Minggu, 23 Oktober 2011

Rumah Idaman “Menata Rumah Menyesuaikan Tipe Kepribadian” plus 2 more

Rumah Idaman “Menata Rumah Menyesuaikan Tipe Kepribadian” plus 2 more


Menata Rumah Menyesuaikan Tipe Kepribadian

Posted: 24 Oct 2011 04:43 AM PDT

KOMPAS.com — Pernahkah Anda menyadari jika menata rumah bisa berdasarkan tipe kepribadian? Keiza Amorani dalam bukunya, Ide-Ide Segar Menata Rumah, memaparkan empat tipe kepribadian yang bisa Anda jadikan panduan memilih furnitur, warna dinding, aksesori interior, serta tata letak di dalam rumah.

Keiza membagi empat tipe kepribadian tersebut meliputi:

Sanguin yang ceria

Tipe ini identik dengan segala sesuatu yang ceria karena sifatnya yang memang extrovert, ramah, dinamis, aktif, serta gemar bereksperimen. Mengganti dan mengubah dekorasi rumah sesuai mood atau tren bisa menjadi salah satu hobinya.

Tipe ini sangat menyukai aktivitas dan berkumpul bersama teman serta kerabat. Jika Anda termasuk tipe ini, pilihlah tipe rumah terbuka dengan ruang-ruang tanpa penyekat dan 2-3 warna sebagai warna primer untuk dinding dan lantai.

Pilihlah furnitur dan upholstery bernuansa country atau retro. Maksimalkan pilihan tersebut dengan campuran berbagai gaya.

Koleris yang terorganisasi

Tipe ini senang mengorganisasi segala sesuatu, berjiwa pemimpin, dan menyenangi beragam kegiatan. Koleris tidak menyukai detail, semua warna baginya sama saja. Efisiensi dan efektivitas adalah kata kunci dalam hidupnya.

Koleris sangat dominan. Ini berdampak pada benda-benda yang dimilikinya. Warna kuat dan tegas adalah favorit tipe ini, begitu juga desain berkarakter kuat selalu jadi pilihan.

Jika Anda termasuk tipe ini, pilihlah desain minimalis atau klasik berkarakter kuat. Warna coklat, hitam, dan marun cocok untuk warna primer rumah.

Pakailah furnitur berbahan besi atau kayu jati. Hindari penggunaan banyak detail aksesori ruang. Pakai upholstery dari bahan kulit asli.

Plegmatis yang santai

Santai dan sangat menikmati hidup adalah ciri khas tipe plegmatis. Kelebihan ini adalah pribadi yang stabil, tetapi cenderung kurang dinamis. Ia menyukai keadaan apa adanya tanpa berkeinginan mengubah. Ia menikmati semua di hadapannya.

Jika Anda termasuk tipe ini, pilihlah desain minimalis natural atau berkesan sejuk. Buat banyak bukaan untuk memasukkan unsur alam sebanyak mungkin sehingga tercipta suasana santai di dalam ruang.

Gunakan gradasi monokrom dari deret warna krem, coklat muda atau putih. Pilih furnitur berbahan kayu dengan desain natural. Gunakan upholstery bertekstur dan berwarna lembut. Warna dan motif solid dapat Anda jadikan aksentuasi yang menyegarkan.

Melankolis yang romantis

Keindahan, kebersihan, dan keteraturan merupakan hal penting bagi tipe ini. Sisi romantis si melankolis sangat tinggi, tak heran jika ia mempunyai jiwa seni cukup tinggi.

Suasana hatinya cepat berubah berdasarkan situasi di sekitarnya sehingga kenyamanan dalam rumah menjadi aspek penting untuknya. Melankolis menyukai detail, bahkan yang terkecil sekalipun.

Jika Anda termasuk tipe ini, pilih dan terapkan desain klasik victoria dengan detail vintage. Gunakan upholstery berbahan beludru, bulu, dan renda.

Selain itu, Anda harus kreatif memainkan warna-warna pembangkit semangat. Ciptakan sudut-sudut khusus untuk meletakkan aneka aksesori interior. Gunakan bunga segar untuk meningkatkan mood, serta pakai sutra India atau China sebagai aksen.

Nah, seperti apakah tipe kepribadian Anda?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Syarat Rusunami Bikin Kening Pengembang Berkernyit

Posted: 24 Oct 2011 04:08 AM PDT

KOMPAS.com - Meski telah resmi diterbitkan, kehadiran Undang-undang Rumah Susun (UU Rusun) masih menyisakan tanda tanya bagi pengembang properti. Salah satu poin yang menimbulkan kernyit di kening pengembang adalah kewajiban menyediakan rusun sederhana milik (rusunami) sebanyak 20% dari total luas rusun komersial. 

Sah memang tujuannya, tapi sama saja memindahtangankan kewajiban ke kami.

-- Stefanus Ridwan

Syarat rusunami itu adalah lokasi tak harus dekat, tapi mesti di kota yang sama. Pengembang memandang, kewajiban membangun rusunami sebesar 20% ini mestinya bukan kewajiban bagi mereka.

"Sah memang tujuannya, tapi sama saja memindahtangankan kewajiban ke kami," ujar Stefanus Ridwan, Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Jumat (21/10/2011).

Pengembang memang kurang tertarik mengembangkan rusunami karena marjin yang mereka peroleh kecil. Belum lagi, kalau harga tanah dan bahan bangunan menanjak. Apalagi, seperti diketahui, pemerintah menetapkan harga jual rusunami bersubsidi sebesar Rp 144 juta per unit.

Melihat harga itu, menurut Nanda Widya, Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk, keuntungan pengembang hanya berkisar 10%. Hal itu jelas berbeda dengan membangun apartemen kelas menengah atas yang keuntungannya bisa mencapai 15%-50% per unit.

"Itu sebabnya, demi meraup untung, ada pengembang yang nekat menjual rusunami Rp 170 juta per unit," ujar Nanda.

Pengembang pun berusaha menutup keuntungan yang kecil di Rusunami dengan mengambil marjin besar di apartemen menengah atas. Strategi ini lebih masuk akal ketimbang menurunkan kualitas bahan bangunan yang bisa membahayakan penghuni.

(Maria Rosita)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Yuk, Berburu Proyek Properti di 150 Lokasi!

Posted: 24 Oct 2011 03:42 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pameran properti "REI EXPO 2011" masih berlangsung sampai Minggu (30/10/2011). Bagi Anda yang tertarik berburu rumah, pameran yang diikuti oleh 115 pengembang ini mungkin bisa menjadi alternatif menarik untuk mencari informasi.

Tujuan pameran kali ini juga ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan harga rumah mulai Rp 70 juta rupiah.

-- Setyo Maharso

Pada pameran perumahan ini, banyak pengembang yang menawarkan promo menarik selama pameran. Marc Dressler, CEO Sentul Nirwana Unit Usaha Landed Residential PT Bakrieland Development Tbk misalnya, memperkenalkan klaster terbaru The Wind di Sentul Nirwana, Jawa Barat. Klaster ini diluncurkan setelah klaster sebelumnya The Breeze terjual.

The Wind adalah klaster berdesain modern kontemporer dengan sentuhan etnik. Para penghuni klaster ini dapat menikmati keindahan pemandangan pegunungan alamiah, plus zona khusus edutainment berupa Jungleland.

Sementara itu, pengembang Sinar Mas Land di pameran ini menawarkan klaster De Brassia di BSD City. Klaster ini dibangun dengan konsep airy house. Di samping itu, ada juga The Avani, sebuah kawasan perumahan bernuansa resor dengan pemandangan natural alam seperti persawahan dan sungai alami dengan harga mulai dari Rp 700 jutaan.

Selain itu, Kota Deltamas Cikarang yang memiliki total luas lahan sebesar 3.000 hektare, juga tidak ketinggalan menawarkan berbagai produk unggulannya, seperti El Verde, Cluster Roseville, Cluster Fresno, Cluster Pasadena, Cluster Bahama, serta Cluster Malibu dengan harga mulai Rp 250 juta.

Ketua DPP REI, Setyo Maharso, mengatakan sebanyak 115 pengembang dengan proyek properti di 150 lokasi dari berbagai wilayah di Indonesia hadir menampilkan keragaman dan keunggulan produk properti hunian maupun komersial.

"Tujuan pameran kali ini juga ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan harga rumah mulai Rp 70 juta rupiah sampai miliaran rupiah. Ada beragam tipe, ukuran, peruntukan, dan lokasinya," kata Setyo pada pembukaan REI EXPO 2011, di Jakarta, Sabtu (22/10/2011).

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar