Kamis, 17 Maret 2011

Rumah Idaman “Kemenpera Kucurkan FLPP Rumah PNS di Daerah” plus 2 more

Rumah Idaman “Kemenpera Kucurkan FLPP Rumah PNS di Daerah” plus 2 more


Kemenpera Kucurkan FLPP Rumah PNS di Daerah

Posted: 17 Mar 2011 09:55 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com -  Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) siap mengucurkan bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk membantu pembiayaan KPR perumahan pegawai negeri sipil (PNS) di daerah. Adanya bantuan FLPP ini diharapkan bisa membantu para PNS di daerah untuk memiliki rumah yang dibangun oleh pemerintah daerah (Pemda) setempat.

Beberapa kriteria tersebut adalah mereka memiliki penghasilan di bawah Rp 2,5 juta dan belum pernah menerima bantuan subsidi pemerintah. Selain itu tipe rumah yang dibangun berukuran 36 meter persegi.

-- Sri Hartoyo

Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo mengungkapkan, Kemenpera akan tetap berkomitmen untuk mendorong serta membantu Pemda dalam program pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satunya adalah melalui bantuan pembiayaan perumahan melalui FLPP.

"Kami siap memberikan bantuan FLPP untuk mendukung perumahan PNS di daerah," ujar Sri Hartoyo saat menerima kunjungan Walikota Tarakan dalam rangka Rapat Koordinasi Rencana Pembangunan dan Model Pembiayaan Perumahan PNS di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur di Kantor Kemenpera, Jakarta, Kamis (17/3) siang.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah perwakilan dari Deputi Bidang Pembiayaan, Deputi Bidang Perumahan Formal, Deputi Perumahan Swadaya, Deputi Pengembangan Kawasan yang menjelaskan program dari Kemenpera. Sedangkan perwakilan dari Pemkot Tarakan seperti Sekda, Dinas Pendapatan, Dinas Pengelolaan Aset dan Keuangan, Badan Pertanahan, Bagian Pemerintah dan Pembangunan, BPD Kaltim, Perum Perumnas Regional V di pimpin oleh Walikota Tarakan H Udin Hianggio.

Menurut Sri Hartoyo, bantuan FLPP tersebut akan diberikan sepanjang para Pemda bisa memenuhi kriteria PNS serta kelompok sasaran yang akan menerima bantuan tersebut. Beberapa kriteria tersebut adalah mereka memiliki penghasilan di bawah Rp 2,5 juta dan belum pernah menerima bantuan subsidi pemerintah. Selain itu tipe rumah yang dibangun berukuran 36 meter persegi sesuai UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Sri Hartoyo menerangkan, Kemenpera juga mengimbau Bank Pembangunan Daerah (BPD) di daerah, khususnya di Kalimantan Timur untuk ikut serta dalam program FLPP ini. Untuk itu, dirinya berharap BPD bisa memasukkan program tersebut dalam rencana bisnis mereka ke depan.

Lebih lanjut, imbuh Sri Hartoyo, Pemda juga diminta untuk memperjelas status kepemilikan tanah sehingga proses pembangunan perumahan di atas lahan yang ada tidak menghadapi masalah dikemudian hari. Jika hal itu telah dilakukan dengan baik Kemenpera akan membantu dalam penyediaan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) perumahan seperti jalan, saluran air dan listrik.

"Sejak diluncurkan pada tahun 2010 lalu, FLPP telah berhasil membiayai sekitar 14.000 unit rumah sejahtera tapak dan 1.600 unit rumah sejahtera susun. Tentunya jika Pemda responsif dan ada dukungan BPD, program ini akan membiayai lebih banyak perumahan di daerah," harapnya.

Sementara itu, Walikota Tarakan H Udin Hianggio menyatakan, Pemerintah Kota Tarakan sangat mendukung program Kemenpera di daerahnya. Saat ini, pihaknya tengah berencana membangun sebanyak 1.500 unit rumah untuk masyarakat dan PNS pada tahun 2011.

"Pemkot Tarakan berencana membangun sebanyak 1.500 unit rumah untuk masyarakat dan PNS. Luas lahan yang telah kami sediakan sekitar 136 hektar untuk lokasi pembangunan perumahan tersebut. Mudah-mudahan bisa segera terealisir," katanya.

Untuk mewujudkan program itu, kata Udin Hianggio, dirinya berharap Kemenpera bisa membantu para PNS untuk pembiayaan perumahan KPR. Dengan demikian, para PNS bisa memperoleh angusran rumah yang murah dan terjangkau. (*/KSP)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Transformasi Unik Si Fosil Kayu

Posted: 17 Mar 2011 09:07 AM PDT

KOMPAS.com - Ketika masih duduk di bangku sekolah, kita mengetahui arti fosil adalah sisa-sia makhluk hidup baik hewan, tanaman dan makhluk hidup lainnya, yang terawetkan secara alamiah dan berumur lebih dari 11.000 tahun.

Nah, kalau fosil kayu atau petrified wood adalah sejenis fosil dimana semua bahan organik berganti mineral (seperti silikat, kuarsa), namun tetap mempertahankan struktur asli dari kayu. Proses membatu juga terjadi di bawah tanah. Ketika kayu terkubur di bawah endapan tetap awet karena kekurangan oksigen.

Secara umum, kayu membutuhkan waktu 100 - 1.000 tahun untuk membatu. Ketika diangkat ke permukaan, bongkahan kayu yang membatu ini tak ternilai struktur dan keindahannya. Selain di Indonesia, fosil kayu ditemukan di Brasil, Kanada, Mesir, Argentina, Yunani, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Fosil kayu untuk dijadikan furnitur memang tergolong unik, namun terkesan mewah dan elegan. Anda mengetahui bahwa pemakaian furnitur berbahan kayu akan membawa nuansa elegan dalam ruangan. Apalagi kalau anda menggunakan fosil kayu, letak kemolekan si fosil kayu terpancar lewat uniknya struktur dan warna yang tak beraturan.

Fosil kayu dapat bertransformasi menjadi pemanis ruangan. Untuk ukuran kecil, bisa anda letakkan di atas meja tamu atau meja kerja. Untuk fosil kayu ukuran besar, dapat anda tempatkan di ruang foyer atau ruang keluarga.

Seperti furnitur meja kursi dari fosil kayu di Hotel Mason Pine Kota Baru Parahyangan, Padalarang Bandung, terlihat space ini cukup mencuri perhatian. Bentuk kursi yang tak beraturan, dipadupadankan dengan lukisan di dinding membentuk ruangan menjadi unik dan memikat. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Kuningan City Percaya Diri sebagai Pusat Ritel

Posted: 17 Mar 2011 07:32 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Masyarakat perkotaan rasanya akan terus dimanjakan dengan kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Salah satunya lewat 237 gerai ritel yang akan hadir di Mal Kuningan City.

Kuningan City bisa disebut sebagai retail center, yang membedakan pusat perbelanjaan kami dengan tempat lainnya. Di sini akan hadir 237 gerai ritel dari mana saja.

-- Veri Y Setiady

"Bisa disebut sebagai retail center, yang membedakan pusat perbelanjaan kami dengan tempat lainnya. Di sini akan hadir 237 gerai ritel dari mana saja," kata Veri Y Setiady, Direktur PT Agung Podomoro Land, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/3/2011).

Menurut Veri, ritel yang hadir di Mal Kuningan City akan menempati lahan seluas 56.000 meter persegi dari total area mal 85.000 meter persegi. Mereka yang akan mengisi mal ini antara lain Lotte Mart, Gramedia, Best Denki, Cinema XXI, Fitness Center, Electronic Superstore, Fashion and Boutique Outlet, Flame Karaoke, Lollipop Playland, Eatery/Duck King, Amazing Zone, dan lainnya.

Mal Kuningan City merupakan bangunan yang terintegrasi dengan bangunan hunian apartemen dan perkantoran di superblok Kuningan City di Jalan Dokter Satrio, Jakarta Selatan. Pada hari ini, telah dilaksanakan topping off Kuningan City yang dihadiri CEO Agung Podomoro Grup Trihatma Kusuma Haliman, Wakil Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Tbk Handaka Santosa, dan petinggi Agung Podomoro Grup lainnya.

Sebagai pemain lama, Agung Podomoro Grup mengaku tak kesulitan dalam dunia ritel. "Kami menjadi pemain terbesar dalam dunia ritel. Untuk Kuningan City, tingkat okupansinya mencapai 72 persen," ujar Handaka Santosa.

Dalam kesempatan yang sama juga diadakan penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Mitra Adi Perkasa, Trans Mahagaya, Metrox, Fitness First, dan Eatery. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar