Jumat, 11 Maret 2011

Rumah Idaman “150 Rumah CitraLand Pekanbaru Terjual 1,5 Bulan” plus 2 more

Rumah Idaman “150 Rumah CitraLand Pekanbaru Terjual 1,5 Bulan” plus 2 more


150 Rumah CitraLand Pekanbaru Terjual 1,5 Bulan

Posted: 11 Mar 2011 05:30 PM PST

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Harun Hajadi, Managing Director Grup Ciputra

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Nanik J Santoso,Direktur Grup Ciputra

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Dalam launching CitraLand Pekanbaru Jumat (11/3/11) malam, terjual 19 unit rumah. Sejak diperkenalkan ke masyarakat Pekanbaru, sudah hampir 150 rumah CitraLand terjual

PEKANBARU, KOMPAS.com — Sejak mulai diperkenalkan ke masyarakat pada awal Februari 2011 lalu, jumlah rumah di CitraLand Pekanbaru yang terjual hampir 150 unit.

Dalam launching CitraLand Pekanbaru yang digelar di Ballroom Hotel Pangeran, Pekanbaru, yang berakhir Jumat (11/3/2011) tengah malam, jumlah rumah yang terjual 19 unit.

Managing Director CitraLand Pekanbaru Harun Hajadi kepada Kompas.com, Sabtu (12/3/2011) dini hari, mengatakan, jumlah tersebut melebihi target.

"Kami menargetkan rumah yang terjual pada tahap pertama sebanyak 120 unit. Tapi nyatanya yang terjual hampir 150 unit sehingga kami langsung membuka tahap kedua," jelasnya.

Launching perumahan CitraLand Pekanbaru pada Jumat malam diwarnai acara hiburan dengan penampilan penyanyi Bunga Citra Lestari, Delon, dan MC Dave Hendrik.

Perumahan CitraLand Pekanbaru dibangun di lahan seluas 20 hektar di tengah kota, mengedepankan konsep clean, green, modern. Jumlah unit rumah yang dibangun semuanya direncanakan 700 unit.

Perumahan CitraLand Pekanbaru dilengkapi dengan fasilitas rekreasi waterpark, lapangan bulu tangkis dan futsal, pusat kebugaran, ruko, dan sarana ibadah. Untuk menjaga keamanan, digunakan CCTV dan petugas keamanan 24 jam.

Rumah-rumah ini terdiri dari lima tipe, yang dijual antara harga Rp 742 juta dan Rp 1,8 miliar.

"Larisnya rumah-rumah CitraLand dalam pre-launch dan dalam launching menunjukkan brand Ciputra memang dipercaya karena kualitas rumah dan lingkungannya," kata Harun Hajadi, yang juga menantu begawan properti Ciputra. (KSP)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Nur Mahmudi: Margonda Jalur Sutera Jakarta-Depok

Posted: 11 Mar 2011 12:04 PM PST

DEPOK, KOMPAS.com - Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail menilai kawasan Margonda sebagai jalur sutera yang menghubungkan Jakarta dan Depok. Jalur Margonda dipandang strategis sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan kawasan komersiil.

Saya mendukung para pengembang yang ingin mengembangkan proyek properti di Depok.

-- Nur Mahmudi Ismail

"Jalur ini sangat strategis, potensinya sangat mendukung tujuan pemerintah kota Depok menuju Kota percontohan terbaik di Indonesia," kata Nur Mahmudi saat menghadiri acara soft launching Taman Melati Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/3/2011).

Nur Mahmudi mengaku bangga dengan perkembangan kota Depok yang dalam kurun waktu 17 tahun berkembang menjadi sebuah kota administratif yang pesat dari segi pemerintahan maupun pembangunannya. Pihaknya juga mendukung para pengembang yang ingin mengembangkan proyek properti di Depok.

"Yang jelas kegiatan berinvestasi lebih dari Rp 150 Milyar tentunya akan menumbuhkan kesempatan kerja. Lalu ada multi effect yang mengikuti," ujarnya.

Namun, Nur Mahmudi mengatakan pihaknya tetap berpegang pada aturan KLB (Koefisien Luas Bangunan) dalam memberikan ijin bangunan kepada pengembang di kota Depok."Pemkot sekarang memiliki aturan KLB. Jadi bisa untuk mengatur luasan lahan yang dia (pengembang-red) miliki dan luasan bangunan yang mereka bangun," katanya.

Lahan Pertanian Tergerus Ditanya mengenai lahan pertanian di Kota Depok yang tergerus oleh proyek-proyek perumahan, Nur mahmudi mengatakan hal tersebut merupakan konskwensi yang tidak bisa dihindari.

"Namun pemerintah kota Depok tetap berkomitmen untuk menjaga kawasan pertanian beririgasi teknis. Dari awal kami menjaga kawasan ini, luasannya sekitar 200 hektar. Kalau di luar urusan-urusan itu mungkin areal pertanian tapi bukan pertanian irigasi teknis," ujarnya.

Sejumlah pihak menyayangkan tergerusnya lahan pertanian di Depok karena banyakanya proyek perumahan. Setiap tahunnya, diperkirakan pengurangan lahan pertanian di Depok berkurang 3 -4 persen. Jumlah tersebut termasuk lahan peternakan, perikanan, dan pertanian. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Mahasiswa UI Jadi Sasaran Baru Pengembang

Posted: 11 Mar 2011 12:00 PM PST

DEPOK, KOMPAS.com - Kebutuhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) akan tempat tinggal sementara di kota Depok, Jawa Barat dengan jeli dimanfaatkan oleh pengembang PT. Adhi Realty, anak perusahaan dari PT. Adhi Karya (persero) Tbk. Sebuah hunian vertikal yang tergabung dalam kawasan terpadu Taman Melati Margonda menjadi tawaran menarik bagi mahasiswa.

"Sasaran kami memang mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Selain itu juga para investor yang ingin menyewakan kepada mahasiswa. Juga kepada keluarga muda, misalnya dosen-dosen muda di UI yang membawa keluarganya," kata Direktur Pemasaran dan Pengembangan PT. Adhi Realty, Renny Soviahani kepada wartawan usai acara soft launcing kawasan terpadu Taman Melati Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/3/2011).

Untuk memenuhi kebutuhan akan hunian bagi mahasiswa, Renny mengatakan pihaknya telah menyiapkan 200 unit untuk one bedroom, juga sekitar 70 unit untuk two bedroom bagi keluarga muda. "Lokasi kami sangat dekat dengan kampus UI, juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang swimming pool, poolside terrace, function room, jogging track, taman, fitness centre, ATM centre, dan sederet fasilitas penunjang lainnya," ujarnya.

"Apartemen kami dekat dengan akses Jalan Margonda Raya dan juga stasiun kereta api UI juga dekat dengan pusat kota Depok," imbuhnya.

Renny mengatakan apartemen di Taman Melati Margonda ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Depok. "Pemda mendukung adanya hunian vertikal bagi mahasiswa ini sekaligus merapikan wilayah Depok," jelasnya. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar