Senin, 06 Desember 2010

Rumah Idaman “WN Indonesia Pembeli Terbanyak Produk Properti Singapura” plus 2 more

Rumah Idaman “WN Indonesia Pembeli Terbanyak Produk Properti Singapura” plus 2 more


WN Indonesia Pembeli Terbanyak Produk Properti Singapura

Posted: 07 Dec 2010 12:31 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain sebagai surga belanja dan plesiran, Singapura pun menjadi tujuan investasi orang-orang berduit asal Indonesia. Tengok saja data Far East Organization pengembang properti terbesar asal Singapura ini. Jumlah konsumen Indonesia yang membeli produk properti mereka lebih besar ketimbang negara lainnya seperti China dan India.

Shaw Lay See Director Property Sales Far East Organization mengatakan, warga non-Singapura yang banyak membeli properti milik mereka adalah berkewarganegaraan Indonesia dan Malaysia. Detilnya, sekitar 27 persen pemilik properti di Singapura itu adalah Warga Negara Indonesia. Dan 27 persen lainnya berkewarganegaraan Malaysia dan sisanya dari negara-negara lainnya.

Warga non-Singapura yang banyak membeli properti milik Far East Organization adalah orang Indonesia dan Malaysia

Memang belum jelas total jumlah warga negara Indonesia yang membeli properti di perusahaan tersebut. Namun sebagai gambaran, Swanny Renata Hendrata Deputy General Manager Indonesia Representative Office Far East Organization mengatakan, untuk di kantor Jakarta saja penjualan tahun 2010 sudah mencapai 80 juta dollar Singapura. "Tahun ini sudah hampir tutup buku," ujarnya.

Far East yakin tahun depan, warga negara Indonesia masih tetap banyak yang berminat untuk membeli properti di negeri Merlion tersebut. Selain untuk investasi, banyak juga properti tersebut digunakan sebagai tempat tinggal lantaran saat ini tak sedikit anggota keluarga asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Singapura. (Lamgiat Siringoringo/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Sumut Diminta Bangun Tol Medan-Siantar

Posted: 07 Dec 2010 12:16 AM PST

MEDAN, KOMPAS.com - Keberadaan jalan tol Medan-Siantar dinilai perlu segera direalisasikan demi menunjang akses menuju objek wisata Danau Toba yang dalam beberapa tahun ini jumlah wisatawan yang berkunjung terus mengalami penurunan.

Jalan tol Medan-Siantar strategis menunjang pariwisata Sumut, terutama Danau Toba. Pemprov Sumut harus merealisasikannya.

-- Nuruddin Dalimunthe

"Keberadaan jalan tol Medan-Siantar cukup stragetis untuk menunjang kepariwisataan di Sumut. Jadi saya pikir pemerintah perlu memikirkan untuk membuat jalan tol ini," kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Utara Nuruddin Dalimunthe di Medan, Senin.

Menurut dia, selain dapat kembali menggairahkan dunia kepariwisataan, keberadaan jalan tol tersebut juga dapat menunjang akses perekonomian masyarakat.

Intinya, lanjut dia, pengembangan kepariwisataan tidak bisa hanya dilakukan Disbudpar semata, namun juga harus didukung instansi dan pemangku kepentingan lainnya lainnya termasuk Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan agen-agen travel. "Seperti misalnya pembangunan infrastruktur menuju objek-objek wisata. Ketika jalan menuju objek wisata tidak baik, tentunya ini akan menjadi kendala bagi kita untuk mendatangkan wisatawan," katanya.

Menurut dia, jika jalan tol Medan-Siantar itu nantinya jadi dibangun, maka selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah membuat "cabel car" dari Siantar menuju Parapat, Danau Toba. Karena, lanjut dia, membuat "cabel car" tersebut tidaklah sulit asalkan ada dananya dan ini tentunya juga dalam rangka menunjang kepariwisataan di Danau Toba.

"Di Eropa 'cabel car' tersebut sudah bukan barang modern lagi dan sudah dianggap hal yang biasa-biasa saja," ujarnya.

Selain itu, kata dia, ada beberapa pemikiran yang saat ini coba ia godok, yakni bagaimana membuat objek wisata kembar Pulau Bali dan Danau Toba. Bali luar biasa dengan budaya masyarakatnya sedangkan Danau Toba sangat luar biasa dengan keindahan alamnya.

"Danau Toba tidak hanya milik bangsa Indonesia tapi juga milik dunia. Kemungkinan untuk lebih mengenalkan Danau Toba di mata internasional saat ini cukup terbuka dengan telah dibangunnya Bandara Silangit di dekat danau itu. Sekarang bagaimana kita mengemasnya dengan sebaik-baiknya," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

FLPP KPR Sebaiknya Untuk Bank Pemberi KPR

Posted: 07 Dec 2010 12:07 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk berharap dana program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) diprioritaskan untuk bank pemberi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kalau kita mau bunga rendah, tentunya kita mendukung agar pengelolaan FLPP juga diberikan kepada bank yang memberi kredit KPR.

-- Iqbal Lantaro

"Kalau kita mau bunga rendah, tentunya kita mendukung agar pengelolaan FLPP juga diberikan kepada bank yang memberi kredit (KPR)," kata Direktur Utama Bank BTN, Iqbal Latanro di Jakarta, awal pekan ini.

Namun, tegasnya, hal itu jangan diartikan bahwa bank pemberi kredit KPR selama ini seperti BTN ingin memonopoli. "Kalau (dianggap) mendominasi, itu karena infrastruktur kita memang sudah siap," katanya.

"Idealnya bank penyalur kredit KPR, mendapatkan dana yang lebih besar dibanding bank yang tidak menyalurkan," katanya pada Media Business Talk "Mendorong Percepatan Program FLPP untuk Suksesnya Pembangunan Perumahan ke Depan" oleh Forum Wartawan Perumahan Rakyat, beberapa hari lalu.

Dengan demikian, tegasnya, ada insentif bagi bank tersebut untuk menyalurkan KPR, khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). "Kalau BTN punya dana lebih banyak, ekspansi kredit tentu akan lebih besar," katanya.

Data Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), program FLPP yang digelar sejak 1 Oktober 2010 ini, akan menggunakan dana APBN sebesar Rp2,6 triliun. Dua bank yang sudah komit menyalurkannya adalah PT BTN Tbk senilai Rp1,7 triliun dan sisanya akan disebut-sebut akan dibagi dengan 5-6 perbankan lainnya.

Dua bank yang sudah menandatangani nota kesepahaman adalah BTN dan BNI. BTN sudah terlihat ke publik penyalurannya via FLPP, sedangkan BNI belum.

Bahkan, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa pada kesempatan yang sama, menyebutkan, sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga disebut-sebut berminat.

Iqbal melanjutkan, pihaknya juga menduga pemerintah akan menempatkan dana FLPP juga kepada bank yang tidak menyalurkan KPR.

Oleh karena itu, kata Iqbal, pihaknya berharap, jika ada dana FLPP tidak dipakai, maka sebaiknya dana itu ditempatkan di Bank BTN. "Tentu, kita bisa menyesuaikan dengan bunga pasar yang ada, misalnya bunga pasar di bank lain lima persen, kita juga siap," katanya.

                                                       Realisasi KPR      
Menyinggung realisasi penyeluaran KPR Sejahtera dengan pola FLPP hingga Oktober 2010, Iqbal mengatakan, pihaknya telah menyalurkan KPR Sejahtera 2.735 unit dengan nilai KPR sebesar Rp133,6 miliar.

Untuk KPR sederhana sehat (KPRSH), sebanyak 2.810 unit dengan nilai KPR sebesar Rp128, 2 miliar. "Hingga Oktober ini, masih lebih banyak debitur dengan memanfaatkan pola lama (subsidi selisih bunga, red) dibanding pola FLPP," katanya.

Hal itu karena pola lama hingga akhir tahun ini masih berlaku, konsumen masih banyak yang sulit sediakan dana uang muka sebesar 10 persen, kendala melengkapai NPWP dan SPT, PPN harga jual rumah di atas Rp55 juta dan terbatasnya penyediaan rumah siap pakai.

Pola FLPP dipatok bunga kreditnya di bawah satu digit selama masa cicilan. Untuk KPR Rumah Sejahtera Tapak plafon kreditnya hingga Rp80 juta, sedangkan untuk rumah susun hingga Rp135 juta.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar