Senin, 20 September 2010

Rumah Idaman “Grup Surya Semesta Bangun Vila Mewah di Bali” plus 2 more

Rumah Idaman “Grup Surya Semesta Bangun Vila Mewah di Bali” plus 2 more


Grup Surya Semesta Bangun Vila Mewah di Bali

Posted: 21 Sep 2010 03:34 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pada semester I-2010, kinerja PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) kurang menggembirakan. Untuk menebusnya, SSIA bakal menggenjot kinerja di semester II ini, lewat penjualan kawasan industri dan vila mewah.

Sekretaris Perusahaan SSIA Utari Sulistiowati menjelaskan, sejak awal tahun, SSIA telah memulai pembangunan 73 vila mewah di kawasan Ungasan, Bali. Saat ini, sekitar 50 vila telah selesai dibangun. Adapun, 23 lagi diperkirakan selesai akhir tahun ini.

SSIA berniat menjual seluruh vila tersebut. Bahkan, kini sebagian telah terjual ke sejumlah investor. Pun begitu, pengelolaan vila tetap berada di tangan anak usaha SSIA, PT Sitiagung Makmur. Dari sini, Sitiagung mendapat bagi hasil 60 persen sedangkan pemilik vila mendapat 40 persen. "Tingkat okupansi vila yang sudah beroperasi sekitar 70 persen," klaim Utari.

Harga vila-vila mewah tadi bervariasi, tergantung jenis dan luas bangunan. Untuk vila satu kamar dengan luas bangunan 430 meter persegi (m2), SSIA mematok harga US$ 1,1 juta. Adapun, vila dua kamar seluas 570 m2 dilego seharga US$ 1,6 juta. Yang paling mahal, vila tipe tiga kamar seluas 1.200 m2 dibanderol US$ 4,6 juta.

Pada separuh kedua tahun ini, SSIA juga berharap bisa menjual lahan seluas 15 hektare (ha) di kawasan industrinya di Karawang, Jawa Barat. "Penjualan kawasan industri di kuartal ketiga dan keempat cenderung naik," tutur Utari.

Selama enam bulan pertama 2010, PT Suryacipta Swadaya, anak usaha SSIA yang mengelola kawasan industri ini, berhasil menjual lahan seluas 12,9 ha. Dengan penjualan ini, Suryacipta menjadi kontributor utama pendapatan SSI pada semester I lalu.

Kawasan industri Suryacipta berdiri di atas lahan seluas 1.400 ha. Di sana, beberapa pabrik besar sudah beroperasi, seperti pabrik sepeda motor merek TVS dan ban Bridgestone.

Untuk mempertebal fulus, SSIA masih menunggu realisasi proyek tol Cikampek-Cirebon. Lewat anak usahanya, PT Nusa Raya Cipta (NRC), pemilik hotel Grand Melia ini mengincar kontruksi sebagian ruas tol ini. Jika tak ada kendala, konstruksi tol ini bakal dimulai pada kuartal IV.

Pada semester I lalu, kinerja SSIA masih mengecewakan. Di samping pendapatan turun 2,17 persen dari Rp 766,3 miliar menjadi Rp 749,6 miliar, laba bersihnya juga terpangkas 26,34 persen dari Rp 20,5 miliar menjadi Rp 15,1 miliar.

Penyebab utamanya adalah merosotnya pendapatan pada kuartal I-2010. Sementara pada kuartal II, kinerja perusahaan jauh lebih baik. Pada tiga bulan pertama 2010, SSIA hanya mengantongi pendapatan Rp 325,4 miliar dengan rugi bersih Rp 4 miliar.

Pada kuartal kedua tahun ini, SSIA meraih pendapatan sebesar Rp 424,2 miliar atau naik 15,08 persen daripada pendapatan kuartal II-2009 sebesar Rp 368,6 miliar. Alhasil, SSIA mampu meraih laba bersih sebesar Rp 19,1 miliar. (Kun Wahyu Winasis/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Pembangunan Mal Taman Ria Senayan Berlanjut?

Posted: 20 Sep 2010 11:22 AM PDT

Rencana Taman Ria Senayan. Namun proyek ini akhirnya gagal setelah DPR, DPRD DKI dan Pemprov DKI Jakarta menolak pembangunan mal di kawasan tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Plang disegel yang terpampang di kawasan Taman Ria Senayan tak menyurutkan niat pengembang dan operator untuk tetap melanjutkan proyek ini. Sejak disegel, praktis tak ada kegiatan konstruksi yang berlangsung di lokasi yang bertetanggaan dengan gedung MPR-DPR itu. Tapi yang jelas, Nio Yantony, Direktur Utama PT Pikko Group menegaskan bahwa pihaknya akan konsisten melanjutkan proyek tersebut.

"Kami sedang urus izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Setelah izin keluar, kami akan bangun dan jualan," ujar Nio. Saat ini Pikko tengah menunjuk pihak konsultan independen untuk terus memproses izin amdal. Kata Nio, ada beberapa hal yang mesti diperbaiki atau disediakan untuk memperoleh izin amdal itu.

Seperti diketahui, kawasan seluas 10 hektare (ha) ini akan dikembangkan menjadi taman jajanan. PT Ariobimo Laguna Perkasa akan bertindak sebagai pengembang. Sebagai pengelola, Ariobimo menggandeng PT Lippo Karawaci Tbk dan Pikko Group dengan pemasar PT Procon Indah Indonesia.

Nio mengatakan, sebetulnya izin Amdal hampir keluar sebulan silam. Namun, penolakan DPR akan pembangunan kawasan Taman Ria membuat izin urung keluar. "Izin Amdal yang tadinya cuma butuh waktu pengurusan dua bulan, jadi enam bulan," lanjut Nio. Padahal menurutnya, tak ada hal yang dilanggar dalam mengembangkan kawasan itu. Toh, sebelumnya lokasi tersebut pun menjadi tempat komersial, bukan kebun atau hutan kota.

Dalam pengembangan pun, Nio memastikan bahwa 90 persen dari kawasan itu akan berupa lahan terbuka berupa tanah dan danau yang bisa menjadi area penyerapan air. Melihat izin Amdal yang tak juga keluar, Nio meramal izin bakal keluar dalam waktu enam bulan pengurusan, atau jatuh pada awal tahun depan. Setelah itu, Ariobimo akan meneruskan pembangunan lahan yang sudah rata tanah itu.

Nio menjelaskan, proyek Taman Ria menelan dana sekitar Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar. Pembangunan Taman Ria akan berlangsung dua tahun dan ditargetkan beroperasi awal tahun 2013. (Gloria Haraito/KONTAN)

Tak ada hal yang dilanggar dalam mengembangkan kawasan itu. Toh, sebelumnya lokasi tersebut pun menjadi tempat komersial, bukan kebun atau hutan kota.

-- Nio Yantony

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Jasa Marga Diversifikasi Usaha, Dalami Bisnis Properti

Posted: 20 Sep 2010 09:08 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Jasa Marga Tbk akan mencoba membuka usaha baru di bidang properti dalam upaya diversifikasi usaha, karena perkembangan bisnis tersebut di dalam negeri dapat memberikan andil cukup besar.

PT Jasa Marga akan membuka usaha di bidang properti, namun usaha tersebut masih dalam proses perundingan dan perhitungan dengan memperhatikan kondisi pasar.

-- Frans S Sunito

Dirut PT Jasa Marga Tbk, Frans S. Sunito, kepada pers pada penerbitan obligasi di Jakarta, Senin mengatakan, perseroan akan membuka usaha di bidang properti, namun usaha tersebut masih dalam proses perundingan dan perhitungan dengan memperhatikan kondisi pasar.
"Kami masih belum dapat memberikan kepastian berapa jauh kegiatan ini sudah dilakukan, namun pada saatnya nanti akan diberitahukan," ucapnya.

Perseroan, lanjut dia, kemungkinan akan membuat anak perusahaan untuk mengelola bisnis properti itu dan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain agar bisnis tersebut dapat berkembang dengan baik. "Karena bisnis inti perseroan saat ini adalah jalan tol yang memerlukan perhatian lebih serius," ucapnya.

Dana bisnis properti itu, menurut dia, akan diperoleh dari penjualan obligasi senilai Rp1,5 triliun, karena sekitar 25 persen dari dana itu untuk membuka usaha lainnya selain properti.
"Kami akan melakukan usaha properti dengan serius, "ujarnya.

Ditanya mengenai usaha fibre optik, menurut dia, juga masih merupakan usaha baru yang masih dalam proses. Perseroan dalam hal ini akan melakukan kerjasama dengan perusahaan terkemuka di dalam negeri, PT Telkom yang saat ini masih dalam proses, katanya.

Mengenai akuisisi, ia mengatakan, juga masih dalam proses perundingan, dan penelitian.
"Kami akan melakukan akuisisi terhadap perusahaan yang memiliki sinergi sama dalam upaya mendorong peningkatan kinerja Jasa Marga agar lebih baik lagi," ucapnya.

Ditanya mengenai traffic arus mudik 2010, menurut dia mengalami kenaikan sebesar 3,68 persen dibanding arus mudik yang terjadi pada tahun lalu. "Namun arus balik ke Jakarta, justru mengalami penurunan, akibat libur panjang, karena arus balik masyarakat dilakukan tidak serempat," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar