Kamis, 28 Oktober 2010

Rumah Idaman “Siloam Hospital Menangkan Penghargaan Global” plus 3 more

Rumah Idaman “Siloam Hospital Menangkan Penghargaan Global” plus 3 more


Siloam Hospital Menangkan Penghargaan Global

Posted: 29 Oct 2010 04:18 AM PDT

Grup layanan kesehatan dunia Frost & Sullivan dari Amerika Serikat telah memberikan penghargaan Frost & Sullivan Healthcare Services Provider of the Year 2010 for Best Practices kepada Siloam Hospitals Group (Siloam).

LIPPO VILLAGE, KOMPAS.com - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada hari ini mengumumkan bahwa grup layanan kesehatan dunia Frost & Sullivan dari Amerika Serikat telah memberikan penghargaan  Frost & Sullivan Healthcare Services Provider of the Year 2010 for Best Practices kepada Siloam Hospitals Group (Siloam).

Penghargaan yang prestisius ini merupakan pengakuan atas keunggulan Siloam dalam perawatan klinis, proses inovasi, kepemimpinan dalam nilai pelanggan (customer value), penetrasi pasar dan strategi pertumbuhan.

Penghargaan ini diberikan kepada Siloam Rabu (27/10/10) di Hotel Mandarin Oriental Jakarta.

Didirikan tahun 1996, Siloam Hospitals Group merupakan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh LPKR dan merupakan kelompok rumah sakit swasta terbesar dan paling menonjol di Indonesia, dengan memiliki jaringan empat rumah sakit umum dan rumah sakit spesialis di Jakarta dan Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia.

Siloam melayani masyarakat kelas menengah Indonesia dan memiliki lebih dari 2.000 dokter, perawat dan tenaga medis yang melayani lebih dari satu juta pasien setiap tahunnya.

Siloam terkenal dengan keunggulan medis dan klinis. Rumah sakit utamanya merupakan rumah sakit internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia dan juga satu dari dua puluh rumah sakit di Asia Tenggara yang mendapat akreditasi dari Joint Commission International (JCI) dari Amerika Serikat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengumumkan bahwa hanya rumah sakit yang mendapat akreditasi dari JCI yang diijinkan untuk menggunakan nama 'Rumah Sakit Internasional". Akreditasi JCI merupakan pengakuan dunia untuk kualitas dan standar pelayanan kesehatan berskala internasional di industrinya.

Siloam sedang bersiap untuk membuka rumah sakit kelima, The Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) pada pertengahan Desember 2010. Rumah sakit baru ini juga akan merupakan rumah sakit pengobatan kanker terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia.

Siloam merupakan satu-satunya kelompok rumah sakit yang terintegrasi dengan riset (melalui Mochtar Riady Institute of Nanotechnology – MRIN) dan pendidikan (melalui Universitas Pelita Harapan - Medical School and School of Nursing) untuk memberikan perawatan mutakhir melalui penelitian dan pasokan sumber daya manusia yang penting bagi pengembangan rumah sakit yang ada serta ekspansi di masa mendatang. Semua rumah sakit Siloam dilengkapi dengan peralatan tercanggih dan memiliki kerjasama dengan lembaga bereputasi internasional untuk memberikan perawatan klinis modern dan evidence based.

CEO Siloam, Dr Gershu Paul, senang dengan penghargaan yang diterima dan mengatakan, "Tujuan kami adalah membuat layanan kesehatan berkualitas global tersedia bagi seluruh rakyat Indonesia. Kami bersikeras bahwa kualitas layanan klinis adalah yang terbaik di Indonesia dan memenuhi standar internasional. Masyarakat Indonesia sekarang mulai percaya bahwa kami dapat melakukannya dan mereka sekarang memiliki pilihan yang lebih baik daripada berobat ke Singapura atau Australia. Hal ini adalah baik bagi negara. Saat ini kami ingin meningkatkan untuk menjangkau  masyarakat Indonesia yang lebih luas."

Menurut Frost & Sullivan, Siloam terpilih di antara banyak rumah sakit yang mengikuti proses seleksi yang ketat. Hal ini memungkinkan Siloam untuk membandingkan kinerjanya dengan rumah sakit lainnya di Singapura, Thailand, dan negara Asia lainnya. Selain itu, proses ini melibatkan lebih dari 1.500 analis, strategist compilers, visioner dan konsultan yang menyelidiki lebih dari 250.000 perusahaan setiap tahunnya untuk mengindentifikasi praktik-praktik dan prestasi terbaik perusahaan dari berbagai sudut pandang.

Pada acara peletakan batu pertama  Teaching Hospital, Menteri Kesehatan Indonesia, dr. Endang Rahayu  Sedyaningsih, MPH, Ph.D. menyebutkan bahwa rumah sakit harus mendahulukan keselamatan pasien, memiliki layanan yang komunikatif dan teknologi yang maju. Karena di Indonesia jumlah rumah sakit pemerintah hanya sekitar 50% dari jumlah yang ada, ia menambahkan bahwa, "Pengembangan layanan kesehatan tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah saja."

LPKR telah menyatakan bahwa Perseroan bermaksud meningkatkan 4 kali lipat divisi Siloam menjadi 25 rumah sakit dan memberikan pendapatan tahunan sebesar US$500 juta dalam lima tahun sebagai kontribusinya bagi transformasi sosial Indonesia dalam meningkatkan standar dan kualitas hidup masyarakat.

Pada tahun 2010 pendapatan divisi rumah sakit LPKR diproyeksikan tumbuh sebesar 15% menjadi US$130 juta year on year.

Roberto Feliciano, Finance Director LPKR menyatakan, "Dengan investasi yang besar dalam perbaikan layanan klinis, efisiensi baris operasi, dan peningkatan fokus, kami siap untuk pertumbuhan pendapatan dari tahun 2011 dan seterusnya meningkat lebih dari 35 persen per tahun. Hal ini akan menjadi pendorong utama yang signifikan bagi pertumbuhan dan transformasi LPKR. Kami juga akan mencari peluang akuisisi untuk meningkatkan momentum pertumbuhan."

Siloam Hospitals Group adalah kelompok rumah sakit swasta terkemuka di Indonesia yang memiiliki enam rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Jambi. Dalam beberapa tahun mendatang, Siloam Hospitals Group telah merencanakan untuk membangun beberapa rumah sakit baru di Jakarta, Tangerang, Makassar, Balikpapan dan Bali.

Tidak hanya berinvestasi membangun rumah sakit baru saja, Siloam Hospitals Group juga mengembangkan kemampuan intelektual dan teknik dengan berinvestasi pada sumber daya manusia yang handal, teknologi baru, termasuk sistem informasi yang canggih serta sistem manajemen operasional yang inovatif. Hal ini ditunjukkan dengan pembentukan "Medical Sciences Group" yang menciptakan sinergi dengan Mochtar Riady Institute of Nanotechnology (MRIN) dan Universitas Pelita Harapan School of Medicine and School of Nursing, yang menyediakan tenaga medis yang cakap yang dibutuhkan oleh Siloam Hospitals Group dan masyarakat Indonesia.

LPKR berada di garis terdepan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan melebihi enam persen per tahun. Hal ini tercermin dari kinerja yang kuat di seluruh unit strategis Perseroan.

Dengan pendapatan per kapita yang akan melewati US$3.000 per tahun, penjualan residensial/township akan sangat menjanjikan, dan meningkatnya permintaan akan layanan kesehatan yang berkualitas di Indonesia akan mendorong pertumbuhan kelompok rumah sakit Perseroan.

Meningkatnya investasi dan infrastruktur, deregulasi, dan desentralisasi pertumbuhan ke daerah telah mendorong pertumbuhan riil PDB lebih dari 6 persen per tahun. Pendapatan per kapita sekarang siap untuk melewati US$3.000 per tahun dalam 12 bulan ke depan, menciptakan pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi.

Sektor properti Indonesia akan menjadi proxy yang sangat baik bagi pertumbuhan Indonesia, dengan proyeksi jauh melebihi pertumbuhan rata-rata GDP nasional. Di sektor properti yang terfragmentasi, hanya segelintir perusahaan properti yang mampu menjawab tantangan dan peluang. Lippo Karawaci, dengan visi, profesionalisme, semangat kewirausahaan, dan divisi usaha yang solid telah memimpin di garis depan perkembangan positif ini.

LPKR mengharapkan pencapaian kuartal keempat 2010 yang solid, serta pendapatan dari proyek-proyek dan laba bersih pada akhir 31 Desember 2010 akan mencapai Rp3 triliun dan Rp524 miliar, masing-masing meningkat 17 persen dan 35 persen dibandingkan 2009. Nilai ini sebanding dengan laba bersih Rp30,29 per saham.

Seluruh divisi usaha LPKR mencatatkan pertumbuhan yang memuaskan pada kuartal ketiga dengan kinerja luar biasa di divisi usaha residensial/township dimana pendapatan meningkat sebesar 50,5 persen menjadi Rp352,7 miliar.

Pendapatan divisi usaha rumah sakit naik 12,5 persen sedangkan bisnis retail mall menorehkan peningkatan pendapatan sebesar 15 persen. Meskipun masih merupakan bagian yang relatif kecil dalam group LPKR, divisi manajemen aset mencatat kenaikan 63 persen dari pendapatan manajemen fee.

Pendapatan recurring LPKR terus meningkat dan merupakan 52 persen dari total pendapatan Perseroan pada kuartal ini.

LPKR adalah perusahaan properti terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah aset, pendapatan, laba bersih dan kapitalisasi pasar, diperkuat dengan land bank yang luas dan basis pendapatan recurring yang kuat.

Divisi usaha LPKR meliputi Residential/Township, Retail Malls, Hospitals, Hotels dan Asset Management. LPKR tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar senilai Rp11 triliun.   

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Kota Perlu Tata Ruang Bawah Tanah

Posted: 28 Oct 2010 03:10 PM PDT

Suasana MRT Hong Kong, China. Foto diambil awal Juli 2010

BANDUNG, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia Teguh Satria menilai perlunya tata ruang bawah tanah. Tata ruang itu diperlukan agar pembangunan fasilitas di bawah tanah seperti kereta api, koridor penghubung gedung, dan saluran air bisa diatur dengan baik.

Teguh Satria di Bandung, Kamis (28/10), mengatakan, belum ada kota di Indonesia yang menerapkan tata ruang bawah tanah. Saya kira, tata ruang bawah tanah sudah mendesak. Di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta misalnya, banyak mal dan hotel, katanya.

"Mereka yang hendak pergi ke satu bangunan ke tempat lainnya harus menyeberang jalan sehingga berisiko tertabrak kendaraan. Bikinlah koridor untuk meminimalkan risiko itu. Di bawah tanah juga bisa dibangun mal, bahkan lapangan sepak bola untuk menghemat lahan," ujarnya.

Karena itu, diperlukan peraturan daerah (perda) yang mendukung tata ruang bawah tanah. Kebutuhan kota besar seperti Jakarta terhadap perda itu dinilai mendesak. Perda misalnya, dibutuhkan agar terowongan kereta api bawah tanah tak menabrak tiang pancang, saluran listrik, atau pipa air.

"Kemacetan lalu lintas yang sudah sangat parah di Jakarta juga dipicu tidak adanya kereta api bawah tanah," katanya.

 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Target Pembangunan Rumah Sejahtera Diprediksi Tak Tercapai

Posted: 28 Oct 2010 03:04 PM PDT

BANDUNG, KOMPAS.com - Target pembangunan rumah sejahtera tapak di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan tak tercapai. Pembangunan hunian yang sebelumnya dikenal dengan rumah sederhana sehat itu ditargetkan sebanyak 150.000 unit dengan prediksi realisasi sekitar 120.000 unit.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia Teguh Satria mengatakan, banyak hal yang perlu dievaluasi sebagai pemicu target tak tercapai. Tidak tercapai itu penyebabnya macam-macam. Apakah ada hambatan, target yang salah, atau kondisi yang tidak mendukung, katanya di Bandung.

Banyak hal yang perlu dievaluasi sebagai pemicu target tak tercapai. Menurut Teguh, Kamis (28/10), paradigma bahwa pembangunan rumah sejahtera tapak adalah tanggung jawab pengembang perlu diubah. Pihak yang seharusnya menetapkan target pembangunan yakni bupati dan wali kota.  

Selama kepala daerah yang punya rakyat dan wilayah tidak membuat target, tentu dorongannya tidak cepet, katanya. Pemerintah daerah harus melakukan pemetaan, menetapkan jumlah penduduknya yang belum punya rumah, dan menentukan wilayah untuk permukiman.

 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Pengembang Tidak Bertanggung Jawab Rumah Sederhana

Posted: 28 Oct 2010 02:59 PM PDT

BANDUNG, KOMPAS.com - Anggapan bahwa target pembangunan rumah sejahtera tapak adalah tanggung jawab pengembang dinilai tak tepat. Pihak yang seharusnya ditanya tentang hunian yang dulu dikenal dengan rumah sederhana sehat itu yakni bupati dan wali kota.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria mengatakan, menteri perumahan rakyat pun tidak tepat ditanya. Kalau ditanya, pembangunan tercapai atau tidak kepada pengembang, yang punya target itu siapa. Kenapa tanya REI. Apakah REI bertanggung jawab, ujarnya.

Teguh di Bandung, Kamis (28/10), menjelaskan, seharusnya kepala daerah yang melakukan pemetaan perumahan dan menetapkan target. Kepala daerah punya rakyat. Seandainya punya target, mereka akan lebih mendorong pembangunan, katanya.

Kondisi yang terjadi yakni, pemerintah pusat menetapkan target kemudian dikoordinasikan dengan REI untuk mendukung program itu. Jika bupati dan wali kota memiliki target, mereka akan mengatur tata ruang dan lahan, serta memudahkan proses perizinan.

"Kalau demikian, 50 persen urusan sudah selesai. Akan tetapi, kepala daerah tak pernah merasa punya target," kata Teguh.

 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar