Jumat, 09 September 2011

Rumah Idaman “Gara-gara Guci, Area Kosong Tampil Lebih Berisi” plus 2 more

Rumah Idaman “Gara-gara Guci, Area Kosong Tampil Lebih Berisi” plus 2 more


Gara-gara Guci, Area Kosong Tampil Lebih Berisi

Posted: 09 Sep 2011 12:36 PM PDT

KOMPAS.com - Di tangan desainer interior, ruangan yang kosong atau mati bisa diubah dengan sentuhan baru menjadi area yang tak sekedar "numpang lewat". Anda pun bisa meniru trik desainer ini.

Pada gambar di atas ini, misalnya, terlihat susunan koleksi guci yang disimpan rapi dalam lemari kaca. Gambar yang diambil dari rumah contoh The Platinum, Graha Famili, Surabaya, Jawa Timur ini, adalah rancangan desainer interior Hidayat Endramukti. Area pada gambar ini tadinya kosong dan sangat tidak menarik jika tanpa sentuhan pajangan koleksi guci. Namun, menjadi sudut yang menarik untuk dilalui setelah diberi tambahan guci-guci berwarna biru.

Jika dilihat, kamar mandi ini berbatasan dengan kamar tidur anak, sehingga ketika keluar dari kamar tidur pemandangan keluar menjadi lebih variatif. Area ini seakan memancarkan aura tersendiri, yakni tampil unik dan menarik.

Nah, jika memang tertarik, Anda bisa memulainya dengan merunut area-area kosong di rumah Anda. Kemudian, isi dengan benda-benda yang sesuai dengan selera Anda. Bisa mencontoh dengan furnitur berisi koleksi guci atau sekedar meja berkaki ringan dengan vas bunga di atasnya.

Kini, area kosong di rumah Anda pun jadi sedap dipandang. Selamat mencoba!

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

35 Negara Asia Pasifik Soroti Masalah Rumah Tak Layak Huni

Posted: 09 Sep 2011 12:20 PM PDT

[unable to retrieve full-text content]

Dalam pelaksanaan Forum Perumahan Asia Pasifik ke-3, lebih dari 700 delegasi dari 35 negara menyoroti permasalahan rumah tak layak huni.

Indonesia Harus Adopsi Standar "Green Building" Internasional

Posted: 09 Sep 2011 10:10 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pegiat properti Indonesia diharapkan mulai menerapkan konsep green building. Penerapan konsep ini akan sejalan dengan program pemerintah dalam mengurangi emisi karbon pada 2020.

Walau secara kuantitatif keuntungan politik penerapannya sulit diukur, dalam konteks etika politik yang demokratis pemeliharaan lingkungan merupakan salah satu tema pokok dunia politik internasional.

-- Naning Adiwoso

Demikian mengemuka dalam jumpa pers dan diskusi bertema "Indonesia Harus Adopsi Standar Green Building Internasional" yang digelar oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) di Jakarta, Jumat (9/9/2011). Chairperson GBCI Naning Adiwoso mengatakan, standarisasi green building akan membantu menurunkan emisi karbon di Indonesia, jika semua pemangku kepentingan bersedia bertransformasi.

"Transformasi yang kami maksud di sini adalah transformasi perilaku untuk lebih berpihak pada lingkungan, melalui implementasi bangunan hijau. Patut diakui, penerapan standarisasi green building pada gedung-gedung komersial di Indonesia belumlah populer," ujar Naning.

Ia mengatakan, masih banyak kalangan menganggap penerapan green building sangat mahal untuk konteks Indonesia. Padahal, dengan menerapkan bangunan hijau, pengusaha properti dan pemerintah Indonesia akan dapat memperoleh banyak keuntungan, baik politik maupun ekonomi.

"Walau secara kuantitatif keuntungan politik penerapan green building sulit diukur, dalam konteks etika politik yang demokratis pemeliharaan lingkungan merupakan salah satu tema pokok dunia politik internasional," ujar praktisi desain interior ini.

Naning menambahkan, dengan ikut terlibat aktif dalam aplikasi standarisasi green building, Indonesia dapat berbicara banyak di level Internasional dalam segi pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Sementara secara ekonomi, keuntungannya sangat nyata dan terukur, terutama dari sisi penghematan energi.

"Sebuah gedung komersil yang mengikuti standar penilaian Greenship biasanya mampu melakukan penghematan energi antara 26% sampai 40% setiap bulannya. Penghematan tersebut bersumber dari berkurangnya volume penggunaan AC, penerangan gedung dan tak ketinggalan penghematan penggunaan air," kata Naning.

Selain itu, efek positif sangat besar dari penerapan standarisasi green building ini sudah selayaknya menjadi acuan Indonesia dalam menerapkan standarisasi green building terhadap bangunan-bangunan komersial. Soal standar yang dipakai, lanjut dia, Indonesia berhak menentukannya sendiri.

Sebagai gambaran, menurut Naning, dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal, GBCI telah menetapkan Greenship sebagai rating tools. Greenship merupakan sistem penilaian yang menjembatani konsep bangunan ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan dengan praktik yang nyata.

"Sehingga penerapan standarisasi green building di Indonesia dapat secara maksimal membantu program pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah," ujar Naning.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar