Selasa, 16 Agustus 2011

Rumah Idaman “Kredit Kondusif, Pembiayaan Perumahan Jauh dari "Bubble"” plus 2 more

Rumah Idaman “Kredit Kondusif, Pembiayaan Perumahan Jauh dari "Bubble"” plus 2 more


Kredit Kondusif, Pembiayaan Perumahan Jauh dari "Bubble"

Posted: 16 Aug 2011 06:44 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Direksi PT Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis pembiayaan perumahan di dalam negeri jauh dari isu bubble. Optimisme ini didukung oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang kondusif untuk pertumbuhan kredit.

"Pembiayaan perumahan dalam negeri jauh dari isu bubble. Ini karena pasar properti dalam negeri masih terbuka luas dengan jumlah penduduk yang mencapai 240 juta lebih. Kita tidak terpengaruh krisis global yang terjadi di Amerika," kata Direktur Utama Bank BTN, Iqbal Latanro, kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/8/2011) malam.

Dengan mantapnya bisnis pembiayaan perumahan, Iqbal menambahkan, BTN akan tetap fokus dengan mempertahankan posisinya pada pasar pembiayaan perumahan.

"Kami masih termasuk sepuluh bank papan atas yang bergerak di pembiayaan perumahan. Sampai Juni 2011 kami menguasai 26 persen pangsa pasar perumahan di Indonesia, sementara untuk pangsa pasar KPR bersubsidi menguasai 96 persen," katanya.

Namun, lanjut Iqbal, optimisme pihaknya saat ini menghadapi kendala, yakni realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Ia berharap ada solusi cepat untuk memecahkan masalah realisasi FLPP saat pelaksanaan.

"Supaya masyarakat memiliki kesempatan mendapatkan rumah layak lewat FLPP," ujar Iqbal.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Infrastruktur Lemah, Bukti Pemerintah Belum Serius

Posted: 16 Aug 2011 06:01 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dinilai belum terlalu serius memanfaatkan potensi di sektor properti sehingga bidang tersebut belum mendapatkan dukungan infrastruktur yang baik. Krisis di Eropa dan Amerika pada 2011 ini seharusnya dijadikan momentum yang tepat untuk menggenjot pertumbuhan bisnis ini.

Di China itu kalangan menengah terus naik. Pemerintah seharusnya memberlakukan itu pada pengusaha kita, mempermudah kebutuhan pengusaha dan memperbaiki infratsruktur.

-- Hendro S Gondokusumo

Presiden Direktur PT Intiland Development Tbk Hendro S Gondokusumo di Jakarta, Senin (15/8/2011). Di sisi lain, kata Hendro, banyaknya jumlah penduduk Indonesia pun seharusnya bisa dijadikan peluang bagi pemerintah untuk selalu bisa bertahan dari terpaan krisis. Potensi dari tingginya populasi tersebut memposisikan kondisi Indonesia saat ini seperti China pada 15 tahun yang lalu.

"Pertumbuhan ekonomi kita hampir sama dengan Cina 15 tahun lalu sebelum menjadi negara maju lewat infrastrukturnya. Nah, kita bisa lihat sendiri, bagaimana dengan infrastruktur kita," kata Hendro.

Menurutnya, tanpa dukungan pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur, sektor properti tidak akan berkembang semakin maju. Dukungan ini bahkan sudah seharusnya dilakukan sejak lima tahun lalu.

"Duit di dunia itu banyak sekali. Eropa sedang bermasalah, pasti juga merambat ke Asia. Tapi, kalau lihat dari sisi properti, seperti di China dan India, ternyata potensinya bagus dan saya kira yang paling baik malah Indonesia," ujar Hendro.

Ia mengatakan, tak ada satu negara pun kondisinya saat ini lebih baik dari Indonesia. Hal itu, pertama karena populasi. Dengan potensi ini, pemerintah bersama-sama swasta seharusnya bisa mencari peluang.

"Jelas kelihatan sekali potensinya. Kami misalnya, punya industri real estate di Surabaya dengan kebutuhan 5000-10.000 hektare. Itu dulu, tapi sekarang kebutuhannya atau permintaannya rata-rata 50.000 hektare," kata Hendro.

Ia mengatakan, dampak krisis jika diinvestasikan untuk pembangunan, tidak akan berimbas pada Indonesia. Hendro membandingkan, bahwa kondisi Vietnam dan Thailand lebih payah dari Indonesia untuk kemampuannya menangkal krisis.

"Malaysia tidak punya sumber daya manusia, sementara Singapura tak punya uang. Kita? Kita kan punya sumber daya manusia dan sumber daya alam yang banyak. Yang penting, kondisi ekonomi kita mau di bawa kemana? Itu yang terpenting," ujarnya.

"Di China itu kalangan menengah (pengusaha) terus naik. Maka, pemerintah seharusnya memberlakukan itu pada pengusaha kita, mempermudah kebutuhan pengusaha dan memperbaiki infratsruktur yang payah," tambahnya. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Waspadai Ruangan "Berbahaya" di Rumah!

Posted: 15 Aug 2011 11:06 AM PDT

KOMPAS.com - Anda patut mewaspadai ruang-ruang yang "berbahaya" bagi buah hati Anda di rumah. Bila sekali waktu lengah, bisa jadi kejadian seperti keracunan, tersengat aliran listrik, tenggelam, terjatuh, atau sebagainya menimpa putra-putri Anda. Nah, ruangan mana saja yang patut Anda waspadai?

Dapur

Dapur menjadi tempat menyiapkan makanan sebagai sumber gizi seluruh anggota keluarga. Namun, penggunaan api dan gas untuk memasak bisa berbahaya untuk anak-anak dan orang dewasa. Maka, jangan pernah tinggalkan dapur ketika sedang memasak atau menyalakan kompor. Kecelakaan paling sering terjadi seperti anak tersiram air panas, kena tumpahan minyak panas, atau bermain korek api yang bisa mengakibatkan kebakaran.

Kamar mandi

Jangan pernah meninggalkan anak terutama balita sendirian di dekat sejumlah air. Rasa ingin tahu anak bisa menimbulkan bahaya, misalnya memasukkan kepala ke dalam ember lalu tak bisa menarik kembali dan tenggelam.

Hindari meninggalkan kamar mandi hanya demi urusan sepele, seperti mengangkat telepon, mengambil handuk dan lainnya. Khusus untuk aktivitas memandikan bayi, siapkan perlengkapan di dekat bak mandinya sehingga mudah dijangkau.

Jangan pernah malas menyikat dan membersihkan kamar mandi. Terpleset di kamar mandi karena lantai yang licin bisa mengakibatkan anak atau anggota keluarga lainnya celaka.

Anak tangga

Bila rumah Anda memiliki anak tangga untuk menuju ruang di atasnya, pastikan anak tangga aman. Jatuh dari anak tangga bisa mengakibatkan kecelakaan serius. Karenanya, jangan buat tangga dengan daya jangkau terlalu tinggi.

Buatlah tangga bersih dengan tidak meletakkan barang apapun pada anak tangga. Bila menaiki anak tangga, usahakan tidak memakai sepatu atau sandal berhak tinggi, dan kedua kaki dalam keadaan stabil.

Kolam renang

Kini, semakin banyak hunian yang dilengkapi kolam renang. Kelihatannya menyenangkan, namun sekaligus juga bisa membahayakan buah hati. Seperti halnya peraturan waspada di kamar mandi, hal ini juga berlaku sama di kolam renang. Maka, jauhkan mereka dari kolam renang bila tak ada yang menjaganya.

(Sumber: Tabloid Nova)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar