Senin, 14 Maret 2011

Rumah Idaman “Tiga Menara Kondo Kemang Village Diserahkan ke Penghuni” plus 2 more

Rumah Idaman “Tiga Menara Kondo Kemang Village Diserahkan ke Penghuni” plus 2 more


Tiga Menara Kondo Kemang Village Diserahkan ke Penghuni

Posted: 15 Mar 2011 04:21 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Kemang Village, proyek properti Integrated Luxurious Development bernuansa resor andalan PT Lippo Karawaci Tbk yang berlokasi di jantung Kemang Jakarta Selatan telah berhasil menjual enam menara residensial.  Tiga menara pertama Kemang Village Residences (KVR) di antaranya saat ini telah diserahterimakan dan dihuni.

Dari tujuh menara pembangunan tahap pertama yang diluncurkan sejak tahun 2007, tiga menara tersebut, The Ritz KVR, The Cosmopolitan KVR dan The Empire KVR dengan total sekitar 700-an unit telah habis terjual.

Ketiga menara KVR saat ini telah diserahterimakan secara bertahap kepada para pembeli. Bahkan beberapa pembeli telah langsung menghuni unit mereka masing-masing.

Juga beberapa pemilik unit merasakan keuntungan membeli di Kemang Village Residences karena setelah serah terima kunci, telah siap penyewa unit mereka untuk menghuni.

Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Jopy Rusli mengatakan, Kemang Village terus melengkapi konsep Integrated Resort Development-nya setelah Sekolah Pelita Harapan SPH International dibuka, segera dibuka mal. Dalam waktu dekat juga akan diadakan penandatanganan kerjasama dengan hotel operator internasional.

"Saat ini harga kondominium di Kemang Village menuju Rp.30 juta per meter persegi, pada akhir tahun bahkan menuju Rp 40 juta per meter persegi. Harga ini masih tetap lebih murah dibandingkan dengan harga properti negara Asia lainnya," jelas Jopy Rusli.

Kemang Village (KV), Luxurious Integrated Development Resort (proyek pengembangan terpadu) dengan luas 15,5 hektar senilai US$ 1,2 miliar andalan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) ini, mengusung konsep 11-in-1 yakni konsep 'interconnectable'.

Di dalamnya terdapat 11 keunggulan yang terpadu, yaitu Residences, Shopping, School, Al Frescon Dining, Spa, Country Club, Hotel, Wedding Chapel, Corporate Club, Healthcare dan Office.

"LPKR adalah perusahaan properti terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah aset, pendapatan, laba bersih dan kapitalisasi pasar, diperkuat dengan land bank luas dan basis pendapatan recurring yang kuat.  Divisi usaha LPKR meliputi Residential/Township, Retail Malls, Hospitals, Hotels dan Asset Management," jelas Danang Kemayan Jati, Vice President, Head of  Corporate Communication PT Lippo Karawaci Tbk. (KSP)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Grup Ciputra Bangun Perumahan Citraland Bali

Posted: 14 Mar 2011 12:09 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Grup Ciputra membangun perumahan Citraland Bali di Denpasar, Bali, tahun 2011 ini.

Bermitra dengan PT Karya Makmur, Grup Ciputra segera membangun perumahan terluas dan terbesar di Jalan Mahendradatta di kawasan Gatot Subroto, Denpasar di lahan seluas 18 hektar dengan jumlah rumah sekitar 600-an unit.

"Sampai pertengahan Maret ini, perencanaan Citraland Bali masih dalam tahap desain. Rumah-rumah ini baru akan dipasarkan bulan April 2011," kata General Manager Citraland Bali, Hongky Zein kepada Kompas.com di Pekanbaru, akhir pekan lalu.

Citraland Bali merupakan proyek properti ketiga grup Ciputra di Bali, setelah sebelumnya Villa Kuta Regency di Kuta dan Patmase Villa di Jimbaran.

Konsep desain Citraland Bali mengedepankan luxury, modern, dan green. Arsitektur bangunannya modern minimalis dengan kombinasi material alam Bali. Patung-patung dibuat modern dengan desain karakter alam Bali. Lanskapnya berkontur dan dilalui sungai.

Fasilitas perumahan Citraland Bali adalah ruko dan rukan, serta waterpark. Citraland Bali memiliki keamanan 24 jam dan sistem satu gerbang, kabel di bawah tanah, dengan lebar jalan dari 8 meter hingga 15 meter.

"Rumah-rumah di Citraland Bali diperuntukkan bagi kalangan menengah atas dengan bangunan seluas 112 meter persegi sampai 250 meter persegi, dan harga mulai Rp 1 miliar sampai Rp 3 miliar," kata Hongky.

Citraland Bali dekat dengan pusat komersial, seperti Hotel Aston, ruang pamer mobil Hyundai dan Auto 2000, rumah makan cepat saji McD dan KFC, gedung perkantoran BNI 46 dan Indosat, dan Mitra 10. Perumahan ini juga dekat dengan sekolah-sekolah Gandi School, Tunas Daud, St Yosef, dan Kalam Kudus.

Menurut Hongky, lokasi Citraland Bali sangat strategis karena hanya 10 menit ke pusat kota, 15 menit ke Seminyak, 30 menit ke Kuta dan Bandara. (KSP)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Pembangunan Flyover Tanpa Kajian Lingkungan Hidup

Posted: 14 Mar 2011 12:02 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Proyek pembangunan jalan layang non-tol Pangeran Antasari-Blok M dan Kampung Melayu-Tanah Abang dinilai telah menyalahi aturan yang berlaku. Pembangunan dua flyover yang dikabarkan mampu mengurai kemacetan sekitar 30 persen tersebut bahkan tidak melalui kajian lingkungan yang tepat.

Demikian disampaikan Peneliti Lembaga Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia Irvan Pulungan, Senin (14/3/2011), di Gedung Ranuza, Jakarta.

"Kajian Lingkungan Hidup strategis untuk pembangunan tersebut juga tidak ada. Harusnya kajian itu wajib disusun dalam mengembangkan proyek yang memiliki dampak penting terhadap suatu kawasan sebagaimana diamanatkan dalam UU No32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup," ujar Irvan. 

Irvan juga menyayangkan pembangunan dua flyover ini tidak dirancang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2010 sebagaimana ketentuan Perda No.6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah.

"Parahnya lagi, pembangunannya tidak didahului oleh proses studi Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)," ungkap Irvan.Dengan tidak dilakukannya Amdal dalam kedua proyek itu yang disertai dokumen pendukung berupa Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), Irvan meragukan kualitas jalan layang yang akan dibangun tersebut layak pakai atau tidak.

"Tidak ada proses itu dan langsung masuk tahap pembangunan, sementara banyak peraturan yang diabaikan. Harusnya ikuti tahap sesuai dengan peraturan yang ada," tandas Irvan.

Adapun, saat ini Pemprov DKI Jakarta tengah membangun dua flyover skaligus yakni flyover Antasari-Blok M dan Kampung Melayu-Tanah Abang (Casablanca). Flyover Antasari memiliki panjang 4,8 kilometer dengan lebar 17,75 meter untuk dua jalur.

Sementara flyover Kampung Melayu-Tanah Abang itu akan dibangun dalam dua tahap. Pada tahap pertama akan dibangun sepanjang 1,8 kilometer, yaitu di atas Jalan Dr Satrio hingga Jalan Mas Mansyur. Kedua flyover ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi secara keseluruhan pada Juli 2012. 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar