Minggu, 24 Oktober 2010

Rumah Idaman “Bank Syariah Kian Agresif Garap KPR” plus 3 more

Rumah Idaman “Bank Syariah Kian Agresif Garap KPR” plus 3 more


Bank Syariah Kian Agresif Garap KPR

Posted: 25 Oct 2010 03:32 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembiayaan perbankan syariah ke sektor properti (KPR syariah) tergolong masih kecil. Statistik Bank Indonesia menunjukkan, per September 2010, porsi pembiayaan KPR syariah sekitar Rp 1,2 triliun atau 1,8 persen dari total pembiayaan bank syariah yang senilai Rp 61 triliun.

Pembiayaan perbankan syariah ke sektor properti (KPR syariah) masih kecil. Statistik Bank Indonesia menunjukkan, per September 2010, porsi pembiayaan KPR syariah Rp 1,2 triliun atau 1,8 persen dari total pembiayaan bank syariah Rp 61 triliun

Kendati masih mini, sejumlah bank syariah makin getol menggarap KPR syariah. Usaha Syariah (UUS) Permata Bank misalnya, hingga akhir kuartal III-2010 menyalurkan pembiayaan Rp 300 miliar. Jumlah tersebut mencapai 75 persen dari target 2010. "Kekurangan sekitar Rp 100 miliar akan kami kejar pada kuartal IV ini," kata Achmad Permana, Head Permata Bank Syariah, di sela-sela Real Estate Expo 2010 di Jakarta.

Penyaluran pembiayaan rumah Permata Syariah ini terbantu produk baru yang meluncur pertengahan tahun 2009 silam. Produk berkonsep Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT) atau sewa beli ini sudah mencatatkan outstanding sekitar Rp 75 miliar. Jumlah itu memang baru seperempat dari total KPR Permata Syariah, tapi trennya terus naik.

Konsep IMBT memungkinkan bank yang membiayai KPR menyewakan kepada nasabah. Pada akhir masa sewa, nasabah bisa mengambil alih kepemilikan tersebut. Pola ini memberikan keleluasaan jangka waktu pinjaman hingga 20 tahun. Jelas, ini lebih fleksibel dibanding KPR berakad murabahah atau jual beli yang umumnya 10 tahun.

BRI Syariah juga menjadikan KPR Syariah sebagai ujung tombak penyaluran pembiayaan. Hingga pekan pertama Oktober, anak usaha Bank BRI ini sudah menyalurkan KPR senilai Rp 905 miliar. "Di Januari lalu posisi penyaluran KPR kami sekitar Rp 300 miliar," ujar Direktur Bisnis BRI Syariah Ari Purwandono.

Tahun ini, BRI Syariah menargetkan penyaluran KPR mencapai Rp 1 triliun. BRI Syariah mampu menggenjot penyaluran KPR syariah dengan menggandeng Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) dan Real Estate Indonesia (REI).

Di BNI Syariah, outstanding KPR syariah sudah mencapai Rp 1,47 triliun. Angka ini merupakan 81,66 persen dari target sebesar Rp 1,8 triliun hingga akhir 2010. (Fransiska Firlana/KONTAN)

 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Pasokan Baru Kondominium Tumbuh Pada Kuartal IV 2010

Posted: 25 Oct 2010 03:25 AM PDT

 JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang kuartal III-2010 pasokan baru kondominium strata title sebanyak 158 unit, atau menurun 87,62 persen dibandingkan dengan periode sama tahun 2009. Lembaga riset Coldwell Banker Commercial mencatat, pasokan baru ini berasal dari area sekunder, yakni The Mansion Kemang.

Hingga kuartal IV-2010 pasokan kondominium akan terus mengalami pertumbuhan 10 persen- 15 persen. Kami melihat tren penyerapan kondominium akan tumbuh didorong oleh KPR yang rendah.

-- Dwi Novita Yeni

Pasokan baru di kuartal tiga membuat total pasokan kodominium mencapai 70.738 unit. Sebanyak 16.498 unit berasal dari kawasan primer central business district (CBD) dan 54.240 unit berasal dari kawasan sekunder.

Dwi Novita Yeni, Wakil Presiden dan Konsultasi Coldwell menjelaskan, gelontoran kredit pemilikan rumah (KPR) dan apartemen (KPA) yang berkisar 9 persen -10 persen berdampak positif pada permintaan kondominium di Jabodetabek. Alhasil, penyerapan kondominium mencapai 2.121 unit; berasal dari 358 unit yang sudah eksis dan 1.763 unit yang masih dibangun. "Ini membuat tingkat penyerapan di kuartal III-2010 mencapai 76,94 persen," ujar Dwi.

Penyerapan ini juga didukung oleh harga jual kompetitif. Coldwell mencatat, sepanjang kuartal tiga harga rata-rata kondominium sebesar Rp 11,7 juta per meter persegi (m2), atau turun 0,96 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Di area primer central business district (CBD), harga kondominium mencapai Rp 11,1 juta-Rp 23,5 juta per m2. Sementara di area sekunder harga kondominium berkisar Rp 5,8 juta-Rp 15,6 juta per m2.

Tapi pengembangan kondominium tak mandek begitu saja. Di kuartal II tahun ini, pengembang banyak membangun kondominium di area sekunder seperti Green Central dan Pasar Baru Mansion dan diharapkan kelar tahun 2012.

Tumbuh pada Kuartal IV

Dini melihat, hingga kuartal IV-2010 pasokan kondominium akan terus mengalami pertumbuhan 10 persen- 15 persen. "Kami melihat tren penyerapan kondominium akan tumbuh didorong oleh KPR yang rendah," terang Dwi. Di sisi lain, pengembang juga semakin pede membangun kondominium di tengah perekonomian tumbuh positif.

Data yang dilansir oleh Coldwell menunjukkan, hingga tahun 2011 mendatang, pasokan baru apartemen banyak menyasar segmen menengah dan bawah. Coldwell memperkirakan ada sekitar 25.857 unit pasokan baru yang akan dalam dua tahun ke depan.

Selain apartemen strata title, pasokan apartemen sewa juga mengalami penurunan 26,97 persen. Di periode ini pasokan mencapai 118 unit, di mana 58 unit berasal dari area primer dan 60 unit berasal dari area sekunder. "Kami melihat tingkat okupansi meningkat 1,31 persen menjadi 72,79 persen," terang Dwi. Khusus di area primer CBD, okupansi mencapai 76,60 persen, atau tumbuh 0,96 persen dibandingkan kuartal lalu. Adapun penyerapan di area sekunder tumbuh 0,78 persen menjadi 74,31 persen.

Kondisi ini diikuti oleh harga sewa apartemen yang stabil. Untuk apartemen sewa di kawasan primer, harga sewa mencapai US$ 7,22-US$ 28,02 per m2 per bulan. Sementara di area sekunder, harga sewa berkisar US$ 6,24-US$ 26,81 per m2 per bulan. Cowell juga melihat apartemen sewa akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan apartemen strata title.

Budhi Gozali, Direktur The St Moritz Penthouse & Residences mengakui, tren permintaan apartemen yang positif di masa mendatang. Itu sebabnya, St Moritz terus mengebut pembangunan pondasi menara apartemen keempatnya, The New Royal. Oktober lalu, proses piling alias penancapan tiang pancang sudah mencapai 50 persen.

"Kami menargetkan akhir bulan ini The New Royal selesai," tutur Budhi. Setelah itu, St Moritz akan menempuh tahap penggalian selama tiga bulan. Baru awal tahun depan St Moritz akan mulai tahap pembangunan St Moritz hingga tahun 2013.

The New Royal merupakan apartemen 37 lantai dengan total 197 unit. Juli lalu, The New Royal sudah merampungkan penjualan tahap satu sehingga penjualan mencapai 100 unit, atau sekitar 60 persen. Saat ini The New Royale tengah memasuki penjualan tahap dua sebanyak 40 unit. (Gloria Haraito/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Operator Tol Jakarta-Merak Raih Rp 300 Miliar Kuartal III 2010

Posted: 25 Oct 2010 03:11 AM PDT

BOGOR, KOMPAS.com - Hingga September 2010, operator jalan tol PT Marga Mandalasakti (MMS) membukukan pendapatan 70 persen -75 persen dari target yang ditargetkan sepanjang tahun 2010 ini sebesar Rp 400 miliar. Dus, dalam sembilan bulan pertama, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini mampu menumpuk pundi-pundi sebesar Rp 300 miliar.

Marga Mandalasakti (MMS) merupakan operator jalan tol Jakarta-Merak sepanjang 72,45 km

MMS merupakan operator jalan tol Jakarta-Merak sepanjang 72,45 km. "Traffic juga meningkat sekitar 6 persen dari tahun lalu menjadi 82.000 per hari," kata Presiden Direktur MMS Wiwiek D Santoso, akhir pekan lalu.

Untuk mendongkrak pendapatan, tahun depan MMS akan melakukan pelebaran jalan tol tersebut. Jika yang tadinya dua jalur menjadi tiga jalur di masing-masing ruas, baik dari arah Jakarta ke Merak maupun sebaliknya.

Nah, untuk pelebaran jalan itu, MMS sudah menganggarkan dana Rp 2,7 triliun. MMS juga tengah melakukan perbaikan yang sudah dilakukannya sejak 2008 lalu. Total dana yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 767 miliar. "Tahun ini diperkirakakan 70 persen rampung," imbuh Wiwiek. (Amalia Putri Hasniawati/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Grup Ciputra Lebarkan Sayap, Bangun Perumahan di 4 Kota

Posted: 25 Oct 2010 03:02 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Ciputra Grup akan melebarkan sayapnya untuk menggarap proyek-proyek perumahan baru di lima kota besar di Indonesia. Di antaranya, dua di Semarang, satu di Denpasar Bali, Kendari, dan Yogyakarta.

Akhir tahun 2010 ini, kami menggarap lima proyek baru kami yang berada di Bali, Kendari, Semarang dan Yogyakarta.

-- Sutoto Yakobus

"Akhir tahun ini, kami memang sedang menggarap lima proyek baru kami yang berada di Bali, Kendari, Semarang dan Yogyakarta," terang Direktur PT Ciputra Surya Tbk, Sutoto Yakobus.

Untuk menggarap lima proyek tersebut, Ciputra harus merogoh koceknya sebesar Rp 1,5 triliun. Investasi paling besar adalah untuk perumahan di Semarang; yaitu mencapai Rp 700 miliar. Untuk luas areal 18 hektare (ha), membutuhkan Rp 300 miliar, dan 30 ha butuh Rp 400 miliar ha.

Untuk proyek perumahan yang berlokasi di Kendari, nilainya mencapai Rp 250 miliar. Sedangkan proyek perumahan di Bali, nilainya mencapai Rp 350 hektare. Untuk Kendari dan Bali, masing-masing luas areal lahannya mencapai 15 ha dan 18 ha. Sementara itu, untuk proyek di Jogja dengan luas areal 10 ha diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 200 miliar.

Untuk menggarap proyek ini, Ciputra menggandeng beberapa perusahaan lokal sebagai mitra kerjanya. "Karena pembebasan lahan saat ini sudah sangat sulit, maka dalam mengembangkan proyek baru, kami akan menggandeng mitra lokal yang sudah memiliki bank tanah," terang Sutoto.

Sayangnya, Direktur PT Ciputra Surya, Nanik Santoso enggan menyebutkan siapa mitra lokal yang mereka incar. "Nanti sistem bagi hasilnya fifty-fifty," kata Nanik.

Dengan mengembangkan lima proyek properti tersebut, Sutoto berharap omset Ciputra akan terkerek naik sebesar Rp 250 miliar per tahun dari omset saat ini sebesar Rp 500 miliar hingga Rp 600 miliar per tahun.

Omset ini didapatkan dari proyek Citraland Surabaya sebesar Rp 225 miliar, The Taman Dayu Rp 50 miliar, Ciputra World Rp 55 miliar, Bukit Palma Rp 40 miliar, Citra Harmoni Rp 50 miliar, Citra Garden Rp 50 miliar, proyek Ambon sebesar Rp60 miliar dan terakhir proyek Manado sebesar Rp 70 miliar.

"Kami berharap, mulai dua tahun yang akan datang, sumbangan 5 proyek baru ini akan mencapai Rp 250 miliar miliar per tahun atau sebesar Rp 50 miliar per proyek," terangnya.

Kembangkan di luar Jawa

Wakil Direktur Jones Lang LaSalle Indonesia Djodi Trisusanto menjelaskan, masih banyak pasar properti yang bisa digarap di luar Jakarta khususnya luar Pulau Jawa. Kecuali, jika pengembang tersebut memiliki bank tanah yang mencukupi. Di Jawa, kini tak mudah untuk mendapatkan lahan; bandingkan dengan di luar Pulau Jawa, masih banyak lahan yang dapat digarap untuk sektor properti.

Wilayah yang menjadi primadona untuk pasar perumahan adalah, Bali dan Batam. Bali sebagai tempat wisata, pasti akan banyak memicu permintaan untuk hunian tempat tinggal, baik hotel atau perumahan; sedangkan Batam yang berdekatan dengan Singapura membuat properti di Batam juga ikut tumbuh.

"Bali dan Batam masih akan menjadi sasaran lokasi untuk properti. Sedangkan wilayah lain seperti Lombok, masih berpotensi untuk tumbuh namun tidak sekarang, mungkin dalam 2 hingga 3 tahun ke depan. (Fitri Nur Arifenie/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar