Rabu, 13 April 2011

Rumah Idaman “Penyerapan Pasar Perkantoran Melonjak” plus 2 more

Rumah Idaman “Penyerapan Pasar Perkantoran Melonjak” plus 2 more


Penyerapan Pasar Perkantoran Melonjak

Posted: 13 Apr 2011 01:27 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar perkantoran selama kuartal pertama 2011 yang terus bergairah diprediksi berlangsung hingga akhir tahun ini. Penyerapan bersih tercatat 82.450 meter persegi, 87 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama pada tahun lalu.

Yang mendorong naiknya permintaan dan transaksi sewa adalah relokasi yang disebabkan kebutuhan melakukan perluasan atau upgrade ruang perkantoran yang ditempati sebelumnya.

-- Mina Ondang

Perkantoran grade A, terus menyumbangkan tingkat penyerapan terbesar sejumlah 74,400 meter persegi atau sekitar 90 persen dari total penyerapan yang terjadi di CBD. Untuk perkantoran grade C mencatat penyerapan sebesar 7.300 meter persegi selama kuartal ini.

Selama tiga bulan pertama tahun 2011 terjadi beberapa transaksi besar ruang perkantoran sewa. Sekitar 30.000 meter persegi ruang perkantoran tersewa oleh sebuah bank di Sentral Senayan 3 yang baru saja dibangun. Transaksi juga terjadi di Wisma Mulia oleh perusahaan BUMN BP Minyak dan gas, dengan perluasan yang hampir sama. Transaksi lainnya penyewaan 8.000 meter persegi di Plaza Kuningan oleh perusahaan asuransi, 3.600 meter persegi di Sentral Senayan 3 oleh perusahaan periklanan, dan 2.300 meter persegi di Plaza uningan oleh sebuah bank.

"Yang mendorong naiknya permintaan dan transaksi sewa adalah relokasi yang disebabkan kebutuhan melakukan perluasan atau upgrade ruang perkantoran yang ditempati sebelumnya," kata Mina Ondang, Senior Associate Director of Investment Department Cushman and Wakefield saat paparan Marketbeat Kuartal I 2011 di Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Perkembangan Strata Title Mina menambahkan, ada peningkatan dan perkembangan yang terlihat pada permintaan dan transaksi perkantoran untuk strata title. "Kalau melihat supply strata title di CBD hanya 15 persen, tapi ke depannya saat pasokan perkantoran 600.000, 40 persen penyerapannya dari strata title," katanya.

Kenapa demikian? Menurut Mina, perkantoran dengan strata title dapat diwariskan dan bisa menjadi agunan di bank. Dengan memiliki perkantoran, pemilik perusahaan tidak lagi menjadi khawatir apakah sewanya akan naik atau tidak. Pemilik perusahaan juga tidak khawatir apakah kantor bisa diperpanjang lagi atau tidak misalnya karena alasan renovasi atau kalah permintaan tenant besar.

Pada kuartal pertama, tingkat penjualan perkantoran strata title disumbang dengan pre-sales di Multivision Tower di Kuningan Persada, yang rencananya akan selesai pada akhir mei 2011, dan di Office 8 yang terletak di lot 28 SCBD yang akan selesai Desember 2011. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Kondominium di Serpong Paling Diminati

Posted: 13 Apr 2011 12:12 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Tren pengembangan proyek kondominium di luar area central business distric (CBD) dan dikembangkan di kawasan perumahan masih akan berlanjut. Contohnya kondominium di Serpong, seperti Paramount Residence di Perumahan Paramount Serpong dan Silkwood Residence di Perumahan Alam Sutera.

"Pasar kondominium benar-benar sehat di Indonesia. Okupansi di area primary dan secondary tetap tinggi. Tetapi memang ada tren peningkatan di area luar CBD terutama di Serpong," kata David Cheadle, Managing Director of Tenant Strategies and Solutions Cushman and Wakefield, dalam paparan kuartal pertama Marketbeat 2011 di Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Pada kuartal ini tercatat lebih banyak proyek baru kondominium untuk kelas menengah. Hal ini dikarenakan keterbatasan lahan di area CBD, yang mana akan mendorong pengembang lebih membangun proyek menengah-atas.

Menurut David, pembelian didominasi oleh investor yang akan menyewakan kembali unit yang dibeli kepada penyewa potensial. "Kondominium yang memiliki kedekatan lokasi dengan pusat aktivitas, seperti kawasan komersial, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, dan lingkungan kerja, diminati," katanya.

Untuk kondominium kelas atas, salah satu proyek yang dinilai memiliki kinerja baik adalah Pakubuwono Signature, yang merupakan lanjutan pengembangan sebelumnya, yaitu Pakubuwono Residence dan Pakubuwono View.

Sementara, tingkat penjualan apartemen sederhana yang terbangun hanya naik sebesar 0,6 persen dari angka pada kuartal lalu, 91,1 persen. Hanya ada satu proyek apartemen sederhana yang diluncurkan selama kuartal I ini, yaitu Lenteng Agung Apartement di area Lenteng Agung, dengan pasokan mendatang sebanyak 26.853 unit.

Untuk proyek-proyek kondominium yang baru saja selesai pada kuartal ini antara lain Central Park Residence (Menara Alaina), Royak Mediterania Garden (Menara Marygold), Kemang Village ( Menara Ritz, Cosmopolitan, dan Empire), MT. Haryono Square, I Cik Ditiro dan Seasons City (menara A dan B). Proyek-proyek ini menjadikan tambahan sebanyak 2.877 unit dari kuartal sebelumnya.

Pasokan kondominium mendatang akan mendapat tambahan dari The Windsor di Puri Indah, Paramount Residence dan Paramount Skyline di perumahan Paramount Serpong, menara Oak– menara kedua dari Silkwood Residence di perumahan Alam Sutera, menara Montreal–menara ketiga dari proyek Casa Grande Kota Kasablanka, menara G dari proyek Greem Bay Pluit, The Premiere Best Western di Pondok Indah, dan Pakubuwono Teras di Cipulir. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Mal Renovasi, Pengaruhi Pasokan Ruang Ritel

Posted: 13 Apr 2011 11:29 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang kuartal pertama 2011, tercatat pasar pusat perbelanjaan berlangsung moderat. Renovasi beberapa pusat perbelanjaan seperti D'Best Fatmawati, Kramat Jati Indah dan Mal Kalibata mengakibatkan pengurangan jumlah pasokan kumulatif ruang ritel di Jakarta.

Adanya pengurangan pasokan ritel, terutama karena renovasi mengakibatkan beberapa penyewa tutup sementara. Akibatnya penyerapan negatif sebesar 9.000 meter persegi.

-- Arief Rahardjo

"Adanya pengurangan pasokan ritel, terutama karena renovasi mengakibatkan beberapa penyewa tutup sementara. Akibatnya penyerapan negatif sebesar 9.000 meter persegi," kata Arief Rahardjo, Head of Research and Advisory konsultan properti Cushman and Wakefield, saat memberikan paparan properti kuartal I di Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Sementara untuk pasokan kumulatif pusat perbelanjaan di Jakarta, kata Arief, tercatat sebesar 3.463.300 meter persegi, terdiri dari 2.342.000 (67,6 persen) pusat perbelanjaan sewa dan 1.121.300 meter persegi (32,4 persen) pusat perbelanjaan strata title.

Penambahan ruang ritel sepanjang Kuartal I berasal dari Area 51, penambahan area Food and Beverage di Pondok Indah Mal 1 dan penyelesaian Tanah Abang Blok B dan Epicentrum Walk. "Kontribusi terbesar pasokan ruang ritel adalah Jakarta CBD (21,3 persen) dan Jakarta Utara (21,3 persen), lalu Jakarta Selatan (18,5 persen), Jakarta Barat (17,9 persen). Sementara Jakarta Pusat hanya 12,8 persen dan Jakarta Timur hanya 8,3 persen," kata Arief.

Hingga akhir 2011, diperkirakan akan terjadi penambahan ruang ritel seluas 199,700 meter persegi, dimana 97,1 persennya ruang  ritel sewa, dan sisanya ruang ritel strata title. Sebagian besar pasokan ruang ritel berasal dari pusat-pusat perbelanjaan yang masih dalam pengembangan, seperti MT. Haryono Square Citiwalk, Kuningan City, Grand Paragon, Kalibata City Square, Kemang Village, dan Citiwalk Gajahmada.

"Sebagai catatan, para pemilik pusat perbelanjaan harus berhati-hati menaikkan harga sewa, karena melihat persaingan ketat di pasar pusat perbelanjaan Jakarta," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar