Senin, 28 November 2011

Rumah Idaman “Membuang Mitos dengan Dapur Hitam” plus 2 more

Rumah Idaman “Membuang Mitos dengan Dapur Hitam” plus 2 more


Membuang Mitos dengan Dapur Hitam

Posted: 29 Nov 2011 06:20 AM PST

KOMPAS.com - Warna hitam kerap sering dihindari untuk penggunaan warna pada dapur. Alasan utamanya, warna gelap ini dianggap memunculkan kesan sempit.

Nyatanya, tidak seratus persen demikian. Nuansa hitam di dapur ini malah menjadi aksen warna yang membuat salah satu ruangan tersibuk di rumah ini jadi tampil manis. 

Terbukti, dapur dengan warna hitam di sini ternyata bisa memberikan kesan elegan. Nuansa hitam justru memberikan kesan solid meskipun Anda menampilkannya lewat pemakaian furnitur. Dengan dominasi hitam, justru aktivitas orang di ruangan ini jadi terlihat dominan. Aktivitas memasak, makan atau menikmati hidangan bisa dinikmati bersama, sehingga fungsi ruang terasa lebih optimal.

Warma hitam di sini memang sangat memperkuat aktivitas penghuni rumah yang ada di dapur dan inilah ciri khas dapur modern minimalis. Modern dalam bentuk dan fungsi, dan minimalis dalam penggunaan sentuhan warna dan materialnya.

Tertarik?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Arsitektur Lokal Lebih Teruji Ketimbang Modern?

Posted: 29 Nov 2011 05:43 AM PST

SEMARANG, KOMPAS.com - Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah Agung Dwiyanto mengatakan, arsitektur lokal yang kaya nilai-nilai kearifan lokal lebih teruji karena telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu. Para leluhur telah melakukan serangkaian proses rancang bangun hunian secara trial and error sampai mendapatkan bentuk hunian paling pas dan nyaman dengan kondisi di wilayah setempat.

Masuknya arsitek asing ke Indonesia bisa disikapi secara positif oleh arsitek lokal dengan bersinergi untuk mempertahankan nilai kearifan lokal dalam rancang bangunnya.

-- Agung Dwiyanto

"Bangunan tradisional dengan arsitektural yang kaya kearifan lokal diwariskan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu, artinya bentuk dan kenyamanannya sudah teruji oleh zaman," katanya di Semarang, Selasa (29/11/2011, menanggapi maraknya bangunan berarsitektur modern pada seminar "Konsep Green Building pada Desain dan Pengelolaan Bangunan: Menuju Trend High Building performance" di Unika Soegijapranata Semarang.

Ia menjelaskan, baik pada arsitektural di kawasan pesisir atau di daerah pegunungan, masyarakat setempat telah mewarisi arsitektur tradisional dari nenek moyang yang tinggal di kawasan itu sejak lama. Artinya, kata Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang ini, arsitektur dengan kearifan lokal daerah setempat memang teruji paling nyaman dan pas dengan lingkungan setempat.

Agung mengakui, saat ini banyak arsitek asing yang masuk ke Indonesia ditandai dengan mulai bermunculannya bangunan berarsitektur modern dan menciptakan semacam tren tersendiri dalam bentuk bangunan. Namun, kata dia, patut disadari bahwa peran arsitek lokal dalam mempertahankan filosofi kearifan lokal dalam bentuk bangunan tradisional sangat penting, dan sebaiknya tidak bisa langsung mengadaptasi arsitektur modern.

Ia mencontohkan, bentuk bangunan baru di Bali yang tetap mempertahankan filosofi kearifan lokal setempat dalam arsitektur, termasuk ornamen-ornamen yang tetap bisa ditemukan dalam bangunan baru. Berkaitan dengan masuknya arsitek asing ke Indonesia, ia menilai fenomena itu sudah mulai terlihat setelah perekonomian di Amerika Serikat dan Eropa turun mengakibatkan tidak adanya pembangunan di negara tersebut.

"Akhirnya, mereka (arsitek asing) mulai melirik prospek di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia yang masih melakukan pembangunan. Fenomena ini bisa disikapi secara positif dan negatif," katanya.

Sebenarnya, kata Agung, masuknya arsitek asing ke Indonesia bisa disikapi secara positif oleh arsitek lokal dengan bersinergi untuk mempertahankan nilai kearifan lokal dalam melakukan rancang bangun.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

8 Langkah Agar Rumah Mungil Selalu Indah

Posted: 29 Nov 2011 04:22 AM PST

KOMPAS.com - Rumah mungil Anda bisa tetap tampil dengan cantik. Prinsipnya adalah tidak mengumbar ruang untuk barang-barang yang banyak makan tempat.

Memang, banyak cara dapat Anda terapkan untuk menata rumah mungil Anda. Simak 8 langkah berikut ini, misalnya:

1. Isi rumah Anda dengan furnitur berukuran kecil dan pastikan sebelum membelinya Anda sudah mengukur lebih dulu luas ruangan yang ada.

2. Pakai furnitur modular. Ini berguna bila sewaktu-waktu anggota keluarga Anda bertambah atau ingin memperluas ruangan. Furnitur modular dapat dibongkar dan dikurangi volumenya.

3. Pilih dekorasi bertema simpel, seperti minimalis atau country modern. Gunakan kombinasi 2:1 (2 warna monokromatis, 1 warna aksen). Terlalu banyak warna dan motif akan membuat rumah terasa "ramai". Gunakan material penutup lantai berwarna terang dengan motif sederhana.

4. Maksimalkan bidang transparan seperti jendela berukuran besar setinggi pintu membuat ruangan lebih banyak cahaya, udara, dan tampak lapang.

5. Kontrol barang-barang Anda agar ruangan tidak penuh dan sesak. Kurangi keinginan belanja dan maksimalkan tempat penyimpanan yang kerap diabaikan, seperti ruang bawah tangga, kolong tempat tidur, bagian atas lemari, atau kolong kursi.

6. Manfaatkan dinding sebagai alternatif penyimpanan. Buat rak atau konsol sepanjang dinding untuk menyimpan buku, mainan anak, dan koleksi lainnya. Dinding dengan rak-rak ini bisa dibuat dengan tampilan artistik untuk mendukung interior ruangan.

7. Gunakan cermin berukuran besar untuk memberi kesan luas pada ruangan.

8. Untuk mempermudah segala sesuatunya, simpan barang-barang yang sering dipakai dalam tempat yang paling mudah dijangkau. 

Sumber: Ide-Ide Segar/Keiza Amorani/Gramedia Pustaka Utama

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar