Selasa, 20 September 2011

Rumah Idaman “Insentif 100 Juta Dollar untuk "Green Building"” plus 2 more

Rumah Idaman “Insentif 100 Juta Dollar untuk "Green Building"” plus 2 more


Insentif 100 Juta Dollar untuk "Green Building"

Posted: 21 Sep 2011 04:49 AM PDT

SINGAPURA, KOMPAS.com - Pemerintah Singapura sangat serius dalam menghadapi perubahan iklim. Sejak 2005, pemerintah memulai program ini dari sektor gedung dan konstruksi.

Dikatakan oleh Menteri Negara Pembangunan Nasional dan Tenaga Kerja Singapura Tan Chuan-Jin, pemerintah menyadari bahwa sektor gedung menyumbang sepertiga dari total penggunaan listrik di Singapura.Artinya, sektor ini menduduki posisi kedua setelah sektor industri yang menghabiskan 40 persen dari total konsumsi listrik.

Padahal saat ini lebih dari 95 persen lahan pembangunan sudah terisi. Bila gedung-gedung yang sudah ada itu diubah menjadi bangunan yang ramah lingkungan, akan banyak penggunaan energi yang bisa dikurangi.

Selain itu, biaya untuk energi menghabiskan 40 persen dari total pembiayaan sebuah gedung.

"Karena itu kami memiliki ambisi yang cukup besar untuk menjadikan gedung-gedung di Singapura sebagai bangunan yang ramah lingkungan. Target kami pada tahun 2030, 80 persen gedung-gedung di sini sudah berlabel green building," jelas Tan Chuan-Jin, pekan lalu.

Untuk mengejar itu, Singapura tak segan mengeluarkan insentif besar untuk pengelola gedung. Sebab untuk mengubah gedung yang ada menjadi sebuah bangunan hijau diperlukan biaya yang cukup besar

"Pemerintah Singapura menyiapkan insentif sebesar seratus juta dollar bagi gedung untuk melakukan perubahan demi mencapai label green building ," ucap Tan.

Sementara itu, saat ini untuk mendirikan gedung baru, pihak pengembang harus memenuhi syarat "hijau" yang sudah ditetapkan oleh otoritas pembangunan Singapura, Building and Construction Authority (BCA).

Terdapat lima komponen yang dinilai dalam skema Green Mark yang ditetapkan oleh BCA. Yakni efisiensi energi, efisiensi air, perlindungkan lingkungan, kualitas lingkungan dalam ruangan, serta inovasi "hijau" lainnya.

BCA juga menetapkan empat peringkat green building, yaitu platinum, gold (plus), gold, dan certified.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Deddy Wahjudi: Arsitek Indonesia Patut Diperhitungkan Dunia

Posted: 20 Sep 2011 01:49 PM PDT

KOMPAS.com - Arsitek Indonesia itu memiliki keragaman karakter, inovasi konsep, serta pemikiran baru yang seharusnya masuk dan mewarnai khazanah perkembangan arsitektur dunia. Begitulah pendapat Arsitek Deddy Wahjudi, penggagas Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011 (IAWT 2011). Karena itu, pada saat Kongres Asosiasi Arsitek Dunia berlangsung, sebanyak 46 karya arsitek Indonesia turut dipamerkan dari 24 September - 2 Oktober 2011.

Kepada Kompas.com, Deddy bercerita bagaimana pameran ini terwujud serta mendapat apresiasi positif dari para Arsitek Indonesia.

Kegelisahan apa yang Anda rasakan sebagai arsitek, sehingga "membuka jalan" bagi para arsitek Indonesia berpameran di Tokyo, Jepang?

Peran para arsitek Indonesia bagi perkembangan keilmuan arsitektur dunia sangat signifikan. Berbagai karya dan penghargaan pada skala nasional dan internasional pun banyak diraih oleh mereka. Arsitek Indonesia memiliki keragaman karakter, inovasi konsep dan pemikiran baru. Ini seharusnya masuk dan mewarnai khazanah perkembangan arsitektur dunia. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kami berpameran dalam Indonesian Architects Week @ Tokyo 2011, sebagai even berkesinambungan saat Kongres Dunia Asosiasi Arsitek Dunia (UIA) berlangsung.

Seperti apa pandangan dunia terhadap arsitek dan perkembangan arsitektur Indonesia? Bagi mereka, arsitektur Indonesia adalah Borobudur, Rumah Toraja, dan berbagai bangunan tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Sementara, peran arsitek Indonesia akhir-akhir ini hampir tidak pernah dilihat. IAWT 2011 mencoba untuk membuka mata dunia tentang peran arsitek Indonesia akhir-akhir ini.

Mengapa memilih Tokyo, Jepang, untuk pameran arsitek?

Selain Kongres Dunia Arsitek tahun ini berlangsung di Tokyo, saya melihat bahwa Tokyo adalah salah satu pintu gerbang Arsitektur Asia. Silaturahmi kita dengan komunitas dunia yang lebih luas dapat dilakukan di sini.

Bisa diceritakan proses awal sampai akhirnya IAWT 2011 ini dimintai oleh rekan-rekan arsitek lainnya?

Pameran IAWT 2011 ingin memberi gambaran perkembangan dunia arsitektur dan arsitek Indonesia saat ini. Kami membuat undangan terbuka bagi semua arsitek Indonesia untuk memasukkan karya, kemudian melewati proses kurasi. Sebagai kurator, Arsitek Andra Matin dan saya memilih 46 dari 160-an karya yang masuk. Karya para Asritek ini dikirim dari seluruh penjuru Tanah Air.

Bisa diceritakan proses kurasi yang menghasilkan 46 karya terpilih? Proses kurasi berlangsung dengan dua tahapan. Akhirnya terpilih 46 karya, mewakili keragaman filosofi, karakter arsitek dan skala karya. Ada karya rumah tinggal hingga jenis bangunan yang lebih kompleks seperti pabrik, bangunan infrastruktur, hingga bangunan tinggi. Beberapa dari desain ini menjawab kebutuhan aktual masyarakat Indonesia, lainnya ada tentang desain utopia. Karya juga ada yang merupakan karya terbangun, namun ada pula hasil studi/workshop. Desain yang kami pilih kebanyakan karya dengan penghargaan berskala nasional atau internasional. Kami berharap, karya IAWT 2011 merupakan representasi perkembangan arsitektur Indonesia saat ini.

Apa harapan Anda untuk kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang?

Saya berharap kegiatan seperti ini  bisa menjadi rutin, paling tidak dua tahun sekali kita dapat pameran ke ajang Internasional.

Menjadi Arsitek sejak tahun 1994, apa tantangan dunia arsitektur terutama terkait kemajuan pembangunan kota? Menjadi arsitek artinya memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang nyaman baik dari sisi fisik dan sosial. Tantangannya ialah arsitek dilibatkan untuk merencanakan kota dengan baik. Tiap kota itu memiliki karakter masing-masing, arsitek memiliki peranan untuk mengkonsep pengembangan kota tanpa mengesampingkan karakter khas kota tersebut.

BIOGRAFI Deddy Wahjudi

1990-1996 Strata 1 di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung 1994-1997 Arsitek di Biro Arsitektur Achmad Noe'man 1998-2000 Strata 2 di Nihon University Jepang mengambil bidang Urban Design 2002-2005 Strata 3 di Chiba University Jepang mengambil bidang Design & Culture 2005-2006 Post-doctoral Program bidang Urban & Culture disponsori Obayashi Foundation 2006-sekarang Principal di LABO. Architecture+Design (http://labo.are.ma), Pengajar di Program Studi Desain Produk ITB 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Menghijaukan Rumah Lewat Kreasi "Hardscape"

Posted: 20 Sep 2011 01:33 PM PDT

KOMPAS.com - Semakin terbatasnya lahan, bukan berarti gerakan penghijauan berhenti di tempat. Kreatif menciptakan area hijau lewat paduan elemen keras non-tanaman atau hardscape dengan tanaman hijau, bisa menjadi salah satu pilihan.

Pilih hardscape berbentuk simpel namun awet, misalnya berbahan semen, batu, kaca, atau plastik. Hardscape yang cocok diterapkan biasanya pot tanaman.

Di pasaran, pot berbahan semen tersedia beragam jenisnya, sehingga muat untuk tanaman yang lebar atau subur. Selain banyak ragamnya, pot berbahan semen lebih awet ketimbang bahan lain seperti bambu dan kayu.

Pot berbahan plastik dan kaca, bisa Anda gunakan dengan meletakkannya di teras samping dan belakang. Tujuannya agar awet atau tidak cepat usang karena paparan sinar matahari dan perubahan cuaca.

Kalau hanya pot terkesan membosankan, coba berkreasi dengan meja taman, dan lampu taman. Letakkan meja di teras dengan beberapa pot di atasnya. Pilihan lainnya, memakai akuarium berisi ikan hias yang ditempatkan di sudut teras. Gemericik air akan menambah nyamannya teras rumah Anda. (AJG)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar