Rabu, 17 Februari 2010

Rumah Idaman “Mengapa Properti di Malaysia Menarik bagi Orang Asing?” plus 3 more

Rumah Idaman “Mengapa Properti di Malaysia Menarik bagi Orang Asing?” plus 3 more


Mengapa Properti di Malaysia Menarik bagi Orang Asing?

Posted: 17 Feb 2010 02:07 PM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Rabu, 17/2/2010 | 22:07 WIB

KOMPAS.com — Dalam 20 tahun terakhir ini, industri properti di Malaysia mengalami perubahan yang signifikan. Mengapa? Ada dua faktor. Pertama, kualitas dan desain mengalami perubahan yang dramatis. Tak ada yang mengatakan bahwa seluruh properti dibangun dengan jelek pada masa lalu atau semua properti yang dibangun sekarang dengan standar tinggi.

Yang pasti, ada peningkatan fokus dalam kualitas dan penggunaan bahan-bahan material yang lebih baik. Saat ini banyak pengembang percaya diri membangun rumah berkualitas tanpa khawatir properti itu tidak selesai tepat waktu atau menghadapi persoalan lainnya.

Saat ini banyak desain yang inovatif dan modern. Dalam dua dekade terakhir ini, arsitek Malaysia dan luar negeri telah merancang produk properti dengan melakukan revolusi desain. Memberi fokus yang kuat pada lingkungan dan lanskap memang sesuatu yang baru bagi Malaysia, namun ke depan akan menjadi hal biasa.

Kedua, pemerintah kini aktif mengajak orang asing membeli properti di Malaysia. Pada masa lalu, pemerintah membatasi orang asing membeli properti, tetapi sekarang hampir semua hambatan itu sudah disingkirkan. Tak ada pembatasan berapa jumlah rumah yang dapat dibeli orang asing di Malaysia.

Orang asing tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapat persetujuan dari Komite Investasi Asing (The Foreign Investment Committee/FIC) bila mereka membeli properti di Malaysia. Namun, mereka masih harus mendapatkan persetujuan dari otoritas negara dan ini membutuhkan waktu paling lama enam bulan.

Pajak pendapatan modal real estate sudah dihapus, jadi jika Anda menjual properti untuk memperoleh keuntungan, Anda tidak akan dikenakan pajak untuk itu. Di Malaysia, orang asing juga dapat membeli lahan kosong. Kesepakatan penjualan dan pembelian dapat dilakukan atas nama mereka dan ditulis dalam bahasa Inggris. Sejumlah kawasan dengan lahan sewa milik pemerintah juga bisa diperoleh. Waktu sewa biasanya berlaku sampai 99 tahun dan dapat diperbarui setelah masa perjanjian berakhir.

Kemungkinan salah satu aspek yang paling menarik dari properti Malaysia adalah harga yang murah. Real estate utama di pusat kota Kuala Lumpur, yang memiliki harga tertinggi di Malaysia, bernilai hingga 1.200 ringgit Malaysia (RM) per square foot, atau setara dengan 170 poundsterling atau 350 dollar AS. Nilai ini sama dengan 12.000 RM atau 1.695 poundsterling per meter persegi. Harga ini turun separuh jika Anda mencari lahan di dekat pusat kota, dan lebih rendah lagi jika lokasinya di luar kota Kuala Lumpur. Nilai tanah di kota Penang, misalnya, cenderung separuh dari harga di pusat kota Kuala Lumpur.

Ketika Anda membandingkan real estate utama Kuala Lumpur dengan Singapura, terlihat bahwa harga properti di Singapura 10 kali lebih mahal dibandingkan di Kuala Lumpur. Dan ini menunjukkan tawaran yang bernilai dari properti Malaysia bila dikombinasikan dengan umumnya biaya hidup yang relatif rendah. Ini merupakan kombinasi yang luar biasa bagi mereka yang berpikir akan menghabiskan masa pensiunnya di sini.

Apa yang tak boleh dibeli orang asing di Malaysia?

Ada beberapa jenis properti yang tidak boleh dibeli orang asing, yaitu properti dengan harga di bawah 250.000 RM (atau di bawah 350.000 RM di Sarawak). Hal ini untuk melindungi warga Malaysia yang berpendapatan menengah dan rendah dari tekanan inflasi pada pembelian rumah sederhana dan rumah sangat sederhana.

Orang asing juga tidak diizinkan membeli tanah cadangan Malaysia. Bagian-bagian tertentu di Malaysia hanya dapat dibeli oleh warga Malaysia sendiri. Sebagai tambahan, kawasan tertentu dibangun dan dikenal sebagai perkebunan buah-buahan dengan kepadatan bangunan minimal satu properti per acre (1 acre = 0,4046 hektar). Orang asing tidak diizinkan membeli tanah ini.

Harga real estate utama di Malaysia meningkat tajam dalam 10 tahun terakhir ini. Ini merupakan hasil dari meningkatnya minat orang asing dan performa ekonomi yang kuat setelah banyak orang Malaysia membeli rumah milik mereka. Diharapkan tren ini terus berlanjut, meskipun jumlah pembangunan baru mencegah hal ini terjadi begitu cepat. Yang tampak paling terlihat jelas adalah harga properti di pusat kota Kuala Lumpur.  Nah, bagaimana dengan properti di Indonesia? (Robert Adhi Ksp)

Sumber: propertyinmalaysia.com

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Pasar Properti Singapura Menguat Kembali Bulan Januari

Posted: 17 Feb 2010 11:27 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Rabu, 17/2/2010 | 19:27 WIB

 SINGAPURA, KOMPAS.com - Pasar properti Singapura menguat kembali. Data yang dirilis The Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura menunjukkan 1.476 unit terjual selama bulan Januari 2010, atau tiga kali lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya yang berjumlaj 481 unit.

Jumlah rumah-rumah pribadi yang terjual juga melonjak setelah selama lima bulan terakhir terus menurun.

Tren pada awal bulan-bulan ini, proyek-proyek papan atas juga digemari.

Cube8, misalnya, proyek pengembangan kota yang berlokasi di Thomson Road, juga sangat populer. Sebanyak 167 unit terjual bulan lalu dengan harga rata-rata 1.286 dollar Singapura per square foot. (Catatan Redaksi: 1 square foot = 0,0929 m2, dan 1 dollar Singapura setara dengan Rp 6.624)

Lokasi kedua yang segera dibangun adalah The Shore Residences di Amber Road oleh Dover Rise dan Whitewater Properties, yang sudah terjual 144 unit dengan harga rata-rata 1.200 dollar Singapura per square foot.

Harga unit paling mahal yang terjual bulan lalu adalah Orchard View di Angullia Park, dengan harga 3.243 dollar Singapura per square foot. Orchard View akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun 2010, kata Direktur Wheelock Properties, Tan Bee Kim. (Channel News Asia)

 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

WN Indonesia, Pembeli Kedua Terbesar Kondominium Singapura

Posted: 17 Feb 2010 09:47 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Rabu, 17/2/2010 | 17:47 WIB

KOMPAS.com - Singapura masih menjadi magnet bagi warga kaya di Indonesia. Tidak hanya menjadi pusat pelesir dan belanja, Singapura juga menjadi tujuan investasi menggoda warga Negeri Burung Garuda ini. Salah satu instrumen investasi paling favorit adalah properti.

Berdasarkan hasil riset Jones Lang LaSalle, lembaga konsultan properti, warga negara Indonesia (WNI) merupakan pembeli kedua terbesar kondominium di Singapura sepanjang tahun 2009. Bahkan, sampai 2007 silam, warga Indonesia merupakan pembeli terbesar kondominium Negeri Merlion
 
Kepala Riset Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus menuturkan, kehadiran warga dari berbagai negara Asia di Singapura telah memangkas dominasi WNI di pasar properti. Tahun lalu, sekitar 26 persen pembeli properti di Singapura merupakan Malaysia. Pembeli yang berstatus WNI hanya 19 persen.

Setidaknya ada empat alasan sehingga banyak WNI memutar uang dalam bentuk properti di Singapura. Pertama, tingkat kepastian hukum di Singapura jelas dan transparan. Dengan demikian, investor merasa nyaman untuk berinvestasi. Kedua, kondisi sosial, ekonomi, dan politik negeri kepulauan itu sangat stabil. Di samping itu, tingkat keamanan Singapura di atas rata-rata negara tetangganya.

Ketiga, kenaikan harga properti di Singapura cukup tinggi, sekitar 10 persen sampai 20 persen per tahun. "Jika menyewakan properti, pemilik bisa mengantongi return 4 persen – 5 persen per tahun," tutur Maikel Tanudjaya, Asisten Manajer Pemasaran Far East Organization, perusahaan pemasaran properti terbesar di Singapura.

Keempat, letak Singapura sangat dekat dengan Indonesia. Kedekatan lokasi ini menjadi alasan bagi warga Indonesia menyekolahkan anak mereka di Negeri Singa. Tidak sedikit warga kelas atas Indonesia yang membelikan rumah bagi anak-anak mereka yang sedang menuntut ilmu di negeri itu.

Ilham M. Wijaya, Direktur Badan Pendidikan dan Latihan DPP REI, mengatakan kesamaan budaya juga menjadi pertimbangan konsumen saat membeli properti di luar negeri. "Budaya kita dan Singapura tak jauh berbeda," kata dia.

Harga-harga properti sudah membubung tinggi
Maikel menuturkan, minat WNI untuk memiliki properti di Singapura masih cukup tinggi. Mereka mengincar lokasi-lokasi strategis, seperti di seputar Jalan Orchard, Bukit Timah, Newton, dan Novena. Maklum, tempat itu merupakan surga belanja dan berdekatan dengan sekolah-sekolah papan atas. Anton bilang, hampir 40 persen pembeli properti asal Indonesia memilih kondominium kelas atas.

Bagaimana dengan harga? Karena berlokasi di kawasan elite, harga kondominium cukup mahal, berkisar 1 juta dollar Singapura – 6 juta dollar Singapura, atau setara Rp 7 miliar hingga Rp 40,2 miliar per unit.

Contohnya apartemen L'VIV yang berlokasi di Distrik 11 dekat Orchard. Harga ruangan seluas 614 per kaki persegi atau square feet (sqft) itu dipatok 850.000 dollar AS (Rp 7,9 miliar).

Bagi peminat unit kondominium yang kini gencar ditawarkan di Jakarta ini, konsumen cukup membayar uang muka 20 persen. Maikel mengungkapkan, rata-rata harga properti di Singapura  antara 1.000 dollar Singapura – 2.500 dollar Singapura per kaki persegi.

Anton mengatakan, kenaikan harga properti di Singapura sangat fluktuatif, tergantung dari kondisi perekonomian. Contohnya, ketika ekonomi dunia dan Singapura tumbuh tinggi selama 2006–2007, harga kondominium melaju 30 persen – 50 persen.

Namun, begitu krisis global menghantam ekonomi Singapura di 2008, banderol harga properti hanya naik 35 persen. Tahun lalu, ketika ekonomi Singapura minus, harga properti naik lebih tipis lagi, hanya 12 persen.

Namun, sekecil-kecilnya kenaikan harga properti di Singapura, masih tetap lebih tinggi peningkatan harga di Jakarta. Sebagai pembanding, harga apartemen di kawasan elite Sudirman paling hanya naik di kisaran antara 7 persen dan 10 persen, tahun depan.

Penyebab harga properti di Singapura berlari lebih kencang daripada harga di Jakarta, sebetulnya, mudah ditebak. Sudah luas lahannya lebih terbatas ketimbang Jakarta, Singapura juga lebih ramah terhadap investor properti dari luar negeri.

Di negeri itu, warga asing sah-sah saja menguasai properti selamanya. Sedangkan di negeri ini, kepemilikan asing di properti maksimal 70 tahun.

Memang, ada wacana untuk merevisi aturan kepemilikan asing yang tertuang di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1996. Jika revisi berjalan mulus, kelak warga negara asing bisa memiliki properti selamanya, asalkan properti itu berharga minimal Rp 1 miliar dengan luas 200 meter persegi.

Presiden Direktur Bakrieland Development Hiramsyah S. Thaib mengatakan, harga properti di Indonesia paling murah dibandingkan dengan negara tetangga. Rata-rata, harga properti per meter persegi di Indonesia adalah 1.287 dollar AS. Adapun harga di Malaysia 1.424 dollar AS, dan Singapura  11.324 dollar AS.

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria menambahkan, jika warga asing boleh membeli properti, pasar properti nasional berpotensi naik sekitar US$ 3 miliar alias sekitar Rp 28 triliun.

Untuk sementara ini, investasi properti di Singapura masih menjanjikan. Tapi, Anton mengingatkan calon konsumen agar hati-hati memilih lokasi. Sebelum melakukan akad jual beli, konsumen harus meneliti kelengkapan dokumen proyek. "Agar mendapat imbal hasil yang tinggi, silakan pilih lokasi yang benar-benar strategis," ujar Anton. (KONTAN Weekend)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Ciputra's Dream on How to Turn Indonesian Properties into Green

Posted: 17 Feb 2010 08:48 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Rabu, 17/2/2010 | 16:48 WIB

KOMPAS.com - The green property has not been set as a fixed standard in Indonesia as the business keeps blooming in the country. This raises the concern of the former president of FIABCI International (The International Real Estate Federation) and a prominent businessman and developer in Indonesia, Ir. Ciputra. He gives his input about FIABCI, and FIABCI's highlight this year: Green Property, and also about the project from his own group, the Ciputra World.

Ciputra recalled how at first Indonesia didn't have a real estate association, then he and other businessmen in Asia Pacific founded a regional association that started from only 10 companies. Later the associaton merged into the FIABCI International. "FIABCI comprises all disciplines in real estate: property, marketing association, appraisal, broker, building management, and others besides." Ciputra praises FIABCI for being a great benefit for the big players in property, and urges even the smaller players, that tend to be only local players, to also reap the benefits from FIABCI.

FIABCI's main theme this year is green property. Ciputra believes that the environment is everyone's responsibility. Is Indonesia ready for this? "We start with whatever we have. We don't have green buildings yet. We must start to apply green property on buildings, gradually of course," replied the businessman. Green property would cover a lot of aspects, such as power conservation and recycling garbage and waste water, so they must be done in stages.

Ciputra claimed that, although there's no standard in Indonesia yet for green property, but his group is applying the Singaporean standard for their project, the Ciputra World, and that their aiming for the platinum certification, which is the highest after bronze, silver, and gold certifications. The initial investment would be expensive, and the high bank interest rates would also be a burden, but in the long term he believes that green property can save maintenance cost on energy, water, and efficient management.

"Jakarta will start to apply them (green property) in May, but I suppose five years from now it should be mandatory; every project must be green."

Indonesia's Orchard Road

Ciputra also dreams of making Ciputra World, in Mega Kuningan, South Jakarta, like Orchard Road in Singapore. Ciputra World will be a superblock, a one-stop place for everything. Since Indonesia is considerably bigger than Singapore and is supported with 200 million people, naturally it can support more superblocks to attract tourists. Ciputra estimates that there will be around 10. Jakarta's provincial government is also supporting this plan.

"Tourists will be pleased. Whether you agree or not, the superblock will be a trend." (Robert Adhi Ksp/C17-09)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar