Senin, 10 Oktober 2011

Rumah Idaman “Mahasiswa, Ladang Baru Incaran Pengembang” plus 2 more

Rumah Idaman “Mahasiswa, Ladang Baru Incaran Pengembang” plus 2 more


Mahasiswa, Ladang Baru Incaran Pengembang

Posted: 11 Oct 2011 02:15 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Associate Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, mengatakan saat ini semakin banyak apartemen ataupun kondominium yang dibangun dekat dengan daerah kampus. Faktor praktis dan aman menjadi penarik bagi masyarakat untuk menempati hunian ini.

Praktis, karena pengelola properti yang mengurus segala hal. Ini sebagai alasan orang memilih kondominium sekalipun ketersediaan rumah masih ada.

-- Arief Rahardjo

"Ini dimulai dengan dibangunnya kondominium Mediterania Tanjung Duren yang memanfaatkan kedekatannya dengan Universitas Tarumanegara, Trisakti, dan lain-lainnya di daerah Grogol," ujar Arief kepada KOMPAS.com melalui emailnya, Selasa (11/10/2011).

Tidak hanya di Jakarta saja tren itu terjadi, lanjut dia, karena sekarang ini jenis hunian tersebut mulai berkembang hingga di kawasan Depok hingga Serpong, Tangerang.

"Kemudian di Depok dan sekarang berkembang juga di Alam Sutera, yaitu Paramont Serpong, (daerah) Bumi Serpong Damai," kata Arief.

Ia menuturkan, alasan lain masyarakat membeli kondominium ini adalah kepraktisan dalam hal pengelolaan properti. Karena biasanya, pada proyek kondominium sudah ada pengelola propertinya yang mengurus segala hal.

"Ini sebagai alasan orang memilih kondominium sekalipun ketersediaan rumah masih ada," ujarnya.

Tidak hanya sebatas pengelola saja, lanjut Arief, faktor keamanan pun menjadi alasan lain memilih apartemen atau kondominium. Kedua faktor tersebut jarang dimiliki di perumahan pada umumnya.

Akan tetapi, menurut Arief, tingkat kesuksesan dari proyek apartemen maupun kondominium di daerah tersebut masih perlu dievaluasi lebih lanjut.

"Karena perumahan di daerah ini sebenarnya masih cukup tersedia," kata Arief.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Jangan Paksa Eksotik Kalau Susah Dibersihkan

Posted: 11 Oct 2011 01:58 AM PDT

KOMPAS.com - Memiliki kamar mandi yang sehat tak ubahnya seperti memiliki dapur sehat. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah faktor sirkulasi udara luar.

Karena kamar mandi yang sehat adalah kamar mandi yang kering, sementara kalau basah akan menyimpan bakteri di bawah lantainya.

-- Dina Hartadi

Sirkulasi udara pada kamar mandi penting agar udara di kamar mandi bisa bertukar. Sirkulasi juga dapat berguna untuk menghindarkan ruangan ini dari kelembapan, baik itu melalui saluran sirkulasi langsung maupun exhaust fan.

"Karena kamar mandi yang sehat adalah kamar mandi yang kering, sementara kalau basah akan menyimpan bakteri di bawah lantainya," ujar Dina Hartadi, Wakil Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) cabang Jakarta, kepada KOMPAS.com, Jumat (7/10/2011) lalu.

Pilihan material lantai pun harus yang antiselip. Dina menyarankan untuk tidak memilih yang licin karena berbahaya untuk keselamatan pemilik rumah.

"Tapi, jangan juga memilih batu-batu alam yang kita tahu susah sekali membersihkannya," ucap Dina.

Ia juga menekankan, pemilik rumah harus memilih material yang tidak melukai dan mudah dalam perawatannya. Jika bersikeras memakai batu alam supaya berkesan eksotik, maka penempatannya cukup dilakukan di dinding karena lebih aman.

"Bisa juga di lantai juga, tapi harus di-coating (diberi lapisan cat khusus) terlebih dahulu, supaya mudah dibersihkan. Kalau tidak, lantai pun bisa jadi sarana menyimpan kotoran," katanya.

Menurut dia, semua itu harus sudah dipikirkan sejak awal mendesain kamar mandi. Pada prinsipnya, kamar mandi tidak ada ukuran yang boleh dan tidak boleh. Untuk itu, cara memperhitungkan penempatan peralatan mandi dan luasan ruang harus dilihat berdasarkan pertimbangan aktivitas apa saja yang akan dilakukan di dalamnya.

"Termasuk juga memerhatikan luas peralatan dan pergerakan manusia di dalamnya," ujarnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Aman... Selama Bunga Kredit di Bawah 10 Persen!

Posted: 10 Oct 2011 12:51 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Sektor residensial masih akan menjadi perhatian para pengembang dan konsumen properti secara umum. Gejolak yang melanda perkonomian global saat ini belum terasa dampaknya terhadap bisnis properti di Tanah Air.

Yang masuk untuk berinvestasi bukan hanya dari Eropa dan Amerika, melainkan ada China dan Jepang. Mereka masih butuh ruang.

-- Agus J Alwie

Demikian diungkapkan Managing Director dan Chief Executive Officer Unit Usaha City Property PT Bakrieland Development Tbk Agus J Alwie. Ia mengakui, gejolak ekonomi global memang tidak bisa diprediksi.

"Tapi, saya rasa tidak terlalu banyak dampaknya dan mudah-mudahan tidak terlalu banyak," katanya di Jakarta, Minggu (9/10/2011).

Apalagi, lanjut Agus, bisnis properti Indonesia tidak bergantung pada investor asing, khususnya Amerika dan Eropa.

"Yang masuk untuk berinvestasi bukan hanya dari Eropa dan Amerika, melainkan ada China dan Jepang. Mereka masih butuh ruang," katanya.

Memang, dia mengakui, bisnis properti seperti gerbong ikutan, tetapi tidak langsung mengacu pada Amerika dan negara-negara Eropa, seperti Inggris. Karena itu, ia memprediksi, krisis global tidak terlalu berdampak banyak bagi bisnis properti.

"Selama bunga kredit masih di bawah 10 persen," ujar Agus.

Sebelumnya, Direktur Marketing Agung Podomoro Group Indra W Antono juga mengatakan, pertumbuhan penjualan semester II masih sesuai perkiraan, yakni tumbuh sebesar 12-15 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2010. Indra bahkan yakin, hingga tahun depan gejolak ekonomi global tidak akan berpengaruh karena permintaan dan suplai sektor properti di Indonesia tidak dibangun oleh pendanaan luar negeri.

Agus dan Indra juga sepakat, meskipun ada gejolak global, hingga saat ini belum ada pengalihan investasi ke sektor properti di Tanah Air.

"Apalagi, berharap dari pembelian asing di sektor ini. Regulasi untuk properti bagi orang asing di Indonesia, kan, juga belum jelas betul. Jadi, belum ada tren itu," kata Indra.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar