Selasa, 21 Desember 2010

Rumah Idaman “Sektor Properti Masuki Tahap Pemulihan” plus 2 more

Rumah Idaman “Sektor Properti Masuki Tahap Pemulihan” plus 2 more


Sektor Properti Masuki Tahap Pemulihan

Posted: 22 Dec 2010 04:30 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam laporan akhir tahun 2010, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) mencermati kondisi sektor properti selama kurun dua tahun belakangan mulai memasuki tahap pemulihan, setelah terhempas krisis global pada tahun 2008 lalu.

"Pemulihan sektor properti ini terutama didukung oleh iklim ekonomi dalam negeri yang cukup stabil, sehingga kondusif bagi dunia usaha," kata Setyo Maharso, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (REI) dalam menyampaikan laporan akhir tahun di Senayan City, Jakarta, Rabu (22/12/2010).

Menurut Setyo, indikator ekonomi makro yang ikut mendukung bangkitnya sektor properti adalah nilai tukar rupiah rata-rata dan suku bunga.

"Nilai tukar rupiah rata-rata pada kisaran Rp 9.100 terhadap dollar, dan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (BI Rate) terkontrol meskipun ada kenaikan tingkat inflasi," kata Setyo

Menurut catatan REI, kata Setyo, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 yang mencapai angka 4,5 persen sudah membawa pasar properti menjadi stabil.

"Kini di tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,9 persen, tentunya ini sangat mempengaruhi pasar properti yang dirasakan oleh pengembang di seluruh Indonesia," ujarnya.

Untuk proyeksi tahun 2011 nanti, kata Setyo, merujuk prediksi Bank Dunia bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan mencapai 6,2 persen, tentunya akan menguntungkan sektor properti.

"Dengan prediksi ini, pasar properti Indonesia akan diincar investor asing, karena itu perlu memperbaiki regulasi kepemilikan asing yang belum kondusif" kata Setyo.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Pebisnis Indonesia Siap Tanam Investasi Hotel di Malaysia

Posted: 21 Dec 2010 01:11 PM PST

SURABAYA, KOMPAS.com - Pebisnis Indonesia siap menguasai pasar perhotelan Malaysia, menyusul upaya mereka mengikuti pameran internasional di Negeri Jiran pada tahun 2011.

Sebagai warga negara Indonesia, kami takkan gentar bersaing dengan Malaysia, termasuk memperluas pasar bisnis ini di sana.

-- Bambang Hermanto

"Sebagai warga negara Indonesia, kami takkan gentar bersaing dengan Malaysia, termasuk memperluas pasar bisnis ini di sana," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surabaya, Bambang Hermanto, di Rapat Kerja Cabang (Rakercab) PHRI Surabaya, Senin.

Menurut dia, PHRI juga sudah menyediakan anggaran khusus untuk segala pengeluaran selama berpartisipasi dalam pameran di Malaysia. "Untuk memberikan daya tarik bagi pengunjung di pameran tesebut, kami telah mempersiapkan para 'general manager', baik hotel bintang tiga, empat, maupun lima," ujarnya.

Ia menjelaskan, keikutsertaan di pameran tersebut juga membuktikan bahwa pebisnis hotel Indonesia khususnya dari Surabaya siap bersaing sehat di dunia perhotelan mancanegara. "Untuk itu, kami menjalin kerja sama dengan para 'general manager' hotel agar meningkatkan standardisasinya terutama dari sisi pelayanan," paparnya.

 Mengenai peningkatan standardisasi itu, ia mengaku, upaya tersebut sangat penting dijalani oleh segala kalangan pengusaha. "Tanpa adanya inovasi maka perkembangan bisnis seorang pengusaha hanya bergerak di tempat," katanya.

Selain itu, tambah dia, standardisasi dan peningkatan inovasi merupakan modal bagi para pengusaha menghadapi persaingan global yang kian ketat. "Apalagi, ke depan tenaga kerja asing misal dari Filipina dan Vietnam datang ke Indonesia dengan biaya tinggi. sehingga sejak dini para pebisnis hotel harus melakukan perubahan dan pembenahan," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Monorel Rawa Buntu BSD ke Bandara Soetta Butuh Rp 3 Triliun

Posted: 21 Dec 2010 12:29 PM PST

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com — Kepala Dinas Perhubungan dan Informasi Provinsi Banten Muhammad Husni Hasan menjelaskan, pembangunan monorel jurusan Rawa Buntu-Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan membutuhkan biaya Rp 2,5-Rp 3 triliun.

Monorel BSD-Bandara Soekarno-Hatta sepanjang 28 km melewati 14 selter, yaitu St Rawa Buntu, Griya Loka BSD, BSD Junction, WTC Serpong, Alam Sutera, Gading Serpong, Setos, Modernland, Stasiun Tangerang, Balaikota, Sekar Wangi, St Garuda, dan Terminal 1,2,3

"Perkiraan anggarannya Rp 2,5-Rp 3 triliun, dan dana tersebut tidak sepenuhnya berasal dari pemerintah pusat, melainkan juga dari pihak swasta dan pemda setempat," katanya di Tangerang, Selasa.

Ketika dikonfirmasi seusai ekspos pembangunan monorel bersama Komisi IV DPRD Provinsi Banten di Bumi Serpong Damai (BSD), Husni menjelaskan, dana pembangunan monorel tergantung hasil pembahasan, tetapi yang pasti tidak berasal dari satu sumber saja.

Pembahasan pra-rancangan monorel dimulai pada awal 2011 dengan melibatkan Pemerintah Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan yang akan dilalui jalur monorel itu. "Karena pembangunan melalui dua wilayah, maka akan ditangani langsung oleh Dishub Provinsi Banten," katanya menjelaskan.

Husni juga menjelaskan, pembangunan monorel ditujukan untuk mengurangi beban kemacetan di sekitar wilayah Serpong dan Rawa Buntu, yang saat ini ruas jalannya lebih dimonopoli oleh kendaraan pribadi, terutama roda dua.

Berdasarkan data Dishubkominfo Kota Tangerang Selatan, jumlah kendaraan yang melintas di Jalan Raya Serpong dalam satu jam mencapai 9.200 unit. "Kondisi lalu lintas di Serpong sudah sangat krusial sehingga perlu dilakukan tambahan transportasi, yakni dengan membangun monorel," katanya.

Keuntungan monorel yaitu mengurangi biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh warga. Sebab, untuk tiket perjalanan dari Rawa Buntu-Bandara Soekarno-Hatta hanya dikenakan sebesar Rp 20.000, dengan jumlah penumpang dalam setahun diprediksi 38 juta jiwa. "Untuk keuntungan dari jumlah penumpang diperkirakan bisa mencapai Rp 144 miliar per tahunnya sehingga sangat menguntungkan," katanya. 

Pembangunan monorel akan dimulai dari Stasiun KA Rawa Buntu, Serpong, hingga Bandara Soekarno-Hatta dengan jarak 28 kilometer. Rute yang akan dilewati monorel tersebut melewati 14 selter, yakni Stasiun Rawa Buntu, Selter Griya Loka (BSD), BSD Junction, WTC Serpong, dan Alam Sutera.

Kemudian, Gading Serpong, Serpong Town Square, Modernland, Stasiun Tangerang, Balaikota Tangerang, Sekar Wangi, Stasiun Garuda, dan Terminal 1, 2, dan 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Ada enam alasan Pemprov Banten memilih moda transportasi monorel itu, yakni pembebasan lahan tidak memerlukan biaya besar karena infrastruktur berada di atas jalan raya dan lebar Jalan Raya Serpong yang cukup lebar, yakni mencapai 30 meter.

Selanjutnya, dapat melibatkan pihak pengembang perumahan serta pengelola pusat perbelanjaan dan apartemen, dan arak tempuh sekitar 28 km yang hanya membutuhkan waktu singkat selama 20 menit.

Alasan lainnya, dapat dioperasikan oleh Pemprov Banten untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Kemudian, Jalan Raya Serpong yang panjangnya mulai dari Tol Taman Tekno hingga Alam Sutera BSD dengan jarak 14 km.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar