Kamis, 25 November 2010

Rumah Idaman “Pembangunan Tol Serangan-Tanjung Benoa Molor” plus 2 more

Rumah Idaman “Pembangunan Tol Serangan-Tanjung Benoa Molor” plus 2 more


Pembangunan Tol Serangan-Tanjung Benoa Molor

Posted: 25 Nov 2010 08:53 AM PST

DENPASAR, KOMPAS.com - Sekretaris Komisi III DPRD Bali IGM Suryantha Putra mengatakan, rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pulau Serangan, Kota Denpasar dengan Tanjung Benoa dipastikan molor dari rencana awal.

Sedianya tahun 2011 pembangunan jalan tol Serangan-Tanjung Benoa (STB) sudah mulai digarap dan dapat beroperasi pada 2013. Tetapi hingga kini belum ada kejelasan lebih lanjut.

-- IGM Suryantha Putra

"Sedianya tahun 2011 pembangunan jalan tol Serangan-Tanjung Benoa (STB) sudah mulai digarap dan dapat beroperasi pada 2013. Tetapi hingga kini belum ada kejelasan lebih lanjut," katanya di Denpasar, Kamis.

Seusai sidang paripurna pembahasan ranperda DPRD Bali, ia mengatakan, molornya rencana pembangunan STB tersebut, salah satunya terbentur masalah pembebasan lahan yang akan digunakan.

"Hingga sekarang belum juga diketahui siapa pemilik lahan tersebut, maka sulit untuk membebaskan lahan di sana. Dengan begitu, dipastikan rencana pembangunannya akan molor dari jadwal," ucap politisi PDIP itu.

Ia mengatakan, persoalan pembebasan lahan ini, sebagaimana disepakati menjadi kewajiban Pemprov Bali. Hanya saja, Pemprov Bali sendiri hingga kini tak tahu siapa pemilik lahan tersebut.

"Yang bertanggung jawab terhadap pembebasan lahan itu adalah pemprov. Tetapi pemprov sendiri tak memiliki data, siapa sesungguhnya pemilik lahan tersebut. Itu yang membuat kita kesulitan membebaskan lahan," kata Suryantha Putra.

DPRD Bali, kata dia, sedang mengupayakan menemukan data siapa pemilik lahan di sekitar lokasi yang akan dibangun jalan tol STB, ke Pemkot Denpasar. "Kami akan berkoordinasi dengan Pemkot Denpasar. Sehingga mendapatkan data pemilik lahan tersebut," ujarnya.

Di tempat terpisah, anggota Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya mengatakan, pembangunan tol STB akan digantikan dengan jalan layang lingkar di lokasi yang sama, karena alasan ketinggian ambang batas bawah yang sempat menjadi polemik dengan pemerintah pusat.

"Karena alasan ambang batas bawah itu, maka pusat sendiri mengusulkan agar dibangun jalan layang lingkar di sekitar lokasi sebagai pengganti jalan tol STB," katanya.

Dikatakan, jalan tol STB dibangun untuk mengurai kemacetan yang semakin krodit di Bali selatan. Selain tol STB, upaya lainnya adalah membangun jalan bawah tanah di persimpangan Dewa Ruci. "Jika rencana pembangunan bawah tanah dipastikan sesuai dengan jadwal, beda halnya dengan tol STB," kata Tama Tenaya.

Proyek rencananya menelan dana miliaran rupiah itu dipastikan molor pembangunannya, akibat ketidakjelasan siapa pemilik lahan di sekitar lokasi yang akan dibebaskan.

Dari data yang dihimpun badan jalan di Tanjung Benoa, rencananya akan dibangun melewati hutan bakau sepanjang dua kilometer dan menyusuri tepi pantai sepanjang 2,3 kilometer atau 5,40 hektare. Sementara badan jalan di Pulau Serangan Denpasar melewati PT BTID sepanjang 2,6 kilometer atau 1,70 hektare.

Sedangkan untuk jembatan akan dibangun pada aliran Selat Benoa-Selat Badung dengan panjang alur 350 meter.  Untuk bentang utama jembatan 2 X 140 meter dengan ambang batas bawah 35 meter dan ambang atas 45,919 meter. Panjang jalan dan jembatan seluruhnya 9,91 kilometer.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

REI Sulsel Dukung Kebijakan FLPP

Posted: 25 Nov 2010 08:49 AM PST

MAKASSAR, KOMPAS.com  - DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan mendukung kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan yang diperkenalkan Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Manoarfa langsung di Makassar.

Subsidi suku bunga yang diberikan kepada masyarakat berlaku selama masa angsuran cukup memudahkan masyarakat untuk membeli rumah. Ini sangat membantu pemasaran pengembang

Sekretaris DPD REI Sulsel, Raymond Arfandi saat mendampingi kunjungan Menpera, Suharso Manoarfa di Makassar, Rabu, mengaku sangat mendukung program pembiayaan perumahan tersebut, sebab kebijakan itu mampu mendorong kemampuan perumahan masyarakat di daerah.

"Subsidi suku bunga yang diberikan kepada masyarakat berlaku selama masa angsuran cukup memudahkan masyarakat untuk membeli rumah. Ini sangat membantu pemasaran pengembang," kata dia.

Dikatakannya, suku bunga KPR (kredit kepemilikan rumah) yang dibebankan perbankan hanya sebesar 8,5 persen jika mengakses pembiayaan itu. "Ini jauh lebih rendah dari suku bunga KPR di sejumlah perbankan di Sulsel yang rata-rata diatas 10 persen," ucap dia.

Terkait pembangunan perumahan di Sulsel, Raymond mengaku, REI Sulsel baru membangun sebanyak 7000 unit hingga Oktober 2010 dari target pembangunan sebanyak 10 ribu unit rumah tahun ini.  "Keterbatasan daya listrik dan regulasi yang menjadi kendala pengembang menyelesaikan target pembangunan perumahan tahun ini," katanya.

Menpera Suharso Monoarfa dalam kunjungannya di Makassar mengaku, masyarakat yang dapat mengakses program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ini harus memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan diantaranya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Pemberitahuan (SPt) Pajak Tahunan, dan memiliki penghasilan antara Rp2,5 - Rp4,5 juta sebulan.

Pemerintah sejauh ini telah menerbitkan Keputusan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 14 dan Nomor 15 tahun 2010 yang berisi tentang pengadaan perumahan melalui kredit pemilikan rumah sejahtera dengan dukungan FLPP dan pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) yang bertugas mengelola dana likuiditas pembiayaan perumahan tersebut. 

Data Kementerian Perumahan Rakyat mencatat saat ini terdapat 3.500 KPR lebih yang telah diterbitkan perbankan dengan memanfaatkan program FLPP.

Hal sama disampaikan Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Numang yang melalui program FLPP ini kemampuan masyarakat untuk membeli perumahan dapat meningkat khususnya di daerah perkotaan di Sulsel yang sekitar 90 persen penghasilan masyarakatnya kurang dari Rp5 juta sebulan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Total Bangun Persada Bangun Kondotel di Bali

Posted: 25 Nov 2010 08:41 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan kontraktor nasional PT Total Bangun Persada Tbk mulai melirik gurihnya bisnis properti. Melalui anak usahanya, PT Total Camakila Development, Total akan membangun kondominium hotel (kondotel) di Tanjung Benoa, Bali.

Arif Suhartojo, Direktur Total Bangun, mengatakan pihaknya tergiur melihat cerahnya prospek properti tahun ini dan tahun depan. "Tahun depan kami optimistis bisa memantapkan posisi kami sebagai salah satu pendatang baru," katanya. 

Menurut Rudi Komajaya, Presiden Direktur Total Camakila, ground breaking atau pemancangan tiang pertama kondotel tersebut akan dilakukan awal Desember 2010. Untuk pembangunan kondotel ini, Total menggelontorkan dana US$ 40 juta- US$ 50 juta atau setara Rp 450 miliar.

Sebagian dana tersebut didapat dari kas internal. Sisanya, Total mengandalkan pre-sale selama pemasaran berlangsung. "Ini merupakan kondotel pertama di Tanjung Benoa, sekaligus ini juga portopolio pertama kami," kata Rudy.

Kondotel yang rencananya bernama Ramada Hotel & Suites Sakala ini akan bergaya resort. Pembangunannya menempati lahan seluas 2,4 hektare, dengan tinggi bangunan lima lantai. Kondotel ini akan memiliki 219 suite satu kamar, 22 suite dua kamar, dan 14 villa eksklusif dua kamar. "Harga akan kami bicarakan kemudian," ujar Jeani Kantono, Development Director Total Camakila.

Pembangunan kondotel ini dijadwalkan akan rampung 2012. "Kami harap kondotel ini bisa menyerap 40 persen - 50 persen pelancong yang mayoritas dari Eropa," tutur Jeani.

Kepala Riset Jones Lang Lassale Anton Sitorus menilai positif pembangunan kondotel pertama di Tanjung Benoa tersebut. Menurutnya, pilihan Total membidik Bali sangat tepat, karena daerah tersebut merupakan destinasi wisata dunia.

"Lima tahun terakhir di Bali banyak hotel, resort dan villa yang dibangun," katanya. hal tersebut membuktikan, Bali merupakan salah satu wilayah dengan pembangunan properti paling maju.

Selain itu, selama ini di Tanjung Benoa hanya ada hotel kelas premium dan resort. Padahal, survei membuktikan bahwa pelancong mancanegara saat ini rata-rata punya masa tinggal antara tiga hingga 10 hari. Jadi, "Kondotel bisa menjadi alternatif pilihan penginapan yang lebih hemat," katanya. (Ario Fajar/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar