Sabtu, 17 September 2011

Rumah Idaman “Cafe Kukuryku, Makan Sandwich Serasa di Dapur Sendiri” plus 2 more

Rumah Idaman “Cafe Kukuryku, Makan Sandwich Serasa di Dapur Sendiri” plus 2 more


Cafe Kukuryku, Makan Sandwich Serasa di Dapur Sendiri

Posted: 17 Sep 2011 02:43 PM PDT

Oleh: Rizky Suci Ammalia **

Sebuah kafe yang baik, pastinya mementingkan kenyamanan konsumen tanpa membuat mereka berdiri berdesakan menunggu antrean panjang. Pelanggan juga bisa leluasa menyantap makanan sesuai pesanan, sembari merasa dimanja oleh kehangatan interior nan "homy" di dalamnya.

Kenyamanan tiada duanya itu bisa didapatkan di Kukuryku (secara harfiah dapat diartikan sebagai "sangkar burung"). Kafe Kukuryku merupakan sandwich café bar yang terletak di tengah kota Koszalin, Polandia.

Keunggulan pelayanan kafe ini menyediakan makanan sehat cepat saji seperti sandwich, wrap, salad dan aneka kue kering, ditemani secangkir kopi atau jus buah segar dengan suasana ramah seperti layaknya berada di rumah nenek.

Ketika merancang interior kafe ini, Magnalena Kokar, sang pemilik,  membayangkan kafe seperti layaknya dapur di rumah hunian, dengan nuansa kelembutan dan keibuan namun di sisi lain ringkas dan sigap. Kukuryku menonjolkan tema feminitas kuat, dengan menonjolkan warna netral monokrom krem, putih, dan hijau pupus didalamnya. Ketika mendesain sebuah ruang interior, penting dipahami bahwa ruang merupakan sebuah kesatuan. Maka, antara tema dan gaya ruangan harus berkesinambungan. Elemen yang tercakup didalamnya mampu memberikan harmoni untuk memperkuat komposisi ruang secara keseluruhan. Karenanya, skema warna menjadi salah satu cara untuk menyatukan ruang.

Furnitur Bergaya Victoria

Selain pemilihan warna, unsur kuat lainnya ialah pemilihan mebel semi-klasik dan dekorasi autentik berkesan "unfinished". Keseluruhan kesan "dapur rumah" terangkum dalam ritme yang mengalir dalam ruangan. Ritme adalah salah satu fundamental desain yang biasanya memiliki pola repetitif. Ritme terwujud lewat pola sangkar burung pada treatment jendela, rumput kering yang dipasang sebagai bingkai lampu, pernak-pernik dapur yang menyebar di lemari pajang, bantal dan bahkan selimut pada sofa. Magnalena ikut mendesain sendiri sebagian furnitur di dalam kafe dengan "mencomot" beragam ide gaya "Victoria".

Focal point kafe ini dimulai dari akses pintu masuk, pembeli disuguhi lemari pernak pernik besar, kursi taman serta kereta bayi klasik yang ditata apik di depan pintu masuk, berhasil memancing mereka tergerak memasuki kafe. Trik ini, rupanya berhasil menggaet para pembeli menikmati kenyamanan dapur Kukuryku.

** Penulis adalah desainer interior dari  RuangkaRya™, saat ini tengah menempuh pendidikan S3 Urban Design di Bauhaus University, Jerman.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Ketika Seribu Arsitek Bertemu...

Posted: 17 Sep 2011 02:35 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Apa jadinya ketika 1.000 arsitek berkumpul dalam satu kesempatan? Pada Jumat (16/8/2011) di Menara UOB Plaza, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, sekitar 1000-an arsitek ini bertemu, berbagi, bersinergi, bersama-sama memikirkan dan mencarikan solusi permasalahan kota Jakarta.

"Permasalahan kota Jakarta tidak terlepas dari peran dan tanggung jawab arsitek sebagai agen pembangunan. Begitu banyak permasalahan di kota ini, bila arsitek tidak bersatu maka tidak akan selesai," kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Her Pramtama kepada KOMPAS.com, Sabtu (17/8/2011).

Sebagai agen pembangunan, kata Pramtama, peran arsitek menentukan dan membentuk peradaban kota. Untuk itulah, dalam Temu 1000 Arsitek yang merupakan puncak acara ulang tahun Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ke-52 telah dihasilkan komitmen bersama.

"Semalam diluncurkan gerakan "Architect for People". Suatu gerakan moral yang dilakukan oleh para arsitek sesuai dengan kompetensinya memberikan kontribusi membantu masyarakat dalam membangun peradaban kota Jakarta yang lebih baik," ujarnya.

Gerakan bersama para arsitek ini mendapat dukungan penuh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. "Bapak Gubernur datang juga semalam, kebetulan beliau anggota IAI Jakarta. Beliau mengajak para arsitek Jakarta untuk berperan aktif dalam pembangunan kota. Bersama pemda, arsitek diajak menyusun visi pembangunan kota Jakarta bersama-sama," ujarnya. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Superblok Green Central City Siap Huni

Posted: 17 Sep 2011 09:43 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Superblok Green Central City, yang terletak di Jalan Gajah Mada 188 Jakarta Pusat telah siap huni. Tower Adenium untuk hunian, mencapai penyelesaian 95 persen dan sudah siap diserahterimakan untuk dihuni.

"Sebentar lagi  masuk penyelesaian akhir untuk tower Adenium dengan tingkat penjualan mencapai 70 persen. Sementara tower Cerberra yang direncanakan untuk service apartment dalam tahap penyempurnaan dengan target selesai November 2011 nanti," kata Martono Hadipranoto, Chief Operating Officer Green Central City kepada wartawan di Jakarta, Jumat (16/9/2011).

Martono menambahkan, untuk melengkapi superblok Green Central City, akan dibangun hotel Novotel jaringan hotel Internasional Accor Group."Hadirnya hotel Novotel di sini, menjadi yang kedua di Jakarta. Untuk pembukaannya direncanakan bulan Desember 2011 dengan membuka 100 unit kamar," ujarnya.

Keberadaan Novotel di superblok ini, kata Martono merupakan satu kesatuan selaras. Yakni antara konsep superblok modern dengan keistimewaan rumah bersejarah Candra Naya, dengan hotel yang mengantongi sertifikat "earth check".

"Kami berharap superblok ini menjadi nyawanya daerah Gajahmada, Glodok, dan sekitarnya," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar