni Tekstil Indonesia, serta Atlas South Sea Pearl.

Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Selamatkan Bumi, Gagasan Lama yang Selalu Dibarukan

Posted: 26 May 2010 03:03 PM PDT

Rabu, 26/5/2010 | 22:03 WIB

oleh Abun Sanda

Dalam kongres FIABCI tahun 1991 di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, isyu tentang mendesaknya perlindungan bumi, perlunya pengembang berpaling dari aspek untung semata ke keberpihakan pada lingkungan hidup sudah didengungkan. Ketika itu para pngembang bersuara keras untuk membela kelestarian bumi, dan oleh karena itu akan mengembangkan perumahan dan apartemen yang ramah lingkungan.

Wujud dari konsep ramah lingkungan itu adalah mengerjakan proyek properti yang benar-benar hijau. Artinya, perumahan yang dibangun benar-benar didukung oleh hutan kota, kebun mungil, drainase yang bagus, pengolahan air limbah menjadi air bersih dan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang berguna. Dengan cepat isyu ini berhembus ke seantero dunia. Para pengembang sejagat langsung mengaplikasikan gagasan besar ini di lapangan.

Sejumlah pengembang negara maju bahkan mempraktikkan keberpihakan kepada lingkungan itu dengan cara yang angat radikal. Mereka tidak saja menanam banyak pohon, menampung limbah padat dan cair lalu mengolahnya menjadi zat yang berguna, bukan hanya membuat danau untuk reservasi air, bukan sekadar menyediakan 35 persen areal properti untuk ruang terbuka hijau, tetapi sudah melangkah jauh dari itu. Para pengembang sudah berkreasi dan berinovasi amat jauh untuk menghasilkan produk properti yang benar-benar ramah lingkungan.

Wujud riil dari "kreasi dan inovasi" tersebut adalah membangun dari materi yang diproses sangat ramah lingkungan. Batu bata, seng, kayu, papan, genteng, kaca, ubin, kusen, batu alam dan sebagainya diproses sedemikian rupa dari jalan-jalan yang dilegalkan oleh "rule" lingkungan. Rumah itu, misalnya diterangi oleh listrik yang berasal dari energi matahari. Bohlam yng digunakan adalah bohlam yang sangat hemat energi. Satu bohlam dengan kekuatan 70 watt, hanya menggunakan 2 watt energi listrik. Mengapa? Oleh karena bohlam yang terdiri atas sekitar puluhan butir bahan penerangan itu, hanya terdiri atas 0,01 watt per butir

Atau bahan untuk pancuran air (mandi) menggunakan bahan yang hemat energi. Air yang muncrat seolah banyak tetapi sebetulnya tidak, sebab air yang dikucurkan diukur sedemikian rupa, intinya jangan buang percuma air bersih. Atau, kayu misalnya, diperoleh dari limbah kayu yang diolah dengan teknologi tinggi sehingga menjadi kayu yang kokoh, tahan rayap dan anehnya tetap elok dipandang. Meja dan ranjang dibuat dari serpihan kayu yang diolah melalui proses ramah lingkungan, hemat energi. Lalu kertas dinding, diambil dari kertas hasil olahan.

Di sejumlah negara mau, sebutlah misalnya Amerika Serikat, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Skandinavia sudah tiba pada tahap menanam pohon di atas gedung dan atap rumah. Di seumlah kota,jalan tol yang ada dijadikan hutan kota. Lalu jalan tolnya dipindahkan ke bawah tanah. Ini kemajuan yang sangat berarti.

Di RR China,komitmen kepada lingkungan ditunjukkan dengan menggunakan air bekas limbah. Misalnya air bekas mandi, cuci pakaian atau bahkan air yang sudah digunakan untuk (maaf) cebok, bisa diolah sedemikian rupa,melalui banyak saringan, sehingga muncul air yang layak digunakan untuk "nyentor" toilet, menyiram tanaman, mencuci mobil, dan bahkan untuk mencuci pakaian. Air seperti ini belum dibolehkan untuk minuman manusia.

Atas hal tersebut masih muncul pertanyaan kritis atasnya, yakni apa arti hemat energi tersebut, apa makna hemat air ini kalau ternyata pengolahan itu menggunakan bensin atau solar? Para penganjur ramah lingkungan ini tertawa lebar dan menjawab bahwa untuk mengolah air ini mereka menggunakan listrik yang diperoleh dari energi matahari. Mereka menegaskan tidak menggunakan bensin atau solar sama sekali.

Semua bahan atau upaya hemat energi tersebut memang membuat bahan yang digunakan menjadi sedikit lebih mahal, lebih kurang 10 persen dari total anggaran yang biasa digunakan kalau tidak ramah lingkungan. Akan tetapi kemahalan bahan itu, dan lebih banyaknya upaya yang diluncurkan, mestinya sirna karena ditutup oleh makna penyelamatan lingkungan yang bermakna agung. Inilah salah satu makna besar mengapa ramah lingkungan itu perlu komitmen kuat, tidak sekadar jargon-jargon. Tidak bisa diselesaikan hanya melalui kongres, seminar, lokakarya, komite-komitean dan semacamnya.

Akan tetapi sayang, menurut data tidak resmi yang diperoleh penulis, tidak sampai delapan persen pengembang dunia yang sangat konsisten menyusuri jalan-jalan ramah lingkungan. Selebihnya memandang aspek ramah lingkungan dengan raut tidak peduli. Atau, kalaupun hendak peduli, menyikapinya secara serampangan.

Misalnya, asal tanam banyak pohon. Mereka berpikir dengan menanam banyak pohon, dan ketika perumahannya teduh oleh rimbunnya pepohonan, urusan selesai. Padahal makna ramah lingkunan, arti yang dalam dari upaya menyelamatkan bumi amat berwarna dan penuh nuansa.

Seperti diutarakan di awal tulisan ini, ramah lingkungan, dan usaha menyelamatkan bumi tidak sekadar tanam banyak pohon. Itu hanya satu aspek dari puluhan aspek pokok yang mesti dipenuhi.

Kalau tidak memiliki anggaran besar menyediakan listrik tenaga matahari, apabila bujet tidak cukup untuk mengolah limbah, pengembang bisa melakukannya dengan jalan-jalan sangat sederhana, misalnya menampung air hujan, di bak-bak raksasa. Jangan biarkan air hujan mengalir langsung ke selokan, lalu ke laut. Mestinya ada upaya lebih untuk menampung 90 persen air hujan itu di bak-bak khusus. Air hujan tersebut kemudian bisa digunakan untuk sarana mandi-cuci-kakus (MCK) yang tentu sangat efektif.

Jalan lain, membangun sumur resapan agar ketersediaan air tanah selalu memadai. Memang usaha ini sedikit menguras tenaga dan sedikit rupiah, tetapi jalan ini sangat legal, amat memberi manfaat untuk kelestarian alam, dan manusia.

Tahun ini, kongres FIABCI di Bali kembali mengobarkan tema besar menyelamatkan bumi dengan jalan membangun proyek-proyek properti yang hijau dan ramah lingkungan. Ini tentu bukan tema baru, tetapi akan selalu "dibarukan" sebab tetap hot dan seksi sebagai isyu-isyu besar. Besar harapan kita kongres itu menghasilkan jalan-jalan konkret untuk menyelamatkan bumi

Manusia sejagat sudah sangat tercengang menyaksikan akibat-akibat dahsyat dari pemanasan global. Es di kutub dan di gunung mencair sangat cepat. Iklim di lima benua mulai berubah, suhu pun makin panas.

Warga dunia tentu mau diajak pengembang untuk sadar lingkungan.Untuk itulah pengembang mesti memberi contoh konkret atas upaya penyelamatan bumi. Proyek yang dilepas ke publik mestinya mencerminkan keberpihakan kepada penyelamatan lingkungan.

*) Abun Sanda, pemerhati properti

Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial - The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar