Kamis, 11 Februari 2010

Rumah Idaman “James Riady: Pengusaha Bertanggung Jawab Sediakan Rumah Karyawan (4)” plus 3 more

Rumah Idaman “James Riady: Pengusaha Bertanggung Jawab Sediakan Rumah Karyawan (4)” plus 3 more


James Riady: Pengusaha Bertanggung Jawab Sediakan Rumah Karyawan (4)

Posted: 11 Feb 2010 03:09 PM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Kamis, 11/2/2010 | 23:09 WIB

Dalam Bincang Properti kali ini, Kompas.com berbincang-bincang dengan James Riady, Wakil Ketua Kadin Bidang Properti. Ini bagian keempat wawancara eksklusif Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan James Riady tentang penyediaan rumah sederhana.

Target pemerintah membangun rumah sederhana belum tercapai. Sebagai Wakil Ketua Kadin Bidang Properti, menurut Pak James, apa yang dapat dilakukan agar kebutuhan rumah bagi semua lapisan masyarakat tercapai?

Satu konsep pembangunan bangsa, pembangunan ekonomi nasional, yang kembali lagi pada tema sustainable, berkelanjutan, pasti pembangunan yang adil. Berarti setiap masyarakat mampu memiliki akses pada hal-hal yang dia butuhkan, yang mendasar, makan, tinggal dan sebagainya. Berarti kepemilikan rumah satu hal sangat penting.

Kita tahu di Indonesia, kita ada defisit kepemilikan rumah pada masyarakat menengah bawah, defisit kurang lebih antara 6 juta sampai 8 juta. Ini defisit yang fantastis, besar sekali.

Tantangannya adalah seberapa jauh elit politik kita dan elit masyarakat kita, dan pemerintahan menyadari, lalu mengatakan bahwa we are going to make difference, kita akan membuat sesuatu yang berbeda. Dan dalam 5 tahun ini, kita akan menyediakan perumahan untuk rakyat. Kalau sudah ada keputusan politis yang sudah diambil, berarti harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah.  

Dalam hal ini, pertama, tanggung jawab siapa untuk bisa mengadakan 6-8 juta rumah untuk rakyat. Tanggung jawab itu sudah jelas, harus dipukulratakan kepada setiap perusahaan, setiap unit usaha yang membutuhkan buruh, membutuhkan karyawan. Jadi tidak bisa dibebankan pada pemain properti, anggota Kadin dan maupun anggota REI. Tidak mungkin. Bagaimana bisa 50 pengembang bertanggung jawab untuk defisit 6-8 juta rumah?

Berarti kalau satu perusahaan punya karyawan 100, dia harus bertanggung jawab untuk menyediakan 100 rumah. Kalau dipikul oleh semua perusahaan, itu baru satu-satunya cara agar itu bisa terjadi.

Di Singapura sama, kalau saya menggunakan100 karyawan, saya harus memberikan kontribusi apakah 5-10-15-20 persen dari gaji mereka, saya harus kontribusi pada satu sistem untuk pengadaan perumahan rakyat. Ini yang petama yang harus dilakukan.

Kedua, harus ada mekanisme untuk mengumpulkan dana ini semua. Lalu dipakai. Di Singapura ada CBF, funding. Di RRC, Amerika juga sama, ada proses, satu kelembagaan yang bertanggung jawab untuk pengadaan rumah itu sendiri. Dan ketiga, tentu saja pendanaan. Pendanaan dari perbankan harus ada long term funding untuk membiayai perumahan. Ini semua harus dilakukan. Jadi kita harus punya cita-cita, mimpi bahwa the next 5-20 years, semua orang Indonesia bisa memiliki satu rumah.

Saya menambahkan satu hal lagi bahwa kepemikan rumah bukan sekadar luxury, tapi capital formation, jadi formasi modal nasional. Kalau masyarakat secara luas punya rumah, ini pemupukan dana modal nasional yang bisa digunakan pembangunan bangsa, pembangunan ekonomi ke depan,

Demuikian Bincang Properti kali ini. Sampai jumpa.  (Robert Adhi Ksp)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

James Riady: Superblok Dengan Infrastruktur Standar Dunia Jadi Tren (3)

Posted: 11 Feb 2010 01:17 PM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Kamis, 11/2/2010 | 21:17 WIB

Dalam Bincang Properti kali ini, Kompas.com berbincang-bincang dengan James Riady, CEO Lippo Group dan Wakil Ketua Kadin Bidang Properti. Ini bagian ketiga wawancara eksklusif Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan James Riady tentang tren pembangunan superblok di Indonesia.

Ok, Pak James, superblok menjadi tren di Jakarta. Lippo saat ini sedang membangun Kemang Village dan St Moritz. Ciputra pun sedang membangun Ciputra World, dan Agung Podomoro membangun Kuningan City dan Central Park. Semua membangun mal dan apartemen. Apakah nantinya akan ada over-supply?

Setiap kota besar di Asia akan melewati proses pembangunan, sama seperti kota-kota besar di seluruh dunia, yaitu pembangunan kota metropolis, di mana infrastruktur yang memadai, menjadi sasaran dari setiap pembeli rumah. Karena itulah superblok menyajikan suatu konsep di mana infrastruktur jadi investasi utama. Tak ada jalan lain, ke depan, arah pembangunan (pada) superblok, di mana (dibangun) infrastruktur sangat memadai dengan standar dunia.

Kedua, bagaimana fasilitas umum tersedia dalam kompleks yang sama, ketiga fasilitas untuk rekreasi, juga fasilitas sekolah, fasilitas rumah sakit dan sebagainya juga tersedia, Jadi inilah yang dicari setiap orang yang mencari rumah. Dan karena itulah superblok jadi arah ke depan.

Lippo sendiri juga memikirkan mengenai superblok, dan sudah juga mengembangkan menjajaki terutama di Kemang Village dan di Puri - St Moritz. Jadi memang arahnya harus ke sana.

Apakah nanti akan ada over-supply dari mal dan apartemen yang dibangun pengembang-pengembang lainnya?
Dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan di atas 5-6 persen setahun dalam 20-30 tahun ke depan, akan menimbulkan suatu demand yang luar biasa. Dan kalau kita lihat, semua negara Asia, khususnya Indonesia, ekonomi kita masih berorientasi pada investasi, Jadi warga kita, ekonomi kita masih berorientasi, dana yang ditabung, tabungan nasional itu diarahkan untuk investasi.

Akan tiba situasi, waktu di mana ekonomi kita, masyarakat kita akan mulai bergerak ke economy consumption. Pada saat economy consumption bergerak, itu akan menimbulkan permintaan, pertumbuhan demand yang luar biasa sekali. Jadi kapasitas yang ada sekarang ini sesungguhnya sangat kurang. Justru kita lihat sekarang ini, lima tahun ke depan.

Masalahnya bukan soal demand, karena demand akan meningkat, saat masyarakat kita bergerak dari orientasi investasi ke konsumtif. Tetapi justru masalah yang timbul dengan situasi itu, masalah supply, kapasitas yang kurang. Kita bisa melihat tanah banyak, lahan banyak sekali, tapi lahan yang sudah memiliki infastruktur yang memadai sangat kurang sekali. (Robert Adhi Ksp) -- Bersambung

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

James Riady: Prospek Properti Indonesia Sangat Cerah (2)

Posted: 11 Feb 2010 11:51 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Kamis, 11/2/2010 | 19:51 WIB

Dalam Bincang Properti kali ini, Kompas.com berbincang-bincang dengan James Riady, CEO Lippo Group dan Wakil Ketua Kadin Bidang Properti. Ini bagian kedua wawancara eksklusif Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan James Riady tentang masa depan properti di Indonesia.

 

Ok, Pak James, industri properti di Indonesia saat ini makin berkembang. Bagaimana posisi Indonesia di tengah persaingan properti global?

Dalam hal ini, semua terkait dengan pengembangan makro ekonomi. Indonesia pada saat ini memiliki perkembangan yang cukup bagus. Kita melihat bahwa dunia saat ini, dunia ekonomi yang sudah matang seperti Amerika, Eropa, Jepang, mereka menghadapi suatu masalah yang sangat besar, yaitu membayar utang daripada kesalahan-kesalahan selama 10-20 tahun yang lampau.

Karena itulah kami berpendapat bahwa stimulus package yang sudah dijalankan selama 15 bulan ini tidak bisa dicabut, harus terus dijalankan. Berarti stimulus package di dunia yang terus dijalankan di negara berkembang, yang sudah developed countries, akan membawa dampak positif kepada negara Asia, yang tidak lagi membutuhkan stimulus package.

Nah, Indonesia menempati posisi yang terbaik. Karena Indonesia tidak mengerjakan stimulus package yang berlebihan tahun lalu. Jadi tahun ini, tahun depan, the next three years ke depan ini, Indonesia merupakan negara yang sangat diminati. Karena itulah Indonesia dengan kondisi makro seperti demikian, bisa memiliki harapan, hari depan yang sangat cerah. Karena itulah properti di Indonesia, kami melihat akan cerah dan akan terus maju, apalagi pemerintah sudah setuju mengambil suatu political decision, keputusan politis untuk mengizinkan pihak asing masuk membeli dan untuk bisa tinggal di Indonesia. Ini semua akan memberikan suatu dampak positif.

Dunia baru saja mengalami krisis ekonomi global, dan industri properti terkena dampaknya. Bagaimana strategi pendanaan untuk proyek-proyek properti di Indonesia?
Pendanaan suatu bagian yang sangat critical dalam pengembangan properti. Indonesia memiliki tantangan yang berat karena pendanaan di Indonesia tidak cukup hanya dalam rupiah. Pendanaan rupiah sangat terbatas. Pendanaan rupiah itu jangka pendek, rata-rata 1-2 tahun, maksimum 3 tahun. Padahal properti membutuhkan suatu feasibility, jangka panjang, lebih dari 1-3 tahun. Karena itulah rencana pemerintah untuk mempetimbangkan HGB sekaligus diberikan sampai 70 tahun atau 80 tahun, tidak lagi 20-30 tahun, terus diperpanjang, itu akan meningkatkan feasibility project properti di Indonesia.

Selain itu, perbankan Indonesia termasuk luput dari krisis global terakhir 18 bulan. Karena itulah perbankan Indonesia lebih mampu memberikan pembiayaan sekarang sudah mulai 5 tahun-7 tahun. Jadi dengan demikian, pendanaan dalam negeri akan lebih baik lagi, satu-tiga tahun ke depan. Tetapi pendanaan yang utama tetap harus datang dari pendanaan luar negeri, pendanaan dari pasar modal, pasar perbankan global. Nah kondisi ekonomi yang lebih baik, kondisi pemerintahan kita yang stabil, proses demokrasi yang stabil, ini akan menolong, membantu pendanaan luar negeri itu masuk ke Indonesia. (Robert Adhi Ksp) - Bersambung

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

James Riady: Industri Properti Saatnya Terapkan Prinsip Sustainable (1)

Posted: 11 Feb 2010 10:53 AM PST

Message from fivefilters.org: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.

Kamis, 11/2/2010 | 18:53 WIB

Dalam Bincang Properti kali ini, Kompas.com berbincang-bincang dengan James Riady, CEO Lippo Group dan Wakil Ketua Kadin Bidang Properti. Ini bagian pertama wawancara eksklusif Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan James Riady tentang pentingnya industri properti melakukan pembangunan yang menerapkan prinsip eco-property yang berkelanjutan (sustainable).

James Riady adalah salah seorang pengusaha nasional yang telah menerapkan eco-property di Indonesia. Lippo Village misalnya, bukan hanya sekadar memberi nuansa hijau, tapi juga telah menerapkan prinsip-prinsip eco-property. Untuk membahas lebih jauh soal ini, kami berbincang-bincang dengan James Riady.

Salah satu agenda FIABCI adalah membahas eco-property. Dan Lippo Village salah satu proyek properti pertama di Indonesia yang mengembangkan eco-property. Menurut Pak James, bagaimana perkembangan eco-property di dunia saat ini? Apakah pengembang sudah siap menerapkan prinsip-prinsip eco-property?

Terima kasih. Saya kira, yang perlu kita pahami adalah pikiran dunia saat ini. Yang dibicarakan ini kan banyak isu, masalah mengenai green environment, eco-environment, masalah mengenai infrastruktur, masalah mengenai acceptable standard of living yang akan datang itu seperti apa. Kuncinya dari semua ini adalah sustainability. Artinya, dunia ini sekarang 6,5 miliar penduduk. Lalu apa mampu dunia sekarang ini, yang dikelola dengan cara yang sekarang ini, mampu memberi kehidupan yang baik, untuk 6,5 miliar warga? Dan apakah bisa suatu kehidupan yang menjamin kelanjutan dari kehidupan sekarang ada? Ini kuncinya sustainability.

Untuk dilakukan semua green, bisa, tapi apakah sustainable? Semuanya eco-property, apa bisa? Bisa, tapi apakah sustainable? Jadi mencari suatu balance, antara satu cita-cita kehidupan yang layak, yang baik, dengan suatu hal yang bisa berkelanjutan, yang sustainable, yang menjadi kuncinya. Ini yang menjadi perdebatan yang sekarang berjalan di dunia. Mencari titik sustainability.

Nah, Lippo Village sendiri bagaimana? Sudah menerapkan eco-property di Indonesia?
Dalam konsep seperti itu, apalagi kita melihat 6,5 miliar, dan nantinya akan menjadi 10 miliar penduduk. Dan apa yang yang terjadi? Berarti semua yang ada ini harus melewati, dipikir kembali, dipikir ulang.

Kami sendiri, salah satu kegiatan besar adalah membangun kota baru. Lippo Karawaci salah satu kota baru yang kami bangun. Pada saat kami membangun kota baru, yang kami pikirkan adalah sustainability. Bagaimana kita bisa menciptakan, membangun suatu lingkungan hidup yang sangat baik, yang memadai, yang enak, tetapi yang sustainable, yang bisa berkelanjutan, dan juga yang bisa mengangkat environment di sekeliling kita, tidak menghancurkan.

Seperti kita lihat Lippo Village ini suatu perencanaan pembangunan kota yang kurang lebih 2.000 ha atau 20 km2. Berarti yang pertama itu adalah planning-nya. Planning-nya sudah harus mencerminkan suatu cita-cita, suatu mimpi yang sustainable. Financially juga sustainable.

Dengan demikian, kita melihat ada tempat-tempat yang harus green, tempat-tempat rekreasi, tempat-tempat public facilities, jalan yang memadai, jalan pun harus ada tempat untuk sepeda. Hal-hal seperti ini yang kita pikirkan. Tetapi lebih dari pada itu, tidak sekadar hanya membagi lahan sebagian untuk hijau, tapi yang lainnya tak ada hijaunya. Yang bukan hijau pun, umpamanya rumah, bagaimana untuk pembuangan kotoran, apakah itu cuma septic tank yang hanya ditanam di dalam tanah. Atau apa yang kita lakukan, yang kita lakukan kita punya central sewage system, yang semua kotoran dibuang ke pusat, lalu di sana diolah lagi , dijadikan eco-system yang ada di Lippo Village ini. (Robert Adhi Ksp) - Bersambung

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar