Rabu, 13 Juli 2011

Rumah Idaman “Hushhh... Ini Ruang Tamu, Bukan Taman Bermain!” plus 2 more

Rumah Idaman “Hushhh... Ini Ruang Tamu, Bukan Taman Bermain!” plus 2 more


Hushhh... Ini Ruang Tamu, Bukan Taman Bermain!

Posted: 13 Jul 2011 11:50 AM PDT

KOMPAS.com - Mengubah warna cat dapat memperbarui tampilan ruang tamu atau rumah Anda secara keseluruhan. Namun, sebelum memulai mengutak-atiknya dengan warna baru, ada baiknya mempelajari terlebih dulu padanan warna secara umum.

Anda sebaiknya memang mengetahui lebih dulu bermacam warna lengkap dengan turunannya. Hal ini akan memudahkan Anda memilih kombinasi warna yang tepat sehingga rumah tidak terlihat terlalu berwarna, bak taman bermain anak.

Warna utama

Pilih satu warna yang menjadi warna utama sebagai warna paling mencolok di antara warna lainnya. Ini akan menjadi identitas di ruang tamu Anda, sehingga tampak kesinambungan antara ruangan satu dengan yang lain.

Warna Pembangkit Suasana

Pilihan warna juga bisa digunakan untuk membangkitkan suasana di ruang tamu. Warna kuning, misalnya. Di ruang makan, warna ini akan menimbulkan suasana yang ceria.

Sementara itu, Anda bisa memilih warna biru di kamar tidur dapat membangkitkan suasana tenang. Khusus di ruang tamu, tentu saja pilihannya adalah warna-warna yang bisa membangkitkan keakraban dan memberi kesan bagi tamu Anda untuk betah berlama-lama di ruangan ini (Warna Ruang Tamu dan Simbol Kepribadian Anda).

Teori 60-30-10

Ada baiknya Anda mencoba Teori 60-30-10 ini, yaitu teori komposisi warna dalam suatu ruangan. Yaitu, 60 persen untuk warna utama, 30 persen warna kombinasi, dan komposisi 10 persen untuk warna sentuhan atau kombinasi lain. Hanya, perlu diingat, jangan biarkan tren dekor menyetir Anda. Tetaplah sesuaikan warna cat dengan kebutuhan serta keadaan rumah Anda.

Komposisi 10 persen itu misalnya, Anda bisa gunakan untuk menyelipkan warna-warna yang tengah menjadi tren saat ini. Tapi, jangan lupa, tetap cirikan pribadi Anda melalui kombinasi pilihan warna yang anda terapkan.

Nah, selamat menikmati hasil karya Anda! (M10-11/KUN AGUNG)

(Sumber: hgtv.com)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Rumahkan saja Rakyat, Tak Perlu Tarik-Menarik!

Posted: 13 Jul 2011 10:47 AM PDT

Oleh BM LUKITA GRAHADYARINI

KOMPAS.com - Aturan tentang kepemilikan apartemen bagi warga asing kembali menuai perdebatan hangat dalam perumusan rancangan Undang-Undang tentang Rumah Susun. Perdebatan itu bahkan memicu molornya penyelesaian RUU Rusun yang disusun pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Wacana pengaturan hunian vertikal oleh warga asing dalam RUU Rusun itu berangkat dari keyakinan, bahwa kepemilikan properti komersial tersebut akan menggairahkan industri properti di Tanah Air. Masalah utama aturan kepemilikan hunian vertikal oleh asing bersumber pada status kepemilikan berupa hak pakai dan jangka waktu kepemilikan selama 25 tahun dan dapat diperpanjang.

Aturan itu dianggap tak menarik bagi investasi. Sebabnya, proyek apartemen dan kondominium umumnya dibangun di atas tanah hak guna bangunan (HGB). Dampak aturan itu, apabila pengembang membangun apartemen atau kondominium dengan alas HGB, maka orang asing akan sulit membeli. Sebaliknya, kalau kepemilikan properti di atas hak pakai, konsumen lokal yang enggan membeli.

"Aturan seperti ini sangat menghambat iklim investasi," tutur seorang pengembang kawakan.

Belakangan, tak ada kata sepakat antara DPR dan pemerintah terkait pengaturan hunian vertikal bagi warga asing. Di kalangan Panitia Kerja DPR untuk RUU Rusun, bahkan muncul pro dan kontra terkait perlu atau tidaknya aturan kepemilikan hunian vertikal bagi asing diadopsi dalam undang-undang.

Panitia Kerja DPR untuk RUU Rusun menuding pemerintah lamban dalam menghasilkan rumusan final ketentuan hunian vertikal bagi warga negara asing. Namun, pemerintah berpendapat, rumusan final itu harus disusun selaras dengan Undang-Undang Pokok Agraria. Padahal, UU Pokok Agraria masih perlu direvisi.

Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa bahkan mengaku lebih setuju jika aturan kepemilikan apartemen bagi warga asing tidak dimasukkan dalam RUU Rusun. Pembenahan aturan cukup dilakukan melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kepemilikan Tempat Tinggal oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia.

Faktanya, sejak pemerintah menggulirkan rencana revisi PP Nomor 41 Tahun 1996 pada 2010, hingga kini draf revisi itu belum tuntas. Satu hal yang sudah pasti, pengaturan hunian vertikal bagi warga asing menjadi isu sensitif di tengah krisis rumah rakyat.

Hingga 2010 lalu, kekurangan rumah rakyat telah mencapai 13,6 juta unit. Angka ini jauh melebihi angka kekurangan rumah pada 2009 sebanyak 8,2 juta unit.

Pengaturan kepemilikan properti asing seharusnya tidak perlu berbuntut tarik-menarik kepentingan. Bangsa ini punya masalah yang lebih mendesak, yakni merumahkan rakyat secara layak.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Sebaiknya, Jangan Terlalu Mengandalkan AC....

Posted: 13 Jul 2011 10:28 AM PDT

shutterstock

Banyak orang menganggap, menggunakan AC adalah jalan terbaik untuk menghindari cuaca panas. Padahal, kenyataannya tidak begitu.

iDEA Online

Kurangi radiasi matahari yang langsung ke dalam ruang tamu Anda dengan menanam pohon dekat jendela ruang tamu Anda.

KOMPAS.com - Dalam merancang ruang tamu Anda perlu lebih cermat untuk menciptakan udara segar dengan konsep hemat energi. Sirkulasi udara segar sangat dibutuhkan di musim pancaroba seperti saat ini.

Banyak orang menganggap, menggunakan AC adalah jalan terbaik untuk menghindari cuaca panas. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Anda bisa mencoba konsep yang lebih alami untuk ruang tamu Anda yang hemat energi. Berikut caranya:

Pertama, kurangi radiasi matahari yang langsung dari ruang tamu Anda dengan menanam pohon dekat jendela ruang tamu Anda. Selain itu, usahakan agar ruang tamu berada di bawah atap, atau antara penutup atap dan langit-langit diberikan ventilasi semaksimal mungkin. Ini dilakukan agar udara panas yang ada di bawah penutup atap dapat dialihkan keluar.

Usahakan agar udara segar terus-menerus mengalir di dalam rumah. Ini bisa Anda siasati dengan ventilasi udara secara silang.

Satu hal yang harus Anda hindari adalah penempatan ruang tamu pada sisi barat. Karena, di sisi ini radiasi matahari cenderung tinggi di siang dan sore hari.

Untuk itu pula, ada baiknya warna cat di luar ruang tamu Anda menggunakan cat berwarna gelap atau hitam karena bisa mamantulkan radiasi matahari hingga 70-90 persen, sementara  udara didalam ruangan tamu tetap dingin. Sebaliknya, di dalam ruang tamu Anda sebaiknya menggunakan cat berwarnah cerah atau perpaduan beragam warna sesuai keinginan Anda.

M Ridwan Kamil, arsitek ternama Indonesia pernah mengatakan, "Semakin banyak radiasi yang dipantulkan oleh permukaan cat, ruangan belakang dinding bisa lebih dingin".

Selain itu, Anda sebaiknya meminimalkan penggunaan materai keras, seperti beton, aspal, atau seng di sekitar rumah Anda. Hal ini agar tingkat radiasi matahari tidak akan menaikkan suhu udara di sekitar rumah Anda.

(M11-11/M ISWANDHI BADILLAH)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar