Rabu, 02 Februari 2011

Rumah Idaman “Bisnis Toko Buku Cerah Jika Paham Efektivitas Distribusi” plus 2 more

Rumah Idaman “Bisnis Toko Buku Cerah Jika Paham Efektivitas Distribusi” plus 2 more


Bisnis Toko Buku Cerah Jika Paham Efektivitas Distribusi

Posted: 02 Feb 2011 10:45 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi industri toko buku (TB) makin menyedihkan. Pada tahun 2007 jumlah TB masih sekitar 4.000 gerai, namun pada tahun 2011 ini jumlah TB tinggal 2.000 gerai. Pemilik Toko Buku, Budi Yogi Pranata, bisnis TB dewasa ini sebenarnya bisa cerah, asal mengerti sistem pendistribusian yang efektif.

Toko buku bisa dikembangkan dengan membina relasi ke beberapa koneksi yang bisa diajak bekerja sama. Keberadaan konsorsium-konsorsium di daerah-daerah yang akan menyalurkan TB bukanlah sebuah bahaya, melainkan tantangan.

-- Budi Yogipranata

Menurutnya, TB itu bisa dikembangkan dengan membina relasi ke beberapa koneksi yang bisa diajak bekerja sama. Bagi Budi, keberadaan konsorsium-konsorsium di daerah-daerah yang akan menyalurkan TB bukanlah sebuah bahaya, melainkan tantangan. "Keberadaan konsorsium itu justru menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan, tinggal bergabung ke situ," katanya.

Bagi Budi, TB itu tidak harus besar-besar seperti di kota, tapi TB yang dibutuhkan di daerah adalah TB yang kecil-kecil saja. "Penerbit itu butuh outlet-outlet ke daerah-daerah yang bisa menyalurkan buku-buku mereka," tambahnya.

Sebab menurutnya, TB besar seperti Gramedia, mereka sudah punya pembatasan-pembatasan tertentu, sehingga tidak semua buku bisa masuk ke sana. Justru TB yang kecil-kecil ini sangat berguna bagi penerbit.

Budi tak menampik bahwa ia tetap menjalankan sistem penjualan buku seperti yang dipakai TB Gramedia, cuma Budi membuat sistem itu lebih sederhana supaya bisa dijalankan oleh kalangan menengah ke bawah.

Seperti diketahui, saat ini penerbit membentuk semacam jaringan tersendiri ke daerah-daerah untuk memasarkan produk mereka. Sehingga, penerbit enggan bekerjasama lagi dengan TB dan akhirnya banyak TB yang merasa dirugikan. (Noverius Laoli/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Harga Besi Naik, Harga Rumah Bakal Naik

Posted: 02 Feb 2011 07:24 AM PST

SEMARANG, KOMPAS.com - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) Jawa Tengah akan meninjau ulang harga rumah terkait dengan kenaikan harga besi.

Harga besi naik sampai 15 persen dari rata-rata. Padahal besi merupakan bahan pokok untuk membangun rumah.

-- Sudjadi

"Harga besi naik sampai 15 persen dari rata-rata. Padahal besi merupakan bahan pokok untuk membangun rumah," kata Ketua DPD REI Jateng, Sudjadi, di Semarang, awal pekan ini.

Sudjadi mengatakan kenaikan harga besi tersebut tidak langsung berdampak langsung terhadap kenaikan harga jual rumah, karena harus dievaluasi terlebih dahulu. "Nanti akan kita evaluasi dan tinjau kembali harga jual rumah dan saat ini belum bisa menentukan," katanya.

Selain itu, lanjut Sudjadi, kenaikan rumah tidak dapat dilakukan secara serta merta karena memerlukan perhitungan teknis. "Kenaikan besi 15 persen tersebut terjadi pada Januari 2011," katanya.

Terkait dengan cuaca ekstrim, Sudjadi menilai tidak memberikan dampak besar, tetapi tetap memiliki pengaruh terhadap waktu penyelesaian pembangunan. "Musim seperti ini, hujan terus menerus tidak terlalu memberi dampak, tetapi tetap saja berpengaruh," katanya.

Sebelumnya Sujadi menambahkan bahwa sejak pertengahan 2010 permintaan masyarakat terhadap rumah jenis kelas menengah tumbuh positif dan diperkirakan akan berlanjut pada 2011.

Ia menjelaskan permintaan masyarakat terhadap rumah kelas menengah seharga Rp100 juta hingga Rp400 juta lebih banyak daripada permintaan terhadap rumah kelas atas seharga Rp400 juta lebih dan rumah kelas kecil seharga Rp50 juta-Rp100 juta.

Prediksi masih tingginya permintaan rumah kelas menengah tersebut akan terealisasi seiring pertumbuhan ekonomi di Jateng yang baik dan harapan suku bunga tidak mengalami kenaikan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Perbankan Genjot Bisnis KPR

Posted: 02 Feb 2011 05:09 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski ancaman inflasi dan kenaikan bunga acuan membayangi, ditambah risiko kenaikan harga bahan bangunan, kredit sektor properti tetap menjadi favorit bagi perbankan. Banyak bank yang menggadang-gadang kredit pemilikan rumah (KPR) sebagai andalan bisnis mereka di tahun ini.

Realisasi pembiayaan KPR BTN diperkirakan bakal mencapai angka Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun.

-- Irman A Zahiruddin

Bank Tabungan Negara (BTN), sebagai penguasa pasar KPR bersiap menaikkan target pembiayaan rumah hingga 30 persen tahun ini. Direktur Konsumen BTN Irman A. Zahiruddin menuturkan, realisasi pembiayaan KPR BTN diperkirakan bakal mencapai angka Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun.

Bila angka tersebut terealisasi, artinya terjadi kenaikan sebesar 25 persen dibandingkan dengan penyaluran kredit selama tahun 2009. "Untuk itu, tahun ini targetnya kami naikkan 25 persen, maksimal 30 persen menjadi sebesar Rp 26 triliun," ujarnya, Selasa (1/2).

Dari target penyaluran KPR tersebut, sekitar Rp 5,98 triliun akan disalurkan melalui program subsidi pemerintah dengan pola Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dari nilai itu, sebanyak Rp 181 miliar akan direalisasikan dengan pola pembiayaan syariah. Sejatinya, kapasitas ekspansi KPR BTN bisa lebih besar. Cuma, BTN mengaku memilih sedikit moderat dan memasang target dengan pertimbangan risiko.

Hal yang wajar jika BTN semakin agresif menjual KPR. Dari sisi kualitas kredit, sejauh ini KPR BTN masih termasuk stabil. Terindikasi dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sebesar 3 persen. "Kami akan menurunkan angka itu tahun ini," imbuh Irman.

Bank Bukopin juga sami mawon. Bank yang penetrasi KPR-nya terbilang masih kecil ini, berancang-ancang membesarkan pasar. Untuk itu Bukopin terlibat menyalurkan FLPP mulai tahun ini. "Target pertumbuhan KPR kami tahun ini naik dua kali lipat, sehingga bisa menembus Rp 3 triliun," ungkap Direktur Utama Bukopin Glen Glenardi.

Tahun lalu, porsi KPR di Bukopin baru 6,8 persen dari total portofolio kredit yang mencapai Rp 29 triliun. Dengan menambah ekspansi, porsi KPR Bukopin diharapkan bisa naik menjadi 15 persen.

Pemain baru agresif Bank yang relatif baru menggarap pasar KPR, yakni Bank Mutiara juga memasang KPR sebagai andalan kredit konsumen tahun ini. "Kami akan memperbanyak kerjasama dengan para pengembang," ujar Direktur Utama Mutiara Maryono.

Tahun ini, Bank Mutiara menargetkan penyaluran KPR senilai Rp 400 miliar. Tahun lalu, penyaluran KPR Mutiara sekitar Rp 114 miliar. "Dengan target tahun ini, portofolio KPR kami bisa naik menjadi 2 persen dari total kredit," katanya.

Demi memenuhi target tersebut, Bank Mutiara menjalin kerjasama dengan sejumlah pengembang properti. Misalnya, Gapuraprima Group. "Kami akan memberikan KPR dan KPA ke seluruh proyek properti Gapuraprima Group yang tersebar di berbagai wilayah," imbuh Maryono. (Wahyu Satriani/KONTAN)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar