Jumat, 03 September 2010

Rumah Idaman “Jamsostek Jabar-Banten Alokasikan Bantuan Perumahan Rp 30 Miliar” plus 2 more

Rumah Idaman “Jamsostek Jabar-Banten Alokasikan Bantuan Perumahan Rp 30 Miliar” plus 2 more


Jamsostek Jabar-Banten Alokasikan Bantuan Perumahan Rp 30 Miliar

Posted: 03 Sep 2010 11:21 AM PDT

BANDUNG, KOMPAS.com - Kanwil IV PT Jamsostek (Persero) Jawa Barat dan Banten mengalokasikan Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) termasuk bagi bantuan pinjaman uang muka perumahan kerja sama dengan bank (PUMP-KB) senilai Rp30 miliar pada 2010.

"Bantuan uang muka perumahan digulirkan, namun baru 40 persen yang terserap," kata Kepala Kanwil IV PT Jamsostek (Persero) Jabar dan Banten, Enda Ilyas Lubis di Bandung, Kamis. Menurut Ilyas, kendala penyaluran PUMP-KB terbentur regulasi dari perbankan antara lain syarat yang memberatkan peserta serta minimal gaji di atas UMK dan biaya administrasi pengurusan PUMP-KB.

"PT Jamsostek sendiri mensyaratkan upah sampai dengan maksimal Rp5 juta," katanya.
Untuk penyaliran PUMP-KB, Jamsostek bekerja sama dengan sejumlah bank antara lain BTN, Syariah Mandiri, BNI, Bank DKI, BPD Bali. "Khusus untuk dana hibah senilai Rp8 miliar terserap sekitar 40 persen. Program ini merupakan kegiatan CSR perseroan," katah Ilyas.

Selain itu, Dana PUMP-KB dari Jamsostek juga dapat dimanfaatkan untuk pinjaman renovasi rumah (PRR) maksimal sebesar Rp30 juta per tenaga kerja dengan syarat aktif Jamsostek selama lima tahun, upah maksimal Rp15 juta, jangka waktu pinjaman 10 tahun. Sedangkan untuk membantu sektor ril, Jamsostek Jabar dan Banten juga mengalokasikan Program Kemiteraan dan Bina Lingkungan senilai Rp10,63 miliar. "Saat ini realisasinya baru 15 persen," katanya.

Sedangkan pada penyaluran dana hibah kemitraan berupa pendidikan dan pelatihan, pemasaran dan promosi, pemagangan dan penelitian. "Hibah bina lingkungan juga digulirkan, tahun 2010 senilai Rp1,57 miliar. Antara lain melalui program pelestarian alam, sarana umum dan bantuan bencana alam," kata Ilyas Lubis menambahkan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Pembangunan JORR2 Kebon Jeruk-Ulujami Dipercepat

Posted: 03 Sep 2010 08:43 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan Jakarta Outer Ring Road West (JORR W) 2 belum selesai. Wakil Presiden (Wapres) Boediono akan mempercepat pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kebon Jeruk-Ulujami itu.

Untuk mempercepat pembangunan jalan tersebut, Wapres akan mengadakan rapat pembahasan dengan berbagai pihak seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto, pihak Jasa Marga. Rencananya, pembahasan itu dilakukan paling lambat setelah Lebaran usai.

Masalah yang akan dibahas adalah pembebasan tanah untuk sisa 7 kilometer jalur JORR W2 yang belum selesai. Gubernur DKI Fauzi Bowo berjanji akan menuntaskan pembebasan tanah secepat mungkin.

-- Yopie Hidayat

"Untuk membantu Gubernur DKI Jakarta, Wapres akan mengadakan rapat khusus," ujar Juru bicara Wapres Yopie Hidayat, di Istana Wakil Presiden, Jumat (3/9).

Yopie mengatakan, masalah yang akan dibahas adalah pembebasan tanah untuk sisa 7 kilometer jalur JORR W2 yang belum selesai. Menurut Yopie, Gubernur DKI Fauzi Bowo berjanji akan menuntaskan pembebasan tanah secepat mungkin.

Salah satunya dengan melakukan konsinyasi atau menitipkan uang ganti kerugian di pengadilan. Dengan begitu, masalah ganti kerugian terhadap tanah-tanah di wilayah itu bisa segera rampung. "Karena kalau JORR tembus, maka lalu lintas dari bandara ke kawasan industri ke wilayah selatan, ke Bandung enggak perlu lewat tengah kota," imbuhnya.

Sebelumnya, seusai rapat di Istana Wapres Kamis (2/9) lalu, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan proses pembangunan 7 Km JORR W2 akan dilakukan setelah pembebasan tanah rampung. "Nanti habis Lebaran kita bahas dengan Pak Gubernur, setelah pembebasan selesai baru bisa kami kerjakan," katanya. (Hans Henricus/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Soetjipto Nagaria: Summarecon Sukses Berkat Komitmen dan Fokus

Posted: 03 Sep 2010 07:07 AM PDT

KOMPAS.com – Nama Summarecon tak bisa terlepas dari nama Soetijpto Nagaria (70), sang pendiri dan pemilik perusahaan pengembang properti terkemuka di Indonesia.

Summarecon bisa seperti sekarang ini karena punya komitmen pada konsumen, memperhatikan konsumen, dan fokus pada usaha properti.

-- Soetjipto Nagaria

PT Summarecon Agung Tbk adalah pengembang yang sukses mengubah rawa-rawa menjadi pusat hunian dan bisnis modern di Kelapa Gading. Bahkan kini Summarecon sukses berekspansi ke Serpong – Tangerang, Banten, dan Bekasi, Jawa Barat. Apa yang dijual Summarecon selalu dicari.

Dalam perjalanan waktu 35 tahun Summarecon Agung berkiprah dalam dunia properti, Soetjipto Nagaria meyakini satu prinsip, yaitu komitmen.

"Komitmen pada konsumen sangat penting. Kalau kami janji akan selesai pada bulan Oktober, kami tepati janji itu. Kalau konsumen ada masalah, kami berusaha membantu. Kepercayaan konsumen pada Summarecon, itu yang terpenting. Ini kami bangun selama bertahun-tahun," ungkap Soetjipto Nagaria dalam percakapan dengan Kompas.com.

Soetjipto Nagaria mengenyam pendidikan dari TK sampai SMA Pahoa di daerah Kota, Jakarta Barat. Setelah itu, Soetijpto masuk ke Teknik Kimia ITB Bandung. Setelah lulus dari ITB tahun 1964, Soetjipto sempat bekerja di pabrik cat, tapi hanya satu bulan. 

Karena ayahnya pengusaha bahan bangunan di daerah Kota, Soetijipto muda pun berusaha mendirikan perusahaan sendiri. Akhir tahun 1960, bersama beberapa temannya, Tjip membeli tanah dan membangun rumah-rumah di kluster tidak terlalu luas di Tebet, Kemang, Cipete, semuanya di Jakarta Selatan.

Tahun 1975, keluarga Soetjipto Nagaria bersama dua keluarga membangun Summarecon di Kelapa Gading, yang sebelumnya merupakan rawa-rawa. Tahun 1992, keluarga Soetjipto pemegang saham terbesar perusahaan ini setelah satu keluarga keluar. Nama Summarecon berasal dari dua kata yaitu summa yang artinya puncak dan recon yang berasal dari real estate corporation.

Soetjipto Nagaria yang pernah mengenyam pendidikan di Pahoa di daerah Kota, kemudian bersama alumni Pahoa lainnya, membangun sekolah Pahoa di Summarecon Serpong. Sekolah ini trilingual, murid di sana diajarkan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. "Saya terkesan dengan sistem pengajaran di Pahoa," kata Soetjipto Nagaria, yang memiliki hobi membaca buku, terutama cerita silat Kho Ping Hoo dan buku riwayat orang terkenal.

Berikut ini wawancara eksklusif Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Soetjipto Nagaria, Chairman dan owner PT Summarecon Agung Tbk di kantornya di Plaza Summarecon Kelapa Gading Jakarta, Selasa (31/8/10) petang.

Setelah sukses di Kelapa Gading, Summarecon merambah Serpong dan Bekasi. Apa yang dijual, selalu laris. Apa sebenarnya rahasia Summarecon?
Satu hal yang paling mendasar adalah komitmen. Jadi kalau kami sudah membuat komitmen dengan pembeli, kami konsisten menjaga komitmen itu. Dengan demikian orang tahu betul jika kami buat janji, kami akan tepati janji.

Di samping itu, perusahaan ini bisa berkembang karena kultur perusahaan yang baik. Perusahaan tak bisa maju jika kultur perusahaan kurang baik. Jadi mesti sinkron.

Untuk mencapai target, kami mencari panutan yang bisa dicontoh. Antara lain grup perusahaan Mirvac dari Australia, dan Sun Hung Kai dari Hong Kong. Dua pengembang properti ini setiap kali me-launching produk baru, banyak yang antre. Kami belajar dari mereka sejak 10-20 tahun lalu.

Bahkan dalam situasi ekonomi yang tidak terlalu bagus pun, produk mereka di area yang sama tetap dapat dijual dengan mudah, malah dengan harga relatif tinggi.

Kami juga berusaha bagaimana agar produk yang dijual, juga antre dibeli. Bagaimana caranya? Kami mesti tanya mereka. Setelah belajar, kami paham kiatnya, dan hasilnya ya seperti sekarang ini. Ternyata Summarecon bisa seperti Mirvac dan Sun Hung Kai.

Di Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia), rating Summarecon A. Pefindo adalah lembaga resmi yang mengontrol dan menilai semua perusahaan yang akan menerbitkan obligasi. Summarecon adalah satu-satunya perusahaan properti di Indonesia yang mendapat rating A. Sebelumnya kami A-, sekarang kami bisa naik jadi A.

Tentu saja kami bangga dengan penilaian Pefindo ini. Summarecon bisa mencapai rating ini karena manajemen keuangan yang tertib. Kalau perusahaan utangnya segunung, tentu tak seimbang. Kalau ada apa-apa, daya tahan kurang. Jika misalnya perusahaan banyak utang, lalu penjualan mandeg, perusahaan pasti langsung hancur. Jadi pemberian rating ini tidak sembarangan.

Kami konsisten, termasuk dalam soal mutu. Jika ada kontraktor kami membangun rumah dan setelah rumah diserahkan ke pembeli, tak ada komplain. Kontraktor kami menuju zero complaint. Tidak mudah mendapatkan ini, tapi kami usahakan dengan cara memberi insentif kepada kontraktor.

Kalau Anda tanya mengapa banyak pembeli yang rela antre untuk membeli produk Summarecon, tentu bukan semata-mata karena iklan di koran. Pembeli sekarang sudah lihai-lihai. Mereka mencari tahu kredibilitas pengembang lebih dahulu, baru memutuskan membeli.

Kultur perusahaan seperti apa yang dikembangkan? Aspeknya cukup luas. Dari tingkat pimpinan, manajemen sampai staf dan pegawai harus mengikuti aturan berlaku. Bawahan harus melakukan apa yang disampaikan pimpinan, dan pimpinan harus mampu melaksanakan teori-teori manajemen. Continuous changing. Semua butuh improvement. Dan ini tak bisa dengan hanya bicara, tanpa pelaksanaan. Omong sih gampang, tapi bagaimana untuk mencapai target?

Ribuan karyawan Summarecon melangkah dengan satu irama. Mereka diberi frame, diminta ikut seminar-seminar, dan diajak ke kota lain dan melihat perusahaan lain.

Summarecon menerapkan aturan secara ketat, apa yang boleh dan tidak boleh. Kultur perusahaan ini dibentuk bukan dalam waktu satu-dua bulan, tapi perlu waktu relatif lama. Jumlah karyawan Summarecon yang tersebar di tiga lokasi, Kelapa Gading, Serpong, dan Bekasi, mencapai 3.000-an harus memahami kultur perusahaan.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan karyawan di Summarecon?
Ini soal kultur perusahaan. Pertama tentu soal kepribadian. Contoh dalam urusan keluarga. Kalau ada karyawan yang kelakuannya nggak bener, misalnya ada peliharaan di luar, kami tak kasih toleransi.

Belum lagi dalam urusan pekerjaan, misalnya menerima komisi. Kami tak mengizinkan karyawan melakukan itu. Contoh karyawan membeli barang, lalu dapat sesuatu dari supplier, itu tabu di perusahaan ini.

Kami juga tak pernah mengulur-ulur pembayaran kepada kontraktor. Kapan mesti bayar, kami bayar. Jika misalnya telat, mesti jelas alasannya. Sebaliknya kami tak toleran pada kontraktor yang main gila, umpamanya kualitas kabel atau pipa yang rendah.

Ini salah satu yang saya bilang, inilah kultur perusahaan. Ada yang pengembang yang baru bayar enam bulan ke depan, padahal seharusnya dalam dua minggu. Uangnya diputar dulu. Itu kultur perusahaan lain yang tak baik.

Summarecon ingin melakukan hal-hal terbaik. Kami yakin jika kami melakukan hal yang baik, kami juga akan menerima hal yang baik.

Soal proyek baru Summarecon di Bekasi. Seperti apa wajah Summarecon Bekasi kelak?
Proyek Summarecon Bekasi berada di dalam kota Bekasi. Dekat dengan Jakarta. Jadi ini salah satu penyangga kota Jakarta. Penduduknya dan industri di Bekasi juga sudah maju.

Kami sudah punya tanah di sana sudah cukup lama, sejak tahun 1980-an. Sekarang kami menganggap waktunya sudah tiba. Tanah kami di sana sekitar 250-an hektar, dan bisa dikembangkan menjadi 300 hektar. Kami lihat posisinya strategis.

Jika Anda tanya mengapa Summarecon Bekasi juga tetap laris manis. Saya pikir calon pembeli juga melihat produk kami sebelumnya di Kelapa Gading dan Serpong. Calon pembeli juga akan melihat komitmen tinggi pengembang. Dan Summarecon selalu menepati janji dan juga selalu memperhatikan konsumen.

Kami bukan pengembang yang setelah menjual rumah, lalu meninggalkan begitu saja. Jadi orang beli rumah, daerah sekitarnya tidak diurus. Sampah, lanskap tak ada yang mengatur sehingga lingkungan yang tak nyaman. Kondisi begini yang menyebabkan harga rumah tidak naik.

Sebaliknya, jika lingkungan dibuat rapi dan nyaman, tentu teman dan keluarga akan beli rumah di sana juga. Dan kalau semua berpikir hal yang sama, harga rumah di sana akan naik.

Lokasi Summarecon Bekasi dekat dengan kawasan komersial lainnya, sehingga kami membuat rencana bahwa sepertiganya akan berupa daerah komersial. Summarecon Bekasi bisa menjadi sentra ekonomi baru. Di sini nanti bukan hanya ruko, tapi juga ada trade center, dan gedung perkantoran dengan skala yang lebih kecil.

Kami juga merencanakan membangun pusat perbelanjaan atau mal, yang akan beroperasi pertengahan tahun 2012. Mal ini dibangun dalam dua tahap. Dan tahap pertama yang akan selesai pertengahan tahun 2012.

Jadi konsep Summarecon Bekasi berbeda dengan Summarecon Serpong dan Kelapa Gading. Kalau Kelapa Gading sudah jelas, dulu rawa-rawa, istilahnya tempat jin buang anak. Jadi bagaimana bisa bikin mal? Demikian juga di Serpong. Kami bangun perumahan dulu, baru mal.

Di Bekasi berbeda. Lokasi Summarecon Bekasi berada di pusat kota. Jadi kami membangun mal lebih dulu. Di sekitar lokasi kami sudah ada perumahan lain, juga mal lain jaraknya tak terlalu jauh. Jadi bukan terpencil lokasinya. Kami membayangkan Summarecon Bekasi akan berkembang lebih cepat, antara 5 tahun dan 10 tahun.

Di Summarecon Serpong, apa proyek baru yang digarap?
Kami sedang mempersiapkan Summarecon Mal Serpong atau dikenal dengan nama SMS tahap II. Di sini, kami usahakan memasukkan tenant dengan jenis bervariasi. Juga tenant-tenant yang sudah punya nama, demikian halnya brand –brand high-end.

Di SMS tahap pertama, mungkin brand-brand ternama merasa belum yakin. Setelah mereka lihat SMS tahap I selalu ramai, mereka masuk di SMS tahap II. Posisi SMS ada pada kelas menengah.

Bagaimana Summarecon bisa membuat SMS hidup dengan cepat, sementara lokasinya relatif jauh dari Jakarta?
Mal itu bisa ramai antara lain kalau penyewa yang baik juga banyak. Para pemilik toko yang sukses di Kelapa Gading menaruh kepercayaan pada Summarecon, sehingga mereka tak ragu membuka di mal Serpong. Ini kait-mengait.

Kalau reputasi pengembang jelek, tentu orang tak mau masuk. Sebab untuk buka gerai baru di mal kan perlu modal. Orang harus bayar DP, bikin dekorasi, bayar gaji karyawan dan lainnya. Kalau dia punya keyakinan tak bakal rugi buka di Summarecon Mal Serpong, tentu dia akan buka gerainya.

Dan saya ingin tekankan kembali, terhadap penyewa mal pun, kami punya komitmen, punya perhatian. Jadi kalau kami sudah janji pada para penyewa bahwa ongkos sewa tak akan naik selama dua tahun, ya kami tepati tidak naik. Atau kami janji berikan enam bulan free charge, ya kami tepati janji itu. Dan kalau penyewa menghadapi kesulitan, kami akan perhatikan.

Kalau misalnya, jenis usaha yang sama sudah ada dua atau tiga di mal, kami akan hentikan jenis usaha serupa. Tapi kalau masih bisa sampai empat atau lima jenis usaha yang sama, ya kami tetap terima. Kami tak mau ada banyak telur, tapi akhirnya semua rugi dan saling mematikan.

Kami selalu memperhatikan penyewa, bagaimana kami bisa menciptakan keramaian di mal sehingga banyak orang datang. Kami adakan pertunjukan musik sehingga orang ramai datang ke mal. Jadi penyewa percaya pada Summarecon.

Kalau mereka menyewa gerai di mal, kami tidak bikin mereka jadi mati. Ketika mereka untung, kami tidak menaikkan ongkos sewa semau-maunya, tetapi sewajarnya sehingga orang yakin bisa make money jika buka gerai di mal ini. Kita hidup di dunia ini harus win-win. Masak hanya kami yang dapat untung, penyewa yang buntung? Kalau demikian, siapa yang mau?

Mungkin saya rasa, dengan dasar kebijakan seperti inilah, para penyewa percaya pada Summarecon.

Pak Soetjipto pernah mengatakan bahwa suatu hari kawasan Serpong akan menyatu. Antara wilayah pengembang satu dengan lainnya akan saling melengkapi. Bagaimana Pak Tjip melihat wajah Serpong?
Menurut saya, wajah Serpong semakin bagus. Anda lihat saat ini di Serpong dan sekitarnya, ada proyek pengembang besar di Indonesia. Ada BSD City, Summarecon, Alam Sutera, Paramount, Lippo Village, dan Modernland. Banyak pengembang besar berkumpul di sana.

Serpong dari tahun ke tahun makin maju, terutama dua tahun terakhir ini, properti mengalami booming. Setelah pemerintah menurunkan bunga KPR, kondisi properti semakin baik. Efeknya bagus sekali. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia makin bagus, sekitar 6 persen. Ini terlihat dari maraknya penjualan rumah dan ramainya mal.

Apalagi sekarang ada Universitas Multimedia Nusantara atau UMN milik Grup Kompas Gramedia di Serpong. Kami jual lahan dengan harga relatif murah, dan Kompas membangun kampus. Dampaknya bagus bagi penjualan rumah di Serpong. Ini win-win dan sinergi.

Saya berpendapat, dengan berkumpulnya pengembang besar di Serpong, akan menghidupkan kawasan ini. Saya kasih contoh, dulu di Pintu Kecil, toko tekstil ngumpul di sana. Ternyata orang yang datang makin ramai. Memang ada juga yang bangkrut, tapi yang make money lebih banyak. Itulah dunia usaha.

Dan pendapat saya, Serpong adalah kawasan properti terbagus di Jabodetabek. Antara satu pengembang dan pengembang lainnya di Serpong melakukan sinergi dan saling melengkapi. Lama-lama secara alamiah kawasan ini akan menyambung jadi satu. Rencana pemerintah membangun akses jalan juga sudah ada. Jadi Serpong lama kelamaan akan menyambung menjadi satu wilayah yang tertata rapi.

Ada proyek baru Summarecon di Kelapa Gading?

Kami baru saja menjual Grand Orchard, sambungan kawasan Kelapa Gading. Banyak orang pikir Grand Orchard terpisah, tapi sebetulnya masih menyambung. Luasnya sekitar 50 hektar. Di sana ada kluster Royal Orchard, di mana orang bisa membeli kavling dari 300 m2 sampai 1.000 m2, dan membangun sendiri. Jumlahna 300 kavling. Sedangkan di kluster lainnya, Ebony dan Clover, kami menjual produk rumah seluruhnya 600 unit.

Selain itu, kami juga sedang membangun gedung perkantoran yang diberi nama Menara Satu setinggi 11 lantai di Kelapa Gading. Rencananya BCA akan mengambil 6.000 m2 untuk regional office di wilayah Jakarta Utara-Timur. Di Kelapa Gading saja, jumlah kantor cabang BCA ada tujuh sampai delapan. Dan asal Anda tahu, sejak dulu, Kelapa Gading terkenal dengan jumlah angka deposito tertinggi di seluruh Indonesia.

Setelah itu, kami akan membangun apartemen di tiga sampai empat lokasi di Kelapa Gading. Salah satu di antaranya konsepnya mix-used development, di bawah apartemen, ada kawasan komersial.

Ada rencana Summarecon melakukan ekspansi ke luar Jabodetabek?
Di daerah, kami sudah punya rencana tapi belum final. Karena itu belum bisa saya sebutkan sekarang. Tapi sudah ada rencana ke arah sana.

Kami juga mulai mengakuisisi proyek properti lain, misalnya proyek yang tersendat-sendat, kami ambil alih.

Apakah Summarecon juga akan bermain di lahan di bawah 100 hektar?
Kalau kita main properti, pasti arahnya ke sana juga. Zaman dulu tanah masih luas. Tapi sekarang, polanya sudah berbeda.

Summarecon akan masuk ke lahan-lahan 50 hektar sampai 100 hektar. Kami sadar bahwa luas lahan tidak lagi seperti dulu, bisa dapat ratusan hektar sekaligus. Dan polanya bisa saja kerja sama atau kami beli tanahnya.

Saat ini dua putra Pak Soetjipto Nagaria, yaitu Herman dan Sugianto ikut terlibat dalam bisnis properti Summarecon. Apakah Pak Tjip tetap mempercayakan bisnis ini pada profesional?
Jumlah profesional di Summarecon banyak. Peranan keluarga Nagaria saat ini masih cukup kuat, tapi tidak seperti dulu lagi. Ketika saya memulai bisnis ini, tentu peran keluarga sangat kuat. Saya turun tangan sendiri memimpin Summarecon. Sekarang jumlah profesional sudah banyak yang bisa mengurus Summarecon.

Herman mengurus properti, sedangkan Sugianto mengurus mal, urusan dengan para penyewa. Tapi CEO tetap profesional.

Ada rencana Summarecon melakukan diversifikasi usaha, selain properti?
Sampai saat ini kami rasa kami tetap fokus ke bisnis properti. Apa yang kami lakukan terkait dengan bisnis properti. Jadi kalau Anda tanya apa kiatnya sehingga calon pembeli antre panjang? Saya rasa kami tidak terlalu macam-macam. Kami melakukan hal yang dasar, yaitu kami fokus pada bisnis properti. Dengan fokus pada bisnis properti, hasilnya bisa lebih baik. Otak kita kan satu, kalau diversifikasi usaha, nanti malah nggak terpegang.

Jadi Summarecon bisa seperti sekarang ini karena kami punya komitmen pada konsumen, selalu memperhatikan konsumen, dan fokus pada usaha properti. Semua hal yang dasar, bukan hal yang besar, akan tetapi jika dilakukan dengan benar, hasilnya akan besar.

Kelapa Gading seringkali menjadi korban banjir. Banyak rumah dan tempat usaha yang terendam banjir. Tapi mengapa Kelapa Gading tetap ramai dan masih dicari konsumen?
Sejak Banjir Kanal Timur atau BKT berfungsi, Kelapa Gading sudah mulai aman dari banjir. Tapi kalau 100 persen bebas dari banjir, tidak juga lah. Singapura saja, yang sistem drainasenya sudah baik, tetap kebanjiran. PM Singapura tak bisa menjamin Singapura aman dari banjir. Apalagi dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah seperti saat ini.

Nah, tadi Anda tanya, dulu banjir sering merendam Kelapa Gading tapi mengapa makin banyak orang tinggal di Kelapa Gading. Ya, Kelapa Gading pernah mengalami banjir besar tahun 2002 dan 2007. Saat kebanjiran, penghuni rumah langsung menyatakan akan pindah. Setelah banjir surut, pemilik rumah ditanya agen properti, apakah mereka akan pindah. Ternyata mereka menjawab tidak, padahal banyak yang antre mau beli rumah mereka.

Saya pikir setelah kebanjiran berulang kali, mereka mau menjual rumah dengan harga murah. Ternyata tidak. Mereka mungkin berpikir banjir tidak terjadi setiap tahun, dan mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini.

Meski dicap sering kebanjiran, namun harga kavling Summarecon di Kelapa Gading tertinggi di Jakarta, yaitu Rp 22 juta per meter persegi. Dibandingkan dengan kavling di Bukit Golf Pondok Indah, harga kavling di sini lebih mahal. Perbandingannya estate dengan estate, jadi bukan dengan rumah tua di Menteng, yang bisa mencapai Rp 30 juta/m2.

Luas Pondok Indah 400 hektar, sedangkan Kelapa Gading mendekati 600 hektar. Di Bukit Gading Villa, Kelapa Gading, ada empat kluster yaitu Kintamani, Kuta, Sanur, dan Tampaksiring. Harga terakhir per Juli 2010 sekitar Rp 22 juta per meter persegi. Sedangkan harga di Bukit Golf Pondok Indah sekitar Rp 20-jutaan per meter persegi.

Memang setelah banjir, harga kavling di Bukit Gading Villa turun. Tapi belakangan ini, harganya malah naik dan lebih tinggi dari Pondok Indah.

Tahun ini Pak Tjip berusia 70 tahun, dan Pak Tjip masih terlihat sehat dan bugar. Apa rahasianya?
Saya mengutip kata-kata mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew yang mengatakan pada usia lanjut, lansia harus banyak berolah raga dan banyak aktivitas termasuk aktivitas menjalankan bisnis.

Tahun ini usia saya masuk 70 tahun. Untuk bisa bekerja seperti dulu, nggak mungkin. Saya ini masuk semi-pensiun, tapi masih aktif dalam urusan bisnis dan masih ada aktivitas.

Saya masih suka bermain tenis dan berenang. Setiap hari saya masih melakukan senam pernafasan chi kung di rumah. Zaman sekarang usia mencapai 70 tahun sampai 80 sudah umum. Ini berbeda dengan masa 40 tahun lalu, di mana saat itu usia 70 sudah dianggap tua.

Apa filosofi hidup Pak Tjip?
Saya berprinsip, saya mesti belajar sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh, dan berusaha menjadi seorang yang berguna bagi masyarakat. Saya mesti berbuat sesuatu yang berguna dalam masyarakat.

Saya adalah bagian dari masyarakat. Jika selama ini usaha saya sudah cukup, saya rasa saya harus mengembalikannya kepada masyarakat juga. Maka dalam 10 tahun belakangan ini, saya berusaha bagaimana Summarecon bergerak juga ke aktivitas sosial. Saya bersama istri aktif di Yayasan Budha Tzu Chi, lembaga kemanusiaan dari Taiwan dengan basis Budha, tapi dalam aktivitas sosial, lembaga kemanusiaan ini melibatkan relawan dari lintas agama dan bangsa.

Banyak yang sudah dilakukan untuk masyarakat. Seperti misalnya membangun perumahan di Cengkareng di dua atau tiga tempat. Dan di satu tempat saja, ada 1.000 rumah yang dibangun. Mereka yang menghuni adalah orang-orang yang kena gusur di tepian Kali Angke sehingga Kali Angke kini terlihat bersih. Penghuninya ditampung di Perumahan Cinta Kasih. Mereka membayar sewa tapi jumlahnya kecil sekali. Anak-anak tetap bisa sekolah dengan tertib. Pertumbuhan mereka bagus. Inilah usaha kami lewat Tzu Chi.

Kami juga membangun sekitar 2.500 rumah korban tsunami Aceh. Perumahan ini dinilai oleh PBB, perumahan yang bagus di Aceh.

Di sekitar Kelapa Gading, kami melakukan perbaikan 200-an rumah. Kami tidak asal perbaiki, tapi kami sekalian membangun rumah penduduk. Tapi hanya penduduk yang sah yang punya surat.

Kami juga membantu pondok pesantren di Pondok Cabe. Kami bangun asrama untuk ribuan anak yatim piatu. Kami membantu tanpa melihat suku dan agama. Summarecon memberikan bantuan melalui Tzu Chi. Kami sadar CSR sangat penting dilakukan oleh perusahaan seperti Summarecon. (Robert Adhi Ksp)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar