Jumat, 19 Agustus 2011

Rumah Idaman “Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel” plus 2 more

Rumah Idaman “Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel” plus 2 more


Mantan Pramuwisata yang Sukses Jadi Eksportir Mebel

Posted: 19 Aug 2011 10:49 AM PDT

KOMPAS.com — Jika tidak bermodal nekat, Manampin Girsang tidak akan mungkin pergi ke Bali dan sukses menjadi eksportir mebel. Hanya bermodal Rp 1,5 juta dan kemampuan berbahasa Inggris, ia dipercaya mengelola bisnis mebel antik sampai akhirnya sukses membuka bisnis sendiri.

Sukses sering berawal dari sebuah pertemanan atau kemitraan. Itu juga yang dialami Manampin Girsang. Berawal dari bekerja sama dengan seorang pedagang barang antik, kini pria kelahiran Brastagi, Sumatera Utara, ini berhasil menjadi eksportir mebel antik ke Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.

Menggunakan merek Gabe International, produk mebel Manampin sudah dikenal sebagian pengusaha hotel atau vila di luar negeri. Sejak 20 tahun silam, ia memasok mebel antik ke beberapa hotel dan vila mewah di Cayman Island, Kepulauan Fiji, Bahama, dan Mauritius. Tiap bulan, ia mengekspor setidaknya enam hingga delapan kontainer. Nilai tiap kontainer ukuran 40 kaki 20.000 dollar AS-25.000 dollar AS.

Saat ini, selain memiliki gerai mebel di Bali, Pipin, panggilan akrab Manampin, juga mempunyai galeri, workshop, dan pabrik di Jepara, Jawa Tengah. Maklum, beragam produk yang diekspornya, dari meja, bufet, kursi, hingga dipan, semuanya diukir, dipahat, dan dikerjakan para perajin di Jepara.

Semua produk itu rata-rata diekspor tanpa merek, terutama jika pemesannya adalah perusahaan. Berdasarkan informasi dalam situsnya, klien Pipin antara lain Soneva Hotel, Club Med, serta Great Bay Hotels and Casino. Selain korporat, pelanggan mebel Gabe adalah para pemilik rumah atau vila.

Pipin, yang kini berusia 42 tahun, tidak menyangka bakal menjadi eksportir mebel seperti sekarang. Sejak kecil, ayahnya yang bekerja di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengarahkannya untuk belajar teknik. Setelah masuk Sekolah Teknik Mesin (STM) di Brastagi, ia lantas kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia.

Tapi, sebenarnya, anak keempat dari tujuh bersaudara ini lebih menyukai bahasa ketimbang teknik. Saat masih sekolah di STM, ia senang memandu turis yang datang ke Brastagi. Namun, lantaran orientasinya berbeda, Pipin tidak lulus di UI. Alhasil, ia memilih merantau ke Bali pada tahun 1989.

"Saya kabur karena drop out," katanya.

Saat itu, dengan bekal duit Rp 1,5 juta dan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, Pipin ingin mencari kerja di Bali. Sementara masih lontang-lantung, ia lebih banyak bergaul dengan para turis dan acap memandu mereka.

Lewat seorang teman dari Kanada yang dikenal saat masih di UI, ia bertemu Giovanni, pria asal Italia yang berbisnis di Bali. Nah, oleh Giovanni, Pipin ditawari menjual bikini aspal. Artinya, merek terkenal tapi palsu.

Celakanya, usaha itu tidak berjalan lama. Dia bahkan ditangkap oleh petugas keamanan lantaran tidak menjadi anggota paguyuban penjual.

"Karena saya bukan anggota mereka, saya dianggap ilegal," katanya.

Akibatnya, Pipin masuk dalam daftar hitam untuk berjualan dan beroperasi di kawasan Kuta. Giovanni menawari Pipin bisnis lain, yakni berjualan barang antik.

"Orang Italia memiliki selera yang bagus untuk seni," ujarnya.

Ia melihat kebutuhan mebel di Bali sangat besar. Giovanni langsung percaya, dan memberi modal kamera dan uang agar pria yang pernah ingin menjadi tentara angkatan laut ini bisa berburu mebel antik.

Berjualan mebel antik

Naluri bisnis Pipin tidak meleset. Ia berburu mebel antik ke Madura dan Jepara. Produknya dijual di Indonesia ataupun diekspor ke luar negeri.

Sebelum dijual, kadang ia harus memoles, mengecat, dan memperbaiki sendiri mebel antik itu. Pipin mendapat bagian 10 persen dari hasil penjualan mebel itu. Karena hasil kerjanya bagus, akhirnya Pipin mendapat modal Rp 30 juta dari Giovanni untuk membangun workshop di Jepara.

"Jepara memiliki banyak talenta dan mebelnya bagus," katanya.

Ia juga mendapat hak untuk mencari pembeli sendiri, di luar pelanggan Giovanni. Tahun 1991, ia resmi mendirikan Gabe International.

"Gabe berasal dari nama malaikat, Gabriel," katanya.

Untuk memperluas pemasarannya, Pipin membuat situs web. Ia rela merogoh kocek Rp 2,5 juta untuk menyewa jasa pembuat situs. Nah, dari situsnya itu, para pembeli berdatangan, kebanyakan dari luar negeri.

"Berbisnis lewat internet juga bisnis kepercayaan. Karena itu, saya menjaga kualitas mebel yang saya kirim," kata Pipin, yang sering terjun sendiri menjual produknya.

Mulai 2003, Pipin mengembangkan bisnis sendiri, lepas dari Giovanni yang sedang terbelit masalah keuangan. Saat itu, ia tidak ada persoalan dengan modal lantaran punya simpanan dalam dolar AS yang setara dengan Rp 1,7 miliar. Berbekal itu, Pipin menggenjot penjualan lewat situs web.

Lantaran selalu menjaga kepercayaan pemesan, pelanggan mebel antik buatan Pipin semakin banyak. Hampir semuanya memesan lewat internet. Saat ini permintaan ekspor mebel tetap bagus. Ia bahkan menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekspornya mencapai Rp 1 triliun per tahun.

"Saya juga ingin punya merek sendiri," katanya.

Maklum, ia ingin mengharumkan nama produk asal Indonesia. (Dian Pitaloka Saraswati)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Sensasi Menikmati Salad Segar di Kandang Sapi

Posted: 19 Aug 2011 10:32 AM PDT

[unable to retrieve full-text content]

Ini akan jadi pengalaman baru buat Anda. Karena, pengalaman makan salad di sini semakin nikmat didukung dengan interior ruangan ala kandang sapi.

BPHTB dan Kelangkaan Blangko Jadi Kendala FLPP

Posted: 19 Aug 2011 09:13 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Konsumer Bank BTN Irman A Zahiruddin mengaku menyadari, masalah belum terbitnya perda bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dan blangko AJB menjadi salah satu kendala dalam penyaluran KPR FLPP.

"Belum adanya perda BPHTB dan langkanya blangko AJB sedikit memberi kendala dalam penyaluran FLPP," kata Irman.

Selain itu, masih banyaknya calon konsumen yang belum melengkapi syarat nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan surat pemberitahuan tahunan (SPT) pajak juga menghambat pencapaian target penyaluran KPR FLPP. Apalagi, bank pelat merah itu mematok target pembiayaan untuk 120 ribu unit rumah hingga akhir tahun.

Target tersebut ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan para pengembang yang tergabung pada Real Estate Indonesia (REI) dan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) yang berkomitmen membangun 120.000 rumah sepanjang 2011. Hingga Juni 2011 bank BTN mengklaim telah menyalurkan KPR FLPP untuk 42.000 unit rumah. Meski masih belum mencapai setengah target, dia yakin target pembangunan rumah sebanyak 120.000 unit dapat tercapai pada akhir tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jumat (19/8/2011), Pemerintah baru menyalurkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sebesar 20,48% dari target hingga akhir tahun sebanyak 184.100 unit rumah. Jumlah itu pun masih menjadi kontribusi penyerapan rumah sejahtera yang dulu dikenal sebagai rumah sehat sederhana (RSh) sebanyak 37.698 unit.

"Ke depan akan ada terus evaluasi terhadap penyaluran FLPP sekaligus mencarikan solusi terhadap permasalahan dalam penyaluran FLPP tersebut," tutur Deputi Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat Sri Hartoyo, pada siaran pers, Jumat (19/8/2011).

Pemerintah menargetkan penyaluran FLPP sepanjang 2011 mencapai 184.100 unit dengan rincian 134.100 unit rumah sejahtera dan 50.000 unit rumah murah. Sebaran kredit pemilikan rumah (KPR) FLPP pun masih sebagian besar terserap di Pulau Jawa mencapai 63%, sedangkan sisanya di kontribusi di daerah Sumatera 20%, Sulawesi 7%, Kalimantan 6%, dan pulau lainnya 4%. Apabila ditambahkan realisasi KPR FLPP 2010 sebanyak 7.959 unit rumah sejahtera maka total penyaluran FLPP sebanyak 45.657 unit rumah sejahtera sejak pertama kali program digulirkan pada Oktober 2010.

Dia menyadari, pengembang dan perbankan mengalami kendala dalam penyaluran FLPP. Terutama soal bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dan penggunaan blangko akta jual beli (AJB) yang masih menunggu kejelasan status akibat belum rampungnya peraturan daerah (perda) BPHTB. Seperti diketahui, sesuai Undang-Undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pasal 180 menyebutkan, pemerintah daerah (pemda) dapat memungut BPHTB setelah memiliki perda BPHTB. Perda itu akan menjadi payung hukum pelaksanaan pengalihan hak pungutan BPHTB dari pemerintah pusat ke pemda. (Dani Prasetya)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar