Minggu, 07 November 2010

Rumah Idaman “Marc: Tauzia Bakal Ekspansi ke Malaysia Tahun Depan” plus 3 more

Rumah Idaman “Marc: Tauzia Bakal Ekspansi ke Malaysia Tahun Depan” plus 3 more


Marc: Tauzia Bakal Ekspansi ke Malaysia Tahun Depan

Posted: 08 Nov 2010 04:21 AM PST

KOMPAS.com - Marc Steinmeyer, Presiden Direktur Tauzia Hotel Management menyatakan perusahaannya akan melakukan ekspansi ke Malaysia tahun 2011 mendatang.

Marc Steinmeyer mengungkapkan hal ini dalam percakapan dengan Kompas.com Senin (8/11/10) siang. Tauzia Hotel Management adalah perusahaan manajemen hotel Indonesia yang didirikan Marc Steinmeyer, mantan CEO Accor Asia Pasifik.

Menurut Marc, perusahaannya akan mengembangkan hotel dengan brand Harris di Malaysia. "Pangsa pasar di Malaysia relatif bagus," kata Marc, pria berkebangsaan Perancis.

Setelah berekspansi ke Malaysia, Tauzia akan mengembangkan Harris ke Singapura, Thailand dan Kamboja.

Di Indonesia, tahun 2011, Tauzia akan membangun 4 Hotel Harris, hotel bintang empat dan 8 Hotel PopHarris, budget hotel di sejumlah kota di Indonesia. Sedangkan pada tahun 2012, Tauzia akan mengelola 10 Hotel Harris dan 12 Hotel PopHarris.

Marc Steinmeyer mengatakan, investasi untuk PopHarris berkisar Rp 60 miliar yang diperkirakan akan mengalami return of investment dalam waktu 5 tahun sampai 6 tahun.

Menjawab pertanyaan, Marc mengatakan akan membuat kartu keanggotaan Tauzia untuk menjaga loyalitas tamu.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Marc Steinmeyer: PopHarris Colourful dan Green Hotel

Posted: 08 Nov 2010 12:05 AM PST

KOMPAS.com - Hotel PopHarris merupakan hotel bintang dua atau budget hotel dari Grup Tauzia. Hotel ini penuh warna dan menerapkan konsep green.

Dinding hotel ini misalnya bukan dinding tembok atau dinding kaca, melainkan dinding yang tembus pandang di mana angin bisa masuk ke dalam. Selain itu konsep green diterapkan pada water heater, water treatment, solar system hotel ini.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Marc Steinmeyer, Presiden Direktur Tauzia Management Hotel di Hotel PopHarris Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Senin (8/11/10) pagi.

Desain hotel ini sangat colourful dan berbeda dari hotel sejenis. Apa maknanya?
Saya suka warna-warni. Ini melambangkan hidup yang enerjik, penuh warna, tidak membosankan. Ini saya terapkan dalam budget hotel Tauzia pertama di Bali.

Apa kelebihan PopHarris dibandingkan hotel sejenis?
Kami mengembangkan konsep sendiri sejak tiga tahun yang lalu. Tim arsitek dari Perancis bersama dengan tim arsitek Indonesia mengembangkan konsep yang berbeda dengan konsep hotel lainnya yang sejenis. Kami melakukan kreativitas dalam teknologi yang diwujudkan dalam konstruksi fasad, shower, water heater system, dinding  tanpa tembok. Kami melakukan inovasi membangun. Itu poin utama.

Dan seperti Anda bisa lihat screen, fasad, shower, water and solar system di hotel ini tampak lebih green.

Konsep kami simpel, unik, friendly. Tak hanya dalam desain, kami juga melakukan manajemen yang lebih simpel, termasuk dalam pemasaran.

-- Marc Steinmeyer

Pekan depan tim dari Perancis audit hotel ini how green is the building. Dari hasil audit ini, mereka akan memberi benchmark, bagaimana PopHarris berstandar internasional berikutnya dibangun.

Kami juga mengundang Green Building Council untuk melakukan penilaian atas proyek green hotel pertama Tauzia ini. PopHarris ingin mempromosikan green environmental yang nyata.

Kalau di Bali, kami bisa menggunakan dinding dengan screen seperti ini, di Jakarta tentu kami tak bisa melakukannya.

Ada rencana membangun dan mengoperasikan PopHarris lainnya di kota-kota lain?

Kami sudah merencanakan membangun 8 PopHarris lainnya, antara lain di Jalan Cokroaminoto Denpasar dan Tuban di Bali, Manado, Jogja, Airport Jakarta, Surabaya, dan dua lagi di Jakarta.
 
Bagaimana dengan Harris Hotel?
Harris Hotel akan dibuka di Bandung (Festival Mall), Jakarta (FX Sudirman), Batam (Batam Center), Bali (Sunset Road). Dan pada tahun 2012, kami rencanakan membuka 18 Hotel Harris lagi, antara lain di Malang, Surabaya, Sentul City, Puncak, dan Airport Jakarta, empat lagi di Bali, dan di Luwuk Sulawesi.

Apa rahasia Tauzia mengelola hotel Harris dan PopHarris?

Kami memang agresif, memiliki deteminasi tinggi tapi tetap fokus pada kualitas.

Anda dulu CEO Grup Accor Indonesia, jaringan hotel internasional yang terkenal, namun Anda memilih keluar dan membangun perusahaan sendiri, Tauzia. Mengapa?

Memang saat di Accor, saya memiliki posisi yang bagus dan menikmati pekerjaan. Namun Anda tahu, di perusahaan seperti Accor, 30 persen keberhasilan milik Anda, 70 persen untuk citra perusahaan. Kalau Anda punya perusahaan sendiri, keberhasilan 100 persen milik Anda sendiri. Anda terjun dengan parasut Anda sendiri. Dan ini tantangan bagi kami.
 
Anda mengadopsi dari budget hotel di Eropa?

Karena saya berasal dari Eropa, saya sedikit banyak mengambil dari konsep Eropa. Konsep kami simpel, unik, friendly. Tak hanya dalam desain, kami juga melakukan manajemen yang lebih simpel, termasuk dalam pemasaran. Jumlah karyawan tetap hanya 9 orang.

Konsep kamar kami harus sempurna, tamu bisa tidur nyenyak dengan king bed size seperti halnya hotel bintang lima. Tamu juga mendapatkan fasilitas wifi.

Anda optimistik dengan industri perhotelan di Indonesia?

Kami yakin karena Indonesia negara yang tumbuh dan berkembang pesat. Optimistik bukan berarti tidak realistis. Kuncinya pada determiniasi, kerja keras, konsistensi, dan enerjik baik secara alamiah maupun karakter kepribadian. (Robert Adhi Ksp)
 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Menpera: Perizinan di Jakarta Ruwet dan Tidak Efisien

Posted: 07 Nov 2010 10:06 PM PST

Menpera Suharso Monoarfa (kedua dari kiri) bersama Rudy Margono (kanan), Presdir Gapuraprima Group dan jajaran direksi PT Perdana Gapuraprima Tbk melakukan kunjungan lapangan ke lokasi Apartemen Bersubsidi Kebagusan City setelah Topping Off Kebagusan City di Jakarta, Sabtu (6/11).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menyatakan proses perizinan di DKI Jakarta ruwet, tidak efisien, biaya mahal (costly) dan makan waktu yang cukup lama. Untuk itu, ke depan pihaknya akan melakukan kerjasama dengan beberapa pihak terkait untuk mengefisienkan masalah perijinan tersebut.

"Saya melihat perizinan di Jakarta adalah yang teruwet, tidak efisien, costly dan makan waktu lama," ujar Menpera Suharso Monoarfa saat memberikan sambutan pada kegiatan pengecoran akhir atap (Topping Off) Tower 2 Apartemen Bersubsidi Kebagusan City di Jakarta, Sabtu (6/11).
 
Menurut Menpera, diperlukan kerjasama di antara pihak-pihak terkait untuk mengefisienkan proses perizinan khususnya terkait pembangunan perumahan bagi masyarakat. Untuk itu, dirinya berharap ada Undang-undang (UU) yang mengatur masalah perijinan.

Perizinan, ungkap Menpera, merupakan salah satu perizinan pengendalian pembangunan sehingga penerima manfaat nya tidak sembarangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah (Pemda) harus memanfaatkan proses perizinan dengan sebaik-baiknya dan tidak malah mempersulit pihak-pihak yang mengurus perizinan.

"Pemerintah seharusnya memberikan pelayanan publik dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai Pemda membuat perizinan sebagai pendapatan asli daerah (PAD). Saya menengarai pada setiap unit yang bertugas atau pos perizinan ada biayanya," tandasnya.

Lebih lanjut, Menpera menuturkan, selama ini pola pikir Pemda masih melihat proyek pembangunan perumahan oleh pengembang merupakan proyek  yang profit motif atau profit oriented. Oleh karena itu, mereka beranggapan boleh mengambil biaya dalam proses perizinan.

"Bukan disitu negara mengambil retribusi. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah dari sisi pendapatan masyarakat dan bukan dari perizinan," harapnya.   

Dalam kesempatan itu, Menpera juga kembali mengingatkan Pemda bahwa perumahan telah menjadi urusan wajib Pemda. Untuk itu, Menpera juga mengusulkan dibentuknya sebuah konsultan yang khusus mengurusi masalah pembangunan sehingga tidak melanggar aturan yang ada.

"Kalau perlu konsultan tersebut memberikan garansi bahwa pembangunan rumah tersebut sesuai lokasi yang memenuhi syarat, tata ruang, dan zonasi yang berlaku. Konsultan itu harus independen jangan sampai ada kong kalikong. Kalau ada permainan cabut saja izin konsultan itu sehingga jelas siapa yang harus bertanggung jawab," katanya.

 Sementara itu, CEO Kebagusan City Arif Ariyanto mengungkapkan, pihaknya akan tetap mendukung program 1.000 tower pemerintah mengingat kebutuhan perumahan ke depan akan terus meningkat. PT Perdana Gapuraprima Tbk bahkan telah membangun berbagai proyek properti di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Kami akan terus berkomitmen membangun berbagai proyek perumahan bagi masyarakat. Ini merupakan bentuk dukungan kami terhadap proyek 1.000 tower pemerintah," terangnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Felix Hariyanto: Konsep Kuat, Investasi Properti Bagus

Posted: 07 Nov 2010 09:04 PM PST

KOMPAS.com — Felix Hariyanto (42), pengusaha properti asal Jawa Timur, ini sukses mengembangkan bisnis properti di Surabaya dan Bali.

Dalam percakapan dengan Kompas.com di Hotel PopHarris, Denpasar, Bali, Minggu (7/11/10) malam, Felix mengatakan, dia optimistis investasi properti di Bali tetap menguntungkan asalkan konsepnya kuat.

Lahir di Mojokerto, 42 tahun lalu, Felix alumnus Sekolah Tinggi Teknik Surabaya tahun 1985 pada awalnya terjun di dunia bisnis tekstil. Jeli melihat peluang, Felix kemudian beralih ke properti. Dan ternyata bisnis properti menjadi bisnis utamanya saat ini. Felix pindah ke Bali sejak tahun 1987 lalu.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Felix Hariyanto, pemilik Hotel Harris Kuta Riverview dan PopHarris Teuku Umar Denpasar, serta perumahan Green Load Sambanda di daerah Tanah Lot, Bali, serta apartemen Highpoint di Surabaya.

Sejak kapan Anda terjun di dunia bisnis properti?
Tiga tahun lalu, saya mulai dengan membangun 200 unit rumah menengah atas di Perumahan Green Load Sambanda, dekat Tanah Lot. Semuanya sudah habis terjual.

Saya juga membangun apartemen mahasiswa High Point di Siwalan, dekat Universitas Petra Surabaya. Dari 340 unit apartemen, 85 persen sudah terjual habis.

Lalu Anda kini beralih ke bisnis perhotelan. Mengapa?
Awalnya saya diperkenalkan dengan Marc Steinmeyer, Presiden Direktur Tauzia Management, oleh famili saya. Lalu kami berdiskusi. Ternyata saya cocok dengan pemikiran Marc yang simpel dan fleksibel. Banyak yang bisa dikompromikan dengan Marc.

Lalu Anda membangun Hotel Harris di Bali?
Karena saya cocok dengan konsep yang diajukan Marc, akhirnya saya pilih bekerja sama dengan Tauzia Management.

Hotel Harris Kuta Riverview dibangun di lahan seluas 8.000 meter persegi dengan nilai investasi senilai Rp 85 miliar, mulai beroperasi akhir tahun 2008, dan kini tingkat huniannya sudah 80 persen. Menurut saya, untuk hotel yang baru beroperasi lebih dari satu tahun, ini luar biasa.

Dan ketika Marc bilang Tauzia akan bangun hotel bintang dua, PopHarris di Bali, saya menjadi investor pertama yang bekerja sama dengan Tauzia membangun PopHarris di Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali. Sukses Harris Kuta Riverview membuat saya makin percaya diri.

Hotel PopHarris yang unik dan colourful ini menarik banyak tamu. Konsepnya out of box. Hotel ini dibangun di lahan seluas 4.000 m² dengan investasi sekitar Rp 60 miliar, mulai beroperasi soft opening bulan September lalu. Okupansi September 62 persen, sedangkan okupansi Oktober 67 persen. Saya optimistis tingkat okupansi PopHarris makin besar.

Jadi menurut saya, investasi perhotelan di Bali tetap menarik dan menguntungkan asal punya strong concept. Saat ini banyak investor yang kurang fokus sehingga kurang memerhatikan perawatan. Kondisi ini otomatis menyebabkan kualitas menjadi turun. Padahal, menurut saya, ini tidak boleh terjadi. Investor harus concern dan fokus dengan bisnis propertinya, tak boleh setengah-setengah.

Apalagi pangsa pasar di Bali tetap kuat. Tahun 2013, pemerintah menggandakan kapasitas penumpang di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Ini merupakan peluang besar bagi pebisnis untuk menyediakan akomodasi yang baik.

Setelah sukses membangun perumahan dan hotel di Bali, apa proyek baru Anda di Bali dan Surabaya?
Saya sedang mempersiapkan proyek baru di Balangan, Jimbaran. Lokasinya di perbukitan. Saya menyediakan kavling vila yang luas seluruhnya 4 hektar. Di lokasi itu juga akan dibangun hotel, yang juga digarap Tauzia. Proyek ini sedang dikembangkan.

Adapun di Surabaya, saya sedang menggarap proyek baru perumahan The Dharma Indah sebanyak 160 unit.

Investasi perhotelan di Bali tetap menarik dan menguntungkan asal punya strong concept.

-- Felix Hariyanto

Saya punya beberapa proyek kerja sama dengan Tauzia lagi, tetapi  ini masih dimatangkan. Di Harris Kuta Riverview saya banyak dibantu Tauzia. Saya puas dan makin percaya diri dan saya akan melanjutkan kerja sama dengan Tauzia. (Robert Adhi Ksp)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar