Sabtu, 16 April 2011

Rumah Idaman “Penghuni Keluhkan Masalah Rumah Susun” plus 2 more

Rumah Idaman “Penghuni Keluhkan Masalah Rumah Susun” plus 2 more


Penghuni Keluhkan Masalah Rumah Susun

Posted: 17 Apr 2011 05:21 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah susun sebagai salah satu solusi perumahan serta padatnya permukiman khususnya di Jakarta, masih jauh dari kata ideal. Permasalahan nan kompleks di rumah susun telah dikeluhkan dan dirasakan para penghuninya.

Ada ratusan permasalahan yang dikeluhkan dan masuk ke Apersi. Yang terutama adalah PPRS atau Perhimpunan Penghuni Rusun (PPRS), dimana pembentukannya oleh pengembang atau manajemennya bukan penghuni rusun.

-- Ibu Tadji

Menurut Ketua Asosiasi Penghuni Rumah Susun Indonesia (Aperssi), Ibnu Tadji, selama ini keluhan permasalahan yang terdengar dari rusun untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Padahal, tak hanya itu, keluhan juga berasal dari penghuni di rusun kalangan menengah.

"Ada ratusan permasalahan yang dikeluhkan dan masuk ke Apersi. Yang terutama adalah PPRS atau Perhimpunan Penghuni Rusun (PPRS), dimana pembentukannya oleh pengembang atau manajemennya bukan penghuni rusun," kata Ibnu kepada wartawan di kantornya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Karena dikelola oleh pengembang bukan penghuni, kata Ibnu, banyak biaya operasional yang tidak transparan dan memberatkan penghuni rumah susun. PPRS juga tidak menyampaikan laporan pemasukan dan pengeluaran keuangan, serta menetapkan iuran bulanan secara sepihak tanpa terlebih dahulu menyampaikan rencana anggaran tahunan.

Ibnu menyayangkan apabila PPRS yang dikelola oleh pengembang ini semakin diberi keleluasaan lewat RUU Rusun yang tengah digodok oleh Panja Rusun DPR RI. "Di dalam RUU Rusun mencantumkan pasal dimana semakin memperluas kewenangan pengembang menjadi PPRS. Bagaimana mungkin pengurus PPRS bukan penghuni dapat mengurusi masalah kependudukan, keagamaan, sosial pertahanan, dan keamanan dalam Rusun," kata Ibnu.

Karenanya, Ibnu berharap pemerintah dan DPR tidak terburu-buru mengesahkan RUU Rusun yang akan menggantikan UU No 16 tahun 1985. Jangan sampai RUU yang baru ini malahan merugikan penghuni rusun di masa-masa yang akan datang. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Seperti Kulit, Rumah Perlu Perlindungan Ekstra

Posted: 16 Apr 2011 01:54 PM PDT

KOMPAS.com - Tak hanya kulit atau tubuh manusia saja yang membutuhkan perawatan. Rumah pun perlu mendapat perlindungan ekstra, caranya dengan menempatkan kulit kedua pada bangunan atau disebut secondary skin.

Seperti halnya kulit manusia, sebagai pelindung dari bahaya virus, iritasi dan sejenisnya, kulit kedua rumah dapat menjaga bangunan terutama dari sengatan sinar matahari langsung. Menurut arsitek Heru Wicaksono, gaya hidup saat ini telah memicu penurunan daya tahan tubuh sampai ke panca indra.

"Panas matahari yang kita rasakan saat ini memiliki tingkat sinar ultraviolet yang tinggi sekali. Kita tidak bisa sebebas dulu lagi berada di bawah matahari termasuk di dalam rumah. Untuk menyiasati salah satunya dengan secondary skin," ujarnya.

Nah, material apa saja yang cocok untuk digunakan sebagai secondary skin. Menurut Heru, biasanya menggunakan material yang tahan cuaca dan memperhatikan estetika, misalnya kayu atau besi. Heru mencontohkan penggunaan material lain seperti bambu, kaca buram, juga botol bekas minuman sebagai lapis kedua seperti sudah diterapkan di rumah arsitek kenamaan Ridwan Kamil.

"Yang perlu diperhatikan ialah material sebagai lapis kedua tetap memperhatikan resiko kerusakan sehingga mudah diganti. Berikan keindahan dalam waktu yang cukup panjang," ujarnya.

Seperti kulit, sudah saatnya Anda memberikan perawatan ekstra pada rumah. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Atasi Lahan Terbatas Dengan Vertical Garden

Posted: 16 Apr 2011 10:09 AM PDT

KOMPAS.com - Vertical Garden atau kebun vertikal seperti menyalahi kodrat dimana tanaman umumnya tumbuh secara horisontal. Namun, solusi ini menjadi jawaban penghijauan di lahan-lahan terbatas akibat pertumbuhan kota.

Jauh sebelum dikenal di Indonesia, masyarakat dari negara-negara yangemiliki lahan terbatas sudah memanfaatkan solusi ini, contohnya di Jepang. Pemerintah Singapura menunjukkan dukungan dengan memberikan insentif kepada masyarakat atau bangunan yang menggunakan vertical garden. Di negara-negara yang lahannya mahal, vertical garden bukan lagi pilihan tapi sebuah keharusan.

Vertical Garden mulai dikenalkan pada tahun 1994 oleh ahli botani Perancis bernama Patrick Blanc. Blanc berpendapat tak semua tumbuhan membutuhkan tanah dalam keadaan tertentu. Dengan pengaturan dan perancangan khusus, tanaman menjelma indah menjadi kebun di seluruh bangunan.

Menurut Asroel Alamsjah dari Tropica Greeneries, masyarakat di Indonesia dapat menggunakan solusi ini untuk menghadirkan nuansa segar dan hijau di rumah. Juga membantu menghasilkan udara segar di antara pekatnya polusi kota. "Untuk vertical garden, Indonesia beruntung karena memiliki banyak tanaman tropis," katanya.

Diakui oleh Asroel untuk membuat vertical garden masih terganjal tingginya biaya. Biaya yang tinggi dikarenakan teknik pemasangan juga media tanam yang masih impor. Kisaran harganya, kata Asroel Rp 1 juta  - Rp 4 juta per meter persegi, itu termasuk sistem penggantungan di dinding.

Mewujudkan vertical garden seperti tertera pada gambar pastinya membutuhkan biaya sangat tinggi. Namun, tetap ada beberapa teknik penghijauan di dinding yang disebut Vertical Greenery. Tekniknya antara lain, Green Fasade, Sling system , Wire Mess System, Rack System , Pipe System, Kawat Loket, dan Geo Bag System.

Biaya mungkin mahal, namun melihat keuntungan vertical garden sebagai investasi hijau untuk masa depan, mengapa takut mencoba?  

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar