Jumat, 26 Agustus 2011

Rumah Idaman “Rusun Dibangun, Rusun Ditelantarkan....” plus 2 more

Rumah Idaman “Rusun Dibangun, Rusun Ditelantarkan....” plus 2 more


Rusun Dibangun, Rusun Ditelantarkan....

Posted: 26 Aug 2011 01:04 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi V DPR RI Mulyadi mengatakan, pembangunan rumah susun oleh Kementerian Perumahan Rakyat banyak yang tidak tepat sasaran sehingga perlu ditinjau dari berbagai aspek. Dia juga mengkritik Kemenpera karena menggunakan dana APBN untuk pembangunan rumah susun bukan untuk masyarakat, melainkan pegawai lembaga pemerintah.

Banyak warga masyarakat membutuhkan perumahan belum bisa dipenuhi kebutuhannya, sementara banyak proyek rumah susun yang sampai saat ini belum dimanfaatkan sama sekali dan kosong.

-- Mulyadi

"Pembangunan rumah susun TNI/Polri ataupun PNS seharusnya tidak dikerjakan oleh Kemenpera. Itu seharusnya dilakukan oleh kementrian atau lembaga masing-masing dengan mengajukan anggarannya sendiri. Jadi, bukan menggunakan anggaran perumahan rakyat, tapi digunakan untuk lembaga lainnya dan bukan untuk masyarakat umum," katanya di Jakarta, Jumat (26/8/2011).

Dia mengusulkan rumah susun yang ada dan terletak di tengah kota untuk diremajakan.

"Pemerintah pusat membangun, pemda menyediakan lahannya. Lahan yang disediakan pemda tentunya biasanya jauh dari pusat kota. Padahal seharusnya itu dibangun di tengah kota, tapi karena keterbatasan lahan maka dibangun di pinggir kota," katanya.

Padahal, lanjut Mulyadi, banyak rumah susun lama yang ada di tengah kota yang sudah harus diremajakan.

"Itu saja dibongkar, dibangun lebih tinggi dan lebih baik sehingga bisa menampung lebih banyak penghuni," katanya.

Hal tersebut mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan perumahan tidak juga kunjung bisa dipenuhi. Di sisi lain, berbagai proyek pembangunan rumah susun yang telah dilakukan pun tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

"Pembangunan rumah susun banyak yang tidak tepat sasaran. Banyak warga masyarakat yang membutuhkan perumahan sampai saat ini belum bisa dipenuhi kebutuhannya, sementara banyak proyek rumah susun yang sampai saat ini belum dimanfaatkan sama sekali dan kosong," ujar Mulyadi.

Dia mencontohkan rumah susun di Marunda yang dibangun bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebanyak 11 tower yang sampai saat ini tidak juga dihuni dan kosong semuanya.

"Ini kan sayang sekali, di tengah keterbatasan anggaran pemerintah dan kebutuhan masyarakat akan perumahan masih ada rumah susun yang tidak dihuni," katanya.

Selain itu, menurut dia, rumah susun yang telah terbangun pun rata-rata tidak terpelihara dengan baik. Pemerintah pusat maupun daerah hanya membangun saja tanpa memikirkan pemeliharaan maupun perawatan yang tetap membutuhkan biaya.

"Kemenpera hanya membangun saja kemudian menyerahkan rumah susun kepada pemda, sementara pemda tidak memiliki dana operasioanal pemeliharaan yang memadai. Makanya, jangan heran banyak rumah susun usia 5 tahun sudah banyak yang rusak dan tidak terpelihara. Biaya pemeliharaan itu tinggi, apalagi perawatannya seperti perawatan struktur kerusakan," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Bingung, Pilih Karpet atau Parket?

Posted: 26 Aug 2011 12:46 PM PDT

shutterstock

Jika dibandingkan dengan jenis penutup lain, parket seperti halnya karakter kayu, akan mengikat panas dan memberikan suasana hangat pada ruangan.

shutterstock

Di ruang keluarga, karpet dengan ketebalan tertentu lebih dipilih. Selain nyaman, karpet bisa diduduki.

shutterstock

Parket bisa digunakan hampir di seluruh ruangan, terutama di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, juga di kamar tidur. Tampilan warnanya yang menyerupai kayu menambah tampilan makin rupawan.

KOMPAS.com - Karpet atau parket? Dua kata ini memiliki susunan huruf sama yang diucapkan berbeda pula. Namun, meski bentuk fisiknya berbeda, karpet maupun parket memiliki fungsi senada, yakni sama-sama mempercantik lantai rumah Anda.

Karpet merupakan penutup lantai dengan beragam ukuran, harga, bahan pembuatan, motif, serta cara pembuatannya. Sebagai elemen pendukung interior, karpet biasanya dipasang di ruang tamu dan ruang keluarga.

Di ruang tamu, fungsi karpet untuk mengalasi furnitur agar tidak merusak lantai. Di ruang keluarga, karpet dengan ketebalan tertentu lebih dipilih. Selain nyaman, karpet bisa diduduki.

Sementara parket, adalah penutup lantai berbahan kayu atau pun laminate yang direkatkan. Jika dibandingkan dengan jenis penutup lain, parket seperti halnya karakter kayu, akan mengikat panas dan memberikan suasana hangat pada ruangan.

Parket bisa digunakan hampir di seluruh ruangan, terutama di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, juga di kamar tidur. Nuansa warnanya yang menyerupai kayu menambah tampilan lantai semakin rupawan.

Nah, kira-kira Anda memilih karpet atau parket? Melihat fungsi keduanya, memilih salah satu di antaranya tetap mendapatkan keuntungan. Sebagai penutup lantai, karpet akan mendatangkan nuansa kenyamanan, sedangkan parket memberikan sentuhan kehangatan.

Tapi, bila Anda masih bingung dan tertarik memilih keduanya, baik karpet atau parket bisa diaplikasikan bebarengan. Jadi, tinggal pilih saja ruangan mana yang ingin Anda rancang dengan keduanya!

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Rusun Marunda, Contoh Rusun yang Sia-sia

Posted: 26 Aug 2011 12:11 PM PDT

[unable to retrieve full-text content]

DPR mempertanyakan pembangunan rumah susun di Jakarta karena banyak rusun yang terbengkalai perawatannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar