Jumat, 23 September 2011

Rumah Idaman “Yuk, Bijak Memilih dan Menggunakan AC!” plus 2 more

Rumah Idaman “Yuk, Bijak Memilih dan Menggunakan AC!” plus 2 more


Yuk, Bijak Memilih dan Menggunakan AC!

Posted: 23 Sep 2011 10:49 AM PDT

KOMPAS.com - Di zaman modern seperti sekarang, penggunaan air conditioner (AC) sebagai pendingin ruangan sulit dihindari. Meski mengandalkan AC, bukan berarti Anda tidak bisa bijak saat menggunakannya.

Dimulai dengan memilih AC yang tepat memang gampang-gampang susah. Selain menyesuaikan dengan anggaran, Anda sebaiknya menyesuaikan besarnya ruangan dengan kapasitas PK (Paard Kracht). PK adalah sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan BTU (British Thermal Unit). BTU yang akan menentukan tingkat kesejukan udara yang dihasilkan.

Memang, untuk menghasilkan BTU yang besar dibutuhkan pula PK besar pula. Karenanya, orang kerap menyebut tingkat dingin dari AC berdasarkan PK-nya.

Jika sudah membeli AC yang tepat, saat penggunaannya pun juga harus bijak. Misalnya saja, Anda menempatkan AC dengan luas ruangan yang sesuai. Bila tak sesuai, maka AC akan bekerja boros dan mengakibatkan tagihan listrik semakin tinggi.

Kemudian, aturlah temperatur suhu AC pada angka 25 derajat celcius atau temperatur senyaman mungkin. Semakin rendah temperatur suhu yang digunakan maka semakin besar energi listrik yang keluar.

Langkah lainnya, manfaatkan sistem timer untuk mematikan AC satu jam sebelum Anda bangun pagi. Jangan lupa untuk menutup jendela atau pintu saat Anda tengah menyalakan AC. Terakhir, rajinlah membersihkan saringan udara dan menyervis AC secara berkala setiap tiga sampai empat bulan sekali.(INO)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Wajah Lampu Gantung Dulu dan Sekarang

Posted: 23 Sep 2011 10:15 AM PDT

KOMPAS.com - Keindahan interior sebuah ruangan terpancar salah satunya berkat lampu gantung. Rupanya, dari dulu sampai sekarang, lampu gantung memiliki tempat spesial dalam interior ruangan.

Lampu gantung dulu

Dulu, lampu gantung dibuat dengan konsep gaya klasik untuk menghadirkan kesan elegan dan mewah. Umumnya, lampu gantung dipasang pada rumah-rumah klasik yang ukurannya besar dan masif. Namun, lampu gantung masih berbahan kayu berbentuk melingkar dan mempunyai empat ruas jari-jari. Pada lingkaran itu, terdapat beberapa dudukan sebagai tempat lilin dan kemudian digantung dengan tali, sehingga ketinggiannya dapat diatur dengan mudah.

Pada abad pertengahan, lampu gantung banyak digunakan dalam gereja dan gedung pertemuan. Fungsinya, untuk menerangi ruang pertemuan berukuran besar. Mulai abad ke - 15, bentuk lampu gantung semakin kompleks. Bahan lampu gantung dari bahan logam berbentuk lingkaran atau mahkota.

Sejak teknologi pembuatan kaca ditemukan, lampu gantung semakin indah dan semakin beragam bentuknya. Tambahan kristal pada lampu, menambah wajahnya makin rupawan. Lampu gantung sekarang

Kini, lampu gantung telah jamak digunakan di rumah-rumah modern. Keistimewaannya, sekarang pemilihan lampu mudah disesuaikan dengan desain arsitektur. Untuk memilih, kini di pasaran banyak pilihannya bisa menyesuaikan tinggi plafon, luas ruangan, dan kesesuaian warna ruangan.

Perawatannya pun relatif mudah, secara berkala cukuplah memeriksa fungsi bola-bola lampu. Untuk lampu gantung ukuran kecil hingga sedang, gunakan kain flanel saat membersihkannya. Sementara, lampu gantung ukuran besar memerlukan waktu khusus dan bertahap untuk membersihkannya.(TYS/ KOMPAS Klasika)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Mau Dua, Empat, atau Enam Kursi?

Posted: 23 Sep 2011 07:18 AM PDT

KOMPAS.com - Apakah kursi di ruang makan harus terdiri dari satu meja lebar dengan banyak kursi mengelilinginya? Tidak juga! Coba telisik kembali kebutuhan kursi di ruang makan Anda.

Kebanyakan keluarga Indonesia merasa "wajib" menempatkan meja makan berukuran besar dengan banyak kursi di ruang makan rumah mereka. Kebiasaan ini terjadi, kemungkinan terbawa tradisi sejak zaman dahulu, bahwa kegiatan makan selalu bersama seluruh anggota keluarga. Jika sampai saat ini Anda memang tinggal bersama keluarga yang beranggotakan lebih dari empat orang, konsep ruang makan berkursi banyak tentu sangat tepat untuk Anda. Namun, bagaimana dengan keluarga yang hidup di kota besar? Mereka tinggal berdua dengan pasangan di rumah berukuran mungil?

Jika kondisinya demikian, mengapa harus memaksakan menempatkan meja berukuran besar dan banyak kursi? Tempatkan saja satu buah meja ukuran lebih kecil dengan dua buah kursi. Letakkan merapat ke dinding. Dengan demikian, banyak lahan kosong tersisa yang bisa digunakan untuk kebutuhan ruang lainnya. Bila mau ringkas, buat saja meja bar di dekat pantry.

Pemilihan ukuran meja dan jumlah kursi makan terdengar seolah bukan masalah besar, tapi tidak akan jadi sepele lagi kalau kaitannya dengan ukuran lahan. Jadi, soal jumlah kursi dan ukuran meja makan sesuaikan saja dengan kebutuhan dan kebiasaan sehari-hari. Misalnya, Anda memang hanya tinggal berdua, tapi kerap menjamu keluarga dan tamu di rumah, maka Anda harus mempertimbangkan menempatkan meja yang lebih besar. Dengan menempatkan segala sesuatu sesuai kebutuhan, setiap ruang di rumah akan berfungsi lebih efektif dan efisien. Selamat mencoba!

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar