Kamis, 15 September 2011

Rumah Idaman “Ramai-ramai Mengincar Singapura” plus 2 more

Rumah Idaman “Ramai-ramai Mengincar Singapura” plus 2 more


Ramai-ramai Mengincar Singapura

Posted: 16 Sep 2011 04:49 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengamat pasar menilai, Indonesia masih menjadi salah satu pembeli asing terbesar dari properti residensial Singapura. Hal tersebut seiring situasi di Indonesia yang kian membaik, terutama stabilitas politik dan ekonomi yang berkembang.

Chia Boon Kuah, Chief Operating Officer Far East Organization mengatakan, saat ini pembeli asal Indonesia termasuk dalam tiga pembeli asing teratas yang membeli properti di Singapura. Sebagian besar melakukan pembelian dengan kisaran harga antara 1,2 Dollar AS sampai 4,2 juta Dollar AS.

Ia mengatakan, berdasarkan data dari Urban Redevelopment Authority of Singapore, lebih dari separuh 1.706 orang Indonesia yang telah membeli rumah-rumah pribadi di Singapura tahun lalu membayar lebih dari 1,2 juta Dollar AS. Dari jumlah tersebut, 35,5 di antaranya memilih properti di distrik utama 9, 10, dan 11 di Singapura.

"Masyarakat Indonesia merupakan seperlima dari klien asing kami dan secara konsisten masuk peringkat tiga terbesar," ujar Chia kepada Kompas.com, Jumat (16/9/2011).

Chia menambahkan, para pembeli Indonesia biasanya membeli hunian yang berlokasi di Bukit Timah, pusat bisnis distrik (CBD), dan Pantai Timur (East Coast). Mereka umumnya tertarik dengan gaya hidup kosmopolitan kelas dunia di negara itu.

"Karena jarak Singapura dekat dengan Indonesia, masyarakat Indonesia pun banyak yang menuntut ilmu atau membangun karir mereka di sini. Mereka melihat adanya gelombang perubahan dan penyegaran yang tengah terjadi di Singapura, antara lain, dengan dibukanya baru-baru ini Resort World Setosa dan Marina Bay Sands serta revitalisasi pengalaman belanja yang unik di Orchard Road," tambah Chia.

Ia mengungkapkan, daya tarik tersebut diperkirakan akan terus menarik minat masyarakat asing, termasuk Indonesia, ke Singapura. Hadirnya daya tarik pariwisata juga memberikan dukungan tambahan terhadap antusiasme yang telah ada pada properti residensial utama, terutama di ketiga distrik tadi.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Pilah-pilih, Ragam "Coffee Table" Cantik dan Menawan

Posted: 16 Sep 2011 04:21 AM PDT

NATALIA RIRIH/KOMPAS.com

Coffe table berbentuk bulat di rumah contoh Graha Famili, Surabaya, Jawa Timur.

NATALIA RIRIH/KOMPAS.com

Coffee table berbahan marmer di rumah contoh Graha Famili, Surabaya.

RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPAS.com

Coffee table berbalut kaca transparan di apartemen contoh Kemang Village, Jakarta Selatan.

RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPAS.com

Coffee table berbentuk persegi di apartemen 1 Park Residence.

KOMPAS.com - Jika dulu kita mengenal meja di ruang tamu atau ruang keluarga lebih tinggi dari dudukannya, kini ada coffee table dengan ketinggian setara dudukan sofa. Dengan kemajuan interior, coffee table tampil makin memikat dengan wujud pilihannya yang beraneka ragam.

Coffee table tidak seperti meja, yang identik dengan empat kaki penyangganya. Namun, ia memiliki fungsi kurang lebih sama. Pada bagian atas permukaannya bisa untuk meletakkan gelas atau cangkir saat duduk di sekelilingnya.

Uniknya, coffee table bisa difungsikan sebagai display aksesoris atau laci penyimpanan. Gambar di atas merupakan ragam coffee table yang bisa Anda jadikan referensi pilihan untuk ruang tamu atau ruang keluarga.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Jangan Remehkan Kloset Jongkok!

Posted: 15 Sep 2011 11:50 AM PDT

KOMPAS.com - Kecuali di rumah, kloset jongkok rasanya sudah semakin ditinggalkan. Tengoklah di hotel, mal, restoran, dan perkantoran, yang hampir semuanya menggunakan kloset duduk.

Budaya buang air dalam posisi duduk ini berawal pada  pertengahan abad 19 di Eropa, yang umumnya dilakukan oleh para raja dan ratu. Dalam perjalanan waktu, akhirnya banyak orang ingin merasa sederajat dengan para bangsawan dengan melakukan kegiatan sama.

Era industri di Inggris disebut-sebut memicu produksi kloset duduk hingga kini semakin mendunia. Ada yang mengatakan, memakai kloset duduk terkesan modern, praktis, dan lebih higienis.

Tapi, tunggu dulu. Sebelum membuat kesimpulan demikian, perlu dicermati bahwa kloset jongkok memiliki beberapa kelebihan yang mungkin belum Anda ketahui. Karena menurut Dr Saeed Rad dari Iran, posisi jongkok saat buang hajat lebih baik dibandingkan posisi duduk.

Dalam kajiannya kali ini Dr Saeed tidak sendirian, karena sudah banyak ahli dari berbagai negara yang mengkaji perbandingan ini sejak 1980-an lalu. Hasil temuan para ahli ini serupa, yakni pertama, posisi jongkok membuat pembuangan lebih lancar dan tuntas. Pasalnya, otot-otot sekitar usus besar lebih nyaman bekerja karena otot paha saat jongkok ikut membantu peregangan. Hal ini dapat mencegah terjadinya hernia.

Kedua, saat posisi duduk dan mengejan, ada beberapa syaraf rentan terkena tekanan misalnya syaraf kandung kemih, prostat, dan rahim. Sementara posisi jongkok melindungi syaraf-syaraf tersebut dari kerusakan.

Ketiga, ketika seseorang dalam posisi jongkok, katup antara usus besar dan usus kecil menutup. Sehingga, mencegah usus kecil terkontaminasi bakteri dari usus besar.

Keempat, khususnya bagi ibu hamil, posisi berjongkok menghindari rahim tertekan ketika membuang air. Jika dilakukan setiap hari, maka akan membantu persalinan secara normal. Posisi jongkok juga merupakan posisi alami manusia saat melahirkan.

Nah, bagaimana menurut Anda jika hal ini dikaitkan dengan pilihan kloset di rumah idaman Anda?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar