Jumat, 05 Agustus 2011

Rumah Idaman “Pakai "Hydrolock System", Bikin Air Mati Angin!” plus 1 more

Rumah Idaman “Pakai "Hydrolock System", Bikin Air Mati Angin!” plus 1 more


Pakai "Hydrolock System", Bikin Air Mati Angin!

Posted: 05 Aug 2011 07:17 AM PDT

KOMPAS.com - Iklim tropis identik dengan suhu udara yang cenderung hangat sepanjang tahun, curah hujan dan kelembapan tinggi. Maka, jangan heran, setelah tiga tahun menghuni rumah, kerap muncul kendala-kendala kecil yang jika didiamkan bisa jadi masalah besar.

Masalah cat dinding kusam dan terkelupas atau retak rambut pada dinding menjadi contohnya. Masalah lain yang juga kerap adalah kecenderungan plafon turun atau kebocoran pada atap saat hujan tiba.

Seperti dikutip dari www.solusibangunanmu.com, beberapa hal di bawah ini perlu Anda periksa kembali, karena hal ini biasanya merupakan faktor penyebabnya:

-Kesalahan konstruksi atap

Normalnya, atap memiliki kemiringan 30-40 derajat. Jika ternyata atap rumah Anda kemiringannya kurang dari itu, inilah penyebab terjadinya kebocoran.

Kalau ternyata atap Anda kurang miring, jalan keluar satu-satunya adalah membongkar dan memasang ulang atap. Jika tidak sempat atau belum ada biaya, pertolongan pertama adalah memasang lembaran plastik pada bagian bawah genteng untuk menampung dan mengalirkan air bocor ke talang.

-Rusak akibat cuaca

Solusinya, Anda harus melakukan pemeriksaan berkala. Misalnya, memperbaharui waterproof coating tiap 1-2 tahun sekali.

-Kualitas material

Material yang dipakai saat membangun rumah kurang berkualitas, sehingga sering menimbulkan terjadinya retak rambut pada dinding dan pada akhirnya memicu kebocoran.

Solusi praktis

Untuk melindungi rumah Anda dari kebocoran, kini ada salah satu solusi praktis yang mungkin laik Anda coba, yaitu lapisan pelindung antibocor berteknologi Hydrolock System yang bisa diaplikasikan untuk atap, lantai, maupun dinding. Formulasi khusus tersebut telah diuji dan memiliki kemampuan untuk "mengunci" air sehingga tidak tembus, bocor, dan rembes.

Pelapis antibocor berbahan dasar akrilik ini juga punya daya elastisitas dan daya rekat tinggi, anti jamur, serta antilumut. Pelindung ini juga dapat diaplikasikan pada area dinding, dek beton, atap wuwungan, atap asbes, dan lantai kamar mandi.

Cara pemakaiannya juga terbilang praktis, yang terbagi menjadi pemakaian umum dan khusus. Dengan pemakaian umum, mula-mula Anda harus membersihkan permukaan dari kotoran, debu, minyak, jamur, lumut, dan kotoran lainnya. Kemudian, aduk pelapis antibocor ini dengan baik dan aplikasikan menggunakan kuas atau roll secara merata pada permukaan.

Selanjutnya, biarkan kering sempurna dan aplikasikan lapisan kedua secara menyilang di atas lapisan sebelumnya. Ulangi sesuai kebutuhan, untuk mendapatkan hasil lebih maksimal.

Di samping itu, untuk pemakaian khusus dan aplikasi daerah retak rambut atau sambungan, pertama-tama aplikasikan pelapis ini sebagai lapisan pertama, lalu gunakan mat fiber atau kasa poliester di atas lapisan pertama yang masih basah. Selanjutnya, tunggu hingga mengering sebelum pengerjaan lapisan selanjutnya.

Siap mencoba?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Awas, Pengembang Nakal di Bandung!

Posted: 05 Aug 2011 06:37 AM PDT

BANDUNG, KOMPAS.com - Bupati Bandung Dadang M Naser mengatakan, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, banyak pengembang perumahan nakal, oleh karenanya, warga diminta jeli dalam membeli rumah. Sebaiknya sebelum membeli rumah warga harus melihat kualitas pengembangnya dan jangan tergiur bujuk rayu pengembang dengan penawaran sarananya.

"Kita harus akui ada pengusaha yang kabur setelah rumahnya semua terjual. Padahal kewajibannya dalam menyelesaikan infrastruktur fasum (fasilitas umum) dan fasos atau fasilitas sosial belum selesai dilaksanakan," kata Dadang Naser kepada wartawan, Kamis (4/8/2011) kemarin.

Dirinya berjanji tidak akan kembali memberi izin bagi pengembang yang tidak melengkapi fasum dan fasosnya.

"Sebelum diserahterimakan dari pengembang, kita akan lihat dulu kewajibannya apakah sudah dilaksanakan atau belum. Kalau belum, kita tidak mau menerimanya. Karena kalau sudah diterima semuanya akan menjadi tanggungjawab pemda," ujarnya.

Dia menjelaskan, fasum dan fasos yang menjadi tanggungjawab pengembang itu meliputi jalan, penerangan lampu jalan, selokan, tempat sampah, sarana umum, dan masjid. Sebelum diserahkan kepada pemda, pihaknya akan memeriksa terlebih dulu kewajiban pengembang tersebut.

Hal yang sama juga disampaikan anggota Komisi C DPRD Kabupaten Bandung, Aep Saepulloh. Menurutnya, perbaikan jalan masuk ke perumahan sepenuhnya tanggung jawab pengembang. Bahkan, belum ada payung hukum yang menyebutkan bahwa setelah jalan itu diserahkan kepada pemerintah menjadi tanggung jawab pemerintah. Oleh karenanya, DPRD Kabupaten Bandung akan membahas persoalan ini lewat Raperda Utility 2011 Dalam raperda itu, akan dibahas soal fasos dan fasum yang diserahkan dari pengembang kepada pemerintah daerah.

"Termasuk didalamnya dibahas apakah penyerahan fasos dan fasum itu setelah perumahan itu berdiri lima tahun atau berapa tahun," ujarnya.

Seperti diketahui, kondisi jalan di perumahan banyak yang rusak parah. Perbaikan tak kunjung dilakukan pihak pengembang perumahan. Padahal, saat kondisi jalan itu masih mulus, pengembang seharusnya menyerahkan prasarana lingkungan, fasum dan fasos perumahan kepada pemerintah daerah setempat.

Namun demikian, dari sekian banyak pengembang, hanya segelintir yang sudah menyerahterimakan fasum dan fasos perumahan kepada pemerintah. Bahkan, ada pula pengembang bangkrut sebelum fasum dan fasos diserahterimakan kepada pemerintahan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar