Senin, 03 Oktober 2011

Rumah Idaman “Asing "Keok", Pengembang Lokal Gencar Ekspansi” plus 2 more

Rumah Idaman “Asing "Keok", Pengembang Lokal Gencar Ekspansi” plus 2 more


Asing "Keok", Pengembang Lokal Gencar Ekspansi

Posted: 04 Oct 2011 06:20 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis global yang berlangsung di Eropa rupanya justru bisa menjadi berkah bagi pengembang lokal. Hal itu terjadi karena investor-investor Eropa di bidang properti pasti akan mengurangi investasi mereka, sehingga dua tahun mendatang pasokan properti berkurang.

Jika pengembang Eropa menahan laju ekspansi di Indonesia, maka pasokan properti mereka pun akan akan berkurang.

-- Indra Wijaya Antono

Menurut Indra Wijaya Antono, Direktur Pemasaran PT Agung Podomoro Land Tbk, pasokan kantor, residensial, dan komersial dua tahun mendatang, berasal dari pembangunan tahun ini.

"Jika pengembang Eropa menahan laju ekspansi di Indonesia, maka pasokan properti mereka pun akan akan berkurang," tutur Indra, Minggu (2/10/2011) kemarin.

Untuk itu, pengembang lokal seharusnya memanfaatkan kondisi ini, terutama untuk menembus kawasan di luar Jakarta, terutama daerah-daerah potensial yang selama ini banyak digarap asing. Sebtulah misalnya, lanjut dia, kawasan-kawasan di Bali dan Lombok. Pihaknya sendiri sendiri saat ini berniat mengambil alih sebuah hotel di Nusa Dua, Bali, untuk dibangun kembali dan diharapkan bisa beroperasi awal 2013.

"Masterplan kami, nanti di areal seluas 3-4 hektare (ha) itu akan ada hotel bintang lima," papar Indra.

Namun, Indra tidak menjelaskan nama maupun nilai pembeliannya. Yang pasti, saat ini Agung Podomoro sedang bernegosiasi dengan JW Marriott untuk mengelola hotel tersebut.

Di samping itu, pihaknya juga akan menggarap mengembangkan areal perumahan mewah seluas 5-6 ha di Samarinda. Lalu, perusahaan pun bakal menggarap perumahan 20 ha di Karawang.

Sementar itu, PT Bakrieland Development Tbk, juga akan memanfaatkan masa krisis global dengan terus berekspansi. Agus Alwie, Direktur Pengelola Bakrieland mengatakan, salah satu kawasan yang juga dilirik investor asing bidang properti adalah Yogyakarta.

"Kami akan garap town house dan kondominium di sana," ujarnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Siap-siap, Main Bowling di the Jungle!

Posted: 04 Oct 2011 05:58 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengelola "the Jungle" di komplek Bogor Nirwana Residence, Bogor, Jawa Barat, menambah fasilitas olah raga bowling di kawasan rekreasi tersebut. Fasilitas menggunakan teknologi dari Jerman ini diharapkan dapat menjadi alternatif wisata sekaligus juga mendukung pengembangan olah raga bowling.

Di area Jungle ini sebelumnya sudah ada Jungle Waterpark, nanti dilengkapi dengan lapangan futsal, karaoke, dan berbagai tempat makanan dan fesyen.

-- Jo Eddie Raspati

Direktur Pemasaran Unit Usaha Landed Residensial PT Bakrieland Development Tbk, Jo Eddie Raspati, Selasa (4/10/2011), mengatakan pembangunan Bogor Bowling Center (BBC) ini menelan biaya Rp 8 ini miliar. Ia berharap, kehadiran fasilitas ini ikut mendongkrak daya tarik dan pelengkap berbagai fasilitas lainnya di BNR.

"Di area Jungle ini sebelumnya sudah ada Jungle Waterpark, nanti dilengkapi dengan lapangan futsal, karaoke, dan berbagai tempat makanan dan fesyen," paparnya.

BBC dibangun seluas 2.000 meter persegi. Fasilitas bowling ini menggunakan konsep cosmic bowling dengan 24 lanes syntetic wood tipe Brunswick GS-X dan sistem penilaian (scoring system framework) yang dilengkapi LCD monitor. Untuk kenyamanan pengunjung, BBC beroperasi setiap hari pukul 10.00-24.00 ini juga menyediakan family lounge berkapasitas 207 kursi.

"Meski hanya sebagai pelengkap dan daya tarik BNR, BBC diharapkan dapat memberikan kontribusi keuntungan," ujarnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tips Sebelum Membeli Hunian di Jabodetabek (2)

Posted: 04 Oct 2011 05:17 AM PDT

KOMPAS.com - Jika jarak bukan lagi pertimbangan utama dalam mencari rumah, maka hal apa yang perlu dipertimbangkan saat kita berburu rumah untuk tempat tinggal? Perhatikan yang satu ini: layanan publik, terutama sekolah untuk si kecil!

Sayangnya, sering kali layanan publik berbanding lurus dengan lokasi di pusat kota. Nyaris, tidak ada tempat pelayanan dan hiburan yang bisa diakses publik jika hunian berada di tempat terpencil atau jauh dari keramaian.

Semua fasilitas pelayanan atau fasilitas untuk publik, baik yang sifatnya komersial (mal, pasar, rumah sakit, dan sekolah) maupun yang non-komersial (taman publik, tempat pengurusan surat kendaraan, perpanjangan SIM dan STNK, pengurusan paspor, pengurusan pajak, dan sebagainya) sudah menjadi kodratnya untuk berada di tengah kota.

Namun, bila Anda jeli dan pintar, maka ada jenis layanan yang sifatnya rutin setiap hari (sekolah anak-anak) dan ada yang sifatnya rutin, tetapi cuma sekali seminggu atau sebulan (belanja di mal atau pasar). Malah, ada yang cuma sekali setahun (misalnya perpanjangan STNK) atau bahkan lima tahun (paspor dan SIM).

Ada pula yang sifatnya tidak rutin tergantung kebutuhan, misalnya rumah sakit. Untuk itulah, rasanya, akan konyol sekali jika memilih atau mencari lokasi rumah hanya karena pertimbangan lokasi dekat dengan kantor Samsat. Urusan ini setahun sekali saja.

Judul baru

Layanan publik yang rutin kita akses setiap hari, seperti sekolah, sebaiknya dekat dari calon lokasi rumah. Namun, kadang-kadang ada yang beranggapan bahwa kualitas sekolah berbanding lurus dengan umurnya. Makin tua sekolahnya, makin bagus kualitasnya.

Pada umumnya, lokasi sekolah-sekolah yang berumur "bangkotan" berada di tempat strategis, sementara harga tanah atau rumah di sekitarnya sudah melambung ke langit ketujuh. Kawasan yang dirancang secara tepat dan benar umumnya dipikirkan juga secara baik, apakah ketersediaan fasilitas umum semacam sekolah ini ada atau tidak.

Cara yang diambil juga jitu, yakni pengembang memberikan kemudahan bagi pengelola sekolah ternama dan sudah dipercaya masyarakat luas karena reputasinya, seperti Al-Azhar, Santa Ursula, BPK Penabur, Marsudirini, dan Tarakanita, untuk dapat mendirikan sekolah di kawasan permukiman tersebut.

Ada juga pengembang-pengembang besar menyediakan layanan pendidikan karena grup pengembang tersebut juga berkecimpung di sektor pendidikan. Lippo Group dan Pembangunan Jaya adalah beberapa contoh di antaranya. Sementara pengembang yang tidak memiliki portofolio atau berkiprah di sektor pendidikan lebih memilih menggandeng lembaga pendidikan yang sudah kredibel.

Memang, saat memutuskan untuk mencari lokasi hunian, ketersediaan sekolah yang bagus dan sesuai dengan kriteria yang Anda bayangkan tentang lembaga pendidikan seharusnya menjadi faktor pertama dalam memilih lokasi hunian. Pendidikan untuk anak-anak bersifat jangka panjang, dan setidaknya diperlukan waktu 8-9 tahun sebelum si anak dapat kita lepas secara lebih mandiri untuk mengakses pendidikan di tempat lebih jauh, yakni ketika mereka sudah memasuki jenjang SMP.

Bisa dibayangkan, jika sang anak yang masih bersekolah di TK atau SD harus menempuh jarak lebih dari 15 km hanya untuk belajar. Energinya sudah habis di jalan. Perlu dipertimbangkan, bahwa jarak yang ideal adalah sampai dengan 10 km dari rumah.

Nah, jika Anda sedang mencari-cari informasi rumah, coba deh cari dulu informasi tentang ketersediaan layanan pendidikan ini. Apakah jenis lembaga pendidikannya sesuai dengan kriteria Anda?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar