Minggu, 02 Oktober 2011

Rumah Idaman “8 Tips Lebih Jeli Memilih Rumah” plus 2 more

Rumah Idaman “8 Tips Lebih Jeli Memilih Rumah” plus 2 more


8 Tips Lebih Jeli Memilih Rumah

Posted: 03 Oct 2011 02:24 AM PDT

KOMPAS.com - Anda pasti bersemangat saat akan membeli rumah untuk pertama kalinya. Yang terbayang adalah memiliki rumah sendiri, selekasnya ditata dan diisi perabotan sesuka hati, sehingga Anda puntak sabar segera memiliki rumah barunya di pinggiran kota.

Namun, ada baiknya Anda memperhatikan syarat-syarat pembelian rumah dan kondisi rumah itu sendiri sebelum memutuskan membeli rumah. Karena kelak, rumah yang Anda beli adalah salah satu bentuk investasi Anda di masa depan sehingga jangan sampai merasa rugi di belakang hari. Sebagai pertimbangan, berikut hal-hal perlu Anda perhatikan sebelum membeli rumah:

1. Bagaimana track record Anda?

Pinjam uang di bank memang masih merupakan cara mendapatkan rumah impian. Hanya, cara ini tidak akan pernah terwujud jika nama Anda telah "dicoret" dari daftar calon peminjam oleh salah satu bank tempat Anda pernah meminjam dana sebelumnya. Sebutlah, hal itu disebabkan Anda punya record tidak bagus dalam menyelesaikan utang kartu kredit atau kredit tanpa agunan, misalnya.

Perlu Anda ketahui, setiap bank kerap akan mem-forward laporan mengenai perilaku buruk nasabahnya pada bank-bank lainnya karena ada semacam bentuk jaringan di antara mereka sehingga Anda sulit melakukan pinjaman atau kredit lagi di kemudian hari.

Untuk itu, sebelum menjemput rumah impian, pastikan tak ada informasi yang salah tentang alur pinjaman kredit Anda, atau tak ada kekeliruan nilai kredit. Contohnya, nilai pinjaman Anda sudah mencapai limit sehingga tidak mungkin meminjam dana lagi. Selain itu, jika benar terjadi kekeliruan, pastikan Anda segera menyelesaikannya agar bisa dengan mudah mengajukan pinjaman lagi.

2. Jangan ragu berkonsultasi

Tanyakan pada siapa pun, baik teman atau saudara Anda yang pernah menggunakan jasa peminjaman. Ajak mereka berbagi pengalaman dan bisa mereferensikan Anda pada bank yang memang punya kredibilitas.

Namun demikian, Anda juga mempunyai tugas untuk memeriksa dan membandingkan beberapa penawaran dari para pemberi pinjaman itu. Anda tak perlu khawatir, karena pinjaman Anda tidak akan ditolak jika semua persyaratan telah disetujui.

3. Beli saat harga masih rendah

Beberapa perumahan memang menetapkan harga rumah yang selangit karena infrastrukturnya sudah lengkap. Pembangunan jalan tol, misalnya, bisa membuat harga rumah naik 50 persen.

Karena itu, jika ada rencana pembangunan jalan tol di kawasan perumahan yang Anda cari, jangan ragu membeli rumah tersebut sebelum harganya melambung naik. Namun demikian, perlu dipastikan juga bahwa Anda memilih area yang aman dari urusan pembebasan tanah.

4. Beli saat bunga rata-rata masih cukup normal

Ada saatnya suku bunga pinjaman jatuh atau malah turun. Kiranya, ini adalah pertanda bagi Anda untuk segera berinvestasi di dunia properti. Cepat, beli rumah pilihan Anda.

5. Pastikan dana Anda cukup

Uang muka atau tanda jadi tentu harus dilunaskan. Punya tabungan minimal 20 persen dari harga rumah yang akan Anda beli, begitulah idealnya.

6. Alokasikan biaya tambahan 

Tak cukup hanya memikirkan tanda jadi dan uang maka, karena Anda juga harus menyiapkan anggaran lainnya, terutama dana asuransi, pajak, dan juga biaya konsultasi atau administrasi. Jumlah ini harus dianggarkan sebagai pembayaran tambahan setiap bulan, selain jumlah yang harus Anda bayarkan untuk angsuran rumah. Jangan lupa, siapkan juga dana perbaikan dan perawatan rumah.

7. Jeli dengan penawaran rumah

Hati-hati menilai rumah yang akan dibeli. Bisa jadi, rumah yang dijual saat ini berstatus rumah sitaan. Untuk itu, cari tahu latar belakang calon rumah yang akan Anda beli. Siapkan sedikit uang untuk menyewa ahli yang bisa menilai dan mencari tahu seputar reputasi rumah (status hukum). Ini mutlak diperlukan agar Anda punya banyak masukan termasuk tentang jumlah uang yang dibutuhkan untuk perbaikan rumah.

8. Jangan mudah tergiur penawaran yang pendek

Anda memang harus hati-hati soal hal ini. Karena, boleh jadi, rumah tersebut belum memiliki sertifikat hak milik, atau tanahnya masih tanah girik. Atau, tanah tersebut masih menjadi sengketa sehingga jangan heran jika rumah seperti ini menawarkan harga lebih murah, namun prosesnya akan berbelit-belit dan panjang.

Nah, sudah siap berburu rumah?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tips Sebelum Membeli Hunian di Jabodetabek

Posted: 02 Oct 2011 07:03 PM PDT

KOMPAS.com - Faktor jarak sering menjadi pertimbangan kita saat memilih lokasi hunian yang hendak dibeli. Ternyata, hal itu tak cukup bisa dijadikan patokan untuk menjadi satu-satunya kriteria dalam memilih hunian yang ideal. Mengapa demikian?

Mengukur waktu tempuh berdasarkan jarak di Jakarta ini sama seperti menebak ke arah mana bajaj hendak berbelok. Hanya si sopir bajaj dan Tuhan yang tahu dia hendak belok ke mana.

Tingkat kemacetan sudah bukan lagi tidak bisa ditebak. Jakarta sudah pasti macet. Menebak titik-titik mana yang rawan macet juga sudah mustahil. Semua titik nyaris macet. Maka dari itu, jika Anda mempertimbangkan memilih atau membeli rumah dari brosur hanya karena Anda tergoda lokasinya hanya 30 menit dari Semanggi, 5 menit dari bundaran hotel anu, 2 menit dari Perempatan Pepsi, 10 menit dari patung selamat tinggal, itu seperti Anda naik angkutan salah trayek. Pasti bakal kesasar.

Di Jakarta, waktu tempuh berbanding lurus dengan akses dan infrastruktur jalan, bukan dengan jarak. Maka dari itu, pilihan terbaik untuk mencari lokasi pertama-tama adalah ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai menuju lokasi. Jarak 10 kilometer dengan infrastruktur jalan hanya 2 atau 3 jalur sudah jelas berbeda dibanding jarak 20 kilometer dengan jalan 4 atau 5 jalur.

Jarak juga berkaitan dengan sarana transportasi. Lokasi hunian di Bogor yang berjarak 60 km dari Jakarta atau di Serpong yang berjarak sekitar 25 km dari Jakarta pasti berbeda jika kita tempuh dengan sarana kereta api dibandingkan dengan mobil misalnya. Nah, karena pilihan transportasi ini sifatnya sangat terbuka dan banyak pilihannya, memilih lokasi hunian sebaiknya juga mempertimbangkan moda transportasi apa yang akan Anda gunakan sehari-hari?

Kita seringkali keliru menetapkan pilihan, semata-mata hanya karena sebuah moda transportasi sudah lazim kita gunakan. Mobil atau motor misalnya. Kita memilih menggunakannya hanya karena kita sudah familiar dan terbiasa, lalu menutup kemungkinan untuk beralih dengan moda transportasi lain hanya lantaran kita tidak pernah menggunakannya atau hanya menggunakannya sesekali dalam setahun.

Kita khawatir bahwa moda itu tidak bersahabat, sarana transportasi itu berbahaya, atau pilihan itu mengerikan. Padahal, kita belum mengenalinya lebih dalam dan menilainya sekadar dari permukaan atau bahkan cuma dari cerita orang dan kabar burung.

Oleh karenanya, jangan lagi pernah mempertimbangkan membeli atau memiliki hunian hanya karena faktor jarak. Anda harus pertimbangkan faktor lainnya dan tunggu di edisi berikutnya.

(Alois Wisnuhardana)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Lokasi Strategis, Jangan Bosan Dengar Kata itu...

Posted: 02 Oct 2011 06:32 PM PDT

KOMPAS.com – Rasanya, tidak ada pertimbangan lain yang lebih utama perlu diperhatikan ketika membeli rumah, selain lokasi yang strategis. Semakin padatnya Ibukota dengan kemacetan di mana-mana, akhirnya ikut mendesak kebutuhan orang untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan mencari hunian lebih nyaman di lokasi paling strategis.

Lokasi strategis. Sebaiknya, Anda memang jangan bosan dengan kata-kata ini. Karena semakin Anda sering mendengarnya, semakin terpatri pula dalam pilihan Anda menentukan hunian yang layak untuk kualitas hidup Anda.

Ya, lokasi strategis berarti kemudahan bagi Anda menuju tempat kerja dan area bisnis di tengah kota, ke pusat belanja, sekolah anak-anak, rumah sakit, pusat hiburan, dan sebagainya yang berada di pusat kota. Dan, pada akhirnya lokasi strategis juga berarti Anda akan irit ongkos, hemat waktu, dan tenaga karena minimal Anda tidak terjebak pada kemacetan terlalu panjang dan lama, atau membutuhkan waktu lebih dari 30 menit hanya untuk mengantar anak ke sekolah atau isteri ke pusat perbelanjaan.

Hidup di kota besar memang sebuah tantangan besar. Setiap minggu, bulan dan tahun berganti, kondisi Ibukota semakin "sesak". Namun demikian, itu bukan berarti Anda lengah pada informasi tentang kemajuan pembangunan untuk keluar dari ketersesakan.

Saat ini, semakin banyak kawasan-kawasan mandiri telah dikembangkan sebagai alternatif jalan keluar. Hunian-hunian baru pun bermunculan di kawasan-kawasan tersebut dan berusaha menawarkan keanggunannya.

Hal itu tentu sebuah kabar gembira. Apalagi, umumnya kawasan-kawasan mandiri itu kini telah didukung oleh aksesibilitas tinggi, sebutlah misalnya tol Lingkar Luar Jakarta (JORR), yang semakin membuka perkembangan kota-kota di sekitar Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok, atau Bogor.

Sekali lagi, dengan mencermati kemajuan ini, setidaknya Anda semakin mudah menentukan pilihan lokasi strategis bakal hunian Anda. Dan, Anda tidak perlu khawatir bersusah payah mencari informasi, karena para pengembang kini semakin berlomba-lomba menawarkan posisi terdekat dengan jalan tol dan pusat kota dengan beragam fasilitasnya.

Namun memang, ideal atau tidaknya sebuah lokasi bagi hunian Anda, tentu akan bersifat relatif, sebab semua tergantung pada perkembangan kawasan dan kebutuhan Anda sendiri. Karena tak jarang, lokasi properti dapat menjadi semakin strategis justeru berkat adanya pengembangan kawasan di sekitarnya.

Keputusan tetap ada di tangan Anda. Jika pada akhirnya lokasi strategis sangat menentukan kelengkapan fasilitas dan segala macam penunjang kebutuhan Anda sehari-hari, maka perburuan hunian Anda bisa segera dimulai. Jika tidak, tak ada salahnya Anda meninjau ulang secara komprehensif ihwal strategis atau tidaknya kawasan bagi calon hunian Anda. Karena meskipun jauh dari pusat kota atau jalan tol, bukan berarti sebuah kawasan tak bisa menyajikan kenyamanan dan kualitas hidup seperti yang Anda impikan, bukan?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar