Jumat, 11 Februari 2011

Rumah Idaman “Serpong Jadi "Lahan Emas" Broker” plus 2 more

Rumah Idaman “Serpong Jadi "Lahan Emas" Broker” plus 2 more


Serpong Jadi "Lahan Emas" Broker

Posted: 11 Feb 2011 12:46 PM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan Serpong rupanya menjadi "lahan emas" bagi para broker dewasa ini. Pasalnya, di Serpong para pengembang tengah gencar melakukan pembangunan perumahan.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Real Estate Broker Indonesia, Lukas Bong peta kerja para broker bergeser membidik kawasan Serpong. Lukas yang ditemui dalam diskusi "Being Property Broker, Why Not?" di Jakarta Convention Center (Jumat, 11/2/2011) mengatakan di Serpong ini ada empat perumahan yang berkembang, yakni BSD City, Paramount, Sumareccon, dan Alam Sutera. "Empat perumahan ini yang sedang berkembang, dan pasarnya bagus sekali," katanya.

Lukas menambahkan di empat lahan emas ini, pembeli rumah bisa mendapatkan rumah dengan harga Rp 500 Juta. "Harga Rp 500 Juta di Jakarta juga bisa didapatkan, tapi rumahnya kecil," ujarnya

"Kalau di Serpong ini bisa mendapatkan pula kenyamanan, lingkungan yang asri, dan infrastruktur yang memadai. kawsan ini juga cocok untuk pasangan muda," tambah Lukas.

Sementara, untuk kota-kota di luar Jakarta yang dilirik para broker antara lain Surabaya, Samarinda, Balik Papan, dan Bali. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Indonesia Defisit 8 Juta Unit Rumah

Posted: 11 Feb 2011 12:41 PM PST

BATAM, KOMPAS.com -  Indonesia kekurangan 8 juta unit rumah layak huni. Defisit tersebut merupakan akumulasi pertambahan kebutuhan perumahan rakyat tiap tahunnya yang jauh lebih banyak dibandingkan kemampuan pengadaan oleh seluruh pemangku kepentingan.  

Kalau melihat kebutuhan formal berdasarkan jumlah keluarga, kemampuan daya beli masyarakat, dan pembangunan yang dilakukan seluruh stakeholder, terjadi pertambahan angka defisit dari tahun ke tahun, kata Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa dalam jumpa pers di sela-sela acara Konsultasi Regional Wilayah Barat Program Pengembangan Kawasan yang digelar di Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (11/2).

Kebutuhan rumah layah huni, setiap tahun bertambah rata-rata 710.000 unit. Sementara kemampuan pengadaannya berkisar mulai 100.000 unit sampai dengan 200.000 unit per tahun. Dengan demikian, selalu ada gap rata-rata sekitar 600.000 unit setiap tahunnya. Pada tahun ini, akumulasi defisit itu mencapai 8 juta unit.

Kemampuan pengadaan bergantung pada daya beli. Kalau masyarakat tidak punya daya beli, sulit juga mengadakan. Karena itu pemerintah membuat intervensi supaya masyarakat didekatkan kepada harga beli rumah. Salah satu caranya dengan memunculkan fasilitas pembiayaan kredit perumahan, kata Suharso.

Cara lainnya dengan mendorong pengembang dan kontraktor agar membangun perumahan dengan harga terjangkau. Hal ini membutuhkan inovasi. Misalnya dengan menemukan konstruksi alumunium r ingan untuk menggantikan kayu yang harganya semakin mahal, serta waktu pengerjaan pembangunan rumah diperpendek.

Suharso mengharapkan, angka defisit per tahun bisa dikurangi setidaknya setengahnya dari kondisi defisit selama ini. Namun itu tidak cukup hanya berkaitan dengan faktor harga dan daya beli secara umum saja.

Kunci lain mengurangi defisit perumahan rakyat, Suharso menambahkan, adalah peran serta pemerintah daerah (pemda). Ini secara tegas telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan yang salah satu isinya menyebutkan bahwa perumahan merupakan urusan wajib daerah.

Kendala pendanaan pemerintah daerah, menurut Suharso, dipahami pemerintah pusat. Untuk itu sejumlah program untuk sektor terkait disalurkan ke daerah . Misalnya adalah alokasi APBN untuk membangun infrastuktur lingkungan.

Di Provinsi Kepulauan Riau (kepri) , sedikitnya 40.000 rumah dalam kondisi tak layak huni. Rumah-rumah tersebut mayoritas tersebar di pulau-pulau pedalaman. Mata pencaharian kepala rumah tangganya mayoritas nelayan.

Pemerintah provinsi akan berusaha merenovasi rumah-rumah tersebut secara bertahap bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota, kata Gubernur Kepri Muhammad Sani beberapa waktu lalu .

Selama lima tahun ke depan, Sani berjanji merenovasi 20.000 unit rumah di antaranya secara bertahap. Program yang bersifat hibah tersebut diakui belum bisa menjangkau semua rumah tak layak huni karena alasan keterbatasan anggaran. Untuk itu, Sani meminta Kementerian Perumahan Rakyat membantu pembangunan kembali atau renovasi 20.000 rumah sisanya. (FX Laksana Agung S)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Eddy Santana: Ciputra Tak Menduga Potensi Palembang

Posted: 11 Feb 2011 08:20 AM PST

KOMPAS.com - Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra dua kali meminta pengusaha properti Ciputra untuk membangun perumahan di Palembang, tapi Ciputra masih mengatakan pikir-pikir. Namun ketika Eddy meminta Grup Ciputra melalui menantunya, Budiarsa Sastrawinata, pengusaha pengembang terkemuka di Indonesia yang sudah berekspansi di Asia ini kemudian melihat kondisi Palembang.

Perkembangan Citra Grand City di Palembang sungguh tak diduga. Rupanya Ciputra underestimated dengan Palembang. Tapi setelah rumah Rp 2,9 miliar tetap ada yang beli, barulah Ciputra percaya pada potensi Palembang.

-- Eddy Santana Putra

Akhirnya Ciputra pun setuju berinvestasi di Kota Palembang. Tahun 2008, pengembang ini membangun kawasan baru di lahan seluas 200 hektar di daerah Alang Alang Lebar, yang jaraknya sekitar 12 km dari pusat kota.

Inilah babak baru dunia properti di Palembang, kota berpenduduk 1,7 juta jiwa.Jika seorang Ciputra saja berani membangun perumahan yang menyasar segmen menengah atas di Palembang, tentu ia melihat prospek bagus di ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini.

Memang, ternyata respon pembeli sangat positif. "Ciputra tidak percaya rumah-rumahnya terjual habis, bahkan rumah yang harganya mencapai miliaran rupiah. Palembang punya potensi sangat besar. Jangan pernah remehkan Palembang," cerita Wali Kota Palembang, Eddy Santana Putra dalam percakapan dengan Kompas.com di ruang kerjanya, Kamis (10/2/11).

Sektor properti memang berkembang pesat. Setelah Pekan Olahraga Nasional (PON) digelar di Palembang tahun 2004 silam, Palembang makin menggeliat. Dan menjelang SEA Games November 2011 mendatang, Kota Palembang makin dilirik investor, termasuk investor yang bergerak di bidang properti dan perhotelan.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra seputar perkembangan kota, termasuk sektor properti di Kota Palembang di ruang kerjanya di Palembang.

Pembangunan di kota Palembang berkembang sangat pesat dalam enam tahun terakhir ini, termasuk sektor properti dan perhotelan. Bagaimana Anda melihat ini? Benar, Kota Palembang berkembang pesat dalam enam tahun terakhir ini, berkembang di semua sektor. Ini dampak positif membaiknya perekonomian nasional.

Kota Palembang diuntungkan dengan booming hasil sumber daya alam di daerah sekitar Palembang, mulai dari minyak, gas, batubara, perkebunan sawit, sampai karet. Kualitas karet nya pun nomor satu. Harga naik, masyarakat ikut menikmatinya.

Pemicu berkembang pesatnya kota ini adalah penyelenggaraan PON di Palembang tahun 2004. Bandara baru dibangun, hotel-hotel dan restoran baru dibuka. Demikian halnya pusat-pusat perbelanjaan baru beroperasi.

Saat ini muncul tren Palembang makin ramai pada akhir pekan dan hari libur nasional. Seperti halnya Bandung, yang selalu ramai pada akhir pekan. Selain masyarakat Palembang yang memenuhi mal dan restoran, masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Palembang juga menikmati liburan di kota ini.

Mal apa saja yang kini dibuka di Palembang?

Di Palembang kini terdapat Palembang Square, Palembang Indah Mall, Palembang Trade Center, dan International Plaza. Untuk sementara jumlah mal masih cukup. Namun tahun 2012, dibutuhkan mal baru di Seberang Ulu.

Properti apa yang sedang dibangun saat ini?

Kami sedang membangun gedung untuk pameran di lahan seluas satu hektar di Jakabaring. Sampai Februari 2011 ini, sudah selesai 70 persen, dan diperkirakan selesai bulan Juli tahun ini. Kapasitasnya bisa sampai 5.000 orang. Dengan adanya gedung ini, Palembang mampu menjadi tuan rumah kegiatan internasional yang melibatkan ribuan peserta.

Bagaimana dengan pembangunan perumahan di Palembang?

Saya sudah mengajak Pak Ciputra dua kali agar mau masuk ke Palembang. Tahun 2008 saya undang lagi. Menantu Pak Ciputra, Budiarsa datang ke Palembang. Ia kaget melihat perkembangan kota yang sangat pesat.

Tahun 2008 mereka resmi masuk ke Palembang. Pak Ciputra kaget melihat rumah-rumah yang dijual laris manis. Perkembangan Citra Grand City di Palembang sungguh tak diduganya. Rupanya beliau underestimated dengan Palembang. Tapi setelah rumah seharga Rp 2,9 miliar yang mereka bangun, tetap ada yang beli, barulah Ciputra percaya pada potensi Palembang.

Akhirnya Pak Ciputra bilang pada saya, mereka mencari lahan seluas 1.000 hektar karena Ciputra mau membangun kota baru di Palembang. Namun mencari lahan 1.000 ha tidak terpotong-potong, sudah sulit, kecuali bergabung dengan kabupaten lain yang berbatasan dengan kota ini.

Saat ini Ciputra sedang membangun waterpark di lokasi Citra Grand City di Alang Alang Lebar. Mereka juga membangun kawasan komersial, sekolah, dan rumah sakit. Dampak kehadiran Ciputra di Palembang sangat bagus. Banyak investor lainnya yang kemudian datang ke Palembang.

Bagaimana dengan perkembangan perhotelan di Palembang?

Palembang makin dilirik investor. Saat ini sedang dibangun Hotel Aston di Jalan Basuki Rahmat. Demikian pula Swiss Belhotel di kawasan GOR. Hotel yang sudah baru dibangun adalah Grand Zuri, hotel bintang tiga di Jalan Rajawali. Hotel Horison, Novotel, dan Aryaduta.

Hotel Marriott sudah mendekati kami. Demikian halnya Hotel Santika. Investor menginginkan membangun di tepi Sungai Musi. Kami masih membenahi tepian Sungai Musi agar menjadi lebih menarik. (Bersambung). (Robert Adhi Ksp)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar