Rabu, 15 Desember 2010

Rumah Idaman “Fuji Image Plaza Dikonversi Jadi Gerai 7-Eleven” plus 2 more

Rumah Idaman “Fuji Image Plaza Dikonversi Jadi Gerai 7-Eleven” plus 2 more


Fuji Image Plaza Dikonversi Jadi Gerai 7-Eleven

Posted: 16 Dec 2010 04:13 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Gaya hidup instan mendorong kebutuhan makanan siap saji di tempat yang nyaman kian meningkat. Tren inilah yang membuat bisnis gerai kenyamanan alias convenience store menjamur. Melihat hal ini, PT Modern PutraIndonesia, operator 7-Eleven terus melancarkan ekspansi.

Sejak pertama kali buka akhir tahun 2009, kini 7-Eleven sudah memiliki 16 gerai di Jakarta. Yang tergres, 7-Eleven baru saja membuka gerai di Panglima Polim dan Senayan. Lim Djwe Khian, Direktur Pengelola Modern PutraIndonesia mengatakan, bisnis convenience store berkembang pesat seiring dengan gaya hidup instan.

Lim mengakui, sebagian besar pengunjung 7-Eleven ialah pelajar dan anak muda. "Namun belakangan, karyawan kantor dan eksekutif juga banyak yang datang untuk menikmati kopi di pagi hari," kata Lim, Senin (13/12).

Keseriusan Modern PutraIndonesia di bisnis convenience store ternyata tidak main-main. Meski baru seumur jagung, sepanjang tahun ini 7-Eleven berhasil mengumpulkan penjualan Rp 37,9 miliar. Pencapaian ini memberikan kontribusi 7,2 persen terhadap total penjualan induk usaha 7-Eleven, PT Modern Internasional Tbk yang sebesar Rp 522,2 miliar. Pencapaian ini turun 5,1 persen dari penjualan periode sama tahun 2009 yang sebesar Rp 550,3 miliar.

Di sisi lain, Modern Internasional juga tak pelit menggelontorkan duit untuk ekspansi 7-Eleven. Sepanjang sembilan bulan tahun 2010, Modern Internasional mengeluarkan beban pokok penjualan untuk produk 7-Eleven sebesar Rp 25,68 miliar.

Menjajaki lokasi baru

Tahun depan, 7-Eleven akan mempercepat penambahan gerai dengan menjajaki lokasi baru. "Penambahan gerai baru ini bisa di tanah milik sendiri, atau menyewa minimal 10 tahun, bisa juga mewaralabakan," kata Lim. Sayang, dia enggan membocorkan jumlah gerai yang akan dibuka tahun depan.

Yang jelas, Modern Internasional akan menggenjot bisnis 7-Eleven demi mengatasi bisnis lain perusahaan yang terus merosot. Selama ini Modern Internasional bergerak di bisnis distribusi fotografi, digital imaging, peralatan grafis, peralatan medis, office imaging, dan telekomunikasi.

Tahun ini, hanya bisnis peralatan medis, office imaging, dan 7-Eleven yang menunjukkan pertumbuhan. Maklum, perkembangan kamera digital membuat penjualan film dan kamera konvensional yang merupakan bisnis inti Modern terus melorot.

Mengatasi hal ini, perusahaan perusahaan akan menambah convenience store dengan cara mengkonversi toko Fuji Image Plaza dan Fuji Digital Imaging menjadi gerai 7-Eleven. "Selain itu, perusahaan juga akan menggabungkan bisnis photo imaging ke dalam gerai 7-Eleven," ujar Direktur Sekretaris Perusahaan Modern Internasional, Donny Sutanto dalam laporan keterbukaan publik.

Sementara untuk meningkatkan penjualan, perusahaan juga akan menambah jumlah dan jenis produk kompetitif. Selain itu, 7-Eleven juga akan menambah layanan bagi konsumen seperti paket hemat, serta menawarkan desain paket dan atribut yang unik. (Gloria Haraito/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Restoran Oenpao Buka Cabang ke-22

Posted: 15 Dec 2010 12:03 PM PST

KUTA, KOMPAS.com - Restoran Oenpao secara resmi membuka cabangnya yang ke-22 di Indonesia, yang terletak di Jalan Sunset Road Kuta, Kabupaten Badung, Bali. 

"Restoran Oenpao Sunset Road itu juga merupakan cabang ketiga yang ada di Pulau Dewata saat ini," kata Marketing Manager Oenpao Bali Rai Susilawati saat jumpa wartawan di Kuta, Rabu.

Rai menjelaskan, selain di Jalan Sunset Road, restoran yang menyajikan makanan khas Asia itu ada juga di dua lokasi lain yakni masih di wilayah Kuta dan Renon Denpasar.  Namun, saat ini salah satu restoran sedang tidak beroperasi karena hotel yang dijadikan tempat operasional juga dalam kondisi tutup.

Sementara Store Manager Oenpao Sunset Road Dede Rachman mengatakan, sebelum resmi dibuka restoran yang dikelolanya itu sudah beroperasi sejak 6 November yang mendapat respon cukup baik dari masyarakat. "Selama awal beroperasi sebulan yang lalu, respon masyarakat cukup tinggi, terbukti pada hari biasa jumlah pengunjung mencapai 110 orang," kata Dede.

Menurut Dede, jumlah pengunjung pada akhir pekan lebih banyak lagi dari hari biasa, yang jumlahnya sekitar 200 orang. Berdasarkan catatan pihaknya, yang mendominasi sebagai pengunjung di cabang restoran ke-22 itu adalah keluarga yang tinggal di sekitar Jimbaran, Denpasar dan Kuta. 

Selain mereka, ternyata 30 persen lebih dari pengunjung itu adalah wisatawan luar negeri yang berasal dari negara Eropa dan Australia. "Mereka cukup tertarik dengan makanan yang kami sajikan, karena selain lezat, juga kesehatannya dijamin sehubungan restoran ini menggunakan perlengkapan dapur yang modern dan bersih," ujar Dede.

Selain itu, kata Dede, setiap masakan yang disajikan terjamin tidak mengandung msg. Hal ini dapat dibuktikan setelah masakan yang dimakan tidak lengket di bibir.  Para pengunjung juga tertarik dengan suasana restoran yang sangat nyaman untuk melakukan apa saja, didukung dengan fasilitas parkir yang luas serta tempat bermain bagi anak berupa kolam renang.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

"Green Property" Kurang Dukungan Pemerintah

Posted: 15 Dec 2010 07:39 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Semangat untuk mewujudkan 'green property' dari pemerintah dinilai setengah-setengah. Pasalnya, tidak ada dukungan yang memadai dari pemerintah kepada para pengembang untuk sungguh-sungguh mewujudkan konsep hijau pada produk-produknya.

Pengajar Arsitektur Landscape Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan kurangnya dukungan pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat inilah yang menyebabkan juga nilai dari para peserta Green Property Awards 2010 menurun.

"Pengembang masih berupaya sendiri. Belum ada dukungan pemerintah untuk mewujudkan green property sehingga lebih lambat," ungkapnya di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (15/12/2010).

Nirwono mengatakan, pemerintah bisa memberikan dukungan melalui insentif kepada para pengembang yang sudah menerapkan standar konsep hijau pada produknya. Jadi, bukan melalui reward and punishment.

Pasalnya, ia menilai, para pengembang justru akan makin terpacu untuk memberikan hal yang terbaik untuk memperoleh insentif. Nirwono mencontohkan, Menteri Perumahan Rakyat bisa berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk bisa memberikan diskon pajak bumi dan bangunan kepada para pengembang yang tidak membangun perumahan di atas lahan gambut atau rawa.

Lalu, kementerian juga bisa bekerja sama dengan Kementerian ESDM untuk memberi insentif terhadap penggunaan solar bagi para pengembang di Depok yang menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu (sipesat).

"Pengembang dikasih insentif yang menarik. Enggak perlu dikasih aturan-aturan yang njlimet. Dia kan butuh kebebasan perizinan, bebas dari korupsi. Intinya dia bisa menghemat," tambahnya.

Nirwono mencatat, saat ini, baru 20 persen pengembang yang sungguh-sungguh menerapkan konsep green property. "Jangan langsung percaya pada kata-kata 'green'. Jangan langsung percaya. Cek siapa pengembangnya, cek ke lokasi juga," tambahnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar