Rabu, 02 Maret 2011

Rumah Idaman “Dyandra Bangun "Convention Center" di Nusa Dua” plus 2 more

Rumah Idaman “Dyandra Bangun "Convention Center" di Nusa Dua” plus 2 more


Dyandra Bangun "Convention Center" di Nusa Dua

Posted: 02 Mar 2011 12:20 PM PST

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Dyandra Media International saat ini membangun convention center di kawasan Nusa Dua, Bali, dan merupakan yang terbesar di Bali. Convention center yang dinamakan Bali Nusa Dua Convention Center ini dijadwalkan beroperasi bulan Mei 2011 ini.

Bali Nusa Dua Convention Center ini dibangun sejak Agustus 2010 di lahan seluas 7 hektar dan berkapasitas 5.000 orang.

-- Danny Budiharto

Direktur Dyandra & Co Danny Budiharto dalam percakapan dengan Kompas.com di ruang kerjanya, Rabu (2/3/2011), menjelaskan, Bali Nusa Dua Convention Center ini dibangun sejak Agustus 2010 di lahan seluas 7 hektar dan berkapasitas 5.000 orang.

Danny yang juga Presiden Direktur Bali Nusa Dua menambahkan, lokasi Bali Nusa Dua berada di dekat gerbang utama kawasan Nusa Dua. Tanah ini milik Bali Tourism Development Corporation dengan build operate transfer (BOT) selama 50 tahun.

"Pembangunan convention center ini dilakukan siang malam agar pertemuan internasional Konferensi Tingkat Menteri Gerakan Nonblok dapat menggunakan tempat ini pada bulan Mei, dan KTT ASEAN Oktober tahun ini. Demikian pula pertemuan APEC pada tahun 2013," kata Danny didampingi VP Business Operation Venue Bali Nusa Dua Convention Center Riyanthi Handayani.

"Kami jualan sejak tahun lalu sehingga begitu pembangunan selesai, convention center ini sudah penuh dan antre," tambah Riyanthi.

Danny menguraikan, convention center ini terdiri dari satu ballroom seluas 5.000 meter persegi berkapasitas 5.000 orang, yang bisa dibagi lima. "Di luar itu, kami juga punya 17 meeting room yang kapasitasnya bervariasi antara 100 dan 300 orang," jelasnya. Untuk makanan, Bali Nusa Dua memiliki in house kitchen.

Danny mengatakan, prospek MICE di Bali sangat cerah. Untuk mendukung hal itu, Dyandra membangun hotel dengan 162 kamar yang akan dioperasikan Grup Santika.

Dyandra & Co merupakan anak perusahaan Kompas Gramedia di bidang konvensi, pameran, termasuk pembangunan infrastruktur properti pendukungnya. Selain Bali Nusa Dua yang akan beroperasi bulan Mei 2011 ini, Dyandra juga sedang membangun convention center Gramedia Expo di pusat Kota Medan, berkapasitas 3.000 orang, yang dijadwalkan beroperasi November 2011. Di Gramedia Expo, dibangun juga hotel yang akan dioperasikan Grup Santika.

Sebelumnya Dyandra sudah mengoperasikan Gramedia Expo pada Februari 2008, yang berkapasitas 5.000 orang.

Setelah Surabaya, Bali, dan Medan, apakah Dyandra sudah berencana membangun convention center lainnya? "Kami sudah mencari lahan di Bandung dan Semarang, sedangkan di Makassar, lahan sudah ada," ungkapnya.

Danny menjelaskan, keberhasilan Dyandra tidak lain berkat visi Chairman Dyandra Jakob Oetama yang melihat perlunya membangun infrastruktur untuk mendukung pameran dan konvensi, seperti halnya industri media massa yang membutuhkan percetakan sendiri.

"Setelah Grup Kompas Gramedia membangun convention center di Nusa Dua, efek dominonya luar biasa. Pemerintah sudah menyatakan membangun jalan tol dari Bandara Internasional Ngurah Rai langsung ke Nusa Dua. Terminal di bandara juga dibangun lagi yang baru," paparnya.

Bagaimana dengan convention center di Jakarta? "Seharusnya Jakarta punya convention center berkapasitas 100.000 orang agar Jakarta tidak kalah dari Bangkok. Tapi, lahannya yang sulit. Kemungkinan Dyandra membangun di luar Jakarta. Kami sudah ditawari di Serpong dan kami masih mempertimbangkannya," jelas Danny. (Robert Adhi Kusumaputra)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

REI Dukung Program Rumah Murah Rp 25 Juta

Posted: 02 Mar 2011 10:26 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan, pihaknya mendukung rencana Kementerian Perumahan Rakyat (Kempera) yang menargetkan program rumah murah seharga Rp 25 juta per unit.

REI mendukung program ini, pada prinsipnya bisa saja membangun rumah murah dengan harga Rp 20-Rp 25 juta, tentunya hanya bangunan tanpa tanah.

-- Setyo Maharso

Menurut Setyo, saat ini REI masih menunggu kematangan perencanaan yang tengah dikaji oleh Kempera, terutama mengenai kepastian harga yang menyangkut material bangunan dan lokasi program rumah murah ini. "REI mendukung program ini, pada prinsipnya bisa saja membangun rumah murah dengan harga Rp 20-Rp 25 juta, tentunya hanya bangunan tanpa tanah," katanya ketika dihubungi Kompas.com, Rabu.

Agar pembangunan rumah murah ini terwujud, Setyo mengatakan, penyediaan tanah dan infrastruktur disiapkan oleh pemerintah pusat yang bekerja sama pula dengan pemerintah daerah. Sementara mengenai kawasan yang dirujuk menjadi penyediaan rumah murah, Setyo mengatakan masih menunggu keputusan dari Kempera.

"Kami masih menunggu keputusan dari Kempera, sementara ini REI dalam tahap inovasi dan pengembangannya. Mungkin kalau kawasannya bisa di Jabodetabek, tetapi tergantung kesempatan yang diberikan dari pemerintah," ujarnya.

Ditanya mengenai kemungkinan kepastian harga rumah murah seharga Rp 20-Rp 25 juta, Setyo mengatakan, hal ini bisa saja diwujudkan, tetapi dengan standar yang diturunkan dari pembangunan rumah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Seperti diberitakan, pemerintah lewat Kempera dan Kemkeu tengah mengkaji program pengadaan rumah murah dari sisi jumlah anggaran dan jumlah unit rumah murah yang akan dibangun. Rumah murah ini diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau yang memiliki penghasilan di bawah Rp 2,5 juta per bulan.

Suharso mengatakan, rumah harga Rp 25 juta ini pada prinsipnya sama dengan FLPP. Harga rumah ini diperuntukkan masyarakat yang berpenghasilan Rp 2,5 juta ke bawah per bulannya. "Nantinya, masyarakat berpenghasilan rendah ini dapat mencicil rumah tanpa uang muka," ujarnya. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

100.000 Rumah Murah Selama Tahun 2011

Posted: 02 Mar 2011 09:40 AM PST

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menargetkan penyediaan rumah murah sebanyak 100.000 unit selama tahun 2011.

Sasaran 100.000 rumah murah itu kelompok masyarakat berpenghasilan Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta. Harganya Rp 20 juta-Rp 25 juta, angsurannya Rp 200.000 per bulan dan tanpa uang muka.

-- Suharso Monoarfa

"Kami coba menyediakan 100.000 sebagian di Jawa dan kota-kota kecil," kata Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa seusai rapat koordinasi membahas perumahan di Jakarta, Rabu (2/3/2011).

Ia menyebutkan, sasaran 100.000 rumah murah itu adalah kelompok masyarakat berpenghasilan Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta. Harga rumah murah tersebut Rp 20 juta hingga Rp 25 juta di mana angsuran sebesar Rp 200.000 per bulan dan tanpa uang muka.

Ketika ditanya di daerah mana persisnya rumah murah itu akan disediakan atau dibangun, Suharso mengatakan, hal itu tergantung juga respons daerah dalam penyediaan lahan. Sementara itu, Menkeu Agus Martowardojo mengatakan, rapat koordinasi perumahan belum membahas masalah alokasi anggaran penunjang. "Belum bicara anggaran, sifatnya masih membahas masalah prioritas," katanya.

Rapat membahas penyediaan rumah murah dengan harga Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per unit. "Kita pertajam pembahasan bersama Kementerian PU, Perumahan Rakyat, dan Pembangunan Daerah Tertinggal," katanya.

Sementara itu, Dirut Perum Perumnas Himawan Arief Sugoto mengatakan, pembangunan 100.000 unit rumah murah dapat dikerjakan dalam satu semester jika memang lahannya tersedia.

Ia menyebutkan, pihaknya sudah mengajukan dana PSO sebesar Rp 420 miliar untuk penyediaan rumah murah sebanyak 27.000 hingga 30.000 unit. Jika harus menyediakan lebih banyak lagi, maka akan meningkat pula kebutuhan dana PSO-nya.

Menurut dia, lahan seluas 1 hektar dapat dibangun sekitar 60 unit rumah murah. Ia mengaku akan sangat sulit membangun rumah murah di kawasan Jabodetabek karena keterbatasan ruang di kawasan ini. "Untuk kawasan ini, yang bisa dioptimalkan adalah rumah vertikal atau rumah susun," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar