Selasa, 23 Februari 2010

Rumah Idaman “1Park Residences Mulai Dibangun, Utamakan Konsep Hijau” plus 3 more

Rumah Idaman “1Park Residences Mulai Dibangun, Utamakan Konsep Hijau” plus 3 more


1Park Residences Mulai Dibangun, Utamakan Konsep Hijau

Posted: 24 Feb 2010 04:50 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Rabu, 24/2/2010 | 12:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemancangan tiang (ground breaking) Apartemen 1Park Residence dilakukan hari Rabu (24/2/10) sebagai tanda dimulainya pembangunan tiga menara apartemen yang berlokasi di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan itu. Pemancangan ini dilakukan Suhendro Prabowo, Chief Operating Officer 1Park Residence.

"Kami menargetkan pondasi selesai dalam waktu tiga bulan ke depan. Setelah itu kami akan membangun tiga menara sekaligus," ujar Suhendro dalam jumpa pers di lokasi pembangunan 1Park Residence, Jakarta,  Rabu. Serah terima 1Park Residence direncanakan dilakukan bulan Juni 2012. Hingga saat ini, 1Park Residence sudah menjual 108 unit apartemen sejak diluncurkan 20 Februari 2010 lalu.

Pihak pengembang PT Intiland menargetkan penjualan 40-50 unit dalam beberapa minggu ke depan, dan ditargetkan habis terjual dalam waktu tiga bulan. Harga satu unit apartemen dengan dua kamar, dimulai dari harga Rp 800 juta.

Konsep hijau

Apartemen 1Park Residence menerapkan konsep hijau dalam pembangunannya. Menurut Utama Gondokusumo, Business Development Director Intiland, pembangunan Apartemen 1Park Residence disesuaikan dengan aturan dari Green Building Council of Indonesia. "Desain bangunan akan dibuat agar cahaya dapat mudah masuk. Misalnya, bagian pintu keluar lift yang biasanya hanya berbentuk lorong gelap, akan dibuat langsung menghadap keluar sehingga mendapatkan cahaya," ujar Utama.

"Setiap kamar mandi di setiap unit akan masuk cahaya, sehingga tak perlu menggunakan lampu pada siang hari," tambah Utama. Selain itu, apartemen 1Park Residence melakukan water recycling. Air bekas cuci tangan dan flush dari toilet akan digunakan untuk menyiram tanaman. Dari total area apartemen, 75 persen digunakan untuk green area. "Selain itu, bagian basement dibuat terbuka sehingga memerlukan sedikit energi listrik untuk exhaust udara, dan dapat menampung air hujan," tambah Utama.
 
PT  Intiland Development Tbk merupakan pengembang properti di Indonesia yang telah berkiprah selama lebih dari 40 tahun. Dalam beberapa tahun belakangan, Intiland telah mengerjakan banyak gedung, misalnya Intiland Tower di Jakarta dan Surabaya, serta kondominium tepi pantai di kawasan Pluit.

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

San Diego Hills Luncurkan Rumah Abu Semi Outdoor Pertama di Indonesia

Posted: 23 Feb 2010 12:13 PM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Selasa, 23/2/2010 | 20:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  San Diego Hills Memorial Park (SDH) meluncurkan rumah abu dengan konsep semi-outdoor yang pertama di Indonesia. Rumah abu atau disebut juga Columbarium ini dinamakan Breath of Life.  

Rumah abu merupakan suatu tempat yang disediakan untuk menyimpan abu jenazah setelah dikremasi untuk dimasukkan ke dalam  guci. Breath of Life yang didesain secara harmonis dengan memadukan unsur modern yang tetap memperhatikan refleksi nilai sosial budaya, tradisi serta lingkungan alam, merupakan rumah abu pertama yang dipersembahkan bagi semua kalangan dari berbagai agama secara universal kecuali bagi umat muslim.

Bangunan  Breath of Life  dengan konsep modern klasik, berdiri di tengah hutan pinus dengan lanskap hijau asri yang dilengkapi dengan aliran air yang mengelilingi mansion dan gazebo yang dapat digunakan untuk tempat keluarga berkumpul. Breath of Life berlokasi di area Garden of Creation (Universal) di atas tanah 2.200 m2, dengan total unit Columbarium sebanyak 1.128. Unit-unit tersebut terbuat dari material granit putih yang terdiri dari 6 tingkat/level dengan ukuran masing-masing 40 cm x 40 cm x 40cm dan 60 cm x 40 cm x 40cm.

"Latar belakang kami membangun columbarium Breath of Life ini untuk melengkapi produk yang ada di  San Diego Hills. Dimana saat ini kami baru menyediakan produk Pemakaman Jenazah atau Under Ground Burial, sedangkan Columbarium  dikategorikan sebagai produk Upper Ground Burial. Banyak keluarga secara tradisi maupun untuk memenuhi permintaan dari almarhum agar tidak merepotkan keluarga yang ditinggalkan, maka mengambil keputusan untuk dikremasi dan dilarung ke laut. Tetapi cara kremasi ini membuat keluarga tidak memiliki kenangan yang dapat diabadikan. Dengan adanya Breath of Life, abu jenazah ditempatkan di lokasi di mana keluarga dapat melakukan ziarah bersama-sama sambil menikmati suasana yang indah, tidak menyeramkan dan fasilitas lengkap yang ada di SDH." ujar Suziany Japardi,
Sales and Marketing Director SDH, Selasa (23/2/10).

"Selama masa launching, kami memberikan diskon khusus 45 persen plus 50 persen, atau harga net menjadi mulai dari Rp14 juta.Sedangkan untuk unit yang termahal (Heart Level dan Eye Level) ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 16 juta. Dengan sistem kepemilikan hanya satu kali bayar," jelas Suziany,
 
Sejak diperkenalkan kepada publik Januari 2007, SDH yang memiliki lahan seluas 500 hektar di Karawang Barat pada Km 46 (keluar gerbang Tol Karawang Barat 2), mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari masyarakat. Saat ini yang telah dimakamkan lebih dari 900 jenazah. Sedangkan yang telah terjual hingga kini, lebih dari 20.000 unit makam.

Konsep SDH yang sudah diterima dengan baik oleh masyarakat saat ini, bahwa pemakaman adalah bukan sesuatu hal yang menyedihkan, tidak menakutkan dan sudah menjadi gaya hidup keluarga di mana setiap minggu pada saat ziarah,  mereka dapat berekreasi dan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati berbagai fasilitas yang ada.

San Diego Hills secara marketing telah berhasil memperkenalkan sistem penjualan secara pre-need yang artinya mempersiapkan  lahan makam pada saat kita masih hidup dimana untuk mendapatkan kedamaian (Peace of Mind) dan kebahagiaan sehingga tidak merepotkan keluarga yang ditinggalkan.

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Okupansi Hotel di Bandung dan Sekitarnya Turun

Posted: 23 Feb 2010 11:47 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Laporan wartawan KOMPAS Gregorius Magnus Finesso

Selasa, 23/2/2010 | 19:47 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Banyaknya peristiwa banjir dan bencana alam pada musim hujan sekarang ini membuat okupansi pengunjung hotel di Jawa Barat menurun hingga 20 persen. Pasalnya dengan adanya bencana alam ini para wisatawan enggan keluar dan melakukan perjalanan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Rektoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Herman Muchtar Selasa (23/2) di Bandung mengatakan, banyaknya bencana alam dan banjir yang terjadi pada bulan bulan ini membuat para wisatawan menjadi enggan untuk melakukan wisata. Sehingga hal itu membuat okupansi pengunjung hotel pun turun hingga 20 persen.

"Biasanya rata rata okupansi pengunjung hotel itu mencapai hingga 60 persen, tapi dengan adanya banjir di beberapa wilayah membuat okupansi pun turun hingga 20 persen," jelasnya.

Dikatakan Herman, penurunan okupansi pe ngunjung hotel ini memang tidak terjadi di semua hotel. Itupun tergantung pada lokasi hotel, serta jaringannya. Namun demikian dengan kondisi cuaca sekarang ini yang cukup mengkhawatikan, okupansi pun turun secara drastis. Seperti halnya pada hotel yang d ikelolanya, lanjut Herman, yang mengalami penurunan okupansi 10 persen sampai 20 persen.

"Hal ini terjadi dari sejak bulan Desember lalu hingga sekarang. Banjir ini berdampak psikologis bagi para wisatawan, sehingga mereka enggan untuk melakukan perjalanan wisata. Apalagi banjir sendiri tidak hanya terjadi di Jawa Barat saja, tetapi daerah lain pun seperti halnya Jakarta, mengalami kebanjiran," katanya.

Permasalahan banjir dan bencana pun seiring dengan permasalahan pertumbuhan hotel di Jawa Barat yang tidak wajar. Saat ini persaingan pun menjadi lebih ketat apalagi banyak hotel baru beroperasi dan akan dibangun. Namun demikian pertumbuhan hotel ini tidak merata dan seimbang, karena hotel hotel baru ini hadir ditengah maraknya perhotelan, dan tertumpu pada suatu daerah.

Bahkan beberapa hotel yang baru ini mengklaim bahwa hotelnya adalah hotel berbintang. Padahal yang mengeluarkan klasifikasi hotel adalah PHRI. Sementara PHRI sendiri tidak dilibatkan pemerintah dalam pengembangan hotel, katanya.


Kebijakan pemerintah yang menambah ju mlah kamar hotel memang membuat persaingan menjadi sehat. Mestinya pemerintah melibatkan PHRI dalam pengembangan perhotelan. Pasalnya jumlah hotel di Jawa Barat sendiri tumbuh secara tidak merata dan seimbang.

Pertumbuhan hotel memang tidak terpantau oleh PHRI, hal itu karena tidak pernah dilibatkan oleh pemerintah. Padahal perhotelan di Jawa Barat sendiri terutama yang ada di pusat Kota sudah padat. "Oleh karena itulah kita berharap pemerintah bisa mengatur dan menata hotel hotel baru, sehingga bisa seimbang dan merata. Apalagi kontribusi hotel terhadap PAD pun sangat besar," katanya.

"Selama ini pemerintah melihat perhotelan di Jawa Barat sudah tidak mencukupi. Namun demikian perkiraan tersebut tidak tepat, karena pemerintah hanya melihat pada saat long week end. Memang untuk weekend dan long weekend okupansi bisa mencapai hingga 95 persen, tapi saat weekday okupansi hanya mencapai 60 persen," ujarnya. 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Belanja Iklan Properti Peringkat Kedua di Indonesia

Posted: 23 Feb 2010 11:37 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Selasa, 23/2/2010 | 19:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Belanja iklan properti hingga tahun 2010 menduduki peringkat kedua belanja iklan terbesar di Indonesia. Belanja iklan properti berada di urutan kedua setelah belanja iklan rokok.

Demikian diungkapkan praktisi hukum properti Erwin Kallo saat ditemui dalam seminar bedah kasus permasalahan strata title di Jakarta, Selasa (23/2/10).

"Belanja iklan properti nomor dua terbesar setelah iklan rokok. Tak tanggung-tanggung nilai belanja iklan properti itu biasanya besarnya mencapai 5 persen dari nilai proyek propertinya," ujarnya.

Erwin menilai, besarnya jumlah belanja iklan di Indonesia membuktikan sangat berkembangnya industri properti di negeri ini. "Lihat saja iklan-iklan properti makin banyak, bagaimana Agung Podomoro Group misalnya beriklan. Itu membuktikan betapa berkembangnya industri properti kita," papar Erwin.

Oleh karena itu, kata Erwin, pemerintah harus lebih memperhatikan eksistensi dan perkembangan industri properti ke depannya. "Pemerintah harus lebih aware lagi terhadap industri properti untuk ke depannya, karena industri ini banyak memberikan income dan dampak positif kepada negara. Dari pajak, pembangunan sektor riil, maupun dari sisi membuka lapangan kerja," tandasnya. 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar