Rabu, 09 Maret 2011

Rumah Idaman “Harun Hajadi: Ciputra Bangun Perumahan di Setiap Ibu Kota Provinsi” plus 2 more

Rumah Idaman “Harun Hajadi: Ciputra Bangun Perumahan di Setiap Ibu Kota Provinsi” plus 2 more


Harun Hajadi: Ciputra Bangun Perumahan di Setiap Ibu Kota Provinsi

Posted: 10 Mar 2011 04:26 AM PST

PEKANBARU, KOMPAS.com -  Grup Ciputra makin ekspansif membangun kawasan perumahan di berbagai kota di Indonesia. Sampai Maret 2011, Ciputra hadir di 22 kota di Indonesia.

"Dalam lima tahun ke depan, Grup Ciputra menargetkan membangun perumahan di semua ibu kota provinsi," kata Managing Director Grup Ciputra, Harun Hajadi dalam percakapan dengan Kompas.com di Pekanbaru, Kamis (10/3/11) pagi.

Harun Hajadi adalah menantu Ciputra tokoh properti Indonesia. Harun menikah dengan Junita Ciputra, putri kedua keluarga Ciputra. Saat ini Harun menangani dan bertanggungh jawab atas lebih dari 20 proyek perumahan di berbagai kota di Indonesia.

Lahir di Jakarta, 19 Maret 1961, Harun Hajadi pernah tinggal di Palembang selama 10 tahun, dari usia 6 hingga 16 tahun. Ayahnya Sujadi pernah punya toko di Pasar 16 Ilir Palembang. Harun pernah mengenyam pendidikan di SMA Xaverius I Palembang saat kelas I, namun ia pindah ke SMA Regina Pacis Jakarta saat kelas II dan III.

Tamat SMA, Harun melanjutkan pendidikan Arsitektur di University of California, Berkeley, Amerika Serikat (1981-1984). Setelah itu, Harun bekerja di perusahaan real estate di San Matteo, California selama dua tahun. Tahun 1987-1988, Harun mengambil gelar MBA d University of Southern California, Los Angeles AS.

Tahun 1988, Harun langsung bergabung d Grup Ciputra. "Tugas pertama saya, membebaskan tanah seluas 1.600 hektar di Surabaya, yang sekarang menjadi CitraLand Surabaya. Saya masuk kampung keluar kampung dengan celana pendek. Tugas itu dikerjalan sampai tahun 1993. Setelah CitraLand Surabaya di-launching 1993, hingga kini proyek itu proyek kebanggaan grup Ciputra," cerita Harun.

Berikut ini wawancara eksklusif Robert Adhi Kusumaputra dari Kompas.com dengan Harun Hajadi, Managing Director Grup Ciputra di Pekanbaru, Riau, Kamis (10/3/11) pagi.

Grup Ciputra makin ekspansif, membangun perumahan di berbagai kota di Indonesia. Sejak kapan dan apa yang membuat Grup Ciputra membangun di daerah? Kami mulai membangun perumahan di daerah di luar Jakarta dan Surabaya pada tahun 2003. Proyek pertama kami di daerah adalah di kota Medan. Kami berpikir, setelah krisis ekonomi 1998, Grup Ciputra harus mampu berinovasi. Jadi kami memutuskan membangun perumahan berkualitas di banyak kota, berusaha masuk ke semua ibu kota provinsi di Indonesia.

Sampai Maret 2011, Grup Ciputra sudah membangun perumahan di 22 kota, yaitu di Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Pangkalpinang, Lampung, Bandung, Jakarta, Cirebon, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Denpasar, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Manado, Makassar, Kendari, Ambon.

Proyek di Medan seluas 28 hektar sudah selesai karena kami kembangkan sejak tahun 2003. Saat ini kami mencari lahan baru dan akan membangun perumahan lainnya di Medan. Pola ini akan terus kami kembangkan di berbagai kota.

Strategi kami, secara aktif dan konsisten mencari mitra di berbagai kota di Indonesia, terutama ibukota provinsi. Kami melihat rumah adalah kebutuhan primer. Seperti d Bali, Grup Ciputra punya villa resort Padmase, tapi bulan Mei 2011 ini, kami mulai membangun perumahan primer di lahan seluas 40 hektar di Denpasar, Bali. Kami melihat kebutuhan orang Bali sendiri belum dipenuhi. Yang banyak dibangun hanya resort, hotel, kondotel. Karena itu kami membangun perumahan berkualitas di Bali.

Bagaimana respon masyarakat di daerah setelah Grup Ciputra membangun di kota mereka? Respon masyarakat di daerah sangat baik. Perumahan yang kami bangun, diterima baik. Di Pekanbaru, Riau, kami membangun CitraLand Pekanbaru. Development cost Rp 100 miliar dan langsung terasa oleh daerah.

 Di Pekanbaru, kami membangun di lahan seluas 22 hektar. Kami gembira respon di semua kota sangat positif, termasuk di Manado dan Ambon. Boleh disebut bahwa Grup Ciputra adalah pengembang pertama yang membangun perumahan berkualitas di dua kota itu.  Ketika kami masuk ke Manado tahun 2004, belum ada perumahan yang tertata rapi, termasuk pengelolaan sampah dan keamanan.   Demikian juga saat kami masuk ke Samarinda dan Banjarmasin di Kalimantan. Standar Grup Ciputra tinggi.

Apa kiat sukses Anda dan Grup Ciputra membangun di daerah? Terus terang, tidak mudah membangun perumahan di daerah jika tidak didukung sumber daya manusia yang bagus. Jadi kami gunakan orang-orang lama di Grup Ciputra, mereka yang menjadi orang yang bertanggung jawab dalam proyek, namun tenaga tetap orang lokal. Dengan demikian, penghuni perumahan mendapatkan kualitas yang sama, culture, gaya hidup yang sama.

Passion saya memang mengembangkan perumahan di berbagai kota di Indonesia. Biasanya melihat tanah baru dan lokasi baru, kemudian memutuskan ya atau tidak. Lalu kami negosiasi dengan mitra untuk pembangunan. Tim Grup Ciputra sudah punya model.

 Strategi kami adalah bekerja sama dengan mitra pemilik tanah. Kadang ada yang mau menjual seluruhnya, kadang ada yang mau menjadi mitra. Grup Ciputra terbuka bagi siapa saja yang ingin join. Semua dilakukan secara terbuka, tak pernah menipu mitra, diaudit secara terbuka dan anytime dari atas sampai bawah. Ini sangat penting karena kami menjaga brand dan nama besar Ciputra.  

Lima sampai 10 tahun lagi, apa yang akan dikembangkan Grup Ciputra? Sampai Maret 2011, kami hadir di 22 kota di Indonesia. Tahun 2011, kami menargetkan membangun di tiga kota, yaitu di Pekanbaru Riau, Kendari Sulawesi, dan Denpasar Bali.

Lima sampai 10 tahun lagi, Grup Ciputra menargetkan seluruh ibu kota provinsi sudah ter-cover. Itu yang diinginkan Pak Ciputra.

Mengapa Anda sangat optimistis? Saya malah optimistis bisa tercapai sebelum itu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia luar biasa dalam tiga tahun belakangan ini. Dengan suku bunga rendah, 8-9 persen, cicilan lebih terjangkau. Tren orang membeli rumah dengan mengambil KPR, tidak lagi membayar tunai atau cicilan tetap. Ini sudah mirip di Amerika, di mana banyak yang membeli rumah dengan KPR.

Sebanyak 60 persen orang membeli rumah di Grup Ciputra dengan KPR. Ini karena bunganya masuk akal. Kalau dulu kan bunga 12 persen. Jadi sekian tahun hanya bayar bunga.

Sentimen positif sangat penting. Ini big ticket item, sekali beli nilainya ratusan juta rupiah. Sentimen positif penting. Coba Anda lihat sekarang mal-mal ramai, orang sudah merasa punya uang, banyak yang travelling setiap akhir pekan dan hari libura nasional, penerbangan penuh,  bandara ramai. Mudah-mudahan kondisi ekonomi begini terus. Dan saya yakin, tim ekonomi pemerintahan sekarang sangat prudent. Pemerintah me-manage keuangan dengan sangat baik.

Nah, kondisi ini harus dapat dimanfaatkan. Grup Ciputra membangun di banyak kota di Indonesia karena yakin kelas menengah di Indonesia terus tumbuh dan bertambah. Kami ikut mempercepat pertumbuhan daerah. Dulu di Manado, saat kami masuk, belum ada toko material. Mencari genteng saja susah. Sekarang, semua sudah ada semua. Demikian halnya Ambon. Tahun pertama kami masuk, kami harus membawa barang material bangunan dengan kapal dari Surabaya. Sekarang, di Ambon sudah ada semua.

Demikian halnya di Palembang. Meski lokasinya 12 km dari pusat kota, banyak yang membeli rumah kami. Dan Grup Ciputra menjadi pemacu pertumbuhan daerah sekitar.  

Selain perumahan, Grup Ciputra juga membangun superblok Ciputra World di Jakarta dan Surabaya. Bagaimana perkembangan terakhir dua proyek di Jakarta dan Surabaya? Kami sedang membangun Ciputra World di lahan seluas 5 hektar di Jalan Dr Satrio Jakarta dengan nilai konstruksi Rp 2,3 triliun belum termasuk harga tanah. Superblok yang terdiri dari apartemen, mal, hotel, dan gedung perkantoran ini akan selesai seluruhnya tahun 2012. Sedangkan proyek Ciputra World Surabaya di lahan seluas 7,7 hektar senilai Rp 900 miliar yang terdiri dari apartemen, mal, dan hotel akan mulai beroperasi Juni 2011 ini.

Apa kelebihan produk Grup Ciputra? Pertama, lingkungan yang berbeda. Lingkungan lebih hijau, infrastruktur yang lengkap, dan deliver to customer. Gambar dan realisasinya sesuai janji. Banyak pengembang menjual gambar bagus tapi tidak sesuai realisasinya. Nah, Grup Ciputra memegang janji. Ini daya tarik dan kekuatan Grup Ciputra.

Apa saja brand dari perusahaan properti yang dikembangkan Pak Ciputra? Brand perusahaan properti yang dikembangkan saat ini untuk perumahan adalah CitraLand, Citra Garden, Citra Grand, Citra Indah, dan Citra Harmoni. Untuk housing tak ada yang menggunakan nama Ciputra.   Brand lainnya adalah BizPark untuk kompleks pergudangan. Saat ini ada tiga BizPark, dua di Pulogadung Jakarta dan satu di Kopo Bandung. Kami segera membangun BizPark keempat di Banjarmasin.

Kami akan mengembangkan BizPark secara agresif di berbagai kota. Kompleks pergudangan laris karena pedagang di Indonesia banyak yang assembler. Di Jakarta, BizPark banyak dipakai oleh bank. Kalau bank di Jakarta mau simpan dokumen di gedung di Sudirman, pasti mahal, karena 1 m2 bisa 20 dollar AS. Jadi bank-bank lebih suka simpan dokumen di kompleks pergudangan BizPark.

Pak Ciputra mendirikan tiga perusahaan properti. Pertama, Jaya Group yang bermitra dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kedua, Metropolitan Group, di mana Pak Ciputra bermitra dengan teman-temannya di ITB. Dan ketiga, Ciputra Group, di mana mitranya adalah keluarga. Perusahaan ini berhak menggunakan nama Ciputra. Pengelolaannya lebih mudah karena satu komando, semua jalan.

Ada rencana baru ekspansi Grup Ciputra di luar negeri? Kami sudah membangun di Vietnam, Kamboja, dan China. Di India, properti kami sudah dijual ke mitra di India tahun 2007. Sedangkan di Shenyang, China, dalam pembangunan.

Kami secara sistematis melakukan ekspansi di luar negeri.  Di Polandia, kami sedang mempersiapkannya. Kami terus mencari lokasi di berbagai negara di dunia. Tapi kami tidak ingin membangun di Amerika, karena tentu kami tidak membawa nilai baru di sana. Kalau Grup Ciputra membangun di Vietnam, Kamboja, kami membawa nilai baru karena di sana tak ada perumahan seperti yang kami bangun sebelumnya.

Kami membangun di China, di Shenyang, karena di kota itu belum ada perumahan berkualitas. Kalau kami bangun di Shanghai, tentu tak ada nilai baru karena di sana semua sudah bagus.

Siapa saja anggota keluarga yang terlibat dalam Grup Ciputra saat ini?    Managing Director Grup Ciputra saat ini adalah saya sendiri Harun Hajadi dan Budiarsa Sastrawinata. Kami berdua menantu Pak Ciputra. Lainnuya adalah anak-anak pak Ciputra, yaitu istri saya Junita, istri Budiarsa Rina, lalu Chandra Ciputra, dan Cakra Ciputra.  

Generasi kedua tampaknya sudah teruji, bagaimana dengan generasi ketiga keluarga Ciputra? Benar, generasi kedua sudah melewati tes. Kami sudah lebih dari 10 tahun mengelola usaha properti Grup Ciputra dan sudah pernah melewati krisis ekonomi. Jadi tugas generasi kedua sudah selesai, dan bisa melalui dengan baik.

Nah, generasi ketiga bagaimana? Pak Ciputra sudah mempersiapkan sistem agar generasi ketiga bisa masuk. Apa yang harus dilalui lebih dahulu. Sistemnya sudah disiapkan. Misalnya mereka harus terjun ke proyek, dan belum bisa menjadi manajer. Setelah tes di proyek, mereka tidak di kantor pusat supaya tahu detil-detilnya. Anak Pak Budiarsa misalnya, bertugas di Palembang dan Shenyang. Mereka melakukan tugas seperti orang lain.

Anda sendiri mempersiapkan ketiga anak Anda untuk masuk ke bisnis properti ini? Saya tidak mempersiapkan secara khusus. Saya juga tidak tahu apakah mereka mau ikuti saya di Grup Ciputra. Belum tentu juga. Yang penting mereka mendapatkan pendidikan normal. Mereka belajar di luar negeri, mereka tahu budget dan limit-nya di mana. Anak saya lagi magang di Hong Kong. Jadi terserah mereka. Saya tidak memaksa. (Robert Adhi Kusumaputra)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Pengembang Indonesia Ditawari Bangun Perumahan di Kenya

Posted: 09 Mar 2011 08:20 PM PST

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia, Menteri Perumahan Kenya Peter Shoita Shitanda menawarkan para pengembang Indonesia menanamkan investasi perumahan di Kenya. Pengembang Kenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan rumah untuk masyarakatnya.

"Saya berharap para pengembang dan Pemerintah Indonesia mau menanamkan investasi sektor perumahan di Kenya," kata Peter saat melakukan pertemuan bersama sejumlah pejabat Kementerian Perumahan Rakyat serta sejumlah pengembang dari REI dan Apersi di Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Peter mengungkapkan bahwa penyediaan perumahan di Kenya belum mampu dipenuhi kalangan pengembang di negaranya. "Dari sekitar 140.000 kebutuhan rumah per tahun, para pengembang baru mampu membangun sekitar 35.000 rumah," ujarnya.

Kenya tengah mempelajari masalah perizinan dalam proses pembangunan perumahan. Peter berharap kedatangannya ke Indonesia dapat mempelajari pola pelayanan satu atap sehingga masalah perizinan dapat dipersingkat.

Menanggapi permintaan tersebut, Sekretaris Menteri Perumahan Rakyat (Sesmenpera) Iskandar Saleh mengatakan, peluang kerja sama Indonesia-Kenya ini terbuka lebar. Ini terjadi terutama dengan adanya kesamaan kebutuhan perumahan bagi masyarakat yang cukup besar di kedua negara. "Indonesia memiliki program FLPP yang memberikan bunga KPR murah dan terjangkau selama masa tenor. Ini salah satu yang ingin dipelajari Kenya," ungkapnya.

Menanggapi permintaan Kenya, Wakil Ketua Umum DPP REI Harry Raharta mengatakan menyambut positif ajakan tersebut. Namun, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut kebijakan Pemerintah Kenya untuk urusan perumahan. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

St Mark Square, Pusat Belanja dan Perkantoran Baru di Lippo Village

Posted: 09 Mar 2011 11:34 AM PST

LIPPO VILLAGE, KOMPAS.com - Mengingat semakin prospektifnya investasi properti di kota mandiri Lippo Village, kini telah hadir St. Mark Square, sebuah kawasan komersial baru yang terletak di CBD Lippo Village.

St. Mark Square yang merupakan pusat makanan, belanja dan perkantoran baru berada tepat di depan Supermal Karawaci.

"St. Mark Square akan menjadi ikon baru kota mandiri Lippo Village karena menyediakan berbagai kebutuhan yang sesuai dengan gaya hidup penghuni maupun pengunjung kota mandiri Lippo Village," jelas Norita Alex, Marketing Director Lippo Village.

Bagi calon investor, St. Mark Square tentu saja merupakan wahana investasi yang sangat menarik mengingat penawaran lahan komersial prospektif yang berada di lokasi sangat strategis di CBD Lippo Village, sangat terbatas, hanya 1,5 hektar dengan 19 unit dan saat ini tinggal 6 unit. Tenant yang telah bergabung seperti Mc Donald drive-through 24 jam, Food Mart Gourmet, salon, makanan international dan lain sebagainya.

Sementara di saat yang sama, jumlah calon pembeli dengan daya beli tinggi semakin berkembang dari tahun ke tahun. Para calon pembeli tersebut berasal dari penghuni Lippo Village yang mencapai 55.000 orang, warga sekitar Lippo Village sebanyak 50.000 orang, kalangan mahasiswa Universitas Pelita Harapan sebesar 12.000 orang, yang berlokasi sangat dekat dengan St. Mark Square maupun para profesional yang berkantor di kawasan CBD Lippo Village.

"Kondisi seperti ini merupakan pasar yang sangat bagus untuk melakukan bisnis, apalagi bisnis yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan gaya hidup modern," kata Norita.

Pemanfaatan lahan komersial prospektif tersebut dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu menyewa lahan saja atau menyewa lahan dengan bangunan, dengan luas lahan mulai dari 200 hingga 2000 meter persegi, atau sewa dengan bangunan mulai 70 hingga 600 meter persegi. Masa sewa berlaku per 5 tahun untuk bangunan dan bisa sampai 15 tahun untuk lahan.

Sejak dibangun pada tahun 1993, kota mandiri LV dengan penguasaan lahan seluas 2500 hektar telah berkembang pesat menjadi sebuah kota yang nyaman untuk dihuni sekaligus melahirkan banyak peluang dan potensi bisnis prospektif.

Total penghuni kota mandiri LV telah mencapai lebih dari 55 ribu. Sedangkan, jumlah pengunjung ke kota mandiri LV mencapai 100 ribu sampai 150 ribu orang per harinya dengan berbagai kepentingan, termasuk kepentingan bisnis.

Fasilitas yang telah ada di kota mandiri LV seperti perguruan tinggi terkemuka Universitas Pelita Harapan, Sekolah Pelita Harapan dan Sekolah Dian Harapan, kawasan hang out Benton Junction, rumah sakit internasional Siloam Hospitals, Imperial Aryaduta Hotel dan Imperial Aryaduta Country Club, Apartemen Amartapura, Menara Asia, Menara Matahari, Dynaplast Tower, lapangan golf Imperial Klub Golf (IKG), toko buku internasional Times, dan sebagainya. (*/KSP)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar